Wednesday, 31 August 2011

GET MARRIED 3 : Ketidaksiapan Ayah Kekhawatiran Ibu

Quotes:
Rendy: Kalo tahu penontonnya banyak, aku bisa lebih banyak atraksi tadi


Storyline:
Bertahun-tahun sudah, Mae dan Rendy kini sudah memiliki tiga bayi yang lucu-lucu, masing-masing diberi nama Mark, Oprah dan Hanung. Kebahagiaan itu tidak bertahan lama karena Mae malah mengalami baby blues syndrome yang membuatnya terus-menerus menangis. Rendy yang khawatir langsung mengutus Guntoro, Beni, Eman untuk menemani keseharian Mae. Campur tangan juga datang dari ayah ibu Mae serta ibu Rendy yang memiliki gayanya masing-masing. Semua mulai porak poranda saat Rendy nekad mendatangkan Eyang Mae dari Arab hingga berujung pada pertengkaran Mae dan Rendy karena Rendy dinilai tidak becus sebagai ayah dan suami sekaligus. Akankah keduanya dapat kembali rukun seperti sediakala?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dimana screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 25 Agustus 2011.

Cast:
Nirina Zubir sebagai Mae
Fedi Nuril sebagai Rendy
Amink sebagai Eman
Ringgo Agus Rahman sebagai Beni
Deddy Mahendra Desta sebagai Guntoro
Meriam Bellina
Jaja Mihardja
Ira Wibowo
Ratna Riantiarno

Director:
Merupakan film ke-8 Monty Tiwa yang diawali lewat Maaf, Saya Telah Menghamili Istri Anda (2007).

Comment:
Satu sekuel sudah merupakan pertaruhan tersendiri, apalagi jika tidak melampaui kesuksesan prekuelnya dari segi kualitas maupun perolehan jumlah penonton. Jika dilanjutkan dengan sekuel keduanya? Nah ini tentu keberanian seorang produser bernama Chand Parwez Servia untuk melakukannya. Namun melihat Get Married sudah memiliki fan base khusus, rasanya keputusan tersebut tidak dibuat secara mentah-mentah.
Musfar Yasin yang mengangkat tema cinta beda kasta dalam Get Married, tugasnya dilanjutkan oleh Cassandra Massardi dalam dua sekuelnya kemudian yang masing-masing mengetengahkan topik kesulitan memperoleh keturunan dan problematika baby blues syndrome. Yang terakhir ini boleh dibilang terlalu ringan untuk dieksplorasi panjang lebar, untuk itu dibutuhkan tambahan konflik lawas nan klise dalam sebuah hubungan suami istri yaitu kepercayaan!
Pergantian sutradara dari Hanung Bramantyo ke Monty Tiwa juga memberikan kontribusi yang signifikan. Monty di mata saya adalah sutradara bertalenta yang angin-anginan, ia bisa bagus dengan karya jelas, bisa juga buruk dengan karya tak tentu arah. Kali ini Monty tampaknya sudah berusaha menyuguhkan unsur drama dan komedi tontonan keluarga yang seimbang sehingga minus-minus yang terjadi tidak boleh ditimpakan lagi kepadanya.
Entah mengapa tokoh Rendy “ditakdirkan” untuk selalu berganti dari awal sampai sekarang. Jika sebelumnya dua tokoh “Indo”, kali ini pilihan justru jatuh pada Fedi Nuril! Khusus akting, saya tidak meragukan aktor yang satu ini tetapi membayangkannya memiliki pesona yang sama dalam balutan komedi? Nanti dulu. Terbukti sepanjang satu setengah jam, Fedi tidak konsisten melakukannya, terkadang lucu (sebagian atas bantuan dialog) sedangkan sisanya canggung!
Lain halnya dengan Nirina, Desta, Ringgo, Amink yang sudah memiliki keterikatan dengan peran masing-masing. Jujur saja tidak ada yang baru dari apa yang mereka tampilkan disini. Fakta bahwa semua faktor komedik yang sudah terduga itu memang tidak lagi menyenangkan untuk sebuah film komedi. Apabila digambarkan dalam grafik, maka tinggal bayangkan sebuah kurva menukik tajam yang tinggal menunggu waktu untuk keluar dari titik nadir sekalipun.
Meski secara keseluruhan masih memenuhi standar hiburan film liburan, Get Married 3 terasa sekali menyeret penonton (yang sebenarnya datang ke bioskop sudah dengan perasaan apatis) untuk terus mengikuti sajian basi dengan bumbu yang tidak lagi menggugah selera. Andai masih ada pihak yang berupaya memperpanjang nyawa franchise ini di kemudian hari, saya sangat merekomendasikan format sinetron saja. Setidaknya penghasilan dari slot iklan adalah ide yang jauh lebih baik dibandingkan merampok orang untuk membayar karcis bioskop.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Monday, 29 August 2011

AGE OF HEROES : Operasi Grendel Inggris Kontra Jerman

Quotes:

Major Jones: “We are the masters of our own lives!”





Storyline:

Pada tahun 1940, Jenderal Jones ditugaskan memandu 8 prajurit melintasi Norwegia meski ditentang istrinya Sandra yang tengah mengandung. Akhirnya Jones bersama spesialis Roger Rollright bertekad menemui agen Beowulf dan menghancurkan Stasiun Freyo milik Jerman sekaligus mencuri teknologi RDF dalam Operasi Grendel. Ia didukung pula oleh si lemah fisik Brightling dan Kopral Bob Rains yang memaksa ikut. Namun tentara Jerman yang terkenal bengis tentu tidak tinggal diam mengetahui ada yang membayangi mereka. Berhasilkah misi tersebut dijalankan dengan korban seminim mungkin?



Nice-to-know:

Diproduksi secara keroyokan oleh Atlantic Swiss Productions, Cinedome, Cinema Five, Giant Films, Matador Pictures, Metrodome Distribution, Moskus Film, Neon Park.



Cast:

Memulai karir aktornya lewat Winter Flight (1986), Sean Bean bermain sebagai Jones

Baru saja saya menyaksikannya dalam Severance (2006), Danny Dyer berperan sebagai Rains

Izabella Miko sebagai Jensen

James D'Arcy sebagai Ian Fleming

John Dagleish sebagai Roger Rollright



Director:

Merupakan feature film ketiga yang ditangani oleh Adrian Vitoria setelah terakhir The Crew (2008).



Comment:

Berapa banyak film yang mengangkat topik Perang Dunia Kedua dengan permainan kucing tikus antar kubu Jerman dan Inggris dari satu tempat ke tempat lain sebelumnya? Terlalu panjang jika harus menyebutkannya disini, salah satunya yang terbaru fenomenal adalah Inglourious Basterds (2009). Tidak bijak jika membandingkan keduanya karena produser James Brown kali ini terlihat tidak memiliki modal yang memadai untuk menjadikannya megah.

Meski demikian duet penulis Vitoria dan Ed Scates berhasil menyajikan action flick yang solid dari kacamata seorang Jenderal Jones. Semua terasa believeable disini mulai dari kamp pelatihan hingga misi lapangan di Norwegia, tidak terlalu detil tapi informasinya cukup bagi penonton untuk mau peduli dengan perjalanan mereka semua. Keseluruhan karakter dalam film ini memang cukup terasa pengembangannya tapi sayangnya tidak cukup dalam untuk bisa membangkitkan emosi secara signifikan dalam berbagai scene yang krusial.

Saya tidak pernah meragukan kapabilitas akting seorang Sean Bean. Peran Jenderal Jones di tangannya memiliki wibawa pemimpin yang mengundang simpati. Selebihnya bermain dengan cukup maksimal sesuai tuntutan cerita termasuk Dyer yang lumayan mencuri perhatian dengan peran Rains si pembangkang dan jago tembak itu. Meski demikian para cast disini tidak akan ada yang menetap lama dalam ingatan anda setelah menyaksikannya.

Vitoria menyuguhkan sinematografi yang memanjakan mata dengan dataran Norwegia yang tertutupi salju. Kontras dengan penggunaan spesial efek yang minimalis sehingga adegan peperangan kubu Jerman dan Inggris juga terkesan mini dengan hanya menggunakan beberapa granat dan senjata api saja. Sulit memang bagi sang sutradara untuk memberikan upaya yang lebih maksimal lagi jika sejak awal produser sudah membatasi durasinya sedemikian rupa padahal umumnya film perang lebih dari dua jam tayang.

Age of Heroes juga dirusak oleh ending yang terputus begitu saja. Tidak jelas bagaimana takdir kepahlawanan sang Jenderal, sedangkan perjalanan anggotanya yang selamat menuju Swedia hanya seperti berjalan kaki ke rumah tetangga saja! Sebuah keputusan meminimalisir yang lagi-lagi menghancurkan rating film ini. Sayang sekali karena sesungguhnya potensi yang dimiliki sudah ada tetapi tidak dibangun lebih lanjut. Yang pasti kepedihan semasa perang memang tidak pernah lepas dari tragedi dan kehilangan itu sendiri.



Durasi:

90 menit



Overall:

7 out of 10



Movie-meter:



Saturday, 27 August 2011

RED RIDING HOOD : Ancaman Siluman Serigala Penduduk Desa

Quotes:
Valerie: I'll do anything to be with you.
Peter: I thought you'd say that.


Storyline:
Valerie terjebak di antara dua pilihan yaitu Peter yang mencintainya sejak kecil atau Henry yang dijodohkan oleh orangtuanya. Valerie tampaknya lebih memilih Peter dan merencanakan pelarian bersama keluar dari desa Daggerhorn yang tengah dilanda badai salju. Tak dinyana, kakak Valerie terbunuh oleh serigala untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Pengorbanan hewan yang dilakukan warga desa rupanya sia-sia karena sang monster tersebut lebih mengincar nyawa manusia. Father Solomon pun dipanggil untuk menangkap serigala itu tetapi selama bulan purnama korban masih akan berjatuhan lagi.

Nice-to-know:
Pengecualian bagi Valerie (Amanda Seyfried), semua karakter dari Daggerhorn dimainkan oleh aktor-aktris dengan mata coklat atau setidaknya menggunakan kontak lens warna coklat. Pada akhirnya Julie Christie yang terkenal dengan mata birunya tetap kebagian peran Nenek Valerie.

Cast:
Sebelum ini bermain mengesankan dalam Letters To Juliet (2010), Amanda Seyfried bermain sebagai Valerie
Terakhir muncul dalam The Book Of Eli (2010), Gary Oldman berperan sebagai Solomon
Billy Burke sebagai Cesaire
Shiloh Fernandez sebagai Peter
Max Irons sebagai Henry
Virginia Madsen sebagai Suzette

Director:
Merupakan film kelima Catherine Hardwicke setelah karya terakhirnya Twilight (2008) itu menjadi salah satu film legendaris di kalangan remaja.

Comment:
Siapa yang tidak mengenal legenda si kerudung merah dan sang serigala? Saya yakin sejak kecil anda sudah mengetahuinya dari berbagai versi mulai dari komik, buku, animasi sampai live action movie. Kini penulis skrip David Johnson mengembangkan plot serupa mengenai penduduk desa kecil bernama Daggerhorn selama musim dingin dimana sosok Valerie harus menempatkan diri di tengah cinta, sahabat dan keluarganya sendiri.
Sosok serigala yang ternyata manusia ini menjadi teka-teki yang harus anda jawab di penghujung cerita. Sejak awal anda boleh menerka-nerka siapa kira-kira orangnya setelah mengaitkan dengan motif yang mungkin melatarbelakanginya. Twist inilah yang diyakini filmmaker mampu menjaga penonton untuk tetap pada tempat duduknya masing-masing hingga detik terakhir selain efek CGI yang membuat sang monster terlihat meyakinkan tentunya.

Seyfried menghidupkan karakter Valerie dengan baik dimana sisi emosionalnya dalam memperjuangkan cinta sekaligus integritas dirinya sendiri terpampang jelas. Oldman seperti biasa memperlihatkan kelas yang berbeda walaupun dialog-dialog yang tercipta Solomon disini masih klise adanya. Saya tidak habis pikir mengapa Fernandez berakting dengan kemarahan nyaris di sepanjang film sebagai Peter, dimaksudkan untuk mengelabui penonton barangkali?
Sutradara Hardwicke meneruskan apa yang dilakukannya dalam Twilight (2008) yaitu sinematografi pucat musim dingin yang menekankan rasa sepi. Layaknya palet berwarna-warni yang memanjakan mata. Sayangnya kesan dongeng masih cukup kuat lewat berbagai pengadeganannya sehingga apa yang seharusnya terlihat sadis menjadi diperhalus, sama halnya dengan romantisme yang agak didramatisir dalam tempo yang lambat.

Red Riding Hood mungkin mengingatkan anda pada The Village (2004) milik M. Night Shyamalan dengan tata kostum dan setting yang serupa. Usaha produser Leonardo DiCaprio dkk memang cukup keras untuk menghidupkan dongeng klasik abadi segala usia ke dalam drama thriller masa kini yang lebih gelap dan dewasa. Sayangnya hasil akhirnya masih cenderung gagal karena mencoba terlalu kompleks untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda di setiap elemennya.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$37,652,565 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 26 August 2011

BLUE VALENTINE : Pahit Manis Cinta Kebuntuan Rumah Tangga

Quotes:

Dean: In my experience, the prettier a girl is, the more nuts she is, which makes you insane.

Cindy: I like how you can compliment and insult somebody at the same time, in equal measure.





Storyline:

Dean Pereira dan Cindy Heller Pereira adalah pasangan muda yang bekerja keras untuk menghidupi rumah tangga mereka terlebih kehadiran si kecil Frankie. Sang suami bekerja sebagai pekerja cargo yang membutuhkan kekuatan fisik sedangkan sang istri bekerja sebagai perawat klinik kesehatan yang menuntut kesiagaannya. Masing-masing pernah mengalami kerasnya hidup dan pengalaman pahit sebelumnya bisa jadi mengubah pandangan mereka tentang cinta yang terbangun selama bertahun-tahun terakhir.



Nice-to-know:

Sedianya film akan disyut pada musim semi 2008 tapi mundur karena kematian Heath Ledger untuk memberikan waktu berduka bagi Michelle Williams yang tetap dipertahankan untuk peran Cindy Heller daripada harus mencari aktris lain.



Cast:

Memulai karir aktornya lewat Frankenstein And Me (1997), Ryan Gosling bermain sebagai Dean Pereira

Kemunculan pertama kali dalam salah satu episode Baywatch di tahun 1993, Michelle Williams berperan sebagai Cindy Heller

Faith Wladyka sebagai Frankie

John Doman sebagai Jerry

Mike Vogel sebagai Bobby Ontario



Director:

Merupakan feature film kedua yang disutradarai Derek Cianfrance setelah Brother Tied (1998).



Comment:

Lagi, sebuah drama bertemakan perjalanan kasih dua insan manusia dari mulai perkenalan, kedekatan, pernikahan, rumah tangga. Bedanya trio penulis skrip Derek Cianfrance, Cami Delavigne, Joey Curtis menyuguhkannya dengan mengacak timeline, tidak linier seperti biasanya. Dibutuhkan kejelian dari anda untuk bisa mencerna rentang waktu yang menjadi latar belakang adegan demi adegannya. Untuk mempermudah, lihat saja perbedaan gaya rambut Ryan Gosling disini.

Sederetan dialog realistis sarkastis keluar dari mulut Gosling dengan lancar. Terkadang saya (dan para penonton pria) merasa seperti ada di posisi tokoh Dean Pereira saat bertemu dengan seorang gadis menarik dan berpikir gadis itu hanya akan membalas perhatian jika saya memiliki pekerjaan yang bagus. Yes, men follow their instincts but women need to be secure with their choices. Pertentangan itu akan selalu ada dan simpati akan mengalir untuk Gosling yang sekuat tenaga berusaha tegar menghadapi perubahan sikap istrinya yang sulit ditebak itu.

Namun Williams pun tetap mampu menampilkan empati yang sama kuatnya sebagai pihak wanita yang bekerja habis-habisan demi suami dan putrinya. Pengalaman pahit hidup dalam keluarga yang tidak harmonis membuat Cindy Heller apatis terhadap hidupnya sendiri termasuk rumah tangganya. Bagaimana akhirnya ia demikian mudah menyerah menghadapi kesulitan-kesulitan yang menghampiri. Kita tahu ia sudah berusaha keras hingga memutuskan berhenti di atas semua logika yang mendera.

Chemistry keduanya diperlihatkan secara luar biasa. Dean jatuh hati pada pandangan pertama dan Cindy pun pernah mencintainya. Keakraban di masa pacaran berbanding terbalik dengan kerenggangan di masa rumah tangga. Rasanya memang pantas Gosling dan Williams menerima nominasi Aktor-Aktris Terbaik di ajang Golden Globe yang lalu dengan komitmen akting yang begitu luar biasa termasuk beradegan seksual yang sangat frontal sekalipun, tanpa kecanggungan!

Blue Valentine adalah salah satu drama dengan konsep “jatuh cinta” dan “jatuhnya cinta” yang sempurna, dihadirkan silih berganti dengan alur dan tempo yang tepat. Saya harus peringatkan kalau film ini tidak akan membuat anda nyaman dengan perasaan yang ditimbulkan selama menontonnya. Kekhawatiran, ketakutan, keputus asaan, frustrasi yang bercampur aduk mengiringi jalinan cinta yang mulai memudar. Biasa terjadi pada pasangan yang sudah merangkai hubungan dalam jangka waktu panjang. Sebuah peringatan bagi cinta itu sendiri dan energi yang mungkin dikonsumsinya seiring berjalan waktu dimana pilihan-pilihan itu tetap akan selalu ada.



Durasi:

110 menit



U.S. Box Office:

$9,701,559 till Apr 2011



Overall:

8.5 out of 10



Movie-meter:



Thursday, 25 August 2011

THE TOWN : Perampokan Bank Berbuntut Pertobatan Hidup

Quotes:

Doug MacRay: I'm thinking about making a change...

Stephen MacRay: "Making a change," either you got heat or you don't.





Storyline:

Bertetangga dengan Boston. Charlestown terkenal dengan kasus perampokan yang tinggi dari tahun ke tahun, generasi ke generasi. Bahkan para pelakunya sendiri tidak pernah meninggalkan kota dan bisa hidup tenang dengan hasil rampokannya itu. Salah satunya adalah geng beranggotakan Doug MacRay, James Coughlin, Albert 'Gloansy' Magloan dan Desmond Elden. Doug dan James adalah sahabat dekat sejak kecil dimana Doug juga dekat secara seksual dengan adik James, Krista. Masalah mulai timbul saat Doug menjalin hubungan dengan Claire, seorang manajer bank yang disandera dan dirampoknya. Anggota lain mulai mencium hal tersebut dan mengancam untuk melenyapkan Claire.



Nice-to-know:

Versi aslinya yang dipresentasikan pada produser berdurasi 4 jam. Setelah dianggap terlalu lama maka mengalami beberapa kali pemangkasan termasuk scene-scene favorit dan footnotes dari Affleck.



Cast:

Satu dari dua film yang dibintangi di tahun 2010 selain The Company Men, Ben Affleck bermain sebagai Doug MacRay

Rebecca Hall sebagai Claire Keesey

Jon Hamm sebagai FBI S.A. Adam Frawley

Jeremy Renner sebagai James Coughlin

Blake Lively sebagai Krista Coughlin



Director:

Merupakan feature film kedua yang disutradarai Ben Affleck setelah Gone Baby Gone (2007).



Comment:

Ben Affleck adalah salah satu pesohor Hollywood yang mencapai kebintangan di usia muda sebagai aktor. Pencapaiannya kian sempurna setelah merenggut Piala Oscar lewat Skenario Asli Terbaik dalam Good Will Hunting (1997) bersama Matt Damon di usia 25 tahun! Tidak terlalu mengherankan jika karirnya naik turun setelah itu karena berbagai proyek yang melibatkannya tidak semua berkualitas. Namun mengambil posisi di belakang layar jelas bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Setelah melewati durasi selama dua jam, saya harus akui (kembali) bahwa Affleck memang memiliki talenta tidak hanya dalam peran Doug MacRay tapi juga sebagai sutradara. Lihat bagaimana setting kota Charlestown diperlihatkan secara realistis dan menakjubkan dimana aksi kejahatan itu terjadi, dalam hal ini perampokan yang disertai dengan penembakan bahkan pembunuhan. Emosi penonton berhasil diikat dari awal sampai akhir karena konsep crime drama yang dibesutnya.

Doug MacRay sendiri adalah leader tak resmi dari komplotan tersebut yang untungnya masih memiliki sisi kemanusiaan yang kuat. Masa lalu kelam ditinggal ibunya tanpa sebab perlahan-lahan terungkap hingga visinya untuk mencari jalan keluar suatu saat nanti, termasuk jatuh cinta dengan salah satu mantan korbannya berada di luar skenario. Penjiwaan Affleck disini tidak melulu mengandalkan fisik tapi juga intonasi suaranya yang terjaga baik dalam berdialog atau menggertak sekalipun.

Skrip yang ditulis oleh trio Affleck, Peter Craig dan Aaron Stockard ini terbilang tidak menyuguhkan hal yang baru. Komplotan perampok dengan modus yang terencana rapi menjanjikan aksi yang memacu adrenalin penonton. Plus drama dimana salah satu anggotanya bertekad mundur menawarkan pertentangan hati nurani hitam putih yang bisa jadi berakhir pada tragedi. Yang membuat berbeda adalah akting solid dari aktor-aktrisnya disini tanpa terkecuali.

The Town memang tidak mencoba untuk mengagumkan anda dengan aksi spektakuler yang membutuhkan bujet besar. Cukup dengan gaya perampokan bank yang berbeda lewat berbagai penyamaran unik yang sangat beresiko kehilangan nyawa masing-masing. Pihak FBI sendiri sebenarnya hanya kebagian porsi pendukung tapi tetap menjalankan tugasnya dengan baik. This movie definitely belongs to Mr. Affleck, not just a strong actor with confidence, but also the man behind it with perfection. Tip my hat for him!



Durasi:

120 menit



U.S. Box Office:

$92,173,235 till Jan 2011



Overall:

8 out of 10



Movie-meter:



Wednesday, 24 August 2011

KEJARLAH JODOH KAU KUTANGKAP : Pemuda Desa Kepincut Gadis Model Metropolitan

Quotes:

Asep: Kalo Asep udah cinta jangankan beda kota, beda dunia juga bakal Asep kejar!






Storyline:

Pernikahan yang tidak diinginkan Asep akhirnya terjadi juga karena keluarganya sudah memilih Enok. Dalam perjalanan, melintaslah Farah di dalam mobil beratapkan sunroof yang datang ke kampung Asep untuk sesi pemotretan luar ruang. Seketika Asep jatuh hati pada Farah dan keduanya pun menghabiskan seharian bersama karena kendaraan dinas Farah yang mogok. Asep tidak peduli akan ketidaksukaan Emak dan warga setempat dengan para pendatang tersebut. Sepulangnya Farah ke Jakarta, Asep nekad kabur dari rumah untuk menyusulnya. Apa yang bisa dilakukan pemuda desa di kota metropolitan yang samasekali asing baginya?




Nice-to-know:

Diproduksi oleh Mitra Pictures & Bic Production dimana gala premierenya diselenggarakan di Studio XXI eX pada tanggal 23 Agustus 2011.




Cast:


Andhika Pratama sebagai Asep

Donita
sebagai Farah


Lidya Kandau sebagai Ibu Asep

Joe P Project
sebagai Paman


Polo sebagai Supir Taksi

Mucle
sebagai Ustad


Bertrand Antolin
sebagai Brandon




Director:


Merupakan film kedua bagi Indrayanto Kurniawan setelah Saus Kacang (2008).




Comment:


Percintaan pemuda desa dengan gadis metropolitan. Entah sudah berapa kali tema serupa diangkat ke layar lebar sebelumnya. Masih segar dalam ingatan (meski sebetulnya tidak terlalu memorable) di penghujung tahun lalu ada Kabayan Jadi Milyuner. Jelas yang membuat berbeda adalah jajaran cast dan filmmaker yang terlibat di dalamnya. Masing-masing mempunyai versinya sendiri dan dikembalikan penonton mau berpihak pada yang mana.


Penulis skrip Benni Setiawan masih menunjukkan kelemahannya disini yaitu kesulitan menyatukan berbagai subplot yang sudah terbangun untuk kemudian dikonklusikan pada akhirnya. Pertemuan Asep dan Farah di bagian openingnya bahkan tanpa tedeng aling terlebih dahulu. Terlalu cepat dalam menyimpulkan ada “sesuatu” di antara keduanya setelah cinta pandangan pertama Asep atau Farah yang harus menginap satu malam dimana keduanya terlibat perbincangan yang tak terlalu krusial.

Permasalahan utama film adalah terlalu terfokus pada Andhika dan Donita. Dunia seakan milik mereka berdua, tokoh-tokoh lain yang timbul tenggelam begitu saja seakan berada di “dunia lain” tanpa memiliki pengaruh yang bisa menguatkan bangunan cerita. Kemana Enok setelah dibatalkan pernikahannya? Mengapa reaksi Mak Asep datar seakan tanpa kekhawatiran menyambut kembali kepulangan putra kesayangannya? Apa alasan Bertrand putus sambung dengan mudahnya? Semua pertanyaan tersebut tidak akan pernah anda temui jawabannya.



Rasanya di jaman sekarang ini sulit untuk percaya ada pemuda selugu (kalau tak mau dibilang bodoh) Asep yang sebegitu naifnya mau bersusah payah menerapkan prinsip agamanya di tempat-tempat yang tidak seharusnya. Bagaimana alasan gadis cantik modern hidup dalam kemewahan seperti Farah yang mau peduli pada pemuda desa yang baru sekali ditemuinya itu termasuk mengajaknya tinggal bersama (baca berdua) di apartemennya? Sekeras apapun Andhika dan Donita menampilkan penjiwaan yang sesuai dengan karakter mereka dalam film ini, tetap sulit bagi penonton untuk tidak mengerutkan kening saat menyaksikan polah tingkah keduanya di sepanjang durasi.

Jika sebelumnya sutradara Indrayanto masih cukup berhasil dengan duet suami-istri Ashraff-BCL yang merusak suasana Nyepi di Bali dalam Saus Kacang yang setidaknya mampu menyuguhkan romantisme pembangkit senyum kecil, tidak kali ini dengan pasangan Andhika-Donita. Percayalah tangisan meyakinkan Donita dalam berbagai scene sekalipun tidak mampu menyelamatkan film. Apalagi diiringi scoring musik yang tidak pada tempatnya.


Konsep komedi yang ditawarkan Kejarlah Jodoh Kau Kutangkap ini tergolong masih mampu memancing tawa. Sayangnya bukan tawa lepas melebarkan mulut melainkan tawa kecut mengerutkan kening. Mungkin setelahnya anda harus berpikir keras untuk mencari alasan melakukan itu. Ya setidaknya dua pesan moral coba disematkan kali ini yakni ingatlah akan pedoman agama di setiap tingkah lakumu dan budayakan tolong menolong antar sesama. Terdengar sesuai dengan tontonan Idul Fitri? Anda sendiri yang menentukan!




Durasi:

100 menit




Overall:


6.5 out of 10



Movie-meter:



Tuesday, 23 August 2011

THE ROOMMATE : Kecenderungan Psikotik Teman Sekamar

Tagline:

2,000 colleges. 8 million roommates. Which one will you get?





Storyline:

Setibanya dari Iowa, Sara menemukan kehidupan baru di kampus fashion design Los Angeles yang menyenangkan. Ia kemudian berkenalan dengan teman sekamarnya Rebecca yang terlihat manis dan siap berbagi apapun dengannya. Belum lagi si tampan Stephen yang memikat hatinya atau Tracy yang senang berpesta. Namun seiring berjalan waktu, Sara mulai menemukan keanehan dalam diri Rebecca yang selalu mengintai dan melakukan hal-hal di luar batas untuknya. Akankah persahabatan itu berubah menjadi mimpi buruk?



Nice-to-know:

Diproduksi oleh Screen Gems dan Vertigo Entertainment, rilis di Indonesia dalam format video oleh Sony Pictures.



Cast:

Lebih dikenal sebagai aktris film televisi yaitu Surface ataupun Entourage, Leighton Meester berperan sebagai Rebecca Evans

Sempat mengisi peran kecil dalam (500) Days of Summer (2009), Minka Kelly bermain sebagai Sara Matthews

Cam Gigandet sebagai Stephen

Aly Michalka sebagai Tracy Morgan

Matt Lanter sebagai Jason

Billy Zane sebagai Profesor Roberts



Director:

Pria kelahiran Denmark bernama Christian E. Christiansen ini sebelumnya menggarap 3 film termasuk Crying For Love (2008).



Comment:

Premis film ini mengingatkan saya akan Single White Female (1992), salah satu thriller yang mengesankan saya di usia awal belasan tahun pada waktu itu. Jika harus membandingkan dengan film yang terinspirasi dari novel berjudul sama karangan Francine Pascal ini rasanya bagaikan bumi dan langit dari segala aspek sebuah film. Namun jika anda termasuk generasi muda, mungkin masih dapat menikmati suguhan yang satu ini.

Meester dan Kelly tidak cukup kuat menggali chemistry sebagai dua gadis bersahabat satu kamar yang saling berbagi. Mungkin keduanya tidak cukup keras berusaha sehingga sepanjang film, saya lebih sering mendapati mereka layaknya dua orang asing yang dipasangkan. Tokoh-tokoh lain di luar keduanya juga tidak memberikan kontribusi yang memadai padahal Gigandet, Aly, Lanter, Zane dll bukan nama-nama baru yang kurang menjual. Amat disayangkan!

Konflik yang dikemukakan sedari awal juga berjalan lambat. Tidak mengapa jika terbukti mampu membangkitkan excitement pada akhirnya. Kegilaan yang dilakukan Rebecca juga rasanya masih dapat ditolerir, gagal mencabik-cabik emosi penonton yang harusnya timbul menyaksikan film-film sejenis. Entah kesalahan skrip Sonny Mallhi yang easy atau akting para castnya yang flat sehingga dialog-dialog yang tercipta malah terkesan datar dan cheesy.

The Roommate adalah sebuah teen thriller yang membosankan tanpa gejolak yang patut dipertimbangkan untuk mengangkat nilainya. Namun jikalau anda berniat (atau berminat) memaksakan diri menyaksikan film arahan E. Christensen yang mediocre ini sebaiknya langsung mulai pada 30 menit terakhirnya saja. Penutupan film oleh girlfight seperti yang anda harapkan sedari awal film pun akan terjadi disini. Itulah satu-satunya bagian yang paling watchable!



Durasi:

90 menit



U.S. Box Office:

$37,300,107 till March 2011



Overall:

6.5 out of 10



Movie-meter:



Monday, 22 August 2011

TENDANGAN DARI LANGIT : Mimpi Sepakbola Realitas Pengharapan

Quotes:

Indonesia itu jagonya main di kandang sendiri! Kalo di kandang lawan? Mandul!!





Storyline:

Wahyu yang masih duduk di bangku SMU memiliki bakat luar biasa dalam sepakbola. Itulah sebabnya ia memiliki cita-cita untuk bermain dalam tim nasional Indonesia walau hanya berdomisili di Desa Langitan di lereng gunung Bromo bersama ayah ibunya yang hidup sederhana itu. Pak Lik Hasan kerapkali menawarkan sejumlah bayaran bagi Wahyu untuk memperkuat suatu tim sepakbola. Tidak sulit bagi Wahyu untuk meraih kemenangan dan mendapat sejumlah uang untuk dibelikan kuda bagi ayahnya Pak Darto. Sayang niat Wahyu untuk maju ditentang habis-habisan oleh sang ayah yang menganggap pesepakbola Indonesia tidak memiliki masa depan. Dengan dukungan teman-temannya Putro dan Purnomo serta gadis yang disukainya Indah, Wahyu nekad mengikuti try out Persema di bawah bimbingan Coach Timo. Akankah keberhasilan menghinggapi Wahyu pada akhirnya?



Nice-to-know:

Diproduksi oleh Sinemart Pictures dimana gala premierenya dilangsungkan di Gandaria XXI pada tanggal 22 Agustus 2011.



Cast:

Yosie Kristanto sebagai Wahyu

Maudy Ayunda sebagai Indah

Giorgino Abraham sebagai Timo

Jordi Onsu sebagai Putro

Joshua Suherman sebagai Purnomo

Agus Kuncoro sebagai Pak Lik Hasan

Sujiwo Tejo sebagai Pak Darto

Natasha sebagai Melly

Irfan Bachdim

Kim Kurniawan

Mathias Ibo



Director:

Merupakan film ke-16 Hanung Bramantyo sekaligus pertama yang bertemakan olahraga.



Comment:

Tema olahraga memang tak sering dilirik sineas tanah air dalam membesut film-filmnya. Beberapa judul yang sudah edar pun cenderung bermain “aman” dengan segmentasi anak-anak. Hasilnya pun harus diakui lebih baik dibandingkan dengan yang menyasar penonton dewasa. Lalu bagaimana posisi film ini? Tentunya nama Hanung Bramantyo sudah menjadi jaminan kualitas itu sendiri.

Penulis skrip Fajar Nugros dengan cerdik mengambil sudut pandang seorang remaja SMU sehingga baik anak-anak maupun orang dewasa sekalipun bisa menikmati film ini. Tokoh Wahyu seakan menjadi pembatas antara dua jendela, satu mengetengahkan mimpinya menjadi pesepakbola handal negeri ini, sedangkan satu lagi menyorot kehidupan cintanya terhadap orang-orang di sekitarnya. Dua sisi yang sukses bersinergi satu sama lain dalam menghadirkan jalinan kisah yang teramat menarik.

Yosie bermain dengan cemerlang. Sosok Wahyu yang tinggi kurus berkulit hitam dan tidak pandai berbahasa Inggris ini menegaskan konsep pemuda ndeso yang sederhana. Sebaliknya kemampuan olah kakinya diperlihatkan dengan mumpuni mulai dari menggiring bola hingga menjebol gawang. Simpati anda niscaya timbul melihat senyum tulus yang selalu terpancar dari wajahnya, belum lagi perangai santun yang selalu diperlihatkannya.



Dari jajaran senior, Sujiwo seperti biasa menyuguhkan akting luar biasa. Kekerasan hatinya di awal film mampu mengangkat konflik secara drastis walaupun tidak lantas berlarut-larut menghadirkan drama berlebihan. Agus Kuncoro juga melanjutkan penjiwaan gemilangnya lewat tokoh Pak Lik Hasan yang abu-abu itu, disebut abu-abu karena kita semua tahu motifnya disini. Menarik melihat Giorgino dan Mathias yang memiliki rupa bule tapi lancar berbahasa Indonesia sebagai Coach dan Fisioterapis.

Dari generasi muda, Joshua yang seakan hilang setelah ketenaran masa kecilnya kembali lagi sebagai sahabat pemantun. Bertandem dengan Jordi yang tidak kalah kocaknya sebagai kawan berapi-api. Maudy juga memberikan nyawa yang pas dalam karakter Indah, love interest Wahyu. Keduanya menampilkan cinta SMU yang polos manis tanpa romantisme norak samasekali. Sebagai cameo, Irfan dan Kurniawan bermain sebagai dirinya sendiri meski nyaris tanpa dialog.

Sutradara Hanung memang tidak berusaha memberi wacana panjang lebar mengenai sepakbola dan segala peraturannya disini. Yang terpenting justru bagaimana membuat para aktornya terlihat meyakinkan bermain bola di lapangan hijau tersebut. Desa Langitan yang berpadu dengan pesona Bromo itu sendiri rasanya sudah mampu menjadi magnet yang tidak biasa bagi penonton. Lihat saja scene dimana Wahyu berlatih keras dengan bola kulit usangnya. Amazing!

Tendangan Dari Langit selayaknya sebuah masakan berbumbu komplit, anda akan menemukan berbagai rasa di dalamnya. Scoring musik garapan Tya Subiakto dan lantunan suara Kotak juga terasa megah dalam melebur dinamis ke dalam bangunan cerita. Perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan tulus memang dibutuhkan untuk mengejar pilihan dan tujuan hidup anda. Rasakanlah dukungan perhatian, kasih sayang, kesetiakawanan dari orang-orang terdekat anda di sepanjang perjalanan tersebut. Film ini berhasil menjadi salah contoh konkrit bagaimana sebuah mimpi harus diwujudkan secara benar. Very recommended!



Durasi:

110 menit



Overall:

8 out of 10



Movie-meter:



Sunday, 21 August 2011

5 ELANG : Semangat Kaum Muda Pramuka Unjuk Gigi

Quotes:

Ayah: Paling kamu ke jakarta cuma main mobil-mobilan aja





Storyline:

Putra semata wayang Baron harus mengikuti orangtuanya pindah dari Jakartake Balikpapan. Kehilangan teman-teman dan aktifitas kota besarnya pun dihabiskan dengan bermain mobil RC tanpa berusaha peduli dengan lingkungan barunya. Beruntung sahabat barunya, Rusdi tak segan-segan mengenalkan Baron pada Pramuka hingga akhirnya bersedia mengikuti kegiatan Bumi Perkemahan bersama Anton si ahli api, dan Aldi si kerdil yang temperamen. Kelompok mereka dinamakan Elang dan harus bersaing dengan kelompok lain untuk mencapai nilai tertinggi di akhir periode. Akankah pandangan Baron berubah dan mampukah Rusdi menjadi pramuka sejati seperti yang diimpikannya itu?



Nice-to-know:

Diproduksi oleh SBO Films dimana gala premierenya diadakan di Gandaria XXI pada tanggal 21 Agustus 2011.



Cast:

Christoffer Nelwan sebagai Baron

Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan sebagai Rusdi

Bastian Bintang Simbolon sebagai Aldi

Teuku Rizky Muhammad sebagai Anton

Monica Sayangbati sebagai Sindai

David Chalik sebagai Ayah

Junior Liem sebagai Tito



Director:

Merupakan film ke-20 Rudi Soedjarwo yang diawali oleh Bintang Jatuh (2000).



Comment:

Secara pribadi saya mengagumi keberanian trio produser Shanty Harmayn, Salman Aristo dan Kemal Arsjad mengusung tema “pramuka” dalam film semua umur menyambut liburan Idul Fitri kali ini. Bukan apa-apa, salah satu kegiatan ekstrakurikuler di tingkat sekolah dasar itu memang nyaris terlupakan (meskipun saya yakin bahwa nyaris semua orang pernah menjalaninya) apalagi terpikirkan untuk menjadikannya sebuah film yang komersil? Salute!

Penulis skrip jempolan Salman Aristo mengembangkan plot cerita sedemikian rupa sehingga kesan enteng dan menyenangkan bisa didapatkan. Bagian opening yang memperlihatkan kehidupan serba berkecukupan si anak kota besar Baron dengan mainan elektroniknya mampu ditransisikan menjadi aktifitas kota kecil yang didominasi dengan kegiatan luar ruang termasuk Pramuka itu sendiri. Beragam pertanyaan mungkin melingkupi benak penonton akan proses tersebut tapi secara keseluruhan hanya menimbulkan efek minor yang tidak mengganggu.

Semangat para pramuka mengikuti Bumi Perkemahan yang sibuk digelorakan Rudi selama lebih dari dua pertiga durasi film justru mendekati ending sedikit terusik dengan munculnya tiga bandit kelas teri yang tidak banyak disinggung latar belakangnya. Sampai disini terjadi pergeseran konflik hingga ke luar zona tanpa penjelasan masuk akal. Walaupun pada akhirnya semua subplot berhasil dipadukan kembali, unsur pemaksaan tetap terasa janggal.



Masuknya tokoh Sindai di tengah-tengah Rusdi, Baron, Aldi, Anton juga patut dipertanyakan. Tidak ada excuse dari kakak Pembina sekalipun yang seharusnya keras dengan peraturan yang diterapkan. Memang sedari awal grup Elang sendiri sudah terlihat “kecil” dengan 6 anggota dibandingkan grup lain yang berintikan 8-10 anggota. Dengan keluarnya si kembar, kita lantas bisa berasumsi: “Setidaknya sentralisasi dapat lebih difokuskan pada 4 anak tersebut tanpa pelebaran kesana-sini.”

Kejanggalan hal-hal tersebut di atas mampu ditutupi oleh akting gemilang para aktor-aktris cilik disini khususnya Iqbaal yang senyum tulus dan optimismenya itu melambangkan pemimpin pramuka yang baik. Christoffer yang sedikit terlihat lebih dewasa juga menjiwai peran pramuka pendatang dengan sikap keengganan yang kadang menjengkelkan itu. Jujur saya sebetulnya mengharapkan chemistry bertolak belakang yang lebih kentara di antara keduanya. Kehadiran Junior Liem wajib mendapat kredit tersendiri karena peran kakak pembina Tito justru mengalirkan energi positif yang membangun.

Setting ciamik di hutan yang masih asri dan penempatan musik latar oleh Bembi Gusti dkk yang tepat pada sasaran serta storytelling yang mengalir maju menjadikan 5 Elang masih memenuhi standar sebuah film keluarga yang layak untuk ditonton mengisi liburan panjang. Siapa tahu jiwa dan watak seorang Pramuka yang berlandaskan iman taqwa serta selalu mengikuti perkembangan Iptek akan muncul kembali dalam diri anda. Jangan ragu untuk melakukan tepuk pramuka selagi kredit titel menutup layar terlebih jika anda terpuaskan dengan kualitas akhir secara keseluruhan.



Durasi:

85 menit



Overall:

7.5 out of 10



Movie-meter:



Saturday, 20 August 2011

DI BAWAH LINDUNGAN KA’BAH : Ketika Cinta Berbeda Status Temukan Takdirnya

Quotes:

Ibu Hamid: Jangan kau turutkan hatimu. Sampai kapanpun emas takkan setara dengan loyang, sutra takkan sebangsa dengan benang





Storyline:

Hamid dan Zainab sejak pandangan pertama sudah tertarik satu sama lain. Sayangnya perbedaan martabat di antara mereka menjadi jurang pemisah. Hamid berasal dari keluarga miskin dimana ibunya bekerja pada keluarga Zainab yang terpandang di kampungnya. Bagaimanapun juga Haji Fajar sudah menaruh respek sendiri pada Hamid yang santun dan cerdas itu. Impian dua sejoli itu sebetulnya sederhana yaitu bisa bersama-sama sepanjang hidup mereka dan berkesempatan menunaikan ibadah haji di Mekah. Lewat serangkaian peristiwa menyebabkan Hamid harus jauh dari Zainab menempuh jalan hidupnya sendiri. Akankah cinta yang sepintas tak mungkin terwujud tersebut dapat menemukan takdirnya di Ka’bah?



Nice-to-know:

Diproduksi oleh MD Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 18 Agustus 2011.



Cast:

Herjunot Ali sebagai Hamid

Laudya Cynthia Bella sebagai Zainab

Niken Anjani sebagai Rosna

Tarra Budiman sebagai Saleh

Hj. Jenny Rachman sebagai ibu Hamid

Widyawati sebagai Nyonya Jafar

Didi Petet sebagai Haji Jafar

Leroy Osmani sebagai Rustam

Ajun Perwira sebagai Arifin



Director:

Merupakan film ketiga Hanny R Saputra di tahun 2011 ini dan kesembilan selama 7 tahun karirnya berjalan.



Comment:

Film remake yang diangkat dari sebuah novel populer karya Buya Hamka di tahun 1978 yang kemudian difilmkan oleh Asrul Sani pada tahun 1981 ini jelas memiliki beban besar untuk bisa mengekor sukses yang sama atau bahkan melebihinya. Sineas internasional sekalipun seringkali kesulitan menjawab tantangan tersebut. Bagaimana dengan sineas lokal kita? Sebut saja judul-judul yang pernah hadir seperti Ketika Cinta Bertasbih, Ayat-Ayat Cinta dsb yang kebetulan bermuatan sama yaitu romansa reliji.

Kini Hanny R Saputra yang tak dinyana kualitas filmnya dari waktu ke waktu mengalami grafik menurun dipercaya oleh produser Dhamoo dan Manoj Punjabi untuk menghadirkan versi terbarunya ini. Cukup beresiko memang! Namun hasil akhirnya saya akui masih lebih bagus dari dua film terakhirnya terutama dari segi sinematografi dan pemanfaatan lokasi. Khusus aspek yang terakhir ini mungkin penggunaan efek spesial patut dimaklumi mengingat kesulitan syuting di lokasi aslinya.

Sedangkan suasana kota Padang di tahun 1920an berhasil diwujudkan sedemikian rupa termasuk lokomotif dan sepeda ontel. Andai saja adegan kapal tenggelam dapat diperlihatkan tentunya bisa menjadi kredit tersendiri. Sayangnya kemunculan produk sponsor yang frekuentif malah mengganggu, seakan sugesti yang disodorkan kepada penonton tidak cukup dengan adegan halus selayang pandang saja. Belum lagi penggunaan berbagai gimmick yang tidak sesuai setting meski masih minor dampaknya.



Kinerja Titien Wattimena & Armantono dalam mengadaptasi skrip boleh diacungi jempol. Beberapa tokoh kunci di luar kedua tokoh utama mampu mendelivery dialog masing-masing dengan lancar. Cinta yang terhadang oleh perbedaan materi dan martabat memang konflik yang teramat klise. Untungnya Hanny tidak terlalu terkesan menye-menye dalam menyuguhkan problematika Hamid dan Zainab selayaknya sinetron, penonton tetap dapat mengapresiasi ini sebagai sebuah proyek layar lebar.

Penunjukan Junot tergolong tepat. Kesan ndeso yang selalu tertindas oleh keadaan terwujud dengan baik. Niscaya kita mampu bersimpati pada Hamid terutama interaksinya dengan Sang Ibu yang bisa menjadi highlight itu, jempol bagi akting Hj Jenny Rachman yang tetap ciamik. Sebaliknya Laudya masih terlalu nge-pop untuk peran Zainab dengan segala spontanitas dan pilihan-pilihan hidupnya. Namun usahanya tetap harus diapresiasi, apalagi adegan-adegan sendu yang dilakoninya masih terasa pas. Chemistry keduanya jujur masih terasa kurang padu di berbagai important scenes.

Di Bawah Lindungan Ka’bah rasanya masih dapat dijual kepada khalayak umum terlebih diedarkan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1432H. Tempo yang demikian lambat dan ending yang terkesan antiklimaks memang dapat mengurangi nilai akhirnya. Namun bagaimanapun juga tema “kasih tak sampai” dipercaya selalu dapat dinikmati dengan perasaan geregetan bercampur sendu melankolis. Untuk sesaat, biarkanlah dua insan berlawanan jenis yang saling mencintai dapat memiliki kesempatan bersama di atas suratan takdir yang terkadang kejam tak memihak.



Durasi:

120 menit



Overall:

7.5 out of 10



Movie-meter:



Friday, 19 August 2011

AARAKSHAN : Hambatan Pendidikan Kesenjangan Kasta

Quotes:

Prabhakar Anand: Q.E.D. stands for "Quite Easily Done."





Storyline:

Rektor idealis, Prabhakar Anand telah berhasil membawa kampus STM ke jajaran elite India dengan murid-muridnya sebagai lulusan terbaik termasuk Deepak Kumar yang menjalin kasih dengan putrinya Poorbi dan bersahabat pula dengan Sushant yang juga anak seorang petinggi. Sayangnya kedudukan itu tidak bertahan lama ketika Prabhakar dijatuhkan oleh Mithilesh Singh yang sudah lama mengincar posisinya itu dengan berbagai cara. Ketika orang-orang terdekatnya mulai menjauhinya, Prabhakar tetap pada pendiriannya dan mulai membangun semua dari bawah kembali. Disinilah cinta, kesetiaan, persahabatan dan tujuan hidup diuji secara keras untuk dapat bertahan menghadapi gempuran masalah yang seakan tidak terpecahkan.



Nice-to-know:

Diproduksi oleh Base Industries Group dan Prakash Jha Productions.



Cast:

Satu dari sedikit aktor India yang sudah memenangkan banyak penghargaan internasional bernama Amitabh Bachchan ini berperan sebagai Prabhakar Anand

Saif Ali Khan sebagai Deepak Kumar

Manoj Bajpai sebagai Mithilesh Singh

Deepika Padukone sebagai Poorbi Anand

Prateik Prateik sebagai Sushant Seth

Tanvi Azmi sebagai Kavita P. Anand



Director:

Merupakan film ke-30 sejauh ini bagi Prakash Jha yang diawali dengan dokumenter, Rhythms of a Land and Its People (1976).



Comment:

Jangan terkecoh melihat poster film ini yang seakan menyiratkan sebuah drama ensemble dengan berbagai varian rasa di dalamnya. Nyatanya tema pendidikan (lagi-lagi) dihadirkan di waktu yang nyaris bersamaan dengan Chillar Party (2011). Perbedaannya kali ini terasa jauh lebih “berat” dengan konten kompleks yang coba disuguhkan oleh Prakash Jha dan Anjum Rajabali yang bertindak sebagai penulis skripnya.

Dengan durasi dua jam setengah, film yang masih menganut “paham” film India tradisional ini memang harus diakui terasa melelahkan untuk anda tetap duduk tenang di kursi masing-masing. Lantas jangan buru-buru menyimpulkan kalau film ini membosankan karena terbukti konflik sosial politik yang menekankan perbedaan kasta masyarakat dalam institusi pendidikan tetap menawarkan sesuatu yang menarik untuk disimak.

Setengah sampai satu jam pertama terkesan padat dengan pergerakan kamera yang demikian cepat berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Sutradara Jha seakan berpacu dengan waktu untuk menjejalkan karakterisasi setiap tokoh dalam filmnya terhadap penonton. Memasuki paruh kedua memang lebih nyaman untuk diikuti dimana fokus lebih pada tokoh Prabhakar seorang dengan grafik problematika yang justru semakin meruncing.



Permasalahannya tokoh antagonis dan protagonis disini terlalu satu dimensi dalam sebuah garis lurus. Bajpai sebagai antagonis digambarkan gila kekuasaan dan sangat mengintimidasi siapapun yang menghalangi jalannya tanpa segan menghina orang-orang yang berada pada golongan kasta bawah. Sedangkan Bachchan sebagai “pahlawan” pendidikan dilukiskan berpendirian keras dan amat adil dalam mendukung orang-orang tidak beruntung dalam mengharapkan perlakuan yang sama. Di antara mereka, berdirilah berbagai tokoh yang menghadirkan warna-warni tersendiri.

Bachchan masih menyuguhkan akting yang memesona sebagai Prabhakar terlepas dari usianya yang sudah tidak muda lagi. Karismanya sebagai “guru besar” ampuh menjinakkan setiap karakter yang bersinggungan dengannya. Sayangnya Ali Khan masih kurang meyakinkan sebagai pengajar berwibawa karena emosinya yang turun naik, sama halnya dengan Padukone yang belum maksimal menghadirkan sosok puteri ataupun kekasih yang suportif secara konsisten.

Terlepas dari beragam kekurangan yang masih dalam taraf termaafkan, Aarakshan mengusung misi yang cukup kontroversial untuk dicerna. Yang berkuasa yang berharta akan semakin dimudahkan, sebaliknya yang miskin yang jelata malah kian dipersulit hidupnya. Inilah yang akan membuat emosi anda naik turun secara konstan di sepanjang film. Perbedaan kasta yang bersinggungan dalam bidang apapun juga memang akan selalu terjadi dimanapun juga. Bukan sekadar tema yang mampu ditutup dengan semboyan Q.E.D. alias Quite Easily Done!



Durasi:

150 menit



U.S. Box Office:

$342,801 opening week in mid Aug 2011



Overall:

7.5 out of 10



Movie-meter:



A feast for the eyes (An Evening in Paris)

It's not just one evening. Shakti Samanta's superhit 1967 romance features the goodies of Paris and other exotic locales in Europe throughout the entire length of the film. Pretty women, flashy cars, stylish clothes and scenic landscape, all this more make the musical drama quite an eyeful. And then there's Sharmila Tagore, all delicate, gorgeous and sexy in her awesome attires, and the prince of

Wednesday, 17 August 2011

REQUIEM FOR A KILLER : Tugas Pembunuhan Penyanyi Sopran Samaran

Tagline:

A Stone Cold Assassin





Storyline:

Lucrèce adalah pembunuh bayaran yang berusaha membangun hidup baru dengan putrinya. Sayang l'Arménien memberinya tugas baru untuk terakhir kalinya yaitu membunuh penyanyi bariton Inggris, Alexander Child selama festival musik Handel Messiah yang berlangsung di Pegunungan Alpen, Swiss. Beruntung Lucrèce memiliki kemampuan menyanyi sopran yang baik sehingga ia tidak mencurigakan orang lain. Tanpa diketahui Lucrèce, ada Rico yang ditugaskan untuk menuntaskan tugasnya sekaligus mengawasinya dari jauh. Akankah tugas tersebut dapat terselesaikan tanpa membongkar identitas aslinya?



Nice-to-know:

Berjudul asli Requiem pour une tueuse dan sudah dirilis di Perancis pada tanggal 23 Februari 2011 yang lalu.



Cast:

Pernah mendukung Inglourious Basterds (2009), Mélanie Laurent bermain sebagai Lucrèce

Clovis Cornillac sebagai Rico

Tchéky Karyo sebagai l'Arménien

Xavier Gallais sebagai Xavier de Ferrières

Christopher Stills sebagai Alexander Child

Corrado Invernizzi sebagai Vittorio Biamonte



Director:

Merupakan debut penyutradaraan Jérôme Le Gris.



Comment:

Tidak banyak thriller Perancis yang bisa disaksikan di Indonesia jika tidak berlangsung ajang Festival Sinema Perancis setiap tahunnya. Film ini adalah salah satu pengecualian dimana masih tergolong baru rilis di negara asalnya, entah apa pertimbangan Blitzmegaplex untuk merilisnya disini di tengah keterlambatan gaung film-film musim panas Hollywood.

Skrip yang ditulis oleh Le Gris ini tampaknya berusaha mengikuti pakem thriller Alfred Hitchcock dengan setting yang lebih modern, hanya saja dikondisikan dengan jaman yang lebih modern. Mengumpulkan beberapa orang yang berstatus subyek, obyek maupun perantara di sebuah tempat untuk saling berinteraksi merupakan sebuah konsep yang menarik apalagi diperkuat dengan satu klausa pembunuhan!

Permainan kucing tikus penuh tipu muslihat yang anda bayangkan memang hadir disini tetapi dalam tempo yang teramat lamban. Sebetulnya tidak masalah jika mampu dibangun dengan detil-detil yang bisa memperkuat konstruksi cerita. Nyatanya hal tersebut tidak dilakukan secara konsisten karena hanya menjanjikan di bagian awal hingga pertengahan saja. Selebihnya kebingungan mulai melanda sutradara Le Gris yang juga belum berpengalaman itu untuk menutup cerita dengan style.



Dari jajaran pemain terus terang cuma nama Karyo dan Laurent yang saya ketahui, selebihnya nyaris tidak terdengar. Peran utusan gereja yang dimainkannya tidak dominan tapi krusial karena sebagai pemberi tugas. Sedangkan Laurent yang berambut pirang memang menyimpan karisma tersendiri, cantik sekaligus berbahaya. Namun sisi manusiawi yang cukup mendominasi karakternya sedikit melemahkan imej tersebut.

Requiem For A Killer memiliki keunggulan musik latar yang sukses membangun mood film, nyaris serupa dengan apa yang pernah disuguhkan Bernard Herrmann terhadap karya-karya Hitchcock sebelumnya. Selebihnya ide brilian yang berakhir sia-sia dengan lemahnya intrik-intrik yang dihadirkan sepanjang penyajian drama thriller ini ditambah dengan closing yang terkesan antiklimaks. Bahkan sampai layar hampir tergulung pun, saya masih mengharapkan sebuah kejutan manis tak terduga yang memang tidak pernah terjadi.



Durasi:

90 menit



Europe Box Office:

€415,600 opening week in France Feb 2011



Overall:

6.5 out of 10



Movie-meter:



Tuesday, 16 August 2011

KUNGFU PANDA 2 : Memori Masa Lalu Tantangan Kungfu

Quotes:

Shen: The only reason you are still alive is that I find your stupidity mildly amusing.

Po: Well thank you, but I find your evilness extremely annoying!





Storyline:

Kiprahnya sebagai Pendekar Naga membuat Po mempertanyakan banyak hal termasuk masa lalunya pada ayah bangaunya, Mr. Ping yang juga pengelola restoran mie. Saat Raja Shen penguasa Gongmen City bertekad menaklukkan seantero Cina dengan senjata maut rahasianya, Po bersama Lima Pendekar, Tigress, Monkey, Mantis, Viper, Crane tidak tinggal diam apalagi eksistensi kungfu terancam punah karenanya. Sebelum berangkat, Master Shifu mengajarkan Po akan inner peace yang membuatnya semakin bingung. Prediksi yang dibuat oleh Soothsayer bahwa Lord Shen akan dikalahkan oleh pendekar hitam dan putih jelas tidak mudah diwujudkan begitu saja tanpa perjuangan dan pengorbanan nyata.



Nice-to-know:

Karakter Shen sedianya dihadirkan dalam film pertamanya tetapi dihapus sebelum memasuki produksi.



Voice:

Jack Black sebagai Po

Angelina Jolie sebagai Tigress

Dustin Hoffman sebagai Shifu

Gary Oldman sebagai Shen

Jackie Chan sebagai Monkey

Seth Rogen sebagai Mantis

Lucy Liu sebagai Viper

David Cross sebagai Crane



Director:

Merupakan debut penyutradaraan Jennifer Yuh yang sebelumnya ”hanya” mengisi departemen animasi dalam Kungfu Panda (2008).



Comment:

Rentang waktu 3 tahun dibutuhkan untuk melanjutkan apa yang dikatakan sebagai film animasi favorit semua orang yaitu Kungfu Panda (2008). Perubahan paling mencolok cuma terjadi di kursi sutradara sedangkan sisanya masih sama termasuk produser Melissa Cobb dan penulis skrip Jonathan Aibel dan Glenn Berger meneruskan tanggungjawab masing-masing dimana beban sebuah sekuel terbukti memang tidak pernah enteng.

Jika harus membandingkan efektifitas bercerita, saya merasa prekuelnya lebih memperhatikan “timing” sedangkan sekuelnya ini menonjolkan “pace”. Dua hal tersebut harus diakui bekerja dengan baik terhadap intensitas film tetapi memberikan nuansa yang berbeda. Di satu sisi, saya merasa “timing” seakan memberikan kesempatan bagi penonton untuk mencerna dan menerka adegan demi adegan. Di sisi lain, “pace” tidak memungkinkan hal itu karena penonton terus dijejali dengan tumpukan scenes yang bahkan tidak sempat membuat berpikir.



Konsep “pace” yang dipilih sutradara Yuh ini bisa juga menyamarkan kelemahan-kelemahan yang dapat terlihat jika disajikan dengan “timing”, sebut saja karakterisasi. Itulah sebabnya kelima pendekar kali ini tidak mendapat porsi yang lebih adil dibandingkan dalam Kungfu Panda (2008). Yeah we all know, it’s all about Po, right? Beruntung action sequences nya tergolong lancar bersinergi dengan elemen humorisnya sehingga terciptalah perjalanan satu setengah jam yang menyenangkan.

Karakter Po berkembang dengan baik. Kemalasan dan kerakusannya hanya ditampilkan satu dua kali saja untuk memancing tawa. Sisanya adalah pertanyaan, “Who am i?” yang ditindaklanjuti dengan penelusuran masa lalu di sela-sela pencarian masa depan. Berbagai flashback yang menggambarkan Po kecil dalam sosok kartun 2 dimensi teramat menarik. Tidak usah anda pertanyakan bagaimana bisa suara bayi manusia keluar dari mulut seekor bayi panda, cukup nikmati sosok imut-imutnya itu.



Kehadiran Shen sebagai antagonis terkadang mengingatkan pada karakter jahat dalam film-film silat “real action” Mandarin dari masa ke masa. Personifikasi yang diwujudkan dalam sosok burung merak terbilang kreatif apalagi didukung kontribusi maksimal dari Gary Oldman lewat suara beratnya. Sumbangsih Michelle Yeoh dan Van Damme dalam karakter Soothsayer dan Master Crow juga tidak bisa dikesampingkan begitu saja.

Masih didukung oleh scoring musik yang brilian, Kungfu Panda 2 sangatlah memukau sebagai kombinasi martial arts movie dan drama comedy apalagi lelucon super efektifnya sering muncul meski dalam adegan serius tak terduga sekalipun. Ditambah balutan pesan moral yang digelorakan di sepanjang durasinya, animasi Dreamworks yang satu ini jelas memiliki hati. Ready to feel in love deeper with the more mature and more skilled fatty charming Po? I do and I do not mind expecting more sequels coming up!



Durasi:

90 menit



U.S. Box Office:

$162,695,957 till Aug 2011



Overall:

8 out of 10



Movie-meter:



Monday, 15 August 2011

If not for Shammi (Janwar)

The irrepressible Shammi Kapoor can be credited for often carrying an entire film on his lone shoulders. Signing this rebel star would mean that with his charm and antics he would see to it that a somewhat likeable film would attain sweet success. Janwar, Bhappi Soni's romance, is a film that falls into this category. If you were to ask me what this 1965 film has apart from Shammi's class

Sunday, 14 August 2011

BEAT THE WORLD : Sekelumit Kisah Di Balik Layar Peserta Kompetisi

Tagline:

They live to dance.. They dance to win!





Storyline:

Yuson tengah mempersiapkan grupnya untuk berkompetisi dalam Beat The World. Sayangnya ia terbentur dengan urusan asmaranya dengan Maya ataupun sahabatnya Easy yang menentang konsep baru kombinasi parkour yang ditawarkan Justin. Di lain tempat, Nina dan Eric yang juga mantan kekasih berseteru untuk mendapat posisi ketua grup. Plus Carlos yang mempertaruhkan sejumlah uang besar untuk bisa ikut serta bersama grupnya para penari Samba di sebuah restoran Brasil. Mereka berkumpul untuk satu tujuan yaitu menjadi juara dunia sekaligus memenangkan hadiah seratus ribu dollar. Siapa yang pada akhirnya keluar sebagai pemenang?



Nice-to-know:

Film yang juga dikenal dengan judul You Got Served : Beat The World ini langsung masuk pasaran DVD di USA pada tanggal 21 Juni 2011.



Cast:

Tyrone Brown sebagai Yuson

Mishael Morgan sebagai Maya

Ray Johnson sebagai Easy (as Sho-Tyme)

Nikki Grant sebagai Cherry

Chase Armitage sebagai Justin

Christian Loclair sebagai Eric

Kristy Flores sebagai Olivia

Shane Pollard sebagai Carlos

Stephanie Nguyen sebagai Nina



Director:

Merupakan film kedua Robert Adetuyi setelah Turn It Up (2000) yang juga bertemakan musik.



Comment:

Meski tidak bergaung dan rating yang tidak terlalu bagus, film ini tetap menarik perhatian saya untuk membuktikannya sendiri. Apalagi produser Amos Adetuyi menyajikan dance hip hop yang merupakan favorit pribadi untuk bergoyang mengikuti alunan musiknya. Ternyata 90 menit kemudian, ambisi Adetuyi bersaudara memang mengambil alih dan benar-benar mengalahkan dunia dengan minus di semua lini film tanpa kecuali.

Skrip yang ditulis oleh Robert Adetuyi yang juga merangkap sebagai sutradara secara khusus menyoroti 3 grup yaitu Yuson, Eric dan Carlos yang masing-masing berada di Detroit, Berlin dan Rio De Janeiro. Tidak banyak yang bisa diceritakan selain aktifitas berdansa ria dan berlatih sehari-harinya diselingi dengan problematika cinta di antara mereka yang gunanya hanya untuk memperpanjang durasi atau setidaknya mencoba membangkitkan empati penonton.

Sayangnya semua itu tidak berhasil karena para manusia disini adalah penari, bukan aktor ataupun aktris. Dapat dimaklumi jika penjiwaan mereka teramat minim dalam melontarkan dialog-dialog ataupun mengolah bahasa tubuh untuk bisa menyatu dengan plot cerita. Beruntung dalam urusan tari-menari, kesemuanya teramat fasih walaupun koreografi yang disuguhkan tergolong tidak baru lagi kalau mau dikatakan kurang inovatif.

Yuson dan gang jelas mendapat porsi yang paling dominan dalam film ini. Kisah kasih tarik ulur Yuson dan Maya terasa cheesy ditambah dengan kontribusi Cherry dan Eric yang sangat salah itu. Jika harus memihak pada salah satu tokoh disini, saya akan menyebut nama Justin. Entah mengapa Chase Armitage berhasil mencuri perhatian di setiap kemunculannya dengan parkour style dan gaya ngocolnya yang asyik itu. Malangnya ia tidak berkesempatan menjadi spotlight kali ini.

Kompetisi 25 menit disusul dengan final showdown selama 10 menit dalam kompetisi akbar yang menjadi tujuan akhir kesemua karakter disini justru terkesan antiklimaks. Tidak ada yang wah dalam pergerakan mereka ataupun penggunaan atribut yang mendukung untuk itu. Penetapan pemenang juga terasa tidak realistis karena tidak ada team yang terlalu menonjol. Coba anda bayangkan jika tambahan aksi parkour bisa menjadi nilai plus di mata juri? Hm, rasanya tidak seistimewa itu.

Beat The World adalah sebuah proyek ambisius yang tidak bergigi. Jangan bandingkan dengan Step Up dari Amerika ataupun Street Dance dari Inggris yang sudah lebih dulu rilis karena produksi Kanada ini terbukti kalah segala-galanya. Seandainya saja para penari disini mempertunjukkan kemampuan tarinya masing-masing dalam video klip berdurasi singkat (as you often see in Youtube) dan dikompilasi ke dalam sebuah film, mungkin saja hasilnya jauh lebih baik dan enjoyable.



Durasi:

85 menit



Overall:

6.5 out of 10



Movie-meter: