Thursday, 30 September 2010

LASKAR PEMIMPI : Komedi Musikal Berlatar Agresi Militer 2

Quotes:
Kopral Jono: Bebek-bebek kami masih lebih pintar daripada bebek-bebek kalian..

Storyline:
Sri Mulyani hanya bisa meratapi ayahnya yang dibawa tentara Belanda dalam Agresi Militer II di Maguwo, Jawa Tengah pada bulan Desember 1948. Iapun mengembara hingga ke wilayah Panjen dan berjumpa dengan pasukan gerilya Indonesia pimpinan Kapten Hadi Sugito yang tengah membuka pendaftaran anggota baru. Lantas bergabunglah Udjo yang didesak pujaan hati Wiwid, Ahok yang beretnis Cina, Tumino yang beretnis Jawa, Toar si gerilyawan rabun, Kopral Jono yang turun pangkat dan ingin menikahi kekasihnya Yayuk yang juga adik kandung Wiwid ke dalam squad yang juga melibatkan Letnan Bowo, tangan kanan Kapten Hadi Sugito.
Persiapan demi persiapan pun mereka lakukan sebelum menghadapi Belanda yang dipimpin Letnan Kuyt. Malangnya Letnan Kuyt berhasil menculik Wiwid, Yayuk beserta warga desa lainnya terlebih dahulu hingga membuat Kapten Jono cs berang. Berbekal informasi dari tentara KNIL yang mereka tawan yakni si gembul Once, mereka nekad menyerbu markas Letnan Kuyt. Berhasilkah mereka mencatatkan diri sebagai pahlawan tanpa nama yang terlupakan sejarah perjuangan Indonesia?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kharisma Starvision Plus dan diproduseri oleh Chand Parwez Servia.

Cast:
Tika Panggabean sebagai Sri Mulyani
Udjo Project Pop sebagai Udjo
Odie Project Pop sebagai Ahok
Gugum Project Pop sebagai Tumino
Yosi Project Pop sebagai Toar
Oon Project Pop sebagai Once
Dwi Sasono sebagai Kopral Jono
Shanty sebagai Wiwid
Gading Marten sebagai Kapten Hadi Sugito
T Rifnu Wikana sebagai Letnan Bowo
Masayu Anastasia sebagai Yayuk
Marcell Siahaan
Candil

Director:
Setelah menyelesaikan 3 film tahun 2009 lalu yang ditutup dengan Keramat, Monty Tiwa kembali dengan film pertamanya di tahun 2010 lewat Laskar Pemimpi ini.

Comment:
Poster film ini terkesan “epik” tapi melihat jajaran pemain dan sutradaranya, kesan tersebut langsung sirna. Siapa yang tidak mengenal Project Pop sebagai grup vokal pengocok tawa dengan polah tingkah dan lirik-lirik jenakanya yang telah eksis lebih dari satu dekade di blantika musikIndonesia?
Benar sekali. Film ini didesain menjadi panggung mereka, berakting dan bernyanyi sekaligus nyaris di setiap scenenya. Jika boleh saya mengatakan, kebebasan improvisasi rasanya diberikan secara penuh kepada masing-masing personil Project Pop, skrip yang ditulis Eric dan Monty Tiwa sepertinya hanya menjadi buku panduan belaka yang tidak mutlak dihafal.
Di luar dugaan, Oon dan Udjo mendapat porsi yang "lebih" dibandingkan rekan-rekannya. Tidak apalah toh keduanya gape memasang mimik komedik yang sangat diandalkan memancing tawa.Nama-nama seperti Dwi Sasono, Shanty, Masayu Anastasia, Teuku Rifnu Wikana yang sebenarnya lebih senior dalam bidang film terasa dikesampingkan kali ini. Ironisnya, Rifnu justru baru saja merampungkan Darah Garuda yang bertemakan mirip tapi jauh lebih serius itu.
Monty yang kabarnya melakukan persiapan yang cukup lama untuk film ini sayangnya hanya memperhatikan kostum pejuang/tentara dan setting outdoornya saja sehingga aspek lain yang serba jelas tertangkap kamera menjadi kedodoran. Adegan "epik"nya yang melibatkan persenjataan pun tidak sampai menggelegar, lebih terdengar seperti bunyi petasan basah yang nyaris gagal meledak. Ya itulah kenyataannya karena elemen melodinya justru lebih dominan disini, itupun tidak terlalu mulus timingnya.
Terlepas dari kekurangan disana-sini, kemunculan Laskar Pemimpi yang bisa disebut bergenre action komedi musikal perjuangan ini sedikit memperkaya tema perfilman nasional yang sudah semakin monoton.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

AND THE WINNER IS....

This is to announce the WINNER of the contest for a DVD of the landmark television miniseries “Rich Man, Poor Man.”

A&E Home Entertainment is releasing this long-awaited TV classic on DVD September 28th. “Rich Man, Poor Man” was the first miniseries produced on American television, and ran for 12 weeks beginning in February 1976. The excitement generated by that program led to later experiments in the miniseries format, including “Roots”. Its cast was a who’s who of Hollywood and 1970s television.

I still hope to post a review of the DVD as soon as possible. Here’s a link on Amazon for a detailed descripton of the item.

I have included entries left on my Facebook page as well as the comments left on the blog as contestants.

AND THE WINNER IS….IVAN G. SHREVE, JR.!!!!!!

Congratulations!!!!! (Balloons fall from ceiling, crowds cheer.)

Please email me at: JacquelineTLynch@gmail.com with the name and address to whom you’d like this DVD mailed. I’ll contact A&E Home Entertainment, and they’ll ship you your prize directly.

Thanks so much to everyone who participated, and to A&E Home Entertainment for providing the DVD.

Wednesday, 29 September 2010

LEGEND OF THE FIST : Kembalinya Chen Zhen Pahlawan Bertopeng

Original title:
Jing wu feng yun: Chen Zhen

Storyline:
7 tahun berlalu paska kematian Chen Zhen yang menemukan siapa pelaku penembakan gurunya Huo Yuanjia pada saat tentara Jepang menguasai Shanghai. Seorang pria misterius tiba dari luar negeri dan segera menjadi kawan dari bos mafia Liu Yutian. Pria tersebut sesungguhnya adalah penyamaran Chen Zhen yang bertekad mengobrak-abrik gerombolan penjahat yang berniat membentuk koalisi dengan Jepang. Dengan topeng dan seragam yang menutupi identitasnya, Chen Zhen beraksi setiap malam menyelamatkan orang-orang tidak bersalah yang diburu tentara Jepang.

Nice-to-know:
Merupakan versi terbaru dari film klasik Fist of Fury (1972).

Cast:
Donnie Yen sebagai Chen Zhen
Shu Qi sebagai Kiki
Anthony Wong sebagai Liu Yutian
Shawn Yue
Yasuaki Kurata sebagai Ayah Chikaraishi
Ryu Kohata sebagai Colonel Chikaraishi

Director:
Film ke-38 bagi Andrew Lau Wai Keung yang mengawalinya lewat Lian ai de tian kong (1984).

Comment:
Siapa yang tidak mengenal film lawas legendaris Fist Of Fury yang melejitkan nama Bruce Lee pada tahun 1972? Sudah diremake berkali-kali dengan berbagai style termasuk yang paling ternama salah satunya adalah Fist Of Legend (1994) yang dibintangi Jet Li. Kini di abad 21 bisa disebut era nya Donnie Yen untuk film-film martial arts Hongkong dan giliran Andrew Lau lah yang mengarahkannya dalam versi terbarunya ini.
Chen Zhen sendiri sesungguhnya merupakan karakter fiktif. Dan entah mengapa saya lebih merasa karakter ini justru lebih terinspirasi oleh Green Hornet dengan topeng dan jubah hitam yang dikenakannya. Belum lagi polisi-polisi bermuka dua Huang Bo dan rekan-rekannya yang terasa komikal itu. Seakan menegaskan unsur komedi dan aksi yang mendasari film ini.
Donnie Yen memang terampil sebagai Chen Zhen. Kemampuan bertarungnya dengan tangan kosong ataupun double-stick masih memukau terutama pada bagian pembuka dan penutup film. Sayangnya hanya itu yang bisa ia perlihatkan, tidak ada kedalaman emosi seperti layaknya Ip Man. Aktingnya terasa datar dan hanya menuntaskan apa yang harus ia lakukan saja.
Shu Qi bermain menarik sebagai Kiki dengan pesona penyanyi dan penjiwaan wanita yang harus berdiri di dua pihak sekaligus. Sama halnya dengan Anthony Wong yang berperan seperti biasanya sebagai konglomerat pemilik night club Liu Yutian. Jika dipikirkan, terlalu banyak karakter yang lalu lalang dalam film ini dan tidak terlalu memberikan kontribusi yang bermakna dalam membangun konflik yang sekadar mengambang.
Sutradara sekaliber Andrew seperti kehilangan sentuhan terbaiknya yang kebingungan menentukan mood film mau diarahkan kemana. Padahal skrip sudah ditulis oleh empat orang termasuk Gordon Chan yang juga bertindak sebagai produser kali ini. Meski demikian kinerjanya menghadirkan scene-scene berkemilau dalam suasana Shanghai tahun 1920an patut diacungi jempol.
Selebihnya Legend Of The Fist : The Return of Chen Zhen hanyalah film aksi biasa yang tidak menunjukkan kedalaman emosi apapun dan banyak menyisakan pertanyaan yang tidak terjawab. Satu-satunya yang cukup heroik dan patut diingat adalah semboyan “the Chinese are not the sick men of Asia" yang berulangkali dikumandangkan agar bangsa berkulit kuning tidak diremehkan begitu saja di peta dunia terutama bangsa Barat pada khususnya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$32,978 till May 2011 (limited)

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Tuesday, 28 September 2010

WHO ARE YOU? : Jawaban Misteri Anak Di Balik Pintu

Storyline:
Penjual DVD porno, Nida juga bertindak sebagai orangtua tunggal dari remaja, Ton yang tidak pernah bertatap muka lagi dengannya selama 5 tahun. Komunikasi ibu dan anak itu hanya terjadi lewat catatan-catatan kecil yang diselipkan di bawah daun pintu dan juga sesekali bunyi ketukan. Kondisi Ton dinamakan Hikkikomori alias penyakit akut menarik diri dari lingkungan sosial tanpa mau bertemu siapapun juga. Hal ini menarik minat produser acara televisi bernama Dome, gadis tetangga penderita alergi Parn, pencuri Nino. Apakah sesungguhnya Ton masih berada di ruangan tersebut?

Nice to know:
Ditulis oleh Ekasit Thairat yang pernah menghasilkan 13 : Game of Death

Cast:
Sinjai Plengpanich sebagai Nida
Kanya Rattanapetch
Pongpit Preechaborisutkun

Director:
Pakpoom Wongjinda pernah menghasilkan Scared (2008) yang tergolong sadis sebagai film remaja tersebut.

Comment:
Film yang dirilis di Thailand pada akhir Februari 2010 ini sebetulnya lebih tepat disebut sebagai drama psikologis, tapi bukan Thailand namanya jika tidak menyelipkan elemen horor di dalamnya. Terbukti formula ini menjadikan filmnya cukup menarik.
Plotnya mengenai komunikasi “aneh” antara ibu dan putranya yang kemudian dihubungkan dengan beberapa subplot sudut pandang ketiga tokoh tambahan yang pada akhirnya terkoneksi dengan sendirinya. Jujur saya sempat berpikir terlampau kompleks dengan kemungkinan twist disana-sini. Nyatanya tidak demikian. Film ini tetap setia menjaga misteri yang disimpan rapat-rapat dari awal sampai akhir hingga berujung pada satu konklusi yang mencengangkan. Tidak terlalu surprise rasanya jika anda sering menyaksikan horor Thailand sebelumnya.
Sutradara Pakpoom cukup piawai memainkan setting yang terbatas dengan lighting yang temaram dan suasana dominan malam hari. Dengan demikian kemisteriusan tingkah laku para tokohnya tetap terjaga. Penampilan Sinjai sebagai seorang ibu sekaligus istri yang tertekan psikologisnya juga meyakinkan. Lihat bagaimana sorot matanya berbicara banyak dalam berbagai close up shot!
Who Are You? bukanlah sebuah karya terbaik negeri Gajah Putih tetapi sebagai sebuah drama horor psikologis yang rasanya cukup berhasil melekatkan anda pada kursi saat menontonnya terlepas dari kebosanan melanda akibat alur lambat yang diusungnya. Tidak apalah, klimaksnya akan sepadan dengan penantian anda semua.

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 27 September 2010

THE EXPERIMENT : Penggalian Karakter Terpenjara Dalam Manusia

Tagline:
Everyone has a breaking point.

Storyline:
Sebuah audisi diadakan untuk mengetahui perilaku manusia yang akhirnya berhasil mengumpulkan 26 pria yang kemudian dibagi dua bagian oleh Profesor Archaleta yaitu sipir dan napi. Mereka ditempatkan pada sebuah tempat terisolasi yang mirip penjara dan diberlakukan beberapa peraturan dasar. Jika sampai 14 hari semua berjalan sesuai rencana, semua akan keluar dengan imbalan ratusan ribu dollar. Namun apakah semudah yang diperkirakan terutama bagi dua orang yang baru berkenalan saat interview yaitu Travis dan Barris?

Nice-to-know:
Awal mula pembuatan film ini didasarkan pada buku yang diinspirasi kejadian nyata percobaan penjara Stanford.

Cast:
Memulai debut akting dalam New York Stories (1989), kali ini Adrien Brody bermain sebagai Travis yang mengikuti audisi misterius setelah bertemu dengan gadis barunya.
Meraih Oscar kategori Aktor Terbaik di tahun 2007 lewat Last King of Scotland (2006), Forest Whitaker disini berperan sebagai Barris yang hidup di bawah tekanan ibunya.
Cam Gigandet sebagai Chase
Clifton Collins Jr. sebagai Nix
Ethan Cohn sebagai Benjy
Fisher Stevens sebagai Archaleta
Travis Fimmel sebagai Helweg
David Banner sebagai Bosch

Director:
Paul Scheuring baru menghasilkan satu film sebelumnya yaitu 36K (2000).

Comment:
Sempat dipertimbangkan untuk rilis di bioskop Amerika Serikat dan sekitarnya akhirnya dibatalkan dan langsung masuk pasaran video. Namun untuk beberapa kawasan termasuk Indonesia, film ini tayang juga di layar lebar.
Plot ceritanya disesuaikan dengan originalnya yang buatan Jerman yaitu Das Experiment (2001) mengenai penelitian terhadap sekelompok manusia yang ditempatkan dalam situasi yang tidak menguntungkan untuk kemudian harus saling berhadap-hadapan. Beruntung sekali tema sesederhana itu diperkuat oleh dua aktor kaliber Oscar yaitu Brody dan Whitaker yang ditempatkan sebagai oposisi. Brody mewakili karakter "putih" sedangkan Whitaker "hitam" dan keduanya menampilkan penjiwaan yang luar biasa disini dimana penonton akan diajak bersimpati pada Travis dan sangat membenci Barris. Di luar mereka berdua masih ada sejumlah nama termasuk Gigandet tetapi tidak mendapat porsi yang cukup untuk mengeksplorasi karakter masing-masing, bahkan mereka yang membuka prolog film ini menguap begitu saja.
Sutradara Scheuring nampaknya belum berhasil menyaingi mahakarya Oliver Hirschbiegel secara keseluruhan. Di luar faktor kekuatan akting Brody-Whitaker, film ini masih tergolong lemah di berbagai sisi terutama eksekusi endingnya yang terasa plain dan adem-adem saja. Situasi yang dihadirkan juga menurut saya kurang up to date dengan jaman sekarang. Namun demikian The Experiment tetap sebuah tontonan menarik bagi anda yang menyukai film-film bertemakan penjara. Tidak ada salahnya anda menyaksikan bagaiman perubahan karakter seorang manusia hingga ke sisi terdalamnya sekalipun dan ingatlah peribahasa "There's a monster in every human!".

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Now Playing - The Bells of St. Mary's

We’ll have to postpone a review of “Rich Man, Poor Man” for now, but stay tuned on Thursday for the winner of the DVD contest.



In the meantime, here’s an ad for “The Bells of St. Mary’s” (1946) with Bing Crosby and Ingrid Bergman, “plus selected short subjects.” I love the “Bing Sings 5 Songs All Sensational!” and underneath that, just “Ingrid Sings.”

Sunday, 26 September 2010

SCHOOL FOR SCOUNDRELS : Saat Pecundang Bertekad Perbaiki Jati Diri

Tagline:
Too nice? Too honest? Too “you”? Help is on the way.

Storyline:
Roger tumbuh dewasa sebagai seorang pecundang. Bekerja sambilan sebagai petugas tertib parkir keliling malah membuatnya terlibat masalah. Mendekati Amanda, tetangga cantiknya di apartemen juga tidak lancar. Atas saran Ian, Roger mengikuti kursus Dr. P dan asistennya, Lesher untuk mengubah nasibnya menjadi seorang pemenang. Ia tidak sendiri karena berjumpa dengan Eli, Ernie, Little Pete dan lain-lain. Satu demi satu instruksi dikerjakan Roger dan perlahan kepercayaan dirinya tumbuh. Namun proses itu diganggu saat ia mengetahui Dr. P juga mendekati Amanda. Siapa yang akan menang pada akhirnya?

Nice-to-know:
Merupakan remake berjudul sama di tahun 1960 karya Robert Hamer yang dibintangi oleh Ian Carmichael, Terry Thomas dan Alastair Sim.

Cast:
Jon Heder mulai dikenal semenjak membintangi Napoleon Dynamite (2004). Kali ini ia berperan sebagai pecundang Roger yang sebetulnya cerdas dan tangguh, hanya saja tidak percaya diri.
Aktor senior ini telah masuk dalam jajaran Hollywood Walk of Fame di tahun 2004, Billy Bob Thornton disini bermain sebagai mentor Dr. P yang sangat culas dan banyak akal.
Jacinda Barrett sebagai Amanda
Michael Clarke Duncan sebagai Lesher
Sarah Silverman sebagai Becky
David Cross sebagai Ian

Director:
Todd Phillips memulai karir sutradara lewat Road Trip (2000) yang sangat menghebohkan kalangan remaja satu dekade lalu.

Comment:
Entah harus menyalahkan siapa jika ternyata film ini baru tayang di Indonesia 4 tahun setelah dirilis di Amerika sana. Ya 4 tahun, saudara-saudara sebangsa dan setanah air! Bahkan trailernya sendiri sudah wara-wiri sejak tahun 2009 di bioskop-bioskop ibukota. Mungkin peribahasa last but not least berlaku disini. Toh menurut saya film ini juga berkualitas lumayan.
Sepintas memang hanya terlihat sebagai komedi remaja biasa yang penuh humor slapstick dan menjurus seks. Hm, nanti dulu jika anda berpikir seperti itu. Plot yang biasa dan klise yakni from zero to hero ternyata disajikan dengan cukup menyenangkan. Semua itu tak lepas dari gemilangnya penampilan Heder dan Thornton. Lihat bagaimana transformasi Heder yang berwajah culun dan berpenampilan sangat biasa. Sebaliknya Thornton terlihat cool dan kharismatik disini. Keduanya bagaikan kutub magnit Utara dan Selatan yang bertolak belakang tetapi berbagi chemistry dengan pas satu sama lainnya. Barrett juga cantik dan manis sebagai love interest kedua leading actor itu. Belum lagi dukungan dari Clarke Duncan, Silverman, Cross dkk yang walaupun tidak dominan tetapi cukup berarti.
Kita patut angkat topi pada kiprah sutradara Phillips yang juga bertindak sebagai penulis scenario. Scene per scene dihadirkannya dengan komedik tapi tidak berkesan norak. Beberapa twist maju mundur menjelang ending juga cukup berhasil dalam memainkan emosi penonton yang sejak awal diyakini berempati pada karakter Roger.
Pada akhirnya School For Scoundrels tak hanya menghibur sebagai tontonan ringan tetapi memiliki pesan moral yang tinggi. Bagaimana seharusnya seseorang tetap optimis dan fokus dalam mencapai tujuannya tanpa berusaha menjatuhkan orang lain. Hidup kita memang milik kita sendiri dan semuanya akan berbuah tergantung perbuatan kita masing-masing.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$17,803,796 till end of 2006

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 25 September 2010

RESIDENT EVIL : AFTERLIFE Perjalanan "Kompleks" Pencarian Arcadia

Quotes:
Alice-My name is Alice. I had worked for the Umbrella Corporation. Five years ago, the T-Virus escaped, and everybody died. Trouble was... they didn't stay dead.

Storyline:
Ketika seluruh dunia sudah terinfeksi virus mematikan akibat ulah Umbrella Corporation, Alice melanjutkan perjalanannya untuk mencari sesamanya yang masih bertahan hidup sekaligus menempatkan mereka semua ke tempat teraman. Dan tanpa diduga, Alice berjumpa Claire yang disangkanya sudah tiada. Mereka berdua tiba di Los Angeles dan bertemu dengan beberapa orang yang selamat yaitu Luther dkk dan tawanan mereka, Chris yang misterius. Gerombolan baru ini akhirnya sepakat menerobos kawanan zombie dan bertekad menemukan suatu tempat bernama Arcadia. Berhasilkah mereka?

Nice-to-know:
Subjudul Afterlife sempat dipertimbangkan untuk dipakai pada seri ketiganya sebelum diputuskan Extinction.

Cast:
Setelah Extinction, Milla Jovovich sempat membintangi 2 film di tahun 2009 yaitu A Perfect Gateway dan The Fourth Kind sebelum kembali dalam peran Alice.
Ali Larter sebagai Claire Redfield
Wentworth Miller sebagai Chris Redfield
Kim Coates sebagai Bennett
Shawn Roberts sebagai Albert Wesker
Sergio Peris-Mencheta sebagai Angel
Spencer Locke sebagai K-Mart
Boris Kodjoe sebagai Luther

Director:
Nama Paul W.S. Anderson mulai dikenal setelah mengadaptasi game ternama Mortal Kombat ke dalam film layar lebar di tahun 1995.

Comment:
My name is Alice.. Kalimat opening yang sudah berulang kali didengungkan dan ingatan saya langsung melayang pada ketiga prekuelnya sekaligus membuat saya berpikir apa saja yang akan ditawarkan di episode keempat kali ini. Dan dugaan tersebut tidak salah, Afterlife kembali mengulang plot yang sama dengan setting yang berbeda. Beberapa adegan pada opening bahkan mengingatkan kita pada I Am Legend dimana Will Smith mendengar broadcast news akan suatu tempat evakuasi yang aman dan berusaha mencarinya dengan harapan menemukan sesama manusia yang masih hidup. Memasuki pertengahan barulah interaksi Alice dengan Claire ataupun Luther cs menjadi suguhan yang menyenangkan. Tentu saja harus ada korban baru yang berjatuhan bukan? Munculnya zombie jenis baru dengan monster dari dalam mulut turut memperkaya khasanah sekuel ketiganya ini.
Entah usaha menarik minat pasar Asia disengaja atau tidak tetapi prolog yang mengisahkan branch Umbrella Corporation yang bersetting di Tokyo terasa sedikit dipaksakan apalagi kemudian muncul beberapa nama ternama dari sana termasuk biduanita Mika Nakashima. Pada scene ini, aksi Alice-Alice sangatlah over the top dan menurut saya akan menjadi bagian favorit para fans RE.
Overall, Resident Evil : Afterlife samasekali tidak menawarkan sesuatu yang baru. Masih dibungkus dengan cerita yang dangkal dan tidak eksis tetapi tetap dibekali dengan visualisasi yang menakjubkan, lebih karena ditambahkan elemen 3D di dalamnya. Ini adalah sekadar hiburan belaka bagi para pecinta franchise RE tetapi tidak untuk saya. Open ending juga menyiratkan akan ada terusannya lagi dan lagi. Sangat melelahkan membayangkannya..

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$43,893,958 till mid Sept 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 24 September 2010

THE LAST EXORCISM : Pengusiran Setan Gadis Belia Bermasalah

Tagline:
Believe In Him

Storyline:
Pendeta Cotton Marcus sepakat merekam momen pengusiran setan terakhirnya di pertanian keluarga Sweetzer yang terletak di pedesaan Louisiana, Baton Rouge. Produsernya Iris dan kameraman bernama Daniel selalu siap menangkap setiap adegan yang melibatkan Cotton. Namun kali ini Cotton tidak menghadapi kasus pengusiran setan biasa. Ia dihadapkan pada gadis 16 tahun, Nell yang seringkali kehilangan kendali dirinya. Belum lagi kehadiran ayah dan kakak kandung Nell yakni Louis dan Caleb yang protektif dan temperamen. Bagaimana iman dan kepercayaan diri Cotton mengatasi semua itu?

Nice-to-know:
Film ini hanya berbujet 1,8 juta dollar dan dikirim ke teater dengan kode "Scrutiny".

Cast:
Menggunakan nama-nama yang belum ternama sama sekali.
Patrick Fabian sebagai Cotton Marcus
Ashley Bell sebagai Nell Sweetzer
Iris Bahr sebagai Iris Reisen
Louis Herthum sebagai Louis Sweetzer
Caleb Landry Jones sebagai Caleb Sweetzer
Tony Bentley sebagai Pastor Manley

Director:
Film panjang kedua yang disutradarai oleh Daniel Stamm setelah A Necessary Death (2008).

Comment:
Tanpa ekspektasi apapun saya menyaksikan film ini seperti halnya kemunculan tiba-tibanya di cinepleks 21 tanpa banyak pemberitaan terlebih dahulu. Menit-menit awal sudah memperlihatkan bahwa ini adalah sebuah film bergaya dokumenter dengan menggunakan kamera tangan. Tema yang diangkat tergolong tidak baru tetapi mampu dicampur dengan ide-ide segar yang belum tersentuh sebelumnya oleh film-film sejenis. Selama 30 menit pertama anda akan dijamu oleh nuansa komedik yang seakan didesain untuk mengolok-olok scene legendaris dari horor lawas. Kengerian sendiri baru muncul setelah setengah perjalanan film yang terus terang sangat terbantu oleh lighting yang menentramkan mata dan sound yang menyayat-nyayat telinga.
Dua nama yang outstanding disini adalah aktor televisi Fabian yang mempotretkan karakter pendeta dengan sangat manusiawi juga Bell yang memvisualisasikan karakter gadis kesurupan dengan sorot mata, mimik dan gesture yang mengerikan. Sutradara Stamm tergolong sukses memaksimalkan bujet sangat rendah menjadi sebuah tontonan menarik.
Jika anda pecinta film pengusiran setan semacam The Exorcist dengan segala sekuel prekuelnya dan film hantu bergaya dokumenter semacam Blair Witch Project, The Last Exorcism bisa jadi pilihan tepat mengingat originalitas plot dan open ending yang sangat twisted itu. Namun kubu yang tidak menyukai dua judul yang baru saya sebutkan akan sulit jatuh cinta dengan film ini dan merasakan kebosanan dan kebingungan yang luar biasa sepanjang durasi film. Saya sendiri berada di pihak tengah dan akhirnya memberikan skor demikian. Pesan saya, pikir dua kali sebelum menebak dimana film ini akan berakhir dan buat konklusi sendiri untuk didiskusikan bersama dengan teman menonton anda.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$38,062,322 till mid Sept 2010.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 23 September 2010

PENGANTIN PANTAI BIRU : Teror Dedemit Cantik Dendam Pribadi

Storyline:
Beberapa waktu silam, Emily dan Andy tengah merayakan bulan madu di Pantai Biru. Malang di tengah kemesraan, keduanya disatroni 3 perampok yang membunuh Andy dan membuang Emily ke jurang.
Masa kini, adik Emily yang bernama Maya melakukan pencarian kakaknya. Ia berjumpa enam muda-mudi masing-masing pasangan Ryan-Naomi, Amel, Jazzy, Jojo dan Gathan yang sedang berekreasi sekaligus melakukan sesi pemotretan. Lelaki tua penjaga penginapan, Pak Solikum mengingatkan mereka agar berhati-hati terhadap makhluk gaib yang dijuluki Dedemit Samber Nyawa di daerah sekitar yang kerapkali meminta korban jiwa. Apakah sesungguhnya Emily masih hidup? Bagaimana teror Dedemit Samber Nyawa tersebut dapat dihentikan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kanta Indah Film & BIC Production dan diproduseri oleh HM Firman Bintang.

Cast:
Catherine Wilson sebagai Emily
Keith Foo sebagai Ryan
Uli Auliani sebagai Naomi
Cynthiara Alona sebagai Jazzy
Debby Ayu sebagai Amel
Fendi Trihartanto sebagai Jojo

Director:
Absen di bulan suci Ramadhan, Nayato Fio Nuala kembali dua minggu kemudian dengan thriller horor terbarunya yang berjudul cukup berdaya tarik ini.

Comment:
Leburkanlah 2 film berikut: Darah Perawan Bulan Madu (Hartawan Triguna) dan Air Terjun Pengantin (Rizal Mantovani) yang sama-sama rilis 2009. Voila! Jadilah karya terbaru Nayato yang siap tayang tetapi apakah layak tonton? Temanya seperti tersebut di atas mengenai pasangan muda-mudi yang diganggu saat berbulan madu dan sekelompok muda-mudi yang diteror saat rekreasi. Nampaknya kreatifitas sudah semakin sulit dikembangkan dewasa ini. Seakan tidak cukup lemah, diperparah juga dengan masuknya tokoh adik kandung sang penebar teror tanpa maksud dan tujuan yang jelas serta berbaur begitu mudahnya dengan para sahabat tersebut.
Dengan kekonyolan plot dan skenario yang saling berlomba-lomba itu lantas apa lagi yang bisa dijual? Tentu saja panorama dan jajaran castnya. Panorama Pantai Biru memang cukup indah dan keahlian sutradara sekelas Nayato yang cukup pandai bermain angle memang berguna disini. Trio aktris Uli, Cynthiara, Debby kembali mempertontonkan kemolekan tubuh mereka dengan bikini minim. Belum lagi sosok Catherine yang tidak jelas apakah hantu atau manusia yang berkostum sangat eksotis (anda akan mengerti maksud saya jika menontonnya!). Ohya ada juga Keith Foo yang wajah dan tubuhnya bisa jadi menyegarkan bagi penonton wanita (dan sebagian penonton pria tentunya). Rasanya "penampilan" kesemuanya merupakan "akting" tersendiri di film ini.
Mungkin kejam jika saya katakan Pengantin Pantai Biru lebih merupakan kumulasi sampah-sampah kertas Nayato yang berisi satu dua coretan ide lalu diremas-remas dan dibuang tanpa penyelesaian apapun. Namun memang itulah kenyataannya. Skip it!

Durasi:
70 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Contest - "Rich Man, Poor Man" Series DVD

This is to announce the beginning of a contest for a DVD of the landmark television miniseries “Rich Man, Poor Man.”

A&E Home Entertainment is releasing this long-awaited TV classic on DVD September 28th. “Rich Man, Poor Man” was the first miniseries produced on American television, and ran for 12 weeks beginning in February 1976. The excitement generated by that program led to later experiments in the miniseries format, including “Roots”. Its cast was a who’s who of Hollywood and 1970s television.

Including Dorothy McGuire, who was one of many in that production nominated for an Emmy.

You know how important Dorothy McGuire is around here.

I hope to post review of the DVD on Monday, though circumstances might delay that. For now, have a look at this link on Amazon for a detailed descripton of the item.

To Enter the Contest:

Just leave a comment saying you want the DVD. I’ll pick the winner at random next Thursday, September 30th at noon Eastern Time.

Good luck!

Wednesday, 22 September 2010

POCONG JUMAT KLIWON : Misi Horor Humor Pocong Nayato

Storyline:
Di sebuah hutan, Moniq selaku sang sutradara tengah mengarahkan Linda dan Arumi berakting dalam sebuah film pendek. Saat memakai wig, tiba-tiba Linda bersungguh-sungguh mencekik Arumi. Hal ini langsung dihentikan teman-temannya. Linda yang kesurupan tidak terkendali sampai wig yang dikenakannya dilepas oleh Dana. Setelah kejadian itu, mereka ditempeli oleh pocong terus menerus bahkan hingga pulang ke rumah masing-masing sekalipun! Zacky meminta bantuan engkongnya yang seorang paranormal untuk mencaritahu apa yang mengganggu mereka sesungguhnya. Siapakah gadis bernama Titin yang disebut-sebut engkongnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Film.

Cast:
Zaky Zimah
Leylarey Lesesne
Monique Henry
Arumi Bachsin
Sazha Carissa
Dana Cole
Rozie Mahally

Director:
Bisa dikatakan film horor komedi pertama Nayato Fio Nuala yang kali ini berkolaborasi dengan penulis Erry Sofid.

Comment:
Opening film ini harus diakui menjanjikan. 10-15 menit pertama akan membuat anda tertawa dengan beberapa adegan slapstick yang cukup mengena meskipun masih tidak jauh dari kata norak. Tetapi tidak apalah jika jatuhnya fun. Para penonton yang paham benar gaya seorang Nayato mungkin akan mengernyitkan dahi. Bingung sekaligus terkejut lalu timbul pertanyaan dalam benak kami semua. Benarkah inovasi sutradara misterius itu bisa berhasil kali ini?
Pikir dua kali jika anda berpikir seperti itu. Berakhir masa "syuting" di hutan maka berakhir pula segala humor itu. Plot kembali dibawa seperti yang sudah-sudah yaitu penampakan demi penampakan yang menghantui karakter-karakter utama. Kali ini sang pocong yang menjadi momok pun mengeluarkan seribu jurusnya yang lebih tepat dibilang menjahili daripada menakuti. Terus terang saya kasihan sekali melihat makhluk berkain kafan putih itu disuruh mengintip, membayangi, mencolek, memecahkan cangkir bahkan bersembunyi di dalam lemari es! Entah berapa puluh kali (dan beratus kali sebelum diedit tentunya) Nayato menginstruksikan pocong sewaannya membombardir penonton dengan ketakutan/kegelian di setiap beberapa menit. Anda sangat tidak beruntung jika semua penonton seperti saya yang hanya bisa menguap menyaksikannya.
Kehadiran Zaky Zimah sedikit membantu disini. Mimik muka lugu disertai gesture tubuh bodohnya terbukti ampuh memancing senyum audiens apalagi disenjata pamungkasi kata "najis". Monique, Leylarey cs seperti biasa hanya bisa merumpi dan beradegan mandi untuk kemudian berlari-lari ketakutan. Bahkan seorang Arumi yang tergolong rajin bermain dalam film Nayato lengser setelah 30 menit pertama, mungkin ia jatuh tertidur kebosanan hingga sang komandan tidak berani membangunkannya karena takut disumpahi pocong. Lho? Kesimpulan akhir, Pocong Jumat Kliwon ini tampaknya terlalu jenaka untuk menakuti ataupun terlalu seram untuk ditertawai? Anda yang putuskan.

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Monday, 20 September 2010

LEAP YEAR : Melamar Pria Idaman Tahun Kabisat

Quotes:
Anna-You fried my blackberry
Declan-You fried the whole village!

Storyline:
Berkarier sebagai penata apartemen, Anna Brady berharap-harap cemas saat kekasihnya yang kardiologis, Jeremy mengajak makan malam di restoran mewah yang diduga akan melamarnya. Namun harapan sirna karena Jeremy hanya membelikannya giwang dan berencana melakukan dinas ke Dublin. Mendengar ada tradisi di Dublin dimana seorang wanita bisa melamar pria setiap tanggal 29 Februari alias tahun kabisat, Anna nekad terbang kesana. Sayangnya karena cuaca buruk, ia mendarat di Wales dan penerbangan ke Dublin terpaksa ditutup. Mencari cara untuk pergi kesana, Anna malah berjumpa pemuda setempat, Declan yang setuju mengantarnya dengan sejumlah bayaran. Perjalanan panjang itu membuat dua orang asing tersebut saling mengenal. Benarkah Jeremy merupakan jodoh yang dinantikan Anna sesungguhnya?

Nice-to-know:
Bar Declan yang bernama "Caragh" dalam bahasa Gaelic berarti "Tersayang".

Cast:
Karir akting layar lebarnya dimulai lewat Drop Dead Gorgeous (1999) dan Amy Adams disini kebagian peran Anna Brady, wanita mandiri yang menginginkan cinta yang stabil dalam hidupnya.
Angkat nama setelah berduet dengan Mandy Moore dalam Chasing Liberty (2004), Matthew Goode bermain sebagai Declan, pemuda cuek yang tidak terlalu mempercayai kekuatan cinta.
Beberapa kali mendukung serial teve ternama seperti E.R, NYPD Blue, Party Of Five dsb membawa Adam Scott mendapatkan karakter Jeremy yang ambisius dan praktis.

Director:
Anand Tucker memulai debut penyutradaraannya lewat Saint-Ex (1996).

Comment:
Entah sudah beberapa banyak komedi romantis yang memanfaatkan Inggris Raya dan sekitarnya sebagai latar belakang? Harus diakui suasana, view dan tradisinya sangat kuat sehingga tidak heran menyimpan daya tarik tersendiri untuk sebuah percintaan. Film ini adalah salah satunya dan Tucker yang sebenarnya belum banyak berpengalaman sebagai sutradara berjudi cukup aman disini dengan memanfaatkan formula-formula baku nan standar.
Dari segi cast pemasangan Adams dengan Goode terasa sedikit miscasting, belum lagi ditambah kehadiran Scott yang terkesan melengkapi saja. Mengapa saya katakan demikian? Adams merupakan salah satu newest America’s sweetheart yang pernah sukses dengan genre sejenis belakangan ini, lihat daya tarik kecerobohan yang jenaka dan kenaifannya yang menggemaskan disini. Sedangkan Goode hanyalah satu dari sekian aktor Inggris yang belum berhasil di Amerika. Namun toh keduanya berbagi chemistry yang cukup menyenangkan disini.
Plot penemuan pelabuhan hati yang lain saat menunggu kepastian cinta dari sang kekasih kembali dibentangkan menjadi konflik yang harus diselesaikan. Proses ke arah sana seringkali melibatkan riak pertengkaran, penolakan, kebimbangan dan kesalahpahaman. Itulah yang akan selalu dinantikan penonton penyuka genre ini terutama wanita. Dan Leap Year yang mengangkat tradisi unik tahun kabisat ini tetaplah sebuah hiburan yang manis dan nyaman untuk dinikmati tanpa banyak embel-embel yang berlebihan. Bukankah cinta memang harus seperti itu?

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$25,893,485 till end of Feb 2010.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Do You Know This Movie?

A recent request by a reader:

LOOKING FOR THE NAME OF A OLD MOVIE. MOST I CAN REMEMBER A WOMAN WAS PAINTING ON THE BEACH. SHE MET A NAVY OFFICER THEY HAD A FLING. I THINK HE FELL DOWN THE STEPS AND DID NOT SURVIVE. THE INSPECTOR KNEW WHAT HAPPENED BUT DID NOT PURSUE IT. , FINAL SCENE SHE IS DANCING WITH HER HUSBAND AND CRYING BECASUE HER AND THE NAVY MAN DANCED TO THE SAME SONG

Sorry about the capitalization, but apparently our friend likes to shout. Let’s see if we can help him with this question. Anybody have any idea what this movie is?

Sunday, 19 September 2010

THE SWITCH : Kedewasaan Dua Sahabat Besarkan Anak

Quotes:
Wally Mars-Did you just use my name as a verb?

Storyline:
Wally dan Kassie telah bersahabat lama hingga mereka selalu berbagi satu sama lain. Tiba saatnya Kassie memutuskan untuk melakukan inseminasi buatan karena yakin tidak akan bertemu jodohnya dan tidak mau usianya terlambat mengandung. Wally yang diam-diam menyukai Kassie pun membantah ide gila tersebut. Namun tekad Kassie sudah bulat dan lewat sebuah pesta ia bertemu dengan Roland yang bersedia mendonorkan spermanya. Secara tidak sengaja ketika sedang mabuk, Wally malah menumpahkan botol sample itu dan menukarnya dengan miliknya sendiri. Bertahun-tahun rahasia tersebut disimpan hingga nasib mempertemukan Wally dengan Kassie lagi yang telah membesarkan seorang diri. Akankah terjadi sesuatu di antara mereka?

Nice-to-know:
Film pertama Miramax setelah dijual Walt Disney Company ke Colony Capital.

Cast:
Pernah meraih Golden Globe lewat serial televisi Arrested Development di tahun 2003, Jason Bateman bermain sebagai Wally.
Memenangkan Golden Globe lewat serial televisi Friends di tahun 1994, Jennifer Aniston berperan sebagai Kassie.
Patrick Wilson sebagai Roland
Jeff Goldblum sebagai Leonard
Juliette Lewis sebagai Debbie
Thomas Robinson sebagai Sebastian

Director:
Kerjasama kedua Josh Gordon dan Will Speck setelah Blades of Glory (2007).

Comment:
Entah sudah berkali-kali film mengenai wanita yang menjalani inseminasi buatan diproduksi sebelumnya. Rasanya baru kemarin The Back Up Plan (2009) menyambangi kita di bioskop-bioskop ibukota. Apa yang bisa membuat film ini berbeda?
30 menit pertama nyaris sama saja dengan yang sudah-sudah bahkan tingkah Bateman yang sedikit over-the-top cukup menyebalkan. Namun pergerakan setelahnya cukup di luar dugaan dimana plot mengalir lancar dan sangat dewasa. Meskipun mudah ditebak arahnya tetapi tidaklah klise karena karakterisasi para tokohnya dikembangkan dengan baik. Duet sutradara Gordon dan Speck memperpanjang cerita pendek karangan Jeffrey Eugenides dengan gaya penyutradaraan yang baik, tentunya hal ini tak lepas dari campur tangan sang penulis All Loeb yang kreatif dalam menyusun skrip itu.
Bateman layak mendapat bintang disini. Ia begitu mendominasi scene dan transformasi sikapnya sangat terasa disini dari seseorang yang kekanak-kanakan menjadi seseorang yang bertanggungjawab. Aniston berakting tanpa improvisasi yang signifikan dari apa yang ia perlihatkan dalam chick-flick serupa. Perubahan dari wanita singel yang mapan hingga menjadi single mother tidak terlalu terasa. Si kecil Robinson ternyata cukup mahir beraksi di depan kamera, lihat bagaimana sorot matanya yang berbicara dan gayanya yang kalem. Sedangkan Goldblum dan Wilson sebagai supporting cast lumayan memberi kontribusi pelengkap.
The Switch adalah komedi romantis yang tidak berfokus pada proses menuju cinta itu sendiri melainkan bagaimana seorang pria dan wanita dewasa mampu bersikap di atas situasi yang canggung dan tidak mengenakkan. Suguhan menghibur dan bisa jadi menginspirasi pria-wanita 40 tahunan yang kebetulan belum menikah di luar sana.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$27,207,766 till end of Sep 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 18 September 2010

AFTERSHOCK : Trauma Pengorbanan Ikatan Keluarga

Storyline:
Tangshan tahun 1976, gempa bumi besar melanda tiba-tiba di tengah malam. Suami istri Fang dan Yua Ni harus pontang-panting menyelamatkan putra-putri mereka yang berusia 7 tahun, Fang Da dan Fang Deng yang masih terjebak di rumah. Sayangnya bangunan runtuh demikian cepat dan dalam waktu singkat semuanya rata dengan tanah, hanya tersisa puing-puing. Esok harinya, Yua Ni harus menemukan kenyataan pahit. Selain kehilangan suaminya, ia harus memilih satu dari si kembar yang terjebak di reruntuhan. Yua Ni akhirnya menunjuk Fang Da tanpa mengetahui Fang Deng selamat di kemudian hari dan mengetahui keputusannya. Satu momen dilematis itu pada akhirnya mengubah sudut pandang ibu dan anak tersebut selama-lamanya.

Nice-to-know:
Arti sesungguhnya Aftershock adalah gempa kecil yang terjadi setelah gempa kecil yang terjadi setelah gempa besar sebelumnya di daerah yang sama.



Cast:
Zhang Jingchu
sebagai Fang Deng / Wang Deng

Chen Daoming sebagai Ayah Angkat
Chen Li
sebagai Fang Da

Xu Fan
sebagai Ibu Yua Ni

Chen Jin
sebagai Ibu Angkat



Director:
Karya pria berusia 52 tahun bernama Feng Xiaogang ini yang paling saya ingat adalah The Banquet (2006).






Comment:
Melihat trailernya selama 1 menit, anda akan mengalami kepiluan sekaligus rasa penasaran akan keutuhan jalinan kisahnya apalagi melihat nama sutradara Feng sebagai dalangnya. Terbukti ia mampu memperlihatkan setting China dalam rentang waktu panjang mulai dari tahun 1970an, 1980an, 1990an hingga 2000an secara brilian lengkap dengan kostum dan momen-momen bersejarah yang mengiringinya. Apalagi dibekali juga dengan musik latar yang menghanyutkan di sepanjang film. Thumbs up!
Opening film yang diangkat dari novel yang mengacu pada kejadian sesungguhnya yang menelan korban jiwa sekitar 240.000 jiwa ini memang menampilkan visualisasi gempa yang sangat meyakinkan sekaligus mengerikan. Bagaimana bangunan roboh disana-sini dan orang-orang berlarian pontang-panting menyelamatkan diri dan anggota keluarganya. Sebagian besar bujet 25 juta dollar mungkin habis disini tetapi jelas harga sangat layak untuk membangun kekuatan cerita. Selepas 30 menit pertama, anda akan diajak mengikuti perjalanan ketiga tokoh utama selama 32 tahun mulai dari Yua Ni, Fang Da, Fang Deng. Kesemuanya terikat pada subplot baru masing-masing kaya akan konflik interpersonal tersendiri mulai dari hubungan ibu dan putranya, ayah dan putrinya, suami istri, orangtua dan anak angkatnya, kekasih remaja dsb. Xu Fan dan Zhang Jingchu menjiwai peranannya dengan luar biasa, bagaimana bahasa tubuh dan ekspresi keduanya mampu berbicara teramat jujur di depan kamera.
Aftershock jelas tidak seperti film bencana yang dibombardir spesial efek ala Hollywood. Suatu potret perjalanan sebuah keluarga setelah dilanda kerusakan moril yang lebih parah daripada kehancuran fisik. Rangkuman emosi terluka, tertekan, menderita terangkum dalam dramatisasi yang kuat tanpa terkesan manipulatif. Saya dan beberapa penonton lain kerapkali harus menggigit bibir dalam-dalam untuk mengindahkan pelupuk mata yang mulai basah karena haru. Inilah film yang sangat manusiawi, realistis dan patut direkomendasikan untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Terlepas dari beberapa scene penting yang terasa editingnya atau terpaksa dipotong demi menyiasati durasi, film ini bisa jadi dicatat sebagai salah satu yang paling berharga dalam perfilman China. Semoga berjaya di ajang Oscar tahun depan kategori Film Berbahasa Asing Terbaik!

Durasi:
130 menit


China Box Office:

CNY 534,000,000 till early Aug 2010.


Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 16 September 2010

THE INTRUDER : Serangan Kobra Penghuni Apartemen


Storyline:
Pada tahun 1983 sebelum Suvarnabhumi International Airport dibangun, ada sebuah area yang disebut "King Cobra Swamp" oleh penduduk setempat. Disanalah terdapat sebuah pohon banyan tua yang akhirnya berhasil disingkirkan para pekerja sebelum melepaskan 1000 ular kobra dari dalam tanah yang membantai mereka semua. Beberapa waktu kemudian, sebuah apartemen berdiri dengan ratusan penghuni yang memiliki agendanya masing-masing. Benarkah kekuatan jahat Kobra membalaskan dendamnya sekali lagi?

Nice-to-know:
Film yang aslinya berjudul Khew ar-khard ini sempat diputar dalam ajang Festival de Nouveau Cinema di Perancis pada bulan Oktober 2010 lalu.

Cast:
Kwankao Sawetwimol sebagai Panin
Akara Amartayakul sebagai Doctor
Apinya Sakuljaroensuk sebagai Paai
Wasana Chalakorn sebagai Aunt Pai
Peerawit Bunnag sebagai Vick

Director:
Merupakan film pertama Thanadol Nualsuth.

Comment:
Film bertemakan serangan ular biasanya disuguhkan oleh sineas Hollywood. Apa jadinya jika sineas Thailand mencoba hal yang sama? Tentunya sudah dibekali oleh intrusi budaya setempat sehingga tidak lagi murni bermain dalam horor/thriller yang biasa-biasa saja. Penulis skenario Poj Arnon yang kondang lewat Bangkok Love Story (2007) kali ini mengambil kisah di balik lahan sebelum Suvarnabhumi International Airport dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Sayangnya karakterisasi yang demikian beragam itu tidak dibangun dengan baik. Pengenalan tokoh-tokohnya dilakukan dalam waktu yang terlalu singkat sekitar 15 menit sejak adegan pembuka. Ketegangan yang langsung merambat lewat serbuan beruntun ular kobra ganas menjadi tumpul karena tak adanya keterikatan emosi dari penonton terhadap karakter-karakternya. Kita lantas tidak peduli lagi akan nasib masing-masing. Mungkin hanya sang dokter, Panin, Paai yang kita harapkan bisa survive karena dominannya kemunculan mereka disini.

Sutradara Thanadol betul-betul mengandalkan efek CGI yang terbilang mulus disini. Gerakan puluhan (ratusan) ular kobra tersebut secara meyakinkan mampu menciptakan terror. Beberapa serangan “menggigit” di antaranya bahkan sukses menyajikan gory scenes yang cukup eksplisit untuk memuaskan penonton. Minimnya lighting di bagian penutup cukup mengganggu sehingga penonton sedikit kesulitan mendeteksi apa yang sesungguhnya terjadi di tingkat tertinggi bangunan tersebut.
The Intruder dapat disimpulkan sebagai sebuah thriller alami yang didukung oleh spesial efek dan atmosfir apartemen yang amat menunjang demi menutupi kelemahan-kelemahan ceritanya itu sendiri. Sebersit pesan moral bahwa egoisme manusia ketika menghadapi situasi tidak menguntungkan serta sarkasme media yang kerapkali mengambil keuntungan sendiri walau harus mengorbankan kepentingan yang lebih besar tak luput disampaikan. Please don’t compare it with Snakes on a Plane!

Durasi:
106 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

More Niagara Falls Movies

In keeping with our review of “Niagara” (1953) on Monday, let’s continue our visit at Niagara Falls with some other old movies.

That magnificent water works we share with our pals up the road in Canada has long been a tourist attraction, and most film depictions of Niagara Falls show characters on vacation, as in “Niagara”, or on honeymoons. By the way, Americans visiting the falls should most definitely go over to experience the view, and hospitality, on the Canadian side. You need your passport these days, but any inconvenience is worth the effort.

Any film about Niagara Falls is likely going to be filmed on location, since it is a bit unwieldy to fake on the back lot or slap in the background with rear screen projection. However, that’s not to say doubles can’t be used with a second unit film crew.

This shot from “Callaway Went Thataway” (1951 - see this previous post), shows Howard Keel and Dorothy McGuire on a cross-country publicity tour. This actor and actress were probably stand-ins.  It could be rear-screen, but in that case I don't think they'd be shooting them from the back.


Harry Houdini, however, had no problem showing up in person, and naturally, performing his own stunts, in “The Man From Beyond” (1922). Mr. Houdini co-wrote the scenario and also produced this silent film, about a man revived from a one-hundred year sleep. Supposedly, the dangerous action you see in this clip below was done without camera tricks.

(Don't forget to scroll to the bottom of the page to pause the music so you can hear the following video clips.)




Here in “The Crowd” (1928 - see this previous post), the honeymooners James Murray and Eleanor Boardman are actually shot at the Falls, climbing a pretty steep hill to the side of it.

Rainbow Bridge is behind them in this view.

Here below is another movie, this time a 43-minute B-movie (sorry about the commercials) made in 1941 by Hal Roach, “Niagara Falls”. A couple of couples endure comic hijinks at the “Falls View Hotel”, a much swankier spot than the efficiency cabins pictured in “Niagara.” It stars Marjorie Woodworth, Tom Brown, Zasu Pitts, and Slim Summerville, who is featured at the beginning and the end as intending to end his life by jumping into the falls in his jammies. We shouldn’t be too worried about him, he hasn’t been successful at any other endeavor in this movie. A minor role of another honeymooner is played by Rand Brooks, who you may remember as Charles Hamilton in “Gone with the Wind” (1939). What two years can do to your career.



Then of course we have popular references to the Falls, most notably in “42nd Street” (1933), where we have the musical skit “Shuffle Off to Buffalo”. As we are told, “To Niagara in a sleeper, there’s no honeymoon that’s cheaper.”
Then there is the ever-popular, “Niagara Falls routine”, better known to some as “Slowly I Turn.” Here are two variations on this old vaudeville bit. First, with The Three Stooges from “Gents Without Cents” (1944).



Next up to bat, we have the Abbott & Costello version from their 1950s TV show:



You may remember Lucille Ball having a crack on this theme, too, in an episode of “I Love Lucy”, though the trigger word here is not “Niagara Falls”, but Martha. Niagara Falls is the blast of seltzer she gets in the pus. You can watch in on YouTube here.

For more on Niagara Falls, have a look at this blog.

THIS JUST IN!!!!!.......
Doaf!  Our roving reporter Moira Finnie (catch her here at Skeins of Thought), just reminded me about "Remember the Night" (1940) with Fred MacMurray and Barbara Stanwyck.  Am kicking myself as we speak.  Moria supplies us with these two great shots from the film:



Thanks for the help, Moira.

Wednesday, 15 September 2010

BACK TO HELL : Ayah Terluka Telusuri Kematian Malang Putrinya

Tagline:
An act unforgiven. A father lost in grief.

Storyline:
Setelah cerai dari istrinya, kebatinan Christian harus ditempa lagi saat mengetahui kematian putrinya tanpa sebab. Sebuah video tiba tanpa nama yang memperlihatkan putrinya, Jesse sedang mabuk ganja dan dicabuli oleh tiga laki-laki. Segera saja Christian merencanakan perjalanan untuk mencari tahu kejadian sesungguhnya yang mempertemukannya dengan Finn sang produser film yang akan menjadi titik awalnya. Kemudian Christian bertemu Alice yang tengah kabur dari rumahnya. Keduanya pun saling berinteraksi dengan caranya sendiri dimana Christian tetap merencanakan balas dendam terbesar yang harus ditempuhnya.

Nice-to-know:
Untuk mendapat dana produksinya, sebuah film pendek dirancang untuk adegan pembukanya. Film pendek tersebut akhirnya memenangkan Best Independent Drama (10-30 menit) di Queensland New Filmmaker Awards (2006).

Cast:
Peter Marshall sebagai Christian
Caroline Marohasy sebagai Alice
Brad McMurray sebagai Derek
Jack Henry sebagai Finn
Evert McQueen sebagai Jim

Director:
Steven Kastrissios.

Comment:
Di tahun 1970an pernah muncul Last House On The Left yang kemudian diremake berpuluh-puluh tahun setelahnya. Film ini bertemakan sama yaitu balas dendam orangtua atas perlakuan tidak menyenangkan yang menimpa putrinya. Bedanya kali ini sang ayah bertindak sendiri dan putrinya sudah keburu tewas. Mengapa saya bandingkan kedua film tersebut? Ada 3 hal yang mendasarinya. Pertama, latar belakang tahun 70-80an masih terasa kental. Kedua, pelaku balas dendam bukanlah orang yang menguasai keahlian khusus bela diri. Ketiga, adegan demi adegan yang diperlihatkan sangat miris sehingga anda akan menutup mata karena ngeri.
Film berjudul asli The Horseman yang merupakan asli buatan Australia tahun 2008 yang lalu ini dibintangi aktor-aktris sana yang belum mempunyai nama di kancah internasional. Walau begitu kinerja mereka semua cukup meyakinkan terutama applaus khusus bagi Peter Marshall yang terlihat sebagai pria paruh baya biasa tetapi menyimpan kesigapan luar biasa yang dipacu oleh hati yang terluka. Sutradara Kastrissios juga nyaris tidak mengisi aspek musik disini karena menggarap film dengan gaya dokumenter dan nyaris hitam putih dengan tone warna yang monoton di sepanjang film.
Semua hal yang saya sebutkan di atas itulah yang menyebabkan Back To Hell (judul peredaran Blitz Megaplex) ini layak ditonton dikarenakan terasa sangat real seakan-akan penonton diajak mensyut langsung kiprah seorang Christian. Sayangnya gunting sensor yang kelewat tajam sedikit menghilangkan kenikmatan menontonnya saat beberapa adegan sadis terpaksa dipotong begitu saja.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 14 September 2010

PUBLIC ENEMY NUMBER ONE : Asal Usul Gangster Legendaris Perancis

Original title:
L'instinct de mort

Storyline:
Sejak muda Jacques Mesrine sudah menunjukkan karakternya yang keras dan pemberani. Seringkali ia berpindah-pindah dari pelukan satu wanita ke wanita lain sampai bertemu Sofia yang akhirnya memberinya 3 anak dan berujung perceraian. Kemudian ia berjumpa Jeanne yang berpaham sama dengannya. Keduanya melakukan perampokan bersama dan berakhir di penjara untuk waktu yang cukup lama. Namun bukan Mesrine namanya jika menyerah begitu saja. Ia pun merancang pelarian bersama Jean-Paul di tengah penjagaan yang ketat..

Nice-to-know:
Awalnya Barbet Schroeder sempat ditunjuk untuk mengarahkan dua film Mesrine ini.

Cast:
Mengawali karier akting layar lebar lewat Les cigognes n'en font qu'à leur tête (1989), Vincent Cassel bermain sebagai Jacques Mesrine yang dikenal sebagai musuh publik Perancis nomor satu pada jamannya.
Cécile De France sebagai Jeanne Schneider
Gérard Depardieu sebagai Guido
Gilles Lellouche sebagai Paul
Roy Dupuis sebagai Jean-Paul Mercier
Elena Anaya sebagai Sofia

Director:
Jean-François Richet sebelum ini mengarahkan film Hollywood, Assault on Precinct 13 (2005).

Comment:
Saya sedikit mempertanyakan mengapa film ini masuk ke Indonesia! Bukan atas dasar negatif tapi lebih merupakan pemakaian judul yang salah seakan merupakan satu film yang utuh. Padahal sebetulnya terbagi dua yang dirilis nyaris bersamaan yaitu Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy Number One. Bahwa tidak jelas part II nya apakah akan masuk kembali ke bioskop? Tidak ada yang tahu sejauh ini.
Ini adalah film Eropa secara umum yang menceritakan biopik seorang Jacques Mesrine, gangster legendaris Perancis pada periode tahun 60-70an. Otomatis ingatan kita membubung pada Public Enemies (2009) nya Johnny Depp yang mengisahkan seorang John Dillinger, gangster legendaris Amerika pada periode tahun 30an. Dejavu? Tidak juga. Mesrine tetaplah tokoh unik yang secara luar biasa diwujudkan oleh aktor berbakat Vincent Cassel yang sudah membuktikan kualita aktingnya di berbagai film internasional. Semua scene utama Cassel mulai dari perampokan, penyanderaan, perkelahian, pembunuhan, penyiksaan, pelarian termasuk romantisme dan pemukulan terhadap wanita akan memporak-porandakan perasaan anda yang menyaksikannya. Terasa sangat real hingga dibutuhkan beberapa gunting sensor untuk beberapa bagiannya.
Richet juga menyajikan sinematografi yang memuaskan. Setting tahun 60an dihadirkan dengan pencahayaan yang pas. Belum lagi close-up shot para tokohnya yang seringkali membuat audiens merasa terlibat langsung dalam adegan terkait. Tensi tinggi sebuah action thriller juga terjaga sepanjang durasinya sehingga perjalanan hidup seorang Mesrine sebelum menjadi legenda benar-benar tereksploitasi dengan maksimal. Yah mudah-mudahan saya berkesempatan menonton kelanjutannya. Jika tidak di bioskop maka terpaksa di dvd. Go see it!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$413,958 till mid Sept 2010 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent