Saturday, 31 July 2010

SALT : Mata-mata Rusia Rencanakan Invasi Amerika Serikat

Tagline:
Who is Salt?

Storyline:
Meskipun sudah bersumpah demi pekerjaan dan negaranya, Evelyn Salt tetap dicurigai sebagai mata-mata Rusia saat tes kebohongan yang juga melibatkan Vassily Orlov. Pada saat interogasi dan penahanan intensif, Salt berhasil lolos dengan kenekadan dan keberaniannya. Tetapi apakah dalam pelariannya itu, Salt mampu mengungkap dalang yang sesungguhnya sekaligus menggagalkan misi berbahaya yang akan mengkambing hitamkan namanya?

Nice-to-know:
Nama-nama seperti Terry George, Michael Mann dan Peter Berg sempat dipertimbangkan untuk menyutradarai film ini.

Cast:
Pertama kali terjun sebagai aktris dalam Lookin' to Get Out (1982), Angelina Jolie kali ini bermain sebagai Evelyn Salt, agen CIA yang berusaha menyelamatkan suaminya sekaligus memulihkan jati diri sebenarnya.
Liev Schreiber memulai debut aktornya dalam Mixed Nuts (1994) dan disini didapuk sebagai Ted Winter, agen CIA yang selalu mendampingi Salt.

Director:
Sutradara asal Australia bernama Phillip Noyce ini pertama kali mendapat kesempatan mengarahkan dalam That's Showbiz (1973).

Comment:
Nyaris tiap summer selalu diisi action thriller spionase dan kali ini ada Jolie yang didapuk menjadi subyeknya. Prolog film yang memperlihatkan Evelyn terkena konflik kepentingan di Korea Utara menjelaskan pertemuan dengan suaminya yang berkebangsaan Jerman, Mike Krause. Disini sebetulnya tidak terlalu penting tetapi background seorang Evelyn rasanya cukup penting diutarakan walaupun korelasinya dengan Mike bukanlah porsi utama. Setelah itu film mengalir dengan tempo super cepat yang memperlihatkan aksi Jolie seorang diri mulai dari berlari, melompat, menembak, berkelahi tangan kosong dsb. Jujur saja hal-hal tersebut menarik tetapi nyaris tidak ada ruang untuk pengembangan karakternya. Plot serupa sudah berkali-kali dipertontonkan film serupa, sebut saja trilogi Jason Bourne ataupun franchise James Bond yang sudah melegenda sejak lama ini, hanya saja tokoh utama wanita rasanya belum terlalu banyak yang memorable. Atas fakta itu rasanya sah-sah saja jika melihat seorang Jolie mampu memporak-porandakan kota dengan aksi "tanpa bicara"nya. Sutradara Noyce yang sudah sangat familiar dengan tema serupa tidak akan canggung lagi memainkan aksi spionase yang menegangkan dari awal sampai akhir walau arahnya bisa jadi mudah ditebak audiens. Nikmatilah semua itu sebagai sebuah hiburan belaka tanpa banyak berpikir. Bersiaplah untuk sekuelnya di masa mendatang. Salt juga mengajarkan anda untuk tidak terlalu cepat menyimpulkan siapa sebenarnya orang-orang di sekitar anda.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$36,011,243 in opening week end of July 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 30 July 2010

SHANGHAI : Jurnalis Amerika Di Tengah Pendudukan Jepang

Tagline:
In a world filled with secrets, solving a mystery can be murder.

Storyline:
Jurnalis Amerika, Paul Soames kembali ke Shanghai yang tengah dikuasai Jepang beberapa bulan sebelum kejadian Pearl Harbor untuk menyelidiki rekannya, Connor yang terbunuh. Saat itulah ia bertemu suami istri yang cukup berpengaruh, Anthony Lan-Ting dan Anna yang kemudian membawanya menelusuri fakta-fakta tersembunyi. Sementara itu Kapten Jepang, Tanaka mulai mencurigai kehadiran Paul yang dianggapnya melakukan gerakan rahasia tersendiri di antara dua pihak yang saling bertikai. Apa yang sesungguhnya menyebabkan Connor dibunuh?

Nice-to-know:
Setting senilai 3 juta dollar terpaksa mubazir saat Pemerintah Cina keberatan akan proyek film ini pada awal tahun 2008. Weinstein Co. akhirnya memindahkan syuting ke London dan Thailand sambil menciptakan atmosfir klasik Shanghai yang sesungguhnya

Cast:
Memulai akting di usia 17 tahun lewat Class (1983), John Cusack kali ini bermain sebagai Paul Soames
Debutnya diawali via Club Girl Story (1976), Chow Yun-Fat kebagian karakter Anthony Lan-Ting.
Pertama kali beraking dalam Hong Gao Liang (1987) yang produksi RRC, Gong Li disini berperan sebagai Anna Lan-Ting
Ken Watanabe sebagai Tanaka
Jeffrey Dean Morgan sebagai Connor

Director:
Pria kebangsaan Swedia bernama Mikael Håfström ini terakhir menggarap 1408 (2007).

Comment:
Sudah berkali-kali kisah seputar Shanghai dibabarkan termasuk Shanghai Bund yang legendaris itu dan kali ini sebuah produksi Hollywood coba mengangkatnya lagi dengan sudut pandang yang sedikit berbeda yakni dari visi seorang jurnalis Amerika. Dan memang Cusack lah satu-satunya aktor non Asia yang dominan disini, di luar faktor Dean Morgan yang hanya tampil sekilas. Karakter Soames yang dibawakannya cukup pas, cerdas dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Selebihnya bintang-bintang Asia yang sudah dikenal yang dijual eksistensinya. Tentunya kita tidak akan keberatan menyaksikan Chow yang seakan menjelma kembali dalam peran-peran serupa masa jayanya yaitu tokoh mafia yang disegani termasuk beraksi dengan pistol yang pernah menjadi trademarknya. Belum lagi Gong yang menyimpan sejuta makna di balik kecantikannya itu. Watanabe dan Kikuchi juga mengisi peran masing-masing dengan cukup baik. Semua karakter tersebut terasa abu-abu dengan translasi hitam putih yang silih berganti.
Bisa dikatakan sutradara Håfström cukup berhasil menghadirkan setting Shanghai tahun 1940an dengan detail mulai dari kostum, make-up hingga tata ruang. Sinematografi ala noir tersuguhkan dengan nyata didukung permainan lighting yang temaram dan angle-angle kamera yang terukur. Apa yang ingin disampaikan film ini adalah kombinasi dari investigasi dan hubungan interpersonal para tokohnya mulai dari cinta hingga pengkhianatan. Shanghai yang sangat bercitarasa Asia ini memang tidak menawarkan sesuatu yang luar biasa, bahkan cenderung dapat diterka, tetapi masih menyisakan daya tarik tersendiri sebagai tontonan dengan jajaran cast kuat dan digarap secara maksimal.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$127,293,447 till early Aug 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 29 July 2010

NAKALNYA ANAK MUDA : Perjalanan dan Pembunuhan Misterius

Storyline:
Di sebuah pesta, Renata mengajak Andien ikut serta berlibur ke villa kakek Andra yang juga membawa Dicky, Pay dan Reno. Dalam perjalanan, mereka melewati hutan dan air terjun yang indah, malah villa tua tersebut menimbulkan kejanggalan dalam diri Renata hingga aktifitas keenam muda-mudi tersebut selalu dihabiskan di luar. Namun satu persatu, Pay, Reno dan Andra kemudian tewas mengenaskan hingga menyisakan Renata dan Dicky yang segera kembali ke Bogor. Keduanya melapor polisi atas kejadian itu sekaligus melakukan pencarian terhadap Andien yang menghilang secara misterius. Siapa sebenarnya pelaku dari semua itu?

Nice to know:
Diproduksi oleh Mitra Pictures dan diproduseri oleh Karan Mahtani.

Cast:
Ratu Felisha sebagai Andien
Uli Auliani sebagai Renata
Fero Walandouw
Billy Ade Sumirat
Rozie Mahally
Rommy Ravalzy

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Nayato Fio Nuala di tahun 2010.

Comment:
Lagi-lagi Nayato dengan karya-karyanya yang tiada habisnya, masih dengan pertanggungjawaban yang nihil. Singkat saja, plotnya hanya berputar-putar, awal ke tengah, lalu dari tengah kembali lagi ke awal yang dijadikan akhir. Bingung? Sayapun demikian, hingga memutuskan untuk menuntaskan rasa kantuk yang menjalar saja di bangku bioskop yang nyaman. Mengenai sekelompok anak dugem yang berpesta, mabuk, melakukan kesalahan sudah berkali-kali dipotretkan sebelumnya. Kali ini dengan “kreatif”, Nayato membawa setting dari klub malam langsung ke hutan rimba dan kembali ke kota. Jujur kepala saya agak pening jika harus mengingat-ingat kembali.
Dari jajaran pemain jujur saya kasihan pada mereka semua harus “menerima” peran yang disodorkan terlepas dari motif apapun juga. Sedikit fakta lucu saat Ratu Felisha menggunakan nama Andien untuk karakter yang diperankannya. Entah ini ide siapa. Disengaja atau tidak? Uli tidak terlalu berbeda dalam melakoni Renata seperti yang sudah-sudah. Keempat aktor remaja prianya? Saya bahkan tidak peduli sama sekali pada eksistensi dan nasib mereka di film ini.
Nakalnya Anak Muda yang sempat dijadwalkan berjudul JIPER alias Jeritan Perawan ini sangat menipu dari segi tampilan poster yang diulang-ulang-ulang-ulang-ulang.. Isinya hanyalah thriller bukan thriller, slasher bukan slasher, dan tampaknya Nayato sendiri bukanlah Nayato yang sesungguhnya.

Durasi:
75 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Wednesday, 28 July 2010

SWEENEY TODD : Obsesi Balas Dendam Tukang Cukur

Quotes:
Sweeney Todd-I can guarantee the closest shave you'll ever know.

Storyline:
London jaman dahulu, tukang cukur terbaik Benjamin Barker menikah dengan si cantik blonde Lucy yang kemudian memberinya puteri bernama Johanna. Sayang kebahagiaan itu tidak bertahan lama saat Hakim Turpin merenggut Lucy dan Johanna dari Benjamin. Bertahun-tahun kemudian, Benjamin kembali ke Kota dan mengganti nama menjadi Sweeney Todd yang berpenampilan dingin dengan obsesi membalas dendam lamanya. Kali ini ia bertemu pembuat pai terburuk, Mrs. Lovett yang ditinggal mati suaminya dan hidup sebatang kara. Keduanya berbagi tempat tinggal sambil mengatur siasat terbaik untuk menuntaskan rivalnya pada waktu yang tepat.

Nice-to-know:
Lakon Sweeney Todd dan Mrs. Lovett aslinya dipentaskan Len Cariou dan Angela Lansbury pada pertunjukan musikal Broadway di tahun 1979.

Cast:
Baru saja membintangi episode ketiga Pirates of The Caribbean, Johnny Depp disini kebagian peran Sweeney Todd, tukang cukur Inggris yang menyimpan dendam terhadap Hakim Kota yang telah merenggut istri dan putrinya dari dekapannya.
Terakhir mendukung Harry Potter and the Order of Phoenix, Helena Bonham Carter kali ini bermain sebagai Mrs. Lovett, pembuat pie yang eksentrik dan terobsesi pada Sweeney Todd.
Tokoh antagonis Hakim Turpin dilakoni oleh Alan Rickman yang juga setia ambil bagian dalam franchise Harry Potter.

Director:
Sutradara bercita rasa seni tinggi bernama Tim Burton ini mengawali pengarahan pertamanya dalam The Island of Doctor Agor (1971).

Comment:
Memenangkan Piala Oscar kategori Best Achievement in Art Direction di tahun 2008 sudah cukup berbicara banyak mengenai visualisasi film ini. Kita semua sudah kenal seorang Tim Burton dan karya-karyanya yang kaya imajinasi dan biasanya gelap. Dan kinerjanya disini berbaur sempurna dengan cerita yang disajikan. Prolognya menceritakan asal usul Benjamin Barker sampai ia bertransformasi menjadi Sweeney Todd. "Kolaborasinya" secara tidak langsung dengan Mrs. Lovett juga terasa natural dikarenakan sama-sama menghadapi situasi yang tidak menguntungkan pada awalnya. Sampai disini baik Depp maupun Bonham Carter mampu menjawab tantangan peran manusia ekstrim yang ditawarkan kepada mereka. Keduanya juga berbagi chemistry dengan baik dan sangat mendominasi scene. Beruntung Rickman dan si kecil Sanders mampu mengimbangi walaupun tidak sebanding porsinya.
Sweeney Todd : The Demon Barber Of Fleet Street bukanlah film publik yang "mudah" dikonsumsi, ada rasa tidak nyaman saat menyaksikannya. Bagi sebagian orang, dialog-dialog yang dinyanyikan akan terdengar "aneh" dan tidak merdu samasekali. Tetapi sekali lagi drama thriller musikal ini menurut saya solid dari berbagai elemennya. Unsur gothic yang dihadirkan konsisten sepanjang film berpadu dengan warna merah darah yang seringkali terpercik. Dan pada akhirnya ditutup dengan twist miris yang sangat menggetarkan di 20 menit terakhir. Definitely a must see movie for Burton fans!

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$52,898,073 till end of March 2008.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 27 July 2010

D'LOVE : Konflik Cinta Segitiga Petarung Jalanan

Storyline:
Kecewa atas kenyataan ayahnya kaya raya karena korupsi, Elmo memilih untuk meninggalkan rumah dan menjadi petarung jalanan demi menyambung hidup. Meski demikian, ia tetap bersekolah dengan alasan sesungguhnya bisa dekat dengan April, gadis berbakat menjadi pianis yang berayahkan seorang gay bernama Baskara. Selain April ada juga Neina yang sangat mengerti pribadi Elmo dan sebenarnya mencintainya juga. Semakin lama Elmo semakin terjerumus dalam pertarungan liar yang membuatnya dekat dengan Bocor, bocah jalanan yang selalu setia memberikan dukungan. Bagaimana konflik cinta segitiga Elmo-April-Neina tersebut dapat terselesaikan?

Nice to know:
Diproduksi olek Bintang Timur Films & Dreamcatcher Pictures dan gala premierenya dilakukan di Planet Hollywood 27 Juli yang lalu.

Cast:
Baru saja membintangi Jinx yang kurang bergaung itu, Aurelie Moeremans kembali sebagai April yang pandai bermain piano.
Terakhir bermain dalam Taring, Rebecca Reijman disini didaulat sebagai Neina yang terpaksa menjual diri demi membiayai pengobatan neneknya.
Debut Agung Saga sebagai Elmo, petarung jalanan yang lari dari rumah yang menawarkan kemewahan.
Ahmad Albar sebagai Baskara.
Rizky Adrianto sebagai Bocor.
Shierly Rushworth sebagai Susan.

Director:
Helfi Kardit yang terakhir menggarap The Sexy City kali ini selain menyutradarai juga memproduseri bersama Fanny Nasry.

Comment:
Dari premis awal yang disajikan sebetulnya memiliki potensi yang baik untuk menjadi drama yang tergarap secara maksimal. Namun semua terasa mentah di tangan penulis Amorita dan diperparah dengan terjemahan dari Helfi. Yang patut saya puji dari kinerja Helfi adalah sinematografi yang cukup konsisten sepanjang film, terlepas dari itu masih minus besar. Seluruh konflik utama maupun tambahan yang disajikan seakan berlomba-lomba untuk jadi yang terpenting dan pada akhirnya serba tanggung dan tidak benar-benar terangkat ke permukaan. Apa penyebab konflik tersebut dan bagian penyelesaiannya menjadi tidak ada garis batas sama sekali. Seakan penonton diajak naik ke puncak tetapi tidak benar-benar sampai ke puncak dan malahan dipaksa turun dengan gerutu dan kening berkerut di wajah mereka. Hal tersebut juga yang menggagalkan performa trio Aurellie, Rebecca, Agung. Jangan salahkan mereka. Di beberapa scene, Agung terlihat meyakinkan sebagai petarung jalanan yang tangguh sekaligus terluka batinnya. Interaksinya dengan Rizky terlihat natural tetapi karakter Bocor itu sendiri seakan penting tidak penting. Aurelie juga menampilkan kehidupan yang tidak bahagia yang ditutupinya dengan bermain piano dan mencari sosok lain yang dapat menggantikan ayahnya. Belum lagi Rebecca yang harus menjalani sesuatu terpaksa dan memendam perasaannya sendiri. Tetapi saya tekankan sekali lagi, karakterisasi mereka bertiga seakan tidak ada artinya karena konsistensi skrip yang tidak maksimal. Alhasil D'Love lebih merupakan potongan dokumenter kehidupan remaja-remaja bermasalah daripada sebuah film secara utuh dari segala elemen di dalamnya. Sayang sekali!

Durasi:
75 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Monday, 26 July 2010

FRAGILE : Evakuasi Rumah Sakit Anak Terbengkalai

Storyline:
Nyaris 100 tahun didirikan, RS Anak-anak Mercy Falls akhirnya ditutup. Sepertinya otoritas lokal mendeteksi ada yang tidak beres pada struktur bangunannya. Sepanjang tiga minggu berikutnya, seluruh pasien akan dipindahkan ke RS London tetapi proses tersebut ternyata memakan waktu yang lebih lama. Sebuah badai telah menghambat helikopter yang bertanggungjawab untuk mengangkut 8 anak-anak tersisa. Dan kemudian mulai terjadi peristiwa-peristiwa aneh tepat pada saat suster baru, Amy bertugas malam.

Nice-to-know:
Memenangkan Barcelona Film Awards 2006 pada kategori Best Cinematography dan Best Film Editing.

Cast:
Angkat nama lewat pentolan serial televisi beken Ally McBeal (1997-2002), Calista Flockhart bermain sebagai Amy Nicholls, suster malam yang berusaha memecahkan misteri yang terjadi di RS anak-anak yang terbengkalai itu.
Aktor asal Australia yang pernah bermain dalam M:I-2 (2002), Richard Roxburgh berperan sebagai Robert Marcus.
Elena Anaya sebagai Helen Perez.

Director:
Jaume Balagueró sebelum ini juga menggarap horor Darkness (2002) yang memasang nama Anna Paquin.

Comment:
Nuansa Eropa terpancar kuat disini melalui setting rumah sakit tua yang terbengkalai. Hal tersebut bisa jadi sudah merupakan momok menakutkan bagi anda mulai dari lantai dua yang ditutup tanpa sebab, lift yang ringkih, bangsal yang sepi, lampu yang minim. Belum ditambah musik latar yang naik turun mengiringi emosi film dan tata rias yang detail di setiap sudut sekalipun. Itulah kelebihan sutradara Balagueró yang sepertinya dilahirkan untuk menangani genre horor. Tone penceritaan tercipta dengan baik secara konstan dari awal sampai akhir tanpa lompatan yang berlebihan sehingga audiens diajak merunutnya secara detail. Flockhart di luar dugaan mampu berakting dengan penjiwaan yang baik begitupun dengan semua aktor-aktris cilik yang bermain disini termasuk Yasmin Murphy yang melakoni Maggie dengan sangat natural. Anaya seperti biasa menampilkan karakter yang kuat sesuai jam terbangnya disertai Roxburgh yang berakting sedikit berbeda dari apa yang biasa dilakukannya. Fragile merupakan drama horor yang digarap dengan sensitif dan ditutup dengan ending yang emosional sekaligus membuktikan gaya klasik sekalipun masih dapat diandalkan.

Durasi:
90 menit

Europe Box Office:
€22,058 till Sept 2006 in Netherlands.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Intermission




I'll be back next week.  Somebody water the plants. (Don't forget to scroll down to mute the music first before playing the video.)

Saturday, 24 July 2010

THE SORCERER'S APPRENTICE : Peremajaan Klasikal Dunia Sihir Disney

Quotes:
Balthazar Blake-You're a bad liar, Dave. That's good.

Storyline:
Kedua murid Merlin, Balthazar Blake dan Maxim Horvath terus saja berseteru beratus-ratus tahun memperebutkan guci berisi arwah Morgana dengan tujuan yang berbeda. Balthazar tetap ingin mengurung Morgana yang telah merenggut nyawa kekasihnya Victoria di masa lampau sedangkan Maxim ingin membebaskan Morgana yang dapat membantunya menguasai dunia dengan sihir terkuat. Di masa modern, Balthazar secara tidak sengaja bertemu dengan bocah Dave Stutler yang kelihatannya mewarisi kekuatan Merlin. Sayang lewat suatu insiden, Balthazar dan Maxim terkurung dalam sebuah guci. 10 tahun kemudian, Dave yang beranjak remaja tengah mendekati gadis impiannya semenjak kecil, Becky Barnes dan secara tidak sengaja harus kembali terlibat dalam perebutan kekuasaan sihir tersebut demi menjaga perdamaian dunia.

Nice-to-know:
Saat syuting adegan kebut-kebutan mobil, sempat terjadi kecelakaan di Jalan Sbarro dan Seventh Avenue pukul 1 pagi yang menyebabkan cedera dua orang yang tidak terlalu serius.

Cast:
Pernah menggenggam Piala Oscar gelar Aktor Terbaik lewat Leaving Las Vegas (2005), Nicolas Cage berperan sebagai Balthazar Blake yang harus menjadi mentor bagi pewaris Merlin, Dave Stutler.
Baru saja sukses mengisi suara dalam How To Train Your Dragon, Jay Baruchel bermain sebagai remaja biasa-biasa saja yang mendadak harus menyelamatkan dunia.
Karakter antagonis kedua kali berturut-turut setelah Prince of Persia : The Sands Of Time diemban oleh aktor senior Inggris, Alfred Molina.
Teresa Palmer sebagai Becky Barnes.
Monica Belucci sebagai Veronica.
Alice Krige sebagai Morgana.

Director:
Kerjasama ketiga Jon Turteltaub dengan Nicolas Cage setelah menggarap dua seri National Treasure di tahun 2004 dan 2007.

Comment:
Konon diilhami dari animasi Walt Disney pertama, Fantasia yang mengorbitkan karakter Mickey Mouse, film ini kembali mengupas dunia sihir dan permasalahan umumnya yaitu perseteruan dua penyihir senior dan bagaimana mereka mencari murid masing-masing untuk memperpanjang hegemoninya. Selebihnya tidak ada yang baru sehingga anda hanya perlu duduk manis di dalam bioskop dan dengan mudah mereka-reka adegan apa yang ditampilkan berikutnya. Very predictable! Kemampuan CGI nya terasa terlalu "sederhana" untuk masa sekarang ini. Beruntung alunan Secret nya OneRepublic mampu membangun mood di beberapa scene.
Bagaimana dengan karakterisasinya? Sejujurnya saya sudah agak muak melihat Cage yang seakan kejar setoran dalam 5-10 tahun terakhir dengan berbagai peranan yang nyaris serupa penjiwaannya. Kita pernah menyaksikan gaya mentornya yang tidak berbeda jauh dalam remake Bangkok Dangerous ataupun Kick-Ass baru-baru ini. Baruchel yang "suara"nya dipuji dalam How To Train Your Dragon malah terdengar "sengau" disini dan sedikit banyak penampilannya mengingatkan saya akan Tria The Changcuters. Keluguannya disini sedikit mengganggu sehingga sulit mengundang simpati penonton yang seharusnya muncul. Sayang sekali melihat Belucci hanya menjadi pemanis belaka dan memang tokoh Veronica tidak diberikan banyak ruang selain fakta "love interestnya" Balthazar dan Maxim sekaligus.
Selayaknya produksi Bruckheimer yang lebih menjual spesial efek daripada aspek-aspek lain sebuah film yang lebih penting, Turteltaub memperparah hasil akhirnya dengan eksekusi skrip yang sangat standar. Alhasil The Sorcerer's Apprentice hanyalah modernisasi dari versi klasik Disney yang sebetulnya tidak buruk, hanya saja tidak akan meninggalkan kesan apapun setelah menyaksikannya.

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$24,708,059 in opening week mid July 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 23 July 2010

SOLITARY MAN : Satir Krisis Paruh Baya Ben Kalmen

Tagline:
Ben loves his family almost as much as he loves himself

Storyline:
Memasuki usia paruh baya, Ben Kalmen pernah sukses sebagai penjual mobil di wilayah Tri-State sampai menjadi sampul majalah Forbes. Semua itu berakhir saat ia mengeruk keuntungan "kotor" dari perusahaan tempatnya bekerja hingga berakhir di penjara, walau kemudian bebas dengan jaminan. 6 tahun lalu, Ben disarankan dokter untuk scan jantung untuk mengecek apakah ada kelainan atau tidak tetapi ia menolak. Kini ia menjalani hidup seorang diri dengan caranya sendiri. Bertemu mantan istrinya, Nancy dan anaknya, Susan yang telah berkeluarga dan memberinya cucu, Scotty hingga istri barunya, Jordan serta temannya, Jimmy, Ben menemui berbagai konflik yang sulit dibayangkan sebelumnya.

Nice-to-know:
Reuni pertama Douglas dan DeVito setelahj terakhir The War of the Roses (1989).

Cast:
Menyabet Oscar gelar Aktor Terbaik lewat Wall Street (1987), Michael Douglas memerankan Ben Kalmen, pria paruh baya yang sangat "menikmati" hidupnya.
Susan Sarandon sebagai Nancy Kalmen
Danny DeVito sebagai Jimmy Merino
Mary-Louise Parker sebagai Jordan Karsch
Jenna Fischer sebagai Susan Porter
Imogen Poots sebagai Allyson Karsch
Jesse Eisenberg sebagai Daniel Cheston

Director:
Kolaborasi kedua Brian Koppelman dan David Levien setelah Knockaround Guys (2001) dimana mereka juga menulis dan memproduserinya secara langsung.

Comment:
Sikapilah film ini sebagai sebuah renungan yang diimplementasikan ke dalam satir atau komedi hitam atau apapun sebutan anda, niscaya anda dapat menikmatinya dari awal sampai akhir. Tetapi jika anda tidak siap menerima logika seorang Ben Kalmen dalam menjalani hidupnya, bisa jadi anda meninggalkan bioskop lebih awal. Kisah seorang protagonis yang tidak simpatik yang dihasilkan oleh duo berbakat Koppleman dan Levien yang pernah menghasilkan Rounders (1998) dan Oceans 13 (2007).
Semua jajaran castnya bermain dengan baik. Apresiasi patut dilayangkan kepada Douglas dengan peran yang tidak asing baginya terutama setelah karir panjang selama lebih dari 40 tahun. Di satu sisi ia bermain sebagai pria tua bijaksana yang mampu mencermati langkah-langkah yang harus diambilnya tetapi di sisi lain ia menjadi pria tidak dewasa yang selalu mengikuti insting yang ceroboh dan tidak bertanggungjawab. Kedua hal itu dilakoninya nyaris di setiap scene termasuk berbagi layar dengan supporting cast lain yang juga bermain mengesankan. Kaliberitas Sarandon atau DeVito tidak perlu diragukan lagi dari generasi yang sama dengan Douglas. Sedangkan Poots dan Eisenberg yang mewakili generasi muda juga mampu mengimbangi Douglas.
Endingnya bisa jadi ditebak oleh anda yang sejak pertama sulit "memihak" pada karakter Douglas. Terlepas dari beberapa "missing part" masa lalu seorang Ben Kalmen yang tidak diceritakan (yang mungkin saja lebih mengangkat kualitas film secara utuh), Solitary Man tergolong berhasil menerjemahkan tema krisis paruh baya dengan dialog sarkastis, sikap sinis dan beberapa tindakan "ekstrim" terutama secara seksualitas. Namun bisa jadi itulah pikiran pria sesungguhnya yang kerap mendominasi dan memanipulasi segala sesuatunya, tak peduli berapapun usianya.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$3,850,796 till mid July 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 22 July 2010

SELIMUT BERDARAH : Rencana Pembunuhan Dendam Masa Lalu

Storyline:
Hidup direktur muda bernama Dicky yang membosankan seketika berubah setelah mengenal Ria di sebuah pantai. Perjumpaan singkat itu membuat keduanya jatuh cinta dan sepakat menikah, meski tidak terlalu disetujui kakak dan sahabat Ria, Pinkan dan Mawar. Lewat suatu kejadian, Dicky mengalami short-term memory lost dimana ia hanya bisa mengingat kejadian 10-15 menit sebelumnya dalam kejadian acak. Yang selalu ada dalam catatannya adalah tugasnya untuk membunuh Rehman. Hal ini diketahui tetangganya, Lena dan Angga yang bertekad menyelidiki semuanya. Apa yang sesungguhnya terjadi di masa lalu Dicky?

Nice to know:
Diproduksi oleh K2K Production dan jumpa persnya dilakukan di Planet Hollywood 7 Juli yang lalu.

Cast:
Enno Lerian sebagai Ria
Pinkan Mambo sebagai Pinkan
Han Song Ho sebagai Mawar
Roy Marten sebagai Profesor
Dimaz Andrean sebagai Dicky
Melina Zafar sebagai Lena
Adhi Pawitra sebagai Angga

Director:
Assad M.A dan Ferry Ipey.

Comment:
Dari awal saya ingin ingatkan bahwa efek samping menonton Selimut Berdarah (dan mungkin semua film K2K) adalah penurunan fungsi otak. Dan jangan coba debat saya mengenai hal ini! Yang menjadi penasaran saya adalah siapa sesungguhnya Melonys sang penulis skrip? Pria atau wanita? Intelegensianya sungguh diragukan sebagai penduduk Bumi. Permak sana-sini yang dilakukan duet sutradara Ferry dan Assad juga rasanya sia-sia belaka. Mudah-mudahan ini karena campur tangan KK Dheeraj juga sehingga dosa tidak dipikul oleh satu orang saja.
Plotnya kita kategorikan percintaan dan action thriller. Keduanya tidak saling bersinergi bahkan sangat dipaksakan untuk berbaur. Sungguh tidak penting memajang nama artis Korea yang di prolog film disyut habis-habisan berbikini ria di pesisir pantai, disusul dengan sosok Enno kemudian. Membuat saya membandingkan keduanya dari berbagai sisi dan size. Ups! Kemudian mozaik cerita bergulir dengan fokus pada karakter yang diperankan Dimaz Andrean. Sungguh kasian aktor muda yang satu ini, maksud hati menjiwai peran dengan sungguh-sungguh tapi skrip yang ditawarkan kepadanya tidak memungkinkan. Segala yang dilakukannya mulai dari berpacaran dan melakukan pembunuhan terlihat konyol tanpa alasan. Kehadiran duo Melina dan Adhi juga hanya pelengkap penderitaan. Belum lagi Pinkan yang cuma menyanyikan satu lagu dengan sengau dan melafalkan beberapa kalimat. Roy Marten? Tentunya sudah ditekankan kalau ia tidak dalam posisi memilih peran? Ah sudahlah, saya tidak mau menggurui para castnya kalau sejak awal mereka memang sudah "terjebak".

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Summer Stock - 1950


Summertime will always carry for many of us the intangible essence of freedom, the pursuit of dreams, and a sense of suspended work for play. There are plenty of tangibles that go along with this: the hot weather mainly. But if the livin’ is not always easy, the vague promise of a better life even in just a lawn chair or hammock for a handful of weekends seems like Shangri-la compared to rat race we’ve chosen for ourselves the rest of the time. I don’t know if we can really catch the idyll of summers of our childhood, but the memory of them, perhaps romanticized, is what probably pushes us to think we can.

“Summer Stock” (1950) seems to evoke a lot of what is possible about achieving dreams, or just being left alone to dream them, in the summer. I doubt this was intentional by MGM, for which this was just another (hopefully) blockbuster musical with Judy Garland and Gene Kelly in a post-War era where movie musicals were just about to launch into a decade which would prove both their Golden Age and their swan song. Clearly, in the backwash of World War II, at the dawn of the Korean War, we were dreaming of the easy life, but squirming with a restless foreboding of the summer’s end.

Judy and Gene are grown ups, but this is the old “let’s put on a show” formula Judy had been playing since she was in pigtails. Her next musical four years later, “A Star is Born” would be much more grown up, if still from well-worn material.

Here, Judy runs the family farm in Connecticut, with reliable Marjorie Main in her patented role as a daffy housekeeper. Gloria DeHaven plays Judy’s spoiled kid sister, whom Judy has supported through various colleges and aborted creative endeavors.

The farm is struggling. Judy’s two ancient farmhands are leaving her to go down to “Hartford way” in their Sunday suits to get jobs in factories. But, all is not lost, because kid sister is finally coming home to help on the farm. And Judy has a new tractor to help with the harvest.

Judy’s beau, played by sickly, and very funny, Eddie Bracken, is plagued with allergies and a lack of confidence. The latter we can attribute to his overbearing father, the dependable Ray Collins in a delightfully skewered version of his usual authoratative figures. He runs the general store, in which his milksop son is the clerk. Father wants the two to be married to unite the two oldest families in the community. Judy seems sympathetic to Eddie Bracken, but in no special rush to tie the knot.

The plot thickens. Spoiled kid sister brings home her boyfriend, Gene Kelly, and Mr. Kelly’s crew of actors and stagehands. He is a hopeful young director, and spoiled kid sister has promised him the use of Judy’s barn to put on his show.

We mentioned in this recent post about “A Stolen Life” (1946) how old movies depicting rural New England frequently demonstrate our apparent love of square dancing. But, as we see here, barns in New England (uh, that’s b-a-a-h-n-s), have another use. No, not for housing cows. That other use, summer stock, which is often called The Barn Circuit.

Here we get a two-fer deal, as Judy’s barn is the setting for both a square dance and a summer stock theater. According to Ray Collins, “Square dancing is part of our tradition.” The scene begins with a very proper Portland Fancy (which is an old-time contra dance very popular in New England once upon a time and can still be found in the odd place or two of a summer evening). In this post in my New England Travels blog about the scrapbook of a young girl, you see a dance card from the early 1920s, on the back of which lists the dances to be performed. One is the Portland Fancy.

Before too long, however, this b-a-a-h-n dance turns to be-bop, as the rowdy acting company takes over, and this is only a small bit of havoc they wreak on the farm. Ray Collins is mostly incensed at their presence just because they are, well, actors. You know what theater people are like.

Mr. Collins reminds Judy that her ancestors were part of the community in 1694 that banned “theatrical entertainment of any kind.” This sounds bombastic, funny, and ridiculous, but it’s not. It’s historically true. Puritan, and then Victorian, New England had such a hard time accepting theatre that some early theaters, like the Boston Museum, called themselves…well, museums. Author of “Little Women” Louisa May Alcott loved to attend plays at the Boston Museum. She and her sisters even play acted stories at home in Concord. In the b-a-a-h-n.

At some point in the 20th century, old prejudices died out enough for rural New England communities to take visiting actors as guests in their homes when they played at the local summer stock theater. There weren’t a whole lot of Ramada Inns or quaint B&Bs back in the day, so the theatre folk relied on a spare room where it was offered.


In “Summer Stock”, we have the wonderfully boorish Hans Conried as the lead actor, a peacock who smoothly turns everyone into his servant. He rates his own bedroom in Judy’s farmhouse, while the rest of the cast bunk out in the b-a-a-h-n.

The women are separated from the men, of course, in the dormitory hay loft, with ever-vigilant Marjorie Main guarding their virtue with a double barreled shotgun. Yes, sir, all the comforts of home.

Back to Judy’s troubles. Wanting to support spoiled kid sister, she allows the show to go on, provided the actors help with the farm chores. Never ask Phil Silvers, who plays Gene Kelly’s inept and brutally annoying sidekick, to do anything for you.

We see the rehearsals which, because they are performed regular clothes, with a box and an old cart for sets, look silly and amateurish. We cannot imagine what the show is really supposed to look like, but they can because it’s their show. Like children, it is real to them. They are living their summer fantasy.

And Judy and Gene fall for each other. Nobody wants to hurt anybody, but this is a musical, and everybody gets hurt.

Judy must have been hurting pretty badly in real life about this time. “Summer Stock” has come down to us as the third and final time she was paired with Gene Kelly, the last time she ever worked for MGM, and the movie that was filmed during one of her worst periods of rocky health due to drug addiction. There are backstage stories with this as with just about every film, but what’s remarkable is you’d never know it by what you see on screen.

Judy Garland was what many called a triple threat: she could sing, she could dance, and she could act. Anything she turned her hand to on stage, she did well, and often brilliantly. Here we see her precise comedic timing. She could do more with a look or a gesture than the other comics could do with pages of the best material.

She displays swift and sudden sadness, brittle disappointment, and her eyes tear as she speaks. She makes you believe her. Then she does the “Get Happy” number, filmed after the rest of the movie was in the can, having lost some extra pounds and looking fabulous. How many times had she pulled a rabbit out of the hat?

She certainly pulls a hat trick in this movie, in real life, and reel life. Spoiled kid sister takes off with Hans Conried and Judy must save the day. Gene coaches her, and she does a Ruby Keeler act, learning all the songs and dances in a couple days so they can have still have opening night in the b-a-a-h-n when all the big producers from Broadway will be there.

The acting company names itself “Falbury Farm Players” and their show is called “Fall in Love.” About the second most vague title in play-within-a-movie history, losing out to “Playing Around”, which was the show Bing Crosby and Danny Kaye produced in “White Christmas” (1954). Which was put on up the road in Vermont. In a b-a-a-h-n.

We see numbers from the big show, and we know that Judy and Gene are sweethearts now as well as co-stars. What we don’t know is if she can give up her family farm to become his leading lady in New York. We don’t know what the judgment of the big time Broadway producers is, because the show ends at the final song. There is no one running up from the audience with a contract. The song ends, a playful parody of barnyard hijinks with garish colors and arms thrown upward as if to send that last high note on its way. Roll credits.

It’s a summertime moment, where the adults are kids putting on a show, and act out their dreams, and don’t worry too much if they are practical or even possible. It is a suspended moment. We don’t hang around for harvest time.

This film was made in 1950. For more on Hollywood actors appearing in real New England summer stock in the summer of 1950, have a look at yesterday’s post in my Tragedy and Comedy in New England blog.

Below, have a look at the trailer for “Summer Stock”, and also for Judy’s “Get Happy” number.




Wednesday, 21 July 2010

FURRY VENGEANCE : Balas Dendam Binatang Terhadap Developer

Tagline:
He came. He saw. They conquered.

Storyline:
Perhutanan Oregon akan dihancurkan Neal Lyman dan dibangun menjadi area permukiman sekaligus pusat perbelanjaan. Untuk itu Neal mengutus ketua tim developer yang kesekian kalinya, Dan Sanders untuk menangani proyek tersebut. Istri dan anak Dan, Tammy dan Tyler terpaksa menerima kenyataan mereka tinggal di rumah contoh dan jauh dari peradaban normal selama setahun. Tanpa mereka semua sadari, sekelompok binatang hutan yang dipimpin seekor rakun cerdas tengah menyiapkan serangan balasan untuk menggagalkan semua pembangunan tersebut. Siapa yang akhirnya menang?

Nice-to-know:
Sempat dipertimbangkan nama Steve Carell dan Jeremy Piven sebelum akhirnya Brendan Fraser mengambil peran Dan Sanders.

Cast:
Peran layar lebar pertamanya dilakoni Brendan Fraser dalam Dogfight (1991). Kini ia memerankan Dan Sanders, agen developer real-estate yang bermasalah dengan rakun dan sigung pengganggu.
Angkat nama lewat serial televisi "Community", Ken Jeong menjadi Neal Lyman, bos Dan yang cerewet menyebalkan.
Brooke Shields sebagai Tammy Sanders
Matt Prokop sebagai Tyler Sanders

Director:
Roger Kumble angkat nama setelah mengarahkan film pertamanya, Cruel Intentions (1999).

Comment:
Sebelum menuntaskan niat anda untuk menonton film ini, saya ingatkan bahwa saat ini sudah tahun 2010! Masihkah relevan plot serupa yang diutarakan dengan jaman sekarang? Jawabannya tidak. Kita sudah berulang kali menyaksikan perseteruan hewan dan manusia atas dasar apapun di atas jalur komedi tentunya. Seribu satu trik konyol sudah ditampilkan sehingga tidak ada kejutan yang berarti lagi.
Trio oon Fraser, Jeong, Shields semakin memperparah karir akting mereka masing-masing dengan bermain disini. Jeong yang bermuka Asia bisa sedikit termaafkan karena Hollywood masih membutuhkan figur seperti ini untuk sidekick ataupun antagonis komedik. Shields yang sempat dinobatkan sebagai salah satu wanita tercantik era 90an kini tinggal nama saja. Lalu Fraser? Namanya menukik drastis belakangan ini. Saya pikir obesitas adalah salah satu alasannya. Entah disengaja atau tidak? Dan ia semakin memperbodoh penampilannya dengan bra ataupun pakaian wanita berwarna menyala disini. OMG!
Sutradara Kumble sedapat mungkin memaksimalkan animasi CGI untuk menggantikan peran si rakun dan sigung pengganggu di setiap scene. Sepintas terlihat mulus tetapi jika dicermati terlihat sangat nyata kepalsuannya. Dan melihat mereka berkomunikasi dengan "balon bicara" selayaknya di komik-komik bergambar yang bahkan tidak dapat dimengerti sungguh mengolok-olok logika audiens. Setelah hari yang berat di kantor, awalnya saya pikir film ini dapat mengobati kepenatan dan ternyata saya salah. Furry Vengeance mungkin saja menghibur dan membuat anda tertawa lepas tetapi percayalah sesungguhnya tidak benar-benar lucu dan terlalu dangkal sebagai sebuah hiburan.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$17,596,256 till mid July 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 20 July 2010

FAST TRACK : Perseteruan Pecundang Dengan Mantan Kekasih Istri

Tagline:
Credit-grabbing, back-stabbing, wife-nabbing. Just another day at the office.

Storyline:
Pasangan suami istri kota Manhattan, Sofia yang bekerja sebagai pengacara dan Tom yang berkarir sebagai koki mengalami masalah setelah kelahiran putra pertama mereka, Oliver. Sofia yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga saja harus mendapati kenyataan suaminya dipecat karena berselisih dengan bosnya. Tom terpaksa setuju untuk bersama-sama pulang ke kampung halaman Sofia di Ohio dan bekerja di agensi periklanan atas bantuan mertuanya. Di sana, Tom bertemu Chip, sang direktur lumpuh yang juga mantan kekasih SMU istrinya. Persaingan tidak sehat pun mulai timbul di antara keduanya. Berhasilkah Tom keluar dari kesulitannya?

Nice-to-know:
Peran pertama Charles Grodin setelah 13 tahun sebagai Bob Kowalski yang dipasangkan dengan Mia Farrow sebagai Amelia Kowalski yang terkenal sebagai aktris film-film horor lawas.

Cast:
Sebelum ini tampil tanpa tercantum namanya di credit title The Pursuit Of Happyness, Zach Braff sebagai Tom Reilly yang berjuang mempertahankan integritas dirinya di mata keluarganya.
Pernah memenangkan gelar Young Hollywood Award tahun 2000, Amanda Peet sebagai Sofia Kowalski yang kesulitan membesarkan bayi lelakinya sendirian selepas mengubur karirnya sebagai pengacara.
Karirnya diawali sejak dini dalam serial televisi Little House on the Prairie, Jason Bateman sebagai Chip Sanders yang culas luar biasa.

Director:
Jesse Peretz menulis dan menyutradarai sekaligus film pertamanya First Love, Last Rites (1997).

Comment:
Publik di luar Amerika mungkin tidak terlalu mengenal nama Braff dan Bateman selain Peet. Namun disini Braff dan Bateman dipasangkan sebagai dua karakter komedikal yang saling berseberangan. Pada beberapa scene, persaingan kotor mereka bisa jadi mengocok perut tetapi masih terasa tanggung. Bateman yang menyebalkan lebih mirip badut bermake-up buruk sedangkan keluguan/ketololan Braff juga masih terlalu dangkal untuk menarik simpati penonton akan nasib malangnya. Peet sendiri tidak banyak mendapatkan kesempatan yang tepat untuk menebalkan peranannya disini. Rasanya kesalahan awal patut dialamatkan pada penulis cerita yang kesulitan mengembangkan plot yang cerdas dengan humor yang dalam, diperparah lagi dengan sutradaranya yang terlihat masih minim pengalaman dalam mengarahkan karakterisasi tokohnya yang terasa satu arah tanpa saling berbagi chemistry. Fast Track yang beredar di Amrik sana dengan judul The Ex hanya "terlihat" solid di awal film tapi menukik tajam di pertengahan sampai ditutup dengan "gampang" di segala konflik yang sudah terbangun. Sebuah komedi ringan yang hanya pantas mengisi waktu luang anda di rumah selagi tiada aktifitas berarti.

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$3,091,922 till early July 2007.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 19 July 2010

MY SISTER'S KEEPER : Ibuku Sayang Kakakku Malang

Quotes:
Andromeda 'Anna' Fitzgerald-Most babies are accidents. Not me. I was engineered. Born to save my sister's life.

Storyline:
Anna menyewa pengacara terkenal, Campbell untuk menuntut orangtuanya akan hak atas tubuhnya sendiri meski ia baru berusia 11 tahun. Pasalnya, orangtuanya akan mengambil sebelah ginjalnya untuk diberikan pada saudari kandungnya yang berusia 15 tahun, Kate yang menderita leukemia hingga menjadi kanker ganas. Dan hal ini bukan pertama kalinya karena sejak lahir “Anna” didesain kedua ayah ibunya sebagai penyokong kesehatan Kate. Bagaimana dilema ibu dan anak tersebut dapat terselesaikan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Elle Fanning dan Dakota Fanning semula mendapatkan peran Anna dan Kate Fitzgerald tetapi dibatalkan karena Dakota menolak mencukur habis kepalanya sesuai tuntutan skenario.

Cast:
Mendapatkan nominasi Teen Choice Awards 2009 kategori Choice Summer Female Movie Star dalam film ini, Cameron Diaz memerankan Sara Fitzgerald, seorang ibu yang bisa dikatakan tidak bersikap adil pada kedua putrinya.
Jangan ragukan Abigail Breslin yang pernah mendapat nominasi Oscar 2007 kategori Aktris Pembantu Terbaik dalam Little Miss Sunshine (2006). Disini ia bermain sebagai karakter utama Anna Fitzgerald yang seakan kejam terhadapi kakaknya sendiri.
Aktingnya sebagai Kate Fitzgerald bisa jadi membuka pintu kesempatan bagi Sofia Vassilieva yang belum banyak dikenal ini.
Didukung pula oleh Alec Baldwin, Joan Cusack, Jason Patric dan Evan Ellingson sebagai pengacara handal Campbell Alexander, hakim tegas de Salvo, ayah-anak Fitzgerald yaitu Brian dan Jesse.

Director:
Nick Cassavetes pernah dinominasikan Golden Palm Award dalam Cannes Film Festival melalui She's So Lovely (1997).

Comment:
Saya membaca novelnya yang sangat tebal dan detail itu sehingga ekspektasi saya cukup tinggi mendengar kisah tersebut akan difilmkan. Apa yang terjadi kemudian bisa ditebak. Banyak sekali sub plot yang luput dari visualisasinya. Kekhawatiran sutradara Cassavetes akan durasi yang terlalu panjang bisa dimaklumi karena penyelaman setiap tokohnya teramat dalam. Namun di filmnya, fokus hanya ada pada ibu dan dua putrinya yang bernasib malang tersebut.
Diaz berusaha mempotretkan karakter Sara semaksimal mungkin, tetapi pembawaannya masih terasa kurang matang sebagai wanita dewasa yang menanggung beban berat. Chemistry nya bersama Patric juga tidak pas dan mendapat bagian yang sangat minim. Beruntung ada si mungil Abigail dan Vassilieva yang secara brilian mampu menokohkan kakak beradik tersebut dengan baik, Anna yang manis pintar dewasa bersinergi dengan Kate yang tegar bahagia sendu. Sayang sekali karakter yang dimainkan Baldwin, Cusack, Patric dan Ellingson seakan faktor pelengkap saja, jika mendapatkan porsi yang lebih selayaknya di dalam novel mungkin puzzle rangkaian Jodi Picoult tersebut akan lengkap dan lebih bermakna.
Dramatisasi yang dilakukan memang cukup menyentuh di beberapa scene tapi masih kurang maksimal secara keseluruhan. Atas dasar-dasar itulah My Sister’s Keeper hanya akan menjadi drama yang baik (bagi anda yang bukan pembaca novelnya) tetapi tidak luar biasa jika 70% isi novelnya bisa diterjemahkan juga. Dan yang paling mengecewakan saat penulis skrip Jeremy Leven dan Nick Cassavetes mengubah original endingnya demi lebih bersahabat dengan audiens. Andai saja kepiluan seribu makna yang asli itu dapat tersampaikan, mungkin rasa pilu dan shock bisa lebih menggaung di seantero ruangan bioskop.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$33,860,010 till early Dec 2009.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Movie Locations - Long Beach Airport


The Long Beach Airport in Long Beach, California, specifically its Art Deco style terminal building, has been used in a number of movies over the decades. Among the films with scenes shot here are “The Bachelor and the Bobby-Soxer” (1947), “Executive Suite” (1954), which we’ll discuss in more depth down the road, and “Key to the City” (1950). I believe some modern TV shows have also used this location.

I stumbled on this airport film history accidentally while watching “A Stolen Life” (1946), discussed in this recent post. When Bette Davis was striding through an airport terminal, I suddenly noticed markings on the floor that looked familiar. They turned out to be that map of the world with lines drawn connecting airline destinations we see in the opening scenes of “The Best Years of Our Lives” (1946), when Dana Andrews lugs his overstuffed suitcase across the terminal, looking for a flight home.  Aha, same airport terminal, confirmed by our friends at the IMDb website.

I don’t suppose that shot is discussed that often as a “message image” in this landmark film on the homecoming of three servicemen after World War II, but for me this view of Dana Andrews walking, encumbered with his bag, across the map of the earth in his weary journey home is iconic.

I don’t know if director William Wyler thought of the image that way, but Dana walking across the map seems to set up the stories of these three men arriving from all corners of the earth to get home, and getting stuck, for the moment, at a modern civilian airport that can’t get them where they want to go. It will service the businessman with his golf clubs, but Fred, Homer, and Al must trudge to the Air Transport Command in a ramshackle hangar across the field.

In “A Stolen Life” there is no such greater meaning to the airport terminal, except that Bette Davis is meeting her cousin here while she is pretending to be her twin sister. It is a place of meeting and greeting and new beginnings overshadowed with foreboding.

In “Executive Suite” there is also intrigue in the form of a corporate takeover and executive businessmen jockeying for position in a faltering company. We see Paul Douglas being tailed by Fredric March here, and William Holden and Walter Pidgeon conferring on strategy. All their comings and goings center on business trips. Here the airport backdrop is a place of hustle and urgency. We don’t get to see a shot of the floor in this one, and I’d love to know if that old map is still there.




The Long Beach Airport was built in the late 20s, and commercial aviation began at least by the mid-1930s. The Art Deco style terminal building was constructed in 1941.

For more on the Long Beach Airport, have a look at this website. For more on the history of filming in Long Beach, have a look here.

Sunday, 18 July 2010

INCEPTION : Absurditas Dunia Mimpi Rekaan Nolan

Quotes:
Cobb-Dreams feel real while we're in them. It's only when we wake up that we realize something was actually strange.

Storyline:
Dom Cobb bukan sekadar pencuri ulung, tetapi ia adalah pencuri mimpi seseorang yang menjadi targetnya. Sebuah rahasia dari alam bawah sadar yang bisa jadi kunci dari semua peristiwa di muka bumi. Kemampuan itu membuat Dom menjadi buronan internasional juga yang sempat berakibat kehilangan istri tercintanya, Mal. Kini Dom disewa Saito untuk menuntaskan misi terakhirnya yaitu masuk ke dalam mimpi Robert Fischer, Jr yang baru saja mewarisi perusahaan minyak dari ayahnya yang sekarat. Tentunya Dom tidak sendiri karena dibantu asistennya yang jenius, Arthur dan arsitek muda, Ariadne. Saito sendiri memasukkan nama Earnes dan Yusuf untuk memperlancar aksinya. Mereka merencanakan semua dengan penuh perhitungan tanpa mempertimbangkan musuh tak terduga yang mungkin saja menghadang dalam mimpi-mimpi tersebut.

Nice-to-know:
Ide membuat film ini muncul di kepala Christopher Nolan setelah menyelesaikan Insomnia (2002) dan dijanjikan kepada studio untuk selesai dalam beberapa bulan. Nyatanya butuh delapan tahun untuk kelar dimana proses produksi Inception sendiri sangatlah dirahasiakan.

Cast:
Sempat mendukung 5 episode serial televisi ternama awal 1990an "Santa Barbara", Leonardo DiCaprio berperan sebagai Dom Cobb.
Ken Watanabe sempat dinomasikan Aktor Pendukung Terbaik Oscar 2004 lewat The Last Samurai (2003) dan disini bermain sebagai klien terakhir Cobb, Saito.
Keduanya dinominasikan Aktris Terbaik dalam Oscar 2008 yaitu Marion Cotillard sebagai Mal yang akhirnya menang dan Ellen Page sebagai Ariadne.
Joseph Gordon-Levitt sebagai Arthur
Tom Hardy sebagai Eames
Dileep Rao sebagai Yusuf
Cillian Murphy sebagai Robert Fischer, Jr.
Tom Berenger sebagai Browning
Pete Postlethwaite sebagai Maurice Fischer
Michael Caine sebagai Miles

Director:
Berbagi dengan saudaranya Jonathan Nolan saat mendapatkan nominasi Oscar 2002 kategori Penulisan Skrip Terbaik dalam Memento (2000), pria kelahiran Inggris bernama Christopher Nolan ini menggarap film ke-9nya selama 12 tahun berkarya.

Comment:
Beberapa referensi film yang mengangkat mimpi atau dunia bawah sadar terdahulu mungkin saja pernah hadir dalam ingatan tetapi berapa banyak yang mampu memuaskan anda secara total? Berpendapat sama dengan yang satu ini? Nanti dulu! Saksikan dulu baru berkomentar dan lebih baik anda singkirkan semua review yang membahas film ini karena semakin sedikit anda mengetahui plotnya akan lebih tercengang dibuatnya. Jangan juga berkerut melihat durasinya yang panjang, lakukan seperti yang saya lakukan, melepas jam tangan saat menontonnya dan fokuslah terus pada layar!
Jika mau dirunut semua subplotnya dan mencari penjelasan yang masuk akal rasanya akan sulit. Namun saya rasa hal tersebut tidak akan berpengaruh banyak. Sebab semakin dalam masuk dalam eksplorasi cerita, anda akan menemukan hal-hal yang jauh lebih menarik. Spesial efek yang digunakan juga sangat efektif dan simpel, kontras dengan kompleksitas skripnya. Adegan bertarungnya sedikit mengingatkan pada trilogi Matrix yang melawan gaya gravitasi. Belum lagi penggambaran arsitektur kota-kota yang teramat unik dalam dunia mimpi. Bonus lagi, gubahan komposer Hans Zimmer menyatu dengan pas di setiap scene nya hingga terkadang membuat anda merinding.
Dari jajaran cast, DiCaprio sekali lagi menunjukkan performa terbaiknya sebagai aktor terbaik yang dimiliki Hollywood saat ini. Bukan hanya ia pribadi yang menunggu Piala Oscar tetapi seluruh penikmat film dunia rasanya setuju jika suatu saat gelar tersebut sampai di tangannya. Dan kabar baiknya, disini Leo tidak perlu berjuang sendirian mengangkat film seperti yang biasa dilakukannya. Page dan Gordon-Levitt yang notabene masih muda dan Hardy yang miskin pengalaman tampil memuaskan sebagai supporting cast. Publik Jepang juga nampaknya perlu berbangga akan sosok Watanabe yang kharismatik. Kesemua aktor-aktris yang mendukung film ini tampil brilian dan mengusung efek magis yang ingin disampaikan sutradara Nolan. Mengenai pria yang genap berusia 40 tahun ini sanggup menjawab tantangan paska kesuksesan kualitas dan komersil The Dark Knight (2008) dengan menghadirkan film kelas A.
Inception merupakan sci-fi action thriller kontemporer dengan berbagai twists dan turns yang akan membuat anda terus bertanya-tanya sepanjang film tetapi tetap tergugah mengikutinya sambil menikmati suguhan sinematografi yang luar biasa. Selayaknya absurditas mimpi, kesimpulan akhir film juga tergantung pandangan anda sendiri dan bisa jadi bahan diskusi yang mengasyikkan dengan rekan-rekan audiens yang lain. Satu yang pasti, film ini akan menjadi salah satu cult movie terbaik dunia perfilman era tahun 2000 ke atas.

Durasi:
140 menit

U.S. Box Office:
$21,645,000 in opening week mid July 2010.

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 17 July 2010

BROOKLYN'S FINEST : Pertentangan Baik Buruk Kriminalitas & Kepolisian

Tagline:
This is War. This is Brooklyn.

Storyline:
Berkisah tentang tiga petugas polisi New York dengan latar belakang yang berbeda-beda. Sal yang menangani narkoba kesulitan menutupi biaya hidup keluarganya termasuk kehamilan anak kembar istrinya dan kedua putrinya yang beranjak remaja. Lalu Eddie yang bertugas patroli jalanan hanya memiliki sisa 7 hari sebelum masa pensiunnya tiba dan ia harus mencari makna dari tugas sehari-hari yang sudah ia lakukan selama bertahun-tahun. Kemudian Tango yang sebetulnya preman tetapi diangkat sebagai detektif demi menyelidiki mafia kulit hitam termasuk salah satu sahabatnya Caz yang juga menjadi targetnya. Ketiganya mengalami pergulatan masing-masing untuk tetap di jalurnya atau keluar dari itu.

Nice-to-know:
Film pertama Wesley Snipes yang diedarkan di bioskop Amerika setelah terakhir Blade : Trinity (2004).

Cast:
Richard Gere pertama kali muncul lewat serial televisi, Chelsea D.H.O. (1973). Disini ia berperan sebagai polisi patroli paruh baya, Eddie.
Pernah dinominasikan Aktor Terbaik Oscar 2005 dalam Hotel Rwanda (2004), Don Cheadle bermain sebagai detektif "dua sisi" Tango.
Ethan Hawke mengawali akting via Explorers dan kali ini kebagian peran polisi pemberantas narkotik Sal yang berjuang demi keluarganya juga.
Wesley Snipes sebagai Caz
Vincent D'Onofrio sebagai Carlo
Brian F. O'Byrne sebagai Ronny Rosario
Will Patton sebagai Lt. Bill Hobarts
Lili Taylor sebagai Angela
Ellen Barkin sebagai Agent Smith

Director:
Film layar lebar pertama Antoine Fuqua yaitu mengarahkan debut Hollywood superstar Hongkong, Chow Yun Fat dalam The Replacement Killers (1998).

Comment:
Bagi yang pernah menyaksikan karya Fuqua sebelumnya mungkin sudah familiar dengan gaya sutradara kulit hitam yang satu ini. Biasanya ia menampilkan suasana kelam yang berawal dari tragedi serta memberikan tekanan penuh pada setiap karakternya. Dan itu diulanginya lagi disini. Sal yang harus berdiri antara keluarga atau karirnya, dipotretkan dengan sangat baik oleh Hawke yang belakangan namanya seperti ditelan bumi. Tango yang harus memilih bekerjasama dengan kepolisian atau memihak sahabatnya sendiri, dijiwai dengan emosi yang tepat oleh si aktor watak Cheadle. Eddie yang lurus hidupnya harus mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk tugas yang sebetulnya tidak diwajibkannya, diekspresikan dengan pas oleh Gere yang sudah semakin berumur tetapi tetap kharismatik.
Plotnya bisa dikatakan klisenya film polisi ditambah dengan unsur rasialis yang nampaknya masih kental di New York, pernah disyut dengan brilian dalam Crash (2004). Namun yang membedakan adalah eksekusi Fuqua terhadap jajaran castnya cukup memukau disamping kemampuan di atas rata-rata aktor-aktrisnya tersebut. Durasinya yang panjang penuh dengan dialog-dialog tajam sinis yang sarat kata "fuck", jika saya membawa counter tentunya bisa memberikan data yang valid! Beberapa tembakan tak terduga mungkin akan mengejutkan anda disertai dengan kucuran darah tentunya. Harus diakui sedikit membosankan di awal tetapi berhasil mencapai klimaks yang mengejutkan di akhir. Brooklyn's Finest cukup bagus tetapi tidak cukup bagus untuk dikenang oleh audiensnya.

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$27,154,426 till mid May 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent