Saturday, 31 December 2011

FLYING SWORDS OF DRAGON GATE : Pendekar Konspirasi Harta Karun Terpendam


Storyline:
Dinasti Ming, pendekar Zhao Huai An berupaya membersihkan korupsi yang melanda penguasa Blok Barat dan Blok Timur yang dipegang oleh Yu Hua Tian. Tanpa diduga kemudian Zhao bertemu Ling Yan Qiu, wanita dari masa lalunya ketika penginapan Dragon Gate masih berdiri. Konon badai pasir yang terjadi 60 tahun lalu telah mengubur sebuah kota tua berisikan harta karun tak ternilai harganya. Kini badai pasir akan terjadi kembali dan kemungkinan gerbang akan terbuka kembali. Zhao dan Ling harus bergabung dengan Gu Shaotang dan Pisau Angin serta kawanan Tartar yang juga mengincar harta tersebut di samping antek istana suruhan Yu Hua Tian yang mencari selir yang kabur dari istana. Duel Zhao dan Yu pun menjadi penentu kubu mana yang akan selamat dari jebakan maut kota tua.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Beijing Liangzi Group, Beijing Poly-bona Film Publishing Company, Bona International Film Group, China Film Group, Film Workshop, Shanda Pictures dan Shineshow dimana bujetnya menghabiskan 35 juta dollar Amerika.

Cast:
Jet Li sebagai Zhao Hui An
Zhou Xun sebagai Jade / Lin Langqiu
Kwan Mei Lun sebagai Tribal Princess
Chen Kun sebagai Yu Hua Tian
Li Yuchun sebagai Gu Shaotang
Fan Siu-Wong

Director:
Merupakan film ke-44 bagi Tsui Hark setelah terakhir menggarap Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame di tahun 2010.

Comment:
Tsui Hark bisa jadi masih terbuai dengan kesuksesannya meraih penghargaan Sutradara Terbaik dalam Hongkong Film Festival lewat film terakhirnya. Namun ia tidak berpangku tangan karena Flying Swords of Dragon Gate yang lebih tepat dikategorikan sekuel ini bukanlah proyek main-main. Jangan bandingkan dengan New Dragon Gate Inn (1992) yang juga disutradarainya itu atau judul serupa yang ditangani oleh King Hu di tahun 1996. Kemiripan ada pada tokoh dan latar belakang peristiwa meskipun timelinenya tidak dijelaskan apakah persis sama atau tidak.
Tsui tampaknya mengerti benar akan fungsi efek 3D yang baik. “Kedalaman” visualisasinya cukup memukau apalagi “pergerakan” berbagai macam senjata tradisional Cina yang amat bervariasi di tangan Jet Li, Zhou Xun, Li Yu Chun, Chen Kun ataupun Kwan Mei Lun. Kesemua aktor-aktris itu juga secara terampil menampilkan teknik bertarung yang unik sesuai dengan fungsi pedang, golok, keris, busur panah dsb tersebut. Anda akan berdecak kagum dibuatnya karena seakan ada di tengah-tengah medan pertarungan yang sengit.

Harus diakui Jet Li yang sudah memasuki usia paruh baya tidak dapat dieksplorasi secara maksimal kemampuan bertarungnya seperti dahulu. Namun ia tetap terlihat lincah dan enerjik jika harus beradu senjata dengan lawan mainnya baik dalam jarak dekat ataupun sambil terbang sekalipun. Meski demikian, kesulitan Jet Li menjalin chemistry dengan lawan mainnya masih tidak berubah, tanpa terkecuali dengan Zhou Xun yang memang jauh lebih muda darinya.
Twist yang disiapkan di akhir cerita juga sukses mendobrak pakem film kungfu Mandarin yang jarang sekali dilakukan. Belum lagi dualisme karakter yang dimainkan Chen Kun di sepanjang film, satu sebagai tokoh baik dan lainnya penjahat sekaligus merupakan inovasi tersendiri yang patut diapresiasi. Tidak ada yang bermain di bawah standar disini walaupun harus membagi porsi satu sama lainnya sesuai dengan kebutuhan cerita yang juga dilengkapi dengan setting lokasi yang amat variatif ini.

Umumnya saya tidak menyukai CGI yang terlalu dominan dalam remake film klasik Asia beberapa tahun terakhir, sebut saja yang terbaru adalah Sorcerer and the White Snake. Namun dalam film ini, semua aspek terjalin dengan baik dalam spesial efek yang terlihat wajar dan sesuai kebutuhan. Memang bagian penutup film yang mengambil setting “Kota Emas” terasa berlebihan apalagi duel “badai pasir” yang agak tidak masuk akal itu. Editingnya di menit-menit terakhir sedikit merusak estetika film yang terkesan ingin menyiasati logika penonton atau sekedar mempecepat durasi. Entahlah!
Terlepas dari kekurangan yang terjadi di ending, Flying Swords of Dragon Gate adalah tontonan banyak aksi dan sedikit drama yang amat memuaskan anda kalau tidak mau diakui sebagai film epik Asia terbaik tahun 2011. Sangat direkomendasikan untuk ditonton dalam format 3D demi mempertegas nilai jualnya. Mata anda akan dimanjakan dan hati anda akan berdebar-debar dibuatnya menyaksikan berbagai pertarungan tingkat tinggi. Sayangnya grup 21cineplex tampak kurang percaya diri dengan merilis film ini di segelintir bioskop ibukota saja.

Durasi:
120 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Shocked to silence (Gazal)




Everything was running just about fine. A charming romance set in old-world Agra nourished by the beauty of Taj Mahal, sublime songs that connect to your heart directly, able actors who know what exactly to do on screen and a very likeable plot. But suddenly out of nowhere, a stray incident that Ved Madan considers imperative to take his story forward completely throws everything out of

Friday, 30 December 2011

JACK AND JILL : Saudari Kembar Identik Pembawa Masalah

Tagline:
His twin sister is coming for the holidays... ...and it ain't pretty.


Storyline:
Jack Sadelstein adalah eksekutif periklanan sukses di Los Angeles bersama istrinya Erin dan kedua anaknya Sofia dan Gary. Perusahaannya terancam kehilangan klien terbesar yaitu Dunkin Donuts kecuali mampu membujuk Al Pacino untuk membintangi iklan minuman terbarunya. Masalah Jack bukan hanya itu melainkan kedatangan saudari kembarnya yang masih lajang di usia 42 tahun, Jill Sadelstein demi perayaan Thanksgiving. Rencana tinggal Jill selama 4 hari ternyata diperpanjang dan mimpi buruk Jack pun berlanjut.

Nice-to-know:
Faktanya, kembar identik umumnya satu gender. Hanya sedikit kasus dimana bisa terjadi perbedaan gender karena embrio kehilangan kromosom Y sehingga menghasilkan kembar berlawanan jenis dimana biasanya sang wanita akan menderita Turner Syndrome.

Cast:
Memulai akting di usia 21 tahun lewat serial televisi lawas populer The Cosby Show (1987-1988), Adam Sandler bermain ganda sebagai Jack Sadelstein / Jill Sadelstein
Al Pacino sebagai Himself
Katie Holmes sebagai Erin Sadelstein
Elodie Tougne sebagai Sofia Sadelstein
Rohan Chand sebagai Gary Sadelstein
Eugenio Derbez sebagai Felipe / Felipe's Grandma

Director:
Film keduanya di tahun 2011 bagi Dennis Dugan yang kerapkali bekerjasama dengan Adam Sandler setelah Just Go With It.

Comment:
Seorang aktor yang memerankan dua tokoh berbeda gender sekaligus dalam satu film rasanya sudah pernah dilakukan berkali-kali sebelumnya. Paling memorable bisa jadi Mrs. Doubtfire (1993) yang dihidupkan oleh Robin Williams. Lantas apa yang ada di pikiran Ben Cook untuk mengembangkan cerita serupa dimana skripnya dikerjakan langsung oleh Steve Koren dan sang megastar dalam produksi Columbia/Sony Pictures itu sendiri yaitu Adam Sandler?
Harus diakui untuk pangsa pasar Amerika, nama Adam Sandler merupakan salah satu jaminan mutu pencetak dollar dalam film bergenre komedi. Ciri khasnya adalah menampilkan banyolan slapstick yang berantakan di paruh pertama film sebelum diperbaiki secara drastis di paruh kedua film menjadi tontonan yang mengandung pesan moral. Favorit sepanjang masa dari filmografinya adalah Click (2006) yang menganut paham serupa.

Sayangnya formula Sandler tidak berlaku disini. Jack yang semula bermusuhan dengan Jill gagal mengambil simpati penonton sejak menit awal. Jack dilukiskan memiliki kehidupan mapan dan bersikap antipati terhadap saudarinya itu. Sedangkan Jill digambarkan pecundang dalam hidup serta bertingkah laku dan berpola pikir ekstrim. Tidak ada latar belakang keduanya membuat penonton tidak memiliki alasan untuk memihak salah satunya. Jangan juga tanya seberapa meyakinkannya Sandler dalam wujud wanita, saya tidak ingin menjawabnya.
Sutradara Dugan juga tidak memperhatikan rentang waktu disini. Temponya sedikit kacau dimana banyak sekali perlambatan dan percepatan yang dipaksakan terlepas dari penting atau tidaknya adegan tersebut. Turning point yang mengubah persepsi Jack terhadap Jill juga dilakukan terlalu instan hanya dalam hitungan menit. Emosi yang diharapkan terbangun dengan sendirinya di bagian ending pun pada akhirnya buyar karena tidak ada proses yang masuk akal.

Entah apa motif Al Pacino untuk bermain sebagai dirinya sendiri disini. Sekadar keluar dari stereotype peran-peran serius yang melekat padanya? Jika itu alasannya maka ia bunuh diri! Al tidak lucu dan penampilannya cenderung membosankan. Sama halnya dengan Holmes, Tougne, Chand yang tidak memberikan kontribusi apa-apa sebagai keluarga inti Sadelstein dari segi kekuatan cerita. Pelengkap derita mungkin frase yang tepat!
Jack and Jill lemah di segala sisi dengan kesalahan terbesar ada di skrip. Dialog yang tercipta di antara para karakternya mengambang dan tidak dewasa. Yang dapat diandalkan mungkin hanyalah visualisasi slapstick yang sesekali masih mampu memaksakan tawa. Selebihnya adalah kelucuan kosong yang teramat mengganggu. Klip singkat mengenai kehidupan nyata para kembar identik di awal dan akhir film mungkin satu-satunya yang lebih pantas disaksikan dalam film ini Messed-up!

Durasi:
91 menit

U.S. Box Office:
$70,506,629 till Dec 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Thursday, 29 December 2011

POCONG KESETANAN : Makam Keramat Berurusan Vampir Cina

Quotes:
Asep: Asep gak takut sama pocong tapi sama bencong!


Storyline:
Bujang, Mentil dan James pergi ke kota untuk menjemput Santo yang sudah minggat setahun lantaran menolak jadi pendekar. Santo beralasan karena malu terkena kutukan yang membuatnya menjadi banci bernama Santi di malam hari. Suatu hari, Santo memutuskan untuk merampok makam keramat Cina yang menyimpan banyak harta karun bersama Bujang dan James. Sejak saat itulah mereka diteror oleh vampir Cina, pocong Ajun dan kuntilanak di rumah kontrakan yang juga berisikan Chika dan Wendy. Berhasilkah mereka lepas dari teror supernatural tersebut pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Parco Film dan sedianya diberi judul Kungfutilanak.

Cast:
Aziz Gagap sebagai Santo/Santi
Raffi Ahmad sebagai Asep
Guntur Triyoga sebagai James
Ajun Perwira sebagai Pocong
Reymon Knuliqh sebagai Bujang Jawara Pantun
Rina Diana sebagai Mentil
Diah Cempaka Sari sebagai Chika
Febriyanie Ferdzilla sebagai Dewi
Rozi Mahally sebagai Reymon

Director:
Merupakan film penutup Nayato Fio Nuala di tahun 2011 yang menggunakan nama Pinkan Utari.

Comment:
Serasa belum cukup bermain dengan kuntilanak dan pocong dalam film-filmnya yang dominan selama 3 tahun terakhir, Nayato membawa serta ikon baru yaitu vampir Cina yang hobi melompat-lompat dalam balutan busana khas tradisional sana. Sebagai informasi, vampir semacam ini sempat populer di era 90an lewat serial televisi ataupun film layar lebar Mandarin yang juga berhasil mengangkat nama Lam Cheng Ying sebagai guru penakluknya.
Penulis Ery Sofid dan Ian Jampanay secara serampangan mencampur-adukkan berbagai plot cerita yang tidak simetris itu. Pertama, ada Asep yang ditugaskan membawa pulang Santo yang konon terkena kutukan siang dan malam (what is this?).Namun ternyata setelah paruh pertama film, si Asep menghilang entah kemana. Kedua, merampok makam Cina itu tujuannya apa? Mengambil uang orang mati yang tidak laku di dunia manusia? Lantas mau menukarnya di money changer? Come on, u can’t be more silly!
Kehadiran pocong Ajun juga tidak berkorelasi apapun dengan bangunan cerita. Sekadar memperingatkan Santo dkk untuk tidak berbuat jahat? Atau numpang eksis dengan menjadi polisi alam manusia dan setan? Jika memang Ajun Perwira hanya dimaksudkan untuk menjadi cameo, kenapa kemunculannya cukup dominan hingga dibully habis-habisan? Apalagi sampai mengubah design poster hingga mirip dengan PJP The Movie yang baru saja tayang sebulan yang lalu itu. Gosh!

Seberapa kerasnya usaha Azis dan Reymon untuk memancing tawa dengan kegagapan kemayu dan kejayusan berpantun di sepanjang durasinya itu, saya cuma bermuka datar bahkan tersenyum pun tidak. Suer! Justru saya mempertanyakan suara tawa penonton di deretan bangku belakang yang menggelegar. Ingin rasanya menyambangi mereka dan besar kemungkinan akan menemukan Bapak Nayato sedang menggelitik pinggang mereka satu persatu?!
Belum setengah jam film berjalan, beberapa penonton yang “bijak” sudah memilih untuk meninggalkan bioskop. Nyaris saya memberikan standing applause untuk mereka karena berani mengambil langkah tersebut. Kenyataannya saya cuma bisa mempertahankan flat face MODE ON selama kurang lebih satu jam seperempat sekaligus menahan kedua kaki untuk tidak beranjak menuruti perintah otak yang tidak mau beresiko mengalami distorsi akut.
Pocong Kesetanan benar-benar menyiksa pikiran dan batin, bukan karena ketakutan dan kelucuan tetapi kebodohan merangkai cerita yang tidak masuk akal. Adegan pertempuran antar geng yang lebih mengandalkan permainan kamera dan tali-menali tersebut hanya sekadar basa-basi. Ketololan para karakternya yang hanya bisa berjayus ria dan mengupil tersebut amat tidak termaafkan. Berdoalah agar bangsa alien tidak menyaksikan film ini, karena jika iya bisa jadi mereka sepakat menjajah bangsa manusia yang dianggap memiliki intelejensi sejenis. Wasallam!

Durasi:
76 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Wednesday, 28 December 2011

SNOW FLOWER AND THE SECRET FAN : Ikatan Persaudarian Dua Masa Berbeda

Quotes:
Nina: [in Chinese] The world is always changing. Every day it's changing. Everything in life is changing. We have to look inside ourselves to find what stays the same, such as loyalty, our shared history and love for each other. In them, the truth of the past lives on.


Storyline:
Lily yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja diikat janji seumur hidup oleh Snow Flower yang berasal dari keluarga kaya. Komunikasi dijalin secara rahasia menggunakan bahasa “nu shu” yang terangkai lewat bilahan kipas kertas. Di belahan dunia lain, Nina dan Sophia kesulitan mempertahankan persahabatan masa kecil mereka akibat tuntutan karir, kehidupan cinta yang rumit di tengah perkembangan Shanghai yang pesat. Akankah mereka tetap bersama atau justru harus berpisah karena perjalanan hidup yang berbeda.

Nice-to-know:
Rupert Murdoch secara pribadi meminta Fox Searchlight merilis film ini di Amerika Utara.

Cast:
Angkat nama lewat Blood : The Last Vampire (2009), Gianna Jun bermain sebagai Snow Flower / Sophia
Terakhir mendukung Detective Dee and the Mystery of the Phantom Flame (2010), Li Bingbing berperan sebagai Nina / Lily
Hugh Jackman sebagai Arthur
Russell Wong sebagai Bank CEO
Archie Kao sebagai Sebastian
Vivian Wu sebagai Aunt

Director:
Pria kelahiran Hongkong berusia 62 tahun bernama Wayne Wang ini paling dikenal lewat karyanya Maid In Manhattan (2002).

Comment:
Sulit membayangkan wanita berkebangsaan Perancis bernama Lisa See begitu fasih mengangkat tema feminisme Asia dalam novel-novelnya termasuk Snow Flower and the Secret Fan. Trio Angela Workman, Ronald Bass dan Michael Ray kemudian dititahkan untuk menulis skrip film yang diproduksi oleh Fox Searchlight Pictures ini dimana mengambil setting China kuno dan modern sekaligus dalam dua plot cerita yang saling bertitian.
Di abad 19, kasta perempuan diberlakukan dimana perjodohan suami istri maupun persaudaraan ditentukan justru ditentukan dari kesediaan menjaga ukuran kaki di bawah 3 inci. Kenyataan yang cukup memilukan melihat bocah perempuan harus membungkus kakinya sedemikian rupa demi masuk ke dalam sepatu berukuran mini. Kesulitan berjalan hingga mengalami pendarahan akibat restrukturisasi tulang yang dipaksakan pun menjadi penderitaan tersendiri. Namun hal ini dipercaya akan mendatangkan nasib baik meskipun bukan suatu jaminan.

Di abad 21, Snow Flower dan Lily menjelma menjadi Sophia dan Nina yang menjalani balutan takdir yang kurang lebih sama. Pandangan mereka terhadap kultur Timur yang mempengaruhi pilihan karir dan pasangan hidup masing-masing pun turut mempengaruhi janji kesetiaan satu sama lain. Kipas kertas ternyata mampu menjadi media komunikasi rahasia yang efektif dibandingkan perbincangan dua arah yang terganggu oleh aktifitas dan kesempatan yang ada.
Nina/Lily digambarkan ambisius dan menikmati hidupnya sedangkan Sophia/Snow dilukiskan kesulitan menentukan jalan hidupnya akibat tekanan keluarga. Li dan Gianna masing-masing melakukan bagian akting dengan baik, hanya saja tidak mudah untuk berbicara dalam dwi bahasa. Bahasa Inggris keduanya tidak masalah tapi Gianna yang asli Korea tampak kurang fasih dalam dialek Mandarin yang kompleks. Problem sama dialami oleh Jackman meskipun keberaniannya bernyanyi patut diacungi jempol.

Sutradara Wang berhasil menyuguhkan sinematografi yang memukau dilengkapi dengan lantunan scoring music yang kental dengan nuansa etnik Cina dari Rachel Portman yang berkali-kali sukses menggugah perasaan saya. Sayangnya keunggulan tersebut tidak dibarengi oleh narasi yang terlampau datar dan linier meskipun mundur maju mengikuti lompatan masa yang menjadi latar belakang cerita sehingga korelasinya menjadi sedikit blur.
Snow Flower and the Secret Fan secara keseluruhan terkesan lebih memihak pada masa kini, padahal esensi cerita justru terasa lebih kompleks di masa lalu. Terus terang, baru kali ini saya mendengar istilah “laotong” yang artinya persaudarian seumur hidup demi masa depan yang lebih cerah tanpa berkonotasi seksual samasekali. Sesederhana dua gadis yang dijodohkan untuk mengikat janji di luar hubungan mereka dengan suami ataupun keluarga masing-masing. Is it possible to do these days in the modern world?

Durasi:
104 menit

U.S. Box Office:
$1,346,503 till Sep 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 27 December 2011

THE KICK : Keluarga Taekwondo Perebutan Keris Thailand

Tagline:
Come on.


Storyline:
Master Moon yang jago taekwondo mebawa istrinya Yoon dan ketiga anaknya pindah dari Korea ke Thailand. Si sulung Tae-Yang lebih menggandrungi dance, putri tunggal Tae-Mi menguasai high-kick sedangkan si bungsu Tae-Poong adalah jagoan headbutt. Mereka membuka perguruan taekwondo di Bangkok. Suatu hari, kelompok Suk-Doo yang mencuri keris Siam yang legendaris berurusan dengan keluarga yang salah dalam pelarian. Namun selepasnya dari penjara, Suk-Doo bertekad membalas dendam!

Nice-to-know:
Diproduksi secara kolaborasi oleh Baa-Ram-Ewe, Bangkok Film Studio dan Kick Company dimana bujet yang digelontorkan adalah 3,5 juta dollar Amerika.

Cast:
K. Kim
Cho Jae-Hyun sebagai Ayah/ Master Moon
Ye Ji-won sebagai Ibu / Yoon
JeeJa Yanin sebagai Wawa
Brahim Achabbakhe
Na Tae-Joo sebagai Tae Yang
Kim Kyong-Suk sebagai Tae Mi

Director:
Prachya Pinkaew baru saja menyelesaikan debut Hollywood nya yaitu Elephant White (2011).

Comment:
Prachya Pinkaew merupakan sutradara kesohor Thailand yang berhasil mengangkat film-film bergenre martial arts ke tingkat yang lebih tinggi, sebut saja Ong Bak (2003) yang kemudian diikuti kedua sekuelnya. Namun ia bukan kacang yang lupa kulit karena seni beladiri Thaiboxing tetap disertakan di samping cabang ilmu lainnya. Persamaan lain adalah tema barang yang dicuri atau diperebutkan oleh beberapa pihak, kali ini adalah Keris.

Yang menarik dalam besutannya kali ini adalah perkawinan antara kultur budaya Thailand dan Korea Selatan, terkadang memang terkesan dipaksakan tetapi setidaknya masih relevan dengan kronologis cerita. Sebuah joint venture yang dapat dikatakan terbagi seimbang. Lihat saja penggunaan Muay Thai dan Taekwondo yang mencolok lengkap dengan kostum nasionalnya masing-masing. Belum lagi gimmick musik Thai pop dan K-pop serta Thai food dan Korean food yang melatarbelakangi berbagai adegannya.
Problem lain yang muncul adalah proses dubbing itu sendiri. Rilis di Thailand, dialog yang melibatkan aktor-aktris Korea terpaksa disulihkan ke bahasa Thailand, begitupun sebaliknya saat rilis di Korea. Untungnya di Indonesia tetap beredar di Blitzmegaplex dengan bahasa asli yang dilengkapi dengan subtitle Indonesia dan Inggris sekaligus. Hal ini mempertahankan keotentikan bahasa masing-masing yang tak jarang terdengar lucu di telinga kita lewat intonasi dan ekspresi pengucapannya.

Beberapa teknik orisinil seperti bertarung di atas gajah atau menggunakan medio kipas angin baling-baling lumayan menyegarkan. Ada juga Kim Kyong Suk yang menampilkan tendangan memutar 360 derajat atau Na Tae Joo yang mengeluarkan jurus-jurus uniknya menggunakan latar belakang musik K-pop! Namun berkelahi menggunakan peralatan dapur dan gurita hidup pada khususnya pernah disaksikan sebelumnya sehingga tidak mengejutkan lagi.
The Kick memang menawarkan adegan aksi yang mengakuisisi plot cerita yang tergolong standar saja. Untungnya masih ada sempilan pesan moral mengenai nilai-nilai keluarga yang diselipkan meski tidak terlalu nyata. Kolaborasi yang menarik ini rasanya tidak menutup kemungkinan akan adanya sekuel di masa mendatang jika sambutannya memuaskan. Aksi komedi yang satu ini tidaklah luar biasa tetapi jelas sebanding dengan waktu luang yang anda sempatkan untuk menyaksikannya.

Durasi:
95 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 26 December 2011

MY BLACKBERRY GIRLFRIEND : Kontak Blackberry Dadakan Siksaan Hidup

Quotes:
Angel: Gua butuh orang yang bisa ngelakuin apapun yang gua mau!


Storyline:
Bekerja sebagai sales mobil, Martin berhasil membeli Blackberry bekas yang sudah lama diidam-idamkannya. Tak lama kemudian, sebuah contact bernama Angel memanggilnya dan segera masuk dalam kehidupannya. Angel yang berperangai kasar kerapkali menyulitkan Martin dengan permintaan-permintaan ajaibnya yang harus segera dituruti. Martin pun bertekad mencari tahu masa lalu Angel yang terhubung dengan seorang pria bernama Fendy. Berhasilkah Martin mengobati rasa sakit hati Angel yang sebetulnya hanya membutuhkan kehadiran seorang pria di sisinya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Rapi Films dimana press screeningnya diadakan di fX Platinum XXI dan Foodism pada tanggal 21 Desember 2011.

Cast:
Luna Maya sebagai Angel
Fathir Muchtar sebagai Martin
Hardi Fadhillah sebagai Hendra
Keith Foo sebagai Fendy

Director:
Merupakan film ke-4 bagi Findo Purwono HW di tahun 2011 setelah terakhir Ayah, Mengapa Aku Berbeda.

Comment:
Apakah anda pernah membaca cerita pendek berjudul My BlackBerry Girlfriend dalam situs Kaskus yang kemudian diterbitkan dalam bentuk novel karangan Agnes Davonar? Jika belum, rasanya sudah cukup menjadi alasan untuk menyaksikan film ini, selain fakta bahwa ponsel Blackberry keluaran RIM – Kanada tersebut sangatlah populer di kalangan masyarakat Indonesia khususnya kawula muda yang mengaku anak gaul dan rajin bersilaturahmi lewat BBM.
Skenario yang ditulis oleh Djaumil Aurora dan Agnes Davonar ini memulai sebuah komedi romantis dengan kekacauan yang tidak disengaja antar tokoh pria dan wanitanya hingga kemudian berkembang menjadi romansa yang manis karena tingginya frekuensi pertemuan yang sebetulnya tidak diharapkan itu. Sayangnya proses NO to YES tersebut masih terlalu instan sehingga maknanya kurang terasa, apalagi sampai mengiba penonton untuk mau bersimpati pada dua karakter utamanya.

Banyak sekali referensi film yang ditiru disini, sebut saja adegan bertukar sepatu selayaknya duet Jeon Ji Hyun dan Cha Tae Hyun dalam My Sassy Girl (2001) atau pertemuan di kereta serupa duet Sirin Horwang dan Ken Theeradej dalam Bangkok Traffic Love Story (2009). Apakah sedemikian miskin idenya hingga kemiripan sedemikian rupa pun tidak berusaha dialihkan ke sesuatu yang lebih kreatif? Apalagi jika berbicara cinta rasanya banyak sekali aspek yang dapat digali darinya.
Usaha Luna Maya dan Fathir Muchtar memang terlihat untuk berakting sewajar mungkin tanpa harus terkesan norak. Namun dangkalnya karakter mereka tanpa didukung oleh latar belakang yang jelas tidak mampu menghindari kesan tersebut. Beruntung Luna dan Fathir dikaruniai wajah yang rupawan sehingga penonton setidaknya masih akan betah menyaksikan penampilan keduanya yang berbau slapstick dan karikatural itu. Kontribusi Hardi dan Keith tidak dirasa penting dan berpengaruh pada bangunan cerita yang tersaji.

Sutradara Findo yang belakangan semakin terjebak dalam berbagai genre film yang berbeda-beda terlihat kesulitan menyatukan kepingan-kepingan plot cerita disini. Alhasil anda akan merasakan perpindahan “rasa” yang kurang mulus antara lucu, konyol, biasa hingga romantis. Bisa jadi kesalahannya disebabkan oleh skenario yang tidak menawarkan dialog-dialog berbobot tapi proses editing yang kurang rapi jelas tidak boleh lepas dari tanggungjawabnya. Perpindahan lokasi ke Singapura di penghujung cerita juga tergolong sia-sia jika hanya mengejar estetika saja.
Terlepas dari “cupu”nya dalam bertutur serta kurang kreatifitas dalam eksplorasi ide, My Blackberry Girlfriend sebetulnya memiliki dasar cerita yang lumayan menyentuh andai digarap dengan lebih serius. Rendahkanlah ekspektasi anda dan lupakanlah sejenak My Sassy Girl yang fenomenal itu, niscaya Luna bisa terlihat manis dan Fathir dapat terlihat lucu di hadapan anda. Tentunya Blackberry yang menjadi media mereka, ponsel dengan dua sisi mata pisau sehingga mampu memudahkan sekaligus menyulitkan komunikasi antara kedua belah pihak.

Durasi:
83 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Sunday, 25 December 2011

SHERLOCK HOLMES : A GAME OF SHADOWS Permainan Bayangan Profesor Intelek Ambisius

Quotes:
Professor Moriaty: Are you sure you want to play this game?
Sherlock Holmes: I'm afraid you'd lose.


Storyline:
Dr. Watson berusaha melanjutkan hidupnya dengan menikahi Mary yang ditutup dengan bulan madu di Brighton. Namun Sherlock Holmes tiba-tiba muncul dan mencium gerakan terorisme Prof. Moriarty yang bertekad menciptakan perang besar dengan persenjataan yang dimilikinya. Hadir pula wanita gipsy yang mampu membaca peruntungan Madam Simza yang adiknya Ravache dicurigai terlibat dalam konspirasi. Berbagai usaha hidup mati pun harus dijalani Holmes dan Watson sebelum berklimaks pada istana Reichenbach Falls at the Peace dimana Prof. Moriarty menantang Holmes bermain catur sekaligus mengungkap misteri masing-masing.

Nice-to-know:
Sekuel ini berdasarkan cerita pendek "The Final Problem" karya Sir Arthur Conan Doyle tetapi banyak mengambil aspek dari cerita-cerita Sherlock Holmes lainnya seperti: "The Sign of Four"; "The Greek Interpretor"; "Valley of Fear"; "The Speckled Band"; "The Dying Detective"; "Bruce Partington Plans"; dan "The Second Stain".

Cast:
Sekuel keduanya berturut-turut setelah Iron Man 2 (2010), Robert Downey Jr. meneruskan peran Sherlock Holmes
2011 menjadi tahun tersibuk bagi Jude Law yang baru saja menyelesaikan Hugo sebelum kembali dengan tokoh Dr. John Watson
Noomi Rapace sebagai Madam Simza Heron
Rachel McAdams sebagai Irene Adler
Jared Harris sebagai Professor James Moriarty
Kelly Reilly sebagai Mary Watson

Director:
Merupakan film ketujuh Guy Ritchie yang juga pernah menangani Snatch di tahun 2000.

Comment:
Satu hal mencolok yang menjadi keunggulan Sherlock Holmes (2009) adalah duet Holmes dan Watson yang seringkali ditempatkan pada persimpangan yang memaksa mereka untuk mengambil pilihan yang sulit dan penuh resiko. Tentunya tidak ada yang lebih tepat selain tiga orang di balik kesuksesan adaptasi kisah klasik tersebut yaitu Robert Downey, Jr., Jude Law dan Guy Ritchie yang untungnya tetap setuju untuk memperkuat sekuelnya yang berselang waktu 2 tahun ini.
Kieran dan Michele Mulroney ditunjuk menjadi penulis skripnya dengan mempertahankan karakterisasi yang digagas oleh Sir Arthur Conan Doyle. Hubungan Holmes dan Watson “dibawa” ke tahap selanjutnya saat Watson menikahi Mary di Brighton. Disinilah terasa chemistry yang berbeda dibandingkan prekuelnya dimana unsur “bromance” tereksplorasi dengan lebih eksplisit. Kehadiran antagonis Prof. James Moriarty sebetulnya cukup menarik tapi tidak benar-benar terangkat ke permukaan untuk menjadi ancaman serius.

Downey Jr. masih mempertahankan sisi eksentriknya yang nyaris serupa dengan Jack Sparrow dalam franchise Pirates of the Caribbean tapi dalam nuansa yang lebih gelap layaknya Bruce Wayne dalam The Dark Knight. Kelugasan Holmes menyamar dalam berbagai “bentuk” menjadi highlight tersendiri yang mampu memancing tawa penonton. Law sendiri meskipun berstatus sidekick tetapi mampu menjiwai peran Watson dengan sempurna. Apresiasi patut dilayangkan untuk Rapace yang sukses mempotretkan karakter wanita gipsy Madam Simza dengan dandanan ekspresif nan meyakinkan.
Saya sempat berharap maraknya interaksi antara Holmes dan Moriarty sebagai dua kubu yang berseberangan di sepanjang film. Nyatanya hal tersebut baru terjadi di penghujung cerita dimana keduanya adu strategi bermain catur sekaligus berusaha menyingkirkan satu sama lain dengan kecerdasan otak masing-masing yang di atas rata-rata itu. Menarik! Sayangnya ancaman perang antara Perancis dan Jerman yang digadang-gadang oleh tokoh pemilik gudang senjata yang diperani oleh Jared Harris itu terkesan semu dan tidak benar-benar dieksploitasi secara logika.

Sutradara Ritchie berusaha menyajikan beraneka adegan aksi yang menjadi nyawa film ini dalam tempo yang cepat. Ini dilakukan untuk menyiasati plot cerita yang memang tergolong berlarut-larut. Desingan peluru dan ledakan bom disana-sini memang lebih menjual dibandingkan prekuelnya. Memorable scenes bagi saya dan tampaknya sebagian besar dari anda pula adalah kejar-kejaran malam hari di tengah hutan yang diselesaikan dengan efek slow-motion yang amat keren. Selebihnya adalah permainan ilustrasi musik dan atmosfir yang diciptakan khusus untuk membangun suasana enerjik film.
Sherlock Holmes: A Game of Shadows memang tidak seberat yang diperkirakan walaupun ide yang lumayan sederhana itu harus diseret sedemikian rupa demi menciptakan suatu hiburan panjang. Interaksi menggigit penuh humor antara Downey, Jr. dan Law dalam adu taktik dengan musuh-musuh mereka serta penyutradaraan stylish ala British dari Ritchie lagi-lagi membawa sekuel ini berdaya jual tinggi. Kagumilah visualisasi noir dunia Eropa yang cantik sambil menyelami pikiran seorang Sherlock Holmes yang bisa menipu anda mentah-mentah bahkan sebelum anda sempat melangkah maju.

Durasi:
129 menit

U.S. Box Office:
$39,637,079 in opening week of mid Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 24 December 2011

ALVIN AND THE CHIPMUNKS : CHIPWRECKED Terdampar Pulau Bertahan Hidup

Quotes:
Alvin: Simon!
Brittany: Uh... Alvin? You're starting to sound like Dave.
Alvin: [gasps] Noooooooooooo!


Storyline:
Dave mengajak Alvin, Simon, Theodore berlibur dengan kapal pesiar. Ikut bersama mereka adalah The Chipettes yaitu Brittany, Eleanor dan Jeannette. Sayangnya, Alvin yang mudah merasa bosan berkali-kali melanggar peraturan yang ditetapkan Dave. Satu kejadian fatal membuat The Chipmunks dan Chipettes harus terdampar di sebuah pulau tropis terpencil yang kemudian mempertemukan mereka dengan jurnalis yang lama hilang yaitu Zoe. Sementara itu Dave yang bertekad menemukan Alvin cs malah bertemu musuh lamanya Ian. Berhasilkah mereka dipertemukan kembali?

Nice-to-know:
Sinematografer Thomas E. Ackerman yang juga mengajar di Universitas North Carolina School of the Arts membawa serta siswa-siswinya dalam proses produksi internal film ini.

Cast:
Jason Lee sebagai Dave
David Cross sebagai Ian
Jenny Slate sebagai Zoe

Voice:
Justin Long sebagai Alvin
Matthew Gray Gubler sebagai Simon
Jesse McCartney sebagai Theodore
Amy Poehler sebagai Eleanor
Anna Faris sebagai Jeanette
Christina Applegate sebagai Brittany
Alan Tudyk sebagai Simone

Director:
Mike Mitchell baru saja menyelesaikan installment pamungkas Shrek Forever After (2010).

Comment:
Alvin & The Chipmunks merupakan satu dari sekian banyak film “masa kecil” saya yang cukup memorable. Oleh karena itu saya termasuk satu dari sekian penggemar yang menaruh harapan tinggi saat live actionnya muncul pertama kali di tahun 2007 yang disusul oleh sekuelnya 2 tahun kemudian. Nilai 8 dan 7.5 saya berikan untuk kedua pendahulu itu. Bagaimana dengan episode ketiganya ini yang tetap konsisten mengambil jarak 2 tahun kembali?
Jonathan Aibel dan Glenn Berger melanjutkan tugas mereka dalam Squeakquel (2009) dibantu dengan karakterisasi hasil rekaan Ross Bagdasarian dan Janice Karman. Installment ketiga ini mengetengahkan plot liburan dengan kapal pesiar bagi Dave, The Chipmunks dan The Chipettes yang muncul kembali. Malangnya kemewahan tersebut tidak berlangsung lama karena mereka terdampar di pulau terpencil dengan perlengkapan seadanya. Bagaimana untuk bertahan hidup sekaligus mencari jalan keluar merupakan agenda utama Alvin dkk. Lantas kenapa subjudulnya Chipwrecked? *mikirsetengahjam

Harus diakui sebagai franchise, tidak ada yang baru dalam produksi Fox 2000 Pictures ini, anda pernah melihat kesemua polah tingkah para chipmunks itu dalam dua prekuelnya, beruntung karakter Simon yang digandakan menjadi Simone lumayan inovatif. Sedangkan sebagai standout live action movie (dengan mengesampingkan pendahulunya), film berbujet 75 juta dollar Amerika ini juga banyak sekali mengambil referensi film-film bertemakan sejenis sehingga ide yang disodorkan tidak lagi fresh dan miskin kreatifitas.
Persaingan Jason Lee dan David Cross tidak lagi menggigit selayaknya kucing dan anjing dalam episode yang baru saja. Mempertemukan keduanya kembali “tanpa disengaja” di atas kapal pesiar rasanya tidak dapat lagi disebut kebetulan. Lain halnya dengan Jenny Slate yang memang “sengaja” dikondisikan terdampar di pulau terpencil. Tokoh Zoe yang eksentrik dan agak gila itu juga tidak mampu membangun chemistry yang menarik dengan tupai-tupai berbaju tersebut.

Sutradara Mitchell jelas bukan nama sembarangan di dunia animasi. Shrek merupakan salah satu contoh kesuksesannya. Namun seberapa kerasnya ia telah berusaha menyumbangkan yang terbaik pada akhirnya terbilang sia-sia karena lemahnya plot cerita serta klisenya dialog yang tercipta di sepanjang durasinya. Hutan dan pulau asing yang harusnya terlihat menakutkan pun malah terkesan sebagai taman bermain. Satu-satunya best moment dalam film ini adalah perebutan mangga oleh 6 tupai kelaparan yang akan memancing tawa lepas anda.
Secara keseluruhan Alvin and the Chipmunks : Chipwrecked tidak lagi menjual kepolosan dan kelucuan melainkan kehampaan dan eksistensi yang dipaksakan. Bahkan penampilan the chipmunks plus the chipettes menyanyikan lagu-lagu hit versi mereka yang biasanya ditunggu pun hanya terkesan gimmick belaka. Hiburan yang nyaris tak menyisakan nilai jual lagi seharusnya direct-to-dvd saja, jelas akan lebih fair bagi para penggemar tupai berbicara yang “membajak” Lady Gaga, Katy Perry dan LMFAO kali ini. Nice try!

Durasi:
87 menit

U.S. Box Office:
$34,598,322 till Dec 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Evergreen charmer (Paying Guest)




Dev Anand was not just about romance and good looks. He was much much more. He was about freewheeling fun, about harmless naughtiness, about rollicking laughter, about teasing flirtations and about a gorgeous, gorgeous smile. Paying Guest is a film where you see all these facets of this evergreen charmer. Even though you have the lovely Nutan to feast your eyes on, it's Dev Anand who grips you

Friday, 23 December 2011

DON 2 : Perampokan Raja Kriminal Berlanjut Eropa

Quotes:
Don ko pakadna mushqil hee nahih, namumkin hai.


Storyline:
Setelah menaklukkan Asia, raja criminal Don mulai melirik Eropa untuk merencanakan pencurian plat uang bersama mantan musuhnya Vardhaan dan hacker muda Sameer. Diam-diam love interest Don yaitu Roma yang bekerja untuk Interpol mengendus rencana busuknya. Petualangan Don dari Kuala Lumpur hingga Berlin pun semakin menarik dimana dirinya harus selalu bergerak dengan lincah menghindari pihak-pihak yang mengejarnya, hidup ataupun mati.

Nice-to-know:
Proses syuting berlangsung dari tanggal 9 Oktober sampai dengan 28 November 2011 sebelum dirilis di India dan Indonesia bersamaan pada tanggal 23 Desember 2011.

Cast:
Shah Rukh Khan sebagai Don
Priyanka Chopra sebagai Roma
Om Puri sebagai CBI Officer Vishal Malik
Boman Irani sebagai Vardhaan
Wolfgang Stegemann sebagai Karl
Kunal Kapoor sebagai Sameer

Director:
Merupakan film kelima bagi Farhan Akhtar yang memulai debut penyutradaraannya lewat Dil Chahta Hai (2001).

Comment:
Sebuah sekuel tidak pernah mudah untuk mengikuti sukses pendahulunya. Terus terang untuk kasus kali ini saya tidak berani menyatakan apa-apa karena belum (dan mungkin tidak akan) menonton Don (2006) yang kebetulan dibintangi dan sutradarai pula oleh orang yang sama yaitu Shah Rukh Khan dan Farhan Akhtar. Apakah 5 tahun dianggap cukup untuk membangun konsep lanjutan yang matang? Atau justru promosi besar-besaran yang dipandang mampu menjaring animo penonton?
Farhan yang mengerjakan skripnya dibantu oleh saudaranya Javed Akhtar dan Salim Khan yang membangun karakterisasinya. Paruh pertama film dapat dikatakan sangat lambat karena sibuk mengekspos tokoh Don secara absurd sebagai manusia super yang tidak dapat ditangkap dan selalu menang dalam pertarungan melawan siapapun juga. Paruh kedua setidaknya lebih mampu bercerita ketika Don menyerahkan dirinya kepada polisi.

Sama seperti sebelumnya, Shah Rukh Khan jelas seorang salesman yang baik dalam mempresentasikan film-filmnya. Nyaris keseluruhan adegan pasti menampilkan sosoknya secara detil mulai dari sorot mata, lirikan tajam, gerak bibir, senyum menggoda dsb yang sudah cukup membungkam orang yang mempertanyakan pesonanya. Karakter Don tidak banyak berbeda dari yang sudah-sudah, perubahan gaya rambut dengan kumis/cambang di awal yang sedikit ekstrim di awal pun pada akhirnya kembali klimis di pertengahan film. Oh well!
Di luar SRK, aktor aktrisnya berhasil menjual pesona masing-masing. Lara dan Priyanka cantik seperti biasanya. Kunal, Hrithik dan Om Puri juga terlihat meyakinkan dalam peran yang unik. Boman yang mendapat porsi besar justru kurang mampu mengeksplorasi karakter Vardhaan. Justru beberapa aktor Jerman dan Eropa yang terlibat disini lumayan memenuhi standar walaupun amat terbantu dengan fisik yang prima untuk film bergenre action semacam ini.

Farhan memanfaatkan berbagai lokasi yang mencengangkan yaitu French Riviera, hutan Thailand, Kuala Lumpur, Zurich hingga ke Berlin. Sinematografi suguhan Jason West cukup mengesankan baik untuk syut indoor maupun outdoor. Malangnya di luar itu Farhan yang diakui sineas cerdas ini masih menjadi faktor utama kurang gregetnya sekuel karena ketidakmampuannya menyajikan penceritaan yang menarik bagi penonton. Keklisean semakin menjadi-jadi dengan hadirnya kasus perampokan serta penyanderaan yang juga kurang intens dan tidak beralasan tersebut.
Sebagai action thriller, Don 2 memang terlihat sangat menjual apalagi dengan penggunaan formula yang membuat film ini layak disebut Mission Impossible versi Hindi. Namun sayangnya tidak berhasil memancing chemistry yang kuat dengan penonton untuk bisa antusias menantikan menit demi menit sambil menunggu kejutan berarti. Itu tidak terjadi! Durasinya yang panjang membuat saya bernafas dengan berat menyaksikan frame demi frame kosong sambil berkali-kali melirik jam tangan.

Durasi:
142 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Wednesday, 21 December 2011

SWINGING WITH THE FINKELS : Komitmen Perselingkuhan Selamatkan Rumah Tangga

Tagline:
What do you do to spice up your marriage?


Storyline:
7 tahun pernikahan, Alvin yang berprofesi sebagai arsitek mulai merasakan kejenuhan apalagi hubungan seks yang mendingin dengan istrinya Ellie yang berniaga sebagai designer pakaian. Segala upaya mereka lakukan termasuk yang paling ekstrim yaitu mencari pasangan suami istri lain via internet untuk diajak berselingkuh! Terpilihlah Richard dan Clementine yang dianggap cocok dengan profile mereka. Namun apakah setelahnya, api rumah tangga The Finkels bisa hidup kembali. Sahabat keduanya yaitu suami istri Peter dan Janet ternyata bermasalah juga sehingga meruntuhkan kepercayaan Alvin dan Ellie yang kemudian memutuskan berpisah. Apakah itu keputusan terakhir mereka?

Nice-to-know:
Merupakan versi panjang dari film pendek berjudul Sex with the FInkels karya Jonathan Newman.

Cast:
Baru saja menyelesaikan Love, Wedding, Marriage bersama Kellan Lutz, Mandy Moore berperan sebagai Ellie Finkel
Aktor yang dikenal lewat serial televisi The Office (2001-2003) bernama Martin Freeman ini bermain sebagai Alvin Finkel
Melissa George sebagai Janet
Jonathan Silverman sebagai Peter

Director:
Jonathan Newman terakhir mengerjakan film documenter berjudul Mustang Drift (2009).

Comment:
Pasangan suami istri yang telah menikah bertahun-tahun kerap terbentur dengan kejenuhan satu sama lain yang mengakibatkan hubungan mendingin. Berbagai solusi pun ditawarkan untuk mengatasinya terlepas dari sisi moralitas yang ingin dipertahankan. Begitulah kira-kira premis yang disuguhkan dalam komedi romantis yang juga berjudul Langweilig war gestern dalam bahasa Jerman ini. Sebuah realita yang bisa dialami oleh siapapun juga.

Jika ada yang patut dipersalahkan mungkin Jonathan Newman lah orangnya. Selain menulis, ia juga menyutradarai. Sebuah film pendek yang dieksplorasi menjadi film panjang bisa jadi sulit mempertahankan idealismenya sendiri. Itulah sebabnya film ini hanya mampu bermain “swinging” secara komedik di paruh pertamanya saja. Selebihnya adalah drama romantik biasa dengan bumbu-bumbu klise yang banyak ditemui dalam tipikal film sejenis.
Fakta yang mencengangkan adalah banyaknya humor yang menjurus ras, gender sekaligus isu-isu seksualitas yang cukup tajam. Dapat dipahami menilik penggunaan judulnya yang sudah berkesan vulgar itu. Visualisasi “adegan dewasanya” bisa jadi kurang vulgar seperti yang diharapkan tetapi sudah cukup membangkitkan asumsi penonton bahwa ada sesuatu di belakangnya. Biarkan imajinasi berkembang sendiri toh Newman memberikan ruang untuk itu dengan alur lambat yang dipilihnya.

Martin Freeman merupakan salah satu faktor yang membuat film ini sedikit bergigi. Perannya sebagai Alvin memang mewakili pria beristri pada umumnya yang meskipun jenuh tapi tetap berusaha setia. Mandy Moore menokohkan Ellie dengan manis dan simpatik walaupun sedikit egois karena ingin selalu dimengerti dari sudut pandang pribadinya. Kontribusi Melissa George dan Jonathan Silverman juga cukup membantu sebagai sahabat The Finkels yaitu Janet dan Peter yang ternyata juga memiliki “masalah” serius dalam rumah tangganya.
Swinging With The Finkels tidaklah seburuk yang saya duga. Banyak elemen lawas yang digunakan kembali disini sehingga nuansa retro terpampang jelas. Mungkin tidak seromantis atau tidak selucu yang anda bayangkan, tetapi cukup setia dengan pakem komedi romantik yang turut menyinggung seksualitas ataupun perkataan vulgar di dalamnya. Cinta memang bisa mendingin tapi eksistensinya tak bisa dihilangkan begitu saja. Asalkan ada usaha keras dari kedua belah pihak, api tersebut niscaya dapat dihidupkan kembali.

Durasi:
85 menit

U.K. Box Office:
£45,773 till July 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Tuesday, 20 December 2011

HAFALAN SHALAT DELISA : Cinta Keluarga Keikhlasan Hadapi Cobaan

Quotes:
Ummi Salamah: Aisyah gak boleh gampang cemburu sama barang-barang yang bukan milik kita, apalagi milik saudara sendiri..


Storyline:
Bocah perempuan 6 tahun bernama Delisa tinggal bersama Ummi Salamah beserta ketiga kakaknya, Cut Fatimah (15 tahun) dan juga si kembar Cut Aisyah-Cut Zahra (12 tahun). Ayah mereka Abi Usman bekerja di kapal tanker dan pulang setiap tiga bulan sekali. Delisa kecil berusaha keras menghafal bacaan shalat demi menghadapi ujian hafalan apalagi setelah iming-iming hadiah kalung emas dari Ummi. Malang tak dapat ditolak, tsunami melanda secara tiba-tiba dan merenggut semua orang dalam kehidupan Delisa yang bahkan harus kehilangan satu kakinya. Berhasilkah Delisa bangkit dan berubah menjadi anak yang tulus ikhlas menerima segala cobaan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Starvision dimana press screening dan gala premierenya dilangsungkan di Planet Hollywood XXI tanggal 20 Desember 2011.

Cast:
Chantiq Schagerl sebagai Delisa
Reza Rahadian sebagai Abi Usman
Nirina Zubir sebagai Ummi Salamah
Fathir Muchtar sebagai Ustad Rahman
Gina Salsabila sebagai Fatimah
Loide Christina Teixeira sebagai Suster Sophie
Mike Lewis sebagai Prajurit Adam Smith

Director:
Sony Gaokasak terakhir menggarap Tentang Cinta (2007) yang dibintangi Vino Bastian, Sheila Marcia, Fedi Nuril dan Hayria Faturrahman.

Comment:
Bencana tsunami yang menimpa Aceh di tahun 2004 memang tidak dapat dilupakan begitu saja karena telah merenggut ratusan ribu nyawa pada saat itu. Tere Liye kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan yang berikhtisar mengenai kasih sayang keluarga. Novel Hafalan Shalat Delisa yang sudah dicetak ulang hingga 15x bahkan diterjemahkan dan diterbitkan di negara lain itu kini difilmkan dengan judul yang sama oleh produser Chand Parwez Servia.
Armantono yang menulis skrip film ini berdasarkan novel Tere Liye tersebut membaginya dalam tiga fase utama yaitu keindahan, kehancuran, kekuatan yang mengacu pada satu timeline peristiwa yaitu tsunami itu sendiri. Tidak mudah untuk memberikan penekanan yang frontal karena efeknya bisa jadi terlalu sensitif bagi pihak yang terkait dengan bencana tersebut. Oleh sebab itu diambillah sudut pandang cinta terhadap sesama, alam semesta sampai sang pencipta.

Bintang utamanya jelas si kecil Chantiq Schaegerl. Di tangannya Delisa menjadi cukup berkarakter dan mengalami beberapa proses pembelajaran yang berharga. Mulai dari bersikap pamrih hingga ikhlas menerima keadaan apalagi tidak mudah berakting sebagai anak cacat secara fisik. Penampilan gemilang kembali diperlihatkan Reza Rahadian sebagai ayah yang nyaris kehilangan segala-galanya. Chemistry Abi Usman dan Delisa terbukti cukup mengharu-biru penonton.
Penjiwaan Nirina Zubir dan Fahtir Muchtar sebagai Ummi Salamah dan Ustad Rahman juga tidak kalah cemerlang meskipun porsinya tidak terlalu dominan, senang melihat keduanya bermain dalam nuansa agamais yang kental. Yang menarik adalah kemunculan Mike Lewis dan Loide Christina Teixeira sebagai Tentara Smith dan Suster Sophie yang memberikan warna tersendiri terlepas dari minimnya scene yang melibatkan keduanya dalam dialog berbahasa Inggris.

Kinerja sutradara Sony terus terang tidak mudah karena harus mengarahkan beberapa pemain cilik untuk berakting sebagaimana mestinya. Lokasi syuting yang berlangsung di Ujung Genteng, Sukabumi Selatan tentunya tetap diinpirasi dari eksterior background khas Aceh. Efek CGI yang menghadirkan tsunami serta chaos paska kejadian juga terlihat cukup meyakinkan walaupun belum sempurna, ditambah penampakan “surga” yang demikian syahdu dan tenteram layaknya motion screensaver.
Terlepas dari konflik yang terasa diperpanjang disana-sini dengan amplitudo emosi Delisa yang naik turun kurang konsisten itu, sumbangsih scoring music dari Tya Subiyakto terasa menggelorakan perasaan hingga ambang terdalam. Hafalan Shalat Delisa mengajarkan anda bahwa cinta kasih keluarga dan orangtua pada khususnya merupakan aspek terpenting dalam tahap awal kehidupan seorang anak. Seringkali keikhlasan menerima segala cobaan Allah SWT akan membuat beban anda terasa lebih ringan dalam menjalani hidup sebagaimana beratnya.

Durasi:
105 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Saturday, 17 December 2011

MISSION IMPOSSIBLE : GHOST PROTOCOL Kemustahilan Menggagalkan Perang Dunia Ketiga

Quotes:
Brandt: 26 minutes till door knock... 25 minutes till door knock... 24 minutes till door knock...
Ethan Hunt: The countdown is not helping.


Storyline:
Melarikan diri dari penjara Moskow yang berlanjut pada kasus pemboman Kremlin membuat Ethan Hunt harus membersihkan nama IMF yang dituduh sebagai biang keladinya. Dengan tim baru yang beranggotakan agen wanita tangguh Jane, ahli komputer Benji serta analis baru Brandt, Hunt kemudian melanjutkan perjalanannya ke Dubai hingga Mumbai demi menghentikan psikopat jenius Hendricks yang bertekad memicu Perang Dunia ke-3 antara Amerika Serikat dan Rusia dengan mengendalikan nuklir yang sudah terpasang sempurna.

Nice-to-know:
Film pertama yang menggunakan logo 100 tahun perayaan Paramount yang secara kebetulan berbeda-beda di setiap seri Mission Impossible.

Cast:
Tahun 1996 dapat dikatakan tahun terbaik Tom Cruise. Selain berperan sebagai Ethan Hunt dalam remake Mission Impossible, ia juga kembali menerima nominasi Oscar dalam lakon drama terbaiknya, Jerry Maguire.
Menerima nominasi Oscar pertamanya dalam The Hurt Locker (2008), Jeremy Renner bermain sebagai Brandt
Simon Pegg sebagai Benji
Sosoknya mulai dikenal setelah membintangi Déjà vu (2006), Paula Patton didapuk sebagai Jane
Michael Nyqvist sebagai Hendricks
Léa Seydoux sebagai Sabine Moreau

Director:
Merupakan film keempat Brad Bird yang terakhir menggarap animasi sukses Ratatouille (2007).

Comment:
Siapa yang tak kenal franchise Mission Impossible yang pertama muncul tahun 1960an lalu kemudian dilanjutkan dengan serial televisinya periode 80-90an yang legendaris itu? Superstar Hollywood, Tom Cruise lantas meremakenya pada tahun 1996 dengan nuansa yang jauh lebih modern. Kesuksesan yang bertubi-tubi kemudian melahirkan seri kedua di tahun 2000, ketiga di tahun 2006 hingga yang keempat di tahun 2011 ini yang rilisnya molor dari jadwal semula yaitu musim panas yang lalu.
Skrip yang ditulis oleh duo Josh Appelbaum dan André Nemec ini rupanya masih setia dengan pakem serial televisi yang digagas oleh Bruce Geller. Elemen dasarnya tetap dipertahankan yakni sekelompok orang yang menjalani situasi yang terlihat “tak mungkin” tetapi mampu mencari jalan keluar dalam kondisi hidup, bahkan tetap terlihat keren! Selebihnya adalah komponen biasa dalam sebuah film aksi yang menawarkan serentetan adegan seru dengan berbagai “twist” dan “turns” yang terus membuat anda betah berlama-lama di kursi walaupun durasinya cukup panjang.

Ethan Hunt nampaknya menjadi peran tersukses bagi Tom Cruise dalam sepanjang karir aktingnya, setidaknya perolehan dollarnya dari peredaran di seluruh dunia berbicara banyak. Ethan seperti yang sudah-sudah hampir tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya dalam film. Penonton hanya diajak untuk mengenal keberanian (atau kenekadan) Agent Hunt dalam mempertunjukkan “kemampuan” tingkat tinggi yang acapkali menyerempet bahaya.
Konsep one man show memang masih terasa disini walau tidak terlalu dominan. Terima kasih pada chemistry ringan yang dibaginya dengan aktor-aktris lainnya. Patton bagaikan perpaduan Angelina Jolie dan Zoe Saldana tampil memikat sebagai Jane. Kontribusi Pegg memberikan sisi humoris dalam film juga patut diacungi jempol sebagai Benji. Lain halnya dengan Renner yang seakan didapuk menjadi penerus franchise ini di masa mendatang, tentunya kapabilitasnya dalam film-film aksi sebelumnya amat membantu dalam menjiwai tokoh Brandt yang misterius latar belakangnya tersebut.

Sutradara Bird yang semula diragukan karena kapasitasnya sebagai pengganti J.J. Abrams mampu menjawab tantangan itu. Lihat bagaimana imajinasi visualnya dapat ditransfer ke dalam pelbagai adegan aksi yang diyakini membuat anda menahan nafas. Salah duanya adalah kejar-kejaran di tengah badai pasir serta stimulasi vertigo terhadap Burj Khalifa Tower yang berlokasi di Dubai. Sinematografi milik Robert Elswit juga bekerja efektif memaksimalkan lokasi yang beragam mulai dari Budapest, Moskow, Dubai hingga Mumbai.
Kecanggihan teknologi via serentetan gadget mutakhir, pertarungan habis-habisan yang dilakoni protagonis, aksi situasional berbahaya menjadikan Mission Impossible : Ghost Protocol benar-benar sukses menjaga energi berskala besar yang terkandung di dalamnya. Sayangnya di balik semua faktor “wah” tersebut, plotnya yang kelewat tipis menjadi kelemahan yang tersembunyi karena sedikit mengabaikan unsur romantisme, pengkhianatan rumit antar agen atau latar belakang antagonis dalam memicu perang nuklir antara Amerika dan Rusia. Tak menjadi masalah bagi penonton yang murni mengidamkan berhasilnya pencapaian misi-misi tak mungkin yang tidak akan pernah mereka lakukan dalam kehidupan nyatanya masing-masing.

Durasi:
133 menit

U.S. Box Office:
$13,385,204 in opening week of Dec 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 16 December 2011

SPY KIDS : ALL THE TIME IN THE WORLD Sensasi Aromascope Franchise Miskin Ide

Tagline:
Saving the world is their idea of family time.


Storyline:
Agen rahasia yang tengah mengandung, Marissa akhirnya berhasil membekuk Timekeeper tepat sebelum air ketubannya pecah. Ia kemudian melahirkan bayi perempuan yang cantik dan menjadi istri bintang televisi Spy Hunter, Wilbur Wilson. Sayangnya dua anak Wilbur yaitu Rebecca dan Cecil sulit menerima Marissa begitu saja sebagai ibu tiri mereka. Sewaktu Timekeeper melarikan diri dari penjara, Marissa pun memiliki kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan putra-putri tiri kecilnya sekaligus membuka peluang Rebecca dan Cecil untuk menjadi spy kids yang baru dengan dibantu anjing canggih Argonaut.

Nice-to-know:
Ide cerita ini muncul ketika Robert Rodriguez tengah menggarap Machete (2010) dimana saat itu Jessica Alba menjalani syuting sembari mengurus putrinya yang baru berusia setahun.

Cast:
Jessica Alba sebagai Marissa Wilson
Terakhir mendukung Matt Damon dalam The Informant! (2009), Joel McHale bermain sebagai Wilbur Wilson
Rowan Blanchard sebagai Rebecca Wilson
Mason Cook sebagai Cecil Wilson
Aktor yang angkat nama lewat serial televisi The Larry Sanders Show (1992-1998) bernama Jeremy Piven ini kebagian peran Danger D'Amo / Tick Tock / Time Keeper
Alexa Vega sebagai Carmen Cortez
Daryl Sabara sebagai Juni Cortez
Danny Trejo sebagai Uncle Machete

Director:
Robert Rodriguez terakhir menggarap Machete (2010) yang cukup brutal itu.

Comment:
Sulit membayangkan film keluarga ringan semacam Spy Kids (2001) telah menjadi franchise yang mampu bertahan selama satu dekade. Berselang rentang waktu yang panjang yakni 8 tahun setelah installment ketiganya, muncullah All The Time In The World. Sebuah terobosan baru pun dilakukan disini yaitu Aromascope, sebidang kertas persegi dengan berbagai nomor yang jika digosok akan menghasilkan bau yang berbeda-beda. Unik bukan?
Sayangnya ide inovatif tersebut tidak dibarengi oleh skrip yang kreatif dari Robert Rodriguez yang juga bertindak sebagai sutradara. Ide “pregnant spy” yang kemudian berganti menjadi “step mother spy” sayangnya masih terlalu dangkal untuk dieksploitasi. Khusus antagonis dihadirkanlah penjahat waktu yang bisa mengacaukan sistem di seluruh dunia. Selebihnya banyak sekali pengulangan adegan dari tiga seri sebelumnya terutama yang melibatkan sepasang bocah laki-laki dan perempuan.

Sulit untuk menyebut salah satu nama yang berakting di atas rata-rata disini. Semuanya di bawah standar. Mason dan Rowan terlihat palsu sebagai kakak-adik yang digambarkan kontradiktif sifatnya padahal seharusnya intelejensi dan keluguan yang ditonjolkan. Alba? Jelas tidak pernah menjadi akttris favorit anda dan melihatnya harus beraksi sebagai ibu/mata-mata dengan perut buncit membuat saya kasihan. McHale juga tidak terlalu meyakinkan sebagai ayah dan terlihat kebingungan di depan kamera.
Timekeeper seharusnya bisa menjadi villain yang menarik apalagi Piven adalah aktor yang sudah cukup berpengalaman. Malang, karakternya terlalu komedik nan konyol, terlebih dengan kostum yang digunakannya plus penutup muka bergambar jam? Jika ingin menegaskan bahwa ini adalah film anak-anak semestinya tidak juga dengan cara demikian. Padahal konsep mencuri waktu sebetulnya cukup menarik andaikata disajikan dalam detail yang lebih runut dan cerdas.

Efek CGI yang buruk dan palsu pun tidak bisa diharapkan mengangkat faktor 3D nya di sepanjang film. Warna-warni yang terlalu variatif tak jarang membuat mata sakit menyaksikannya. Satu-satunya yang layak dijual dalam Spy Kids 4D ini adalah aromascope, itupun sebatas memenuhi rasa penasaran saja walau sejujurnya seperti membodohi penonton dengan esensi aroma manis yang disugestikan ini itu. All The Time In World mungkin mengajarkan anda untuk menghargai waktu yang dimiliki meskipun pada akhirnya malah membuang waktu yang berharga setelah menyaksikannya.

Durasi:
89 menit

U.S. Box Office:
$34,598,322 till Dec 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent