Monday, 31 January 2011

BIUTIFUL : Melihat Kematian Dari Sudut Pandang Baru

Storyline:
Kehidupan Uxbal sebenarnya monoton. Ia berbagi waktu dengan mantan istrinya, Marambra dengan dua anak mereka yaitu Mateo dan Tito ataupun berhubungan dengan pemilik pabrik tas kulit imitasi Hai dan Liwei yang juga sepasang kekasih untuk dijual kembali pada turis lewat imigran-imigran berkebangsaan Senegal. Namun diam-diam Uxbal memiliki koneksi unik dengan kematian yang terkadang muncul dalam pengalaman spiritualnya yang sulit dijelaskan. Saat didiagnosa mengidap kanker dengan masa hidup sekitar dua bulan lagi, Uxbal mulai mencari makna sesungguhnya dari kehidupan yang selama ini ia jalani.

Nice-to-know:
Pertama kali dalam sejarah nominasi Oscar Aktor Terbaik dimana sang aktor berbahasa Spanyol sepenuhnya dalam sebuah film.

Cast:
Mulai bermain film di usia 5 tahun dalam serial televisi El pícaro (1974), Javier Bardem kali ini bermain sebagai Uxbal
Maricel Álvarez sebagai Marambra
Hanaa Bouchaib sebagai Ana
Guillermo Estrella sebagai Mateo
Eduard Fernández sebagai Tito
Cheikh Ndiaye sebagai Ekweme
Diaryatou Daff sebagai Ige
Cheng Tai Shen sebagai Hai
Luo Jin sebagai Liwei

Director:
Alejandro González Iñárritu pernah dinominasikan Film Terbaik pada Academy Awards 2007 bersama Jon Kilik dan Steve Golin dalam Babel (2006).

Comment:
Jika anda perhatikan karya-karya Iñárritu sebelumnya, ada satu garis linier yang bisa ditarik yaitu film bertemakan kematian. Hebatnya lagi penekanan dilakukan dengan nuansa berbeda-beda. Film yang masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Awards 2011 ini tidak terkecuali. Dan kali ini kompleksitas yang berlapis-lapis dari kehidupan seorang pria paruh baya yang sekarat menjadi sorotan utamanya.
Penunjukan Bardem sebagai leading cast sangatlah tepat. Di tangannya, karakter Uxbal memiliki jiwa yang dalam sekaligus rapuh dimana pola pikirnya tercermin dari tindakan-tindakannya yang teramat sangat manusiawi. Bardem juga mampu menjembatani setiap karakter dalam film ini secara brilian termasuk dengan mantan istrinya, Marambra yang juga diperankan maksimal oleh Alvarez. Sedangkan aktor-aktor Spanyol atau Cina sekalipun tidaklah tampil di bawah standar meski tokoh-tokoh yang dimainkannya bukan sentral cerita.
Biasanya setting Spanyol, Barcelona pada khususnya, diperlihatkan dari sisi keindahannya. Namun kali ini anda akan merasakan kerasnya kehidupan disana mulai dari kondisi sosial politiknya yang tidak stabil, imigran gelap yang harus berjibaku dengan kerasnya hidup ataupun kondisi pemukiman yang sangat tidak memadai karena kepadatan populasinya. Belum lagi musik latar dari Gustavo Santaolalla yang terasa “menghantui” setiap scenenya.
Jangan mengharapkan sebuah film melankolis dengan dramatisasi yang berlebihan disini. Biutiful juga bukan film yang nyaman untuk dilahap begitu saja karena masalah-masalah dan isu-isu kehidupan yang begitu depresif. Siapkan pikiran anda untuk sebuah film “berat” yang berkualitas, niscaya anda akan melihat banyak hal menarik yang bisa jadi mempengaruhi emosional secara tidak langsung.

Durasi:
140 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Snow...Snow...SNOW!

A tribute to those of you in the some 30 states who’ll be taking part in this week’s snow, slush, and ice festival…keep smiling.

(Scroll down to the bottom of the page to mute the music so you can hear the video.)


Sunday, 30 January 2011

THE MECHANIC : Tuntaskan Misi Sempurna Sekaligus Mentoring

Tagline:
Someone has to fix the problems.

Storyline:
Arthur Bishop adalah seorang mekanik alias orang yang membereskan segala sesuatunya hingga tuntas atas perintah orang yang membayarnya termasuk melakukan pembunuhan tanpa jejak sekalipun. Saat mentor yang juga teman baik Arthur, Harry dibunuh secara misterius, aksi balas dendam pun dirancang. Arthur tidak sendiri karena putra Harry, Steve memiliki niat yang sama, bahkan berguru langsung padanya. Mampukah Arthur mendidik Steve hingga menjadi seorang mekanik handal atau sebaliknya menjerumuskannya ke dalam kerasnya dunia hitam?

Nice-to-know:
Merupakan remake dari film berjudul sama di tahun 1972 yang dibintangi oleh Charles Bronson.

Cast:
Terakhir muncul dalam 13 (2010) yang juga bergenre action, Jason Statham kali ini berperan sebagai Arthur Bishop
Mengawali karirnya lewat serial televisi Flash Forward (1996-1997), Ben Foster disini bermain sebagai Steve McKenna
Tony Goldwyn sebagai Dan
Donald Sutherland sebagai Harry McKenna
Jeff Chase sebagai Burke
Mini Anden sebagai Sarah

Director:
Debut gemilangnya dalam Con Air (1997) sempat membuat nama Simon West melambung sebagai sutradara film aksi.

Comment:
Jika membicarakan film-film Charles Bronson mungkin eranya terlalu dini karena saya belum lahir pada saat itu! Namun nama beliau memang terdengar familiar di telinga saya, sama halnya seperti Chuck Norris, Sean Connery, Van Damme dsb yang berbeda-beda masa. Dan harus diakui paska tahun 200an ini memang mencuat satu nama yaitu Jason Statham yang nyaris semua film aksinya berbenang merah yang sama. Bedanya kali ini ia tidak “one-man show” seperti biasanya tetapi didampingi Ben Foster yang lebih junior.
Kharisma Statham sebagai Arthur memang meyakinkan. Citarasa cool seorang pria sejati mungkin sudah melekat di dirinya sehingga tidak perlu banyak dialog rasanya Statham tetaplah jagoan sejati. Namun jika di setiap filmnya, kita disuguhi hal yang kurang lebih sama, anda bisa bayangkan? Sedangkan Foster bermain jauh lebih menarik sebagai Steve yang masih “hijau” tapi menyimpan “energi” tersembunyi di dalamnya. Tak lupa Sutherland dan Goldwyn yang sudah kawakan itu berhasil memaksimalkan keterbatasan scene yang melibatkan mereka.
Sutradara West sepintas terampil menyajikan aksi baku tembak ataupun baku hantam yang non-stop di sepanjang durasinya. Namun jika anda cermati lagi, penggunaan kamera terasa kurang konsisten dimana kadang terlalu cepat/lambat ataupun mengambil angle yang tidak terlalu pas. Sebuah siasat untuk menutupi kekurangan teknik berkelahi para aktornya? Bisa jadi. Aspek yang terpenting yaitu bagaimana terlihat meyakinkan dulu.
Kesimpulan yang dapat saya petik, The Mechanic adalah sebuah film action yang sangat menghibur dengan tempo cepat. It’s a men movie definitely! Apalagi ditambah dengan adegan seks yang eksplisit, ledakan, tembakan mematikan, pertarungan hingga kejar-kejaran mobil. Dan semuanya itu tidak dangkal ataupun klise seperti yang biasa ditonjolkan. Sebuah bentuk lain dari aksi seorang Statham tentunya yang nilainya di atas rata-rata.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Friday, 28 January 2011

FROM WITHIN : Kasus “Bunuh Diri” Masal Misterius

Tagline:
Death is catching.

Storyline:
Di Grovetown, sebuah kota kecil di Maryland terjadi beberapa kasus bunuh diri yang misterius yang dipicu oleh kematian seorang remaja. Adik kandungnya, Aidan menunggu kembalinya sang sepupu, Sadie untuk acara pemakamannya. Ketika Dylan, putra seorang pendeta Kristen memukul Aidan karena suatu alasan, Aidan justru ditolong oleh Lindsey, kekasih Dylan. Terungkap kemudian Ibu Dylan, Candace Spindle pernah melakukan pemujaan sesat di sebuah danau sekitar situ sebelum tewas terbakar. Benarkah kutukan tersebut menyerang seantero kota tanpa dapat dihentikan?

Nice-to-know:
Sempat menjadi salah satu film yang diputar pada iNAFFF 2010 di Blitzmegaplex beberapa waktu yang lalu.

Cast:
Elizabeth Rice sebagai Lindsay
Thomas Dekker sebagai Aidan
Kelly Blatz sebagai Dylan
Laura Allen sebagai Trish
Adam Goldberg sebagai Roy
Margo Harshman sebagai Sadie
Rumer Willis sebagai Natalie

Director:
Film kedua Phedon Papamichael sejauh ini setelah Dark Side of Genius (1994).

Comment:
Ide cerita film ini dapat dikatakan orisinil dimana kematian yang terjadi dianggap sebagai bunuh diri. Sang tokoh yang akan mati terlebih dahulu melihat bayangan kematiannya dalam kondisi tertentu. Yang menakutkan adalah tidak seorangpun yang tahu akan kengerian yang ia alami sendiri. Tentunya ini akan menarik anda para pecinta horor yang ingin tontonan yang sedikit berbeda.
Sutradara Papamichael menyajikan gaya horor unik melalui konsep psikologis dengan pengalaman supernatural yang tidak biasa. Karena itulah tingkat kesadisan yang berdarah-darah disajikan minim. Ketakutan mampu dibangun di beberapa scene walau mungkin tidak semuanya bekerja dengan baik.
Aktor-aktris remaja yang bermain disini memang tidak ada yang anda kenal. Namun semuanya menerjemahkan karakter masing-masing dengan natural dan mudah dipercaya karena terasa dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Efek CGI juga nyaris dinihilkan demi menekankan unsur horor secara lebih alami.
From Within memiliki twist ending yang menarik walaupun sedikit berbau agamais. Hanya saja proses menuju kesana teramat sangat panjang dengan sedikit kejutan yang mampu menjaga intensitas anda menyaksikan film ini. Sama seperti halnya saya yang beberapa kali sempat jatuh tertidur. Biar bagaimanapun juga ini adalah variasi horor/thriller yang lain dari apa yang biasa anda saksikan.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$66,456 till Jan 2009.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Thursday, 27 January 2011

LOVE STORY : Percintaan Menentang Adat Masyarakat

Quotes:
Galih: Cinta tidak membuat kegelapan, justru cinta itu menerangi, cinta tidak akan membuat aku menyerah, justru aku akan memperjuangkannya.

Storyline:
Sejak kecil, Galih dan Ranti selalu bersama-sama hingga tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya. Galih seringkali memotong rambut Ranti yang bercita-cita menjadi guru. Sayangnya belum ada sekolah yang dibangun di daerah mereka. Hal tersebut menjadi impian masa depan yang ingin dicapai. Romansa Galih dan Ranti mendapat tantangan masyarakat yang mengusung kepercayaan akan terjadinya bencana jika ada muda-mudi dari dua desa yang terpisahkan sungai tersebut menikah. Perjuangan mencapai kebahagiaan cinta memang tidak mudah tetapi akankah pada akhirnya Ranti dan Galih bersatu padu mewujudkan mimpi-mimpi mereka?

Nice to know:
Diproduksi oleh Starvision Plus dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI tanggal 18 Januari 2011.

Cast:
Reuni ketiga Acha Septriasa dan Irwansyah setelah Heart (2006) dan Love Is Cinta (2007). Kali ini keduanya kembali berpasangan sebagai Ranti dan Galih.
Henidar Amroe sebagai Nenek Ranti
Reza Pahlevi sebagai Ayah Ranti
Maudy Koesnaedi sebagai Ibu Galih
Donni Damara sebagai Ayah Galih
Reza Rahadian sebagai Pengkor

Director:
Di penghujung tahun kemarin, Hanny R. Saputra sempat membesut drama remaja berjudul Sweetheart.

Comment:
Harus diakui premisnya menjanjikan. Apalagi dukungan nama-nama cast dan sutradara serta composer yang mengisinya. Semua tampaknya terlihat benar sedari awal. Namun seiring berjalannya film, rasanya tidak demikian. Aklimatisasi film terasa kurang maksimal disana-sini sehingga hasil akhirnya terasa banyak minus yang cukup kentara. Coba kita uraikan satu persatu!
Plot ceritanya sedikit kebingungan antara penyajian kisah cinta nyata ataupun cerita romantika legendaris. Pada prolog kita diperkenalkan pada ikhtisar Joko Angin-Angin dan Dewi Bulan yang digambarkan berjuang mati-matian demi cinta mereka terlepas dari segala rintangan yang menghadang. Setelah itu tampaknya hal serupa ditransformasikan ke dalam asmara tokoh Galih dan Ranti yang dikekang oleh norma-norma masyarakat yang sudah bertahan lama. Yang menjadi pertanyaan penonton adalah akankah pada akhirnya keduanya mencapai kebahagiaan bersama-sama? Tenang, saya tidak akan melakukan spoiler.
Sebagai nyawa film, nama Acha dan Irwansyah telah beberapa kali bersanding sebagai pasangan sebelumnya. Hal ini bisa jadi cukup membantu keduanya untuk memahami konsep dua sejoli yang ingin disampaikan. Sayangnya Irwansyah sebagai Galih sedikit underperform disini meski tidak dapat dikatakan buruk. Fakta ini menyebabkan Acha menanggung beban yang lebih berat untuk menopang intensitas percintaan itu sendiri. Namun ia tetaplah seorang aktris berkualitas untuk membawakan sosok Ranti yang tersiksa karena kungkungan yang membelenggunya.
Hanny merupakan salah satu sutradara yang saya kagumi dengan karya-karyanya yang dapat dipertanggungjawabkan kualitasnya. Namun kali ini berbagai elemen film cinta yang ditanganinya terasa klise dan predictable. Jikapun ada tambahan subplot malah terasa tidak signifikan terhadap bangunan utama ceritanya. Apakah skenario yang ditulis Armantono menjadi penyebabnya? Sulit dipastikan.
Love Story memang mampu menghadirkan sinematografi yang cukup bagus sebagai sebuah tontonan lokal di atas rata-rata. Hanya saja jalinan konflik yang dihadirkan berikut penyelesaiannya terasa mengambang begitu saja di permukaan tanpa kedalaman. Ibarat penonton diajak berlayar dengan sampan sederhana menyusuri danau indah tetapi tidak ada gejolak esensi yang mengiringinya samasekali. Cukup disayangkan!

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Trivia Answers - Women in Men's Jammies

I'm impressed by how you folks notice the little things, and especially to our Caftan Woman, who certainly knows her PJs like nobody's business.  The answers to Monday's pictorial trivia are:


A - Jean Arthur, checking herself out in the full-length mirror as Ronald Colman watches.  They're his pajamas, and this is "The Talk of the Town" (1942).



B - Alexis Smith donning Bing Crosby's pajamas for a wrestling lesson in "Here Comes the Groom" (1951).  We talked about this movie a few weeks ago, and that's when the idea for this stupid trivia post occurred to me.


C - Patricia Ellis, wearing Oliver Hardy's jammies, but still maintaining her lady-like demeanor by not taking off her hat, in "The Block-Heads" (1938).  I have to hand it to you here, Caftan Woman, I thought this would be a difficult one.



D - Finally, we have Claudette Colbert in Clark Gable's pajamas from "It Happened One Night" (1934).  She's off to use the showers "and things".

Wednesday, 26 January 2011

WHITE NOISE 2 THE LIGHT : Pengalaman Supernatural dan Konsep Dogmatis

Tagline:
Henry Caine: If you save a life... you are responsible for it.


Storyline:
Ketika Abe Dale tengah menikmati makan siang bersama istri dan anaknya di sebuah restoran, tiba-tiba seorang pria asing masuk dan menembak dua orang kesayangannya itu sebelum membunuh dirinya sendiri. Kejadian tersebut membuat Abe shock dan nyaris bunuh diri tapi temannya Marty Bloom berhasil menyelamatkannya. Pengalaman dekat dengan maut itu menyebabkan Abe dapat melihat cahaya putih di sekeliling orang-orang yang akan meninggal. Atas dasar fakta tersebut, akankah Abe mampu menghindari orang-orang tersebut dari kematian tanpa konsekuensi yang mungkin terjadi di kemudian hari?

Nice-to-know:
Dibawa ke sinema di Inggris Raya dengan judul "Brooks Noise".

Cast:

Terakhir mendukung Slither (2006), Nathan Fillion bermain sebagai Abe Dale yang terluka karena kehilangan istri dan anaknya hingga memiliki pengalaman nyaris mati.

Katee Sackhoff sebagai Sherry Clarke
Craig Fairbrass
sebagai Henry Caine

Adrian Holmes
sebagai Marty Bloom

Kendall Cross
sebagai Rebecca Dale


Director:
Patrick Lussier
mengawali karir penyutradaraannya lewat The Prophecy 3: The Ascent (2000) yang langsung rilis dalam format video.


Comment:

Film yang sudah rilis tahun 2007 lalu ini nyatanya baru tayang di Indonesia pada awal 2011. Melanjutkan apa yang sudah dibahas pada prekuelnya yaitu mengenai E.V.P alias Electronic Voice Phenomenon yang difungsikan untuk menangkap suara-suara dari dunia orang mati lewat seperangkat alat yang dioperasikan secara khusus. Jika dulu ada Michael Keaton maka kali ini terpilih Nathan Fillion yang namanya lebih asing lagi.
Plot awalnya menceritakan konsep kembali dari kematian itu sendiri yang membuat karakter Abe mampu melihat “cahaya” putih di sekujur orang di sekitarnya yang akan meninggal. Kemudian cerita bergulir menjadi sedikit dogmatis dimana hukum sebab akibat yang menyinggung Injil/Alkitab diperdebatkan secara gamblang lewat bukti-bukti lisan ataupun tertulis yang sayangnya tidak terlalu meyakinkan untuk dipercaya begitu saja. Fillion sebetulnya sudah tampil maksimal sebagai Abe. Karakter “pahlawan dadakan” setelah berduka kehilangan keluarga yang dicintainya memiliki pencitraan dramatis yang cukup menarik. Hanya saja koneksi dengan tokoh-tokoh lainnya tidak cukup kuat untuk mendukung eksistensinya disini. Contoh saja Sackhoff yang terkesan terlalu “bitchy” sebagai suster Sherry yang seharusnya sopan dan terpelajar. Pada akhirnya Fillion seperti stand alone character yang terasa dipaksakan. Coba salahkan penulis Matt Venne yang melaksanakan kinerjanya secara tanggung. Sutradara Lussier bisa jadi memiliki basis horor/thriller yang cukup baik tetapi kali ini ia menggunakan spesial efek yang kentara dan banyak dibantu oleh sound yang tiba-tiba memecah keheningan. Terkadang mungkin berhasil menakuti penonton tetapi dengan cara yang terbilang kasar. Belum lagi alur lambat yang rasanya membuat film ini sulit tayang di bioskop alias Direct-to-DVD. Saya katakan White Noise : The Light sebetulnya memiliki premis yang jauh lebih menarik daripada White Noise. Namun semua idenya terasa tidak menyatu dan membuat film horor ini kehilangan jati diri yang sesungguhnya. Terlepas dari semua penilaian negatif tersebut, saya masih cukup menyukainya walau pada akhirnya dibuat kecewa dengan ending yang tidak masuk akal terlebih setelah intensitas yang terjadi di paruh kedua durasinya.

Durasi:
95 menit


U.K. Box Office:

£1,288,726 till Jan 2007.

Overall:
7 out of 10


Movie-meter:

Tuesday, 25 January 2011

SEASON OF THE WITCH : Pertempuran Baik Jahat Penyihir Titisan Iblis

Tagline:
Not all souls can be saved.

Storyline:
Abad ke-14, kaum Crusader kembali ke tanah kelahirannya yang tengah terjangkiti Wabah Hitam. Pendeta Debelzag dan pendeta muda Kay berusaha menjaga seorang gadis yang dicurigai sebagai titisan penyihir untuk tetap terkurung. Bersama mereka terlibat juga prajurit Eckhart yang berduka atas kematian keluarganya dan juga dua mantan pejuang Perang Salib, Behmen dan Felson. Lewat serangkaian peristiwa, gerombolan tersebut dipimpin oleh Hegamar bertekad melakukan perjalanan mencari biara tua untuk mengakhiri segala kutukan yang melanda desa tersebut. Benarkah ada kekuatan lain yang lebih besar menanti mereka selanjutnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Atlas Entertainment dan Relativity Media.

Cast:
Terakhir juga memerangi kekuatan gelap dalam The Sorcerer’s Apprentice, Nicolas Cage disini kebagian peran Behmen
Terkenal sebagai Hellboy yang dilakoninya pertama tahun 2004, Ron Perlman kali ini bermain sebagai Felson
Stephen Campbell Moore sebagai Pendeta Debelzaq
Stephen Graham sebagai Hagamar
Ulrich Thomsen sebagai Eckhart
Claire Foy sebagai The Girl

Director:
Dominic Sena pernah mengarahkan Nicolas Cage sebelumnya dalam Gone In Sixty Seconds (2000).

Comment:
Karena kekosongan slot film belakangan ini, film bergenre aksi petualangan fantasi ini lumayan mencuri perhatian di jaringan bioskop Blitzmegaplex sampai diputar di dua auditorium di dua minggu perdana penayangannya. Atas dasar itulah, saya tergerak untuk menonton film ini sambil berharap kharisma seorang Cage (yang sudah lama hilang) bisa kembali lagi apalagi didukung oleh sutradara Sena yang pernah menghasilkan beberapa judul menarik sebelumnya.
Sayangnya lagi-lagi Cage membosankan. Tidak ada yang berbeda dari aktingnya sebagai Behman selain model rambutnya yang aneh itu. Masih dengan ekspresi dan intonasi yang sama seperti yang sudah-sudah. Beruntung tandemnya Perlman bermain lebih variatif sehingga chemistry keduanya disini terasa saling mengisi. Rasa penyesalan yang menyergap mereka juga terkesan hanya seperti sebuah sebab tanpa ada korelasi yang kuat untuk mendukung perjuangan mereka selanjutnya. Para pendukung lainnya juga sayangnya tidak terlalu mengesankan dalam menerjemahkan karakternya masing-masing.
Sutradara Sena tampak kebingungan mengangkat hasil penulisan Bragi F. Schut ke dalam sekuens aksi yang dinamis. Gaya penceritaan yang lemah terutama pada paruh pertama durasinya bisa jadi menyebabkan anda tertidur pulas. Jika itu yang terjadi, tidak usah takut melewatkan sesuatu karena paruh kedua film ini anda tetap bisa mengikutinya dan menemukan intensitas yang setidaknya sedikit meningkat.
Pertarungan besar (Perang Salib) maupun kecil (Iblis) malah mengalir begitu saja nyaris tanpa greget dimana efek CGI terasa dominan walaupun tidak mulus dieksekusinya. Sampai tahap ini, terasa film seperti penggabungan berbagai macam subplot yang telah dihadirkan sebelumnya, hanya saja tidak dilengkapi dengan pertukaran dialog yang kreatif ataupun latar belakang sejarah yang cukup jelas sebagai bukti pendukung.
Selayaknya penundaan tanggal rilis yang sempat dilakukan studio filmnya, kualitas akhir Season Of The Witch juga memang patut dipertanyakan. Rasanya cukup sulit menjual film ini selain ending menit-menit terakhir yang walau klise selayaknya arcade battle video game tapi tetap dapat menjaga minat anda menyelesaikan film ini. Bukankah iblis tetap harus diperangi walau harus ada pengorbanan?

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$18,913,782 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Monday, 24 January 2011

MY EX 2 : Arwah Penasaran Gadis Mantan Kekasih

Storyline:
Cee mengikuti jejak kakaknya masuk dalam industri film yang membawanya berkenalan dengan sang sutradara/produser yang menyukai bakat aktingnya yang natural. Tidak ada yang tahu sebetulnya Cee menjadikan ini sebagai pelarian dimana hubungannya kandas dengan Aof karena pria tersebut memiliki kekasih lain. Cee bersama kakak dan teman-temannya berlibur sekaligus syuting di sebuah pulau tropis nan indah tanpa menyadari ada sesosok hantu wanita yang terus membayanginya. Apakah ini ada hubungannya dengan gadis yang tewas bunuh diri dari puncak apartment?

Nice-to-know:
Berjudul bahasa Inggris, My Girlfriend.

Cast:
Ratchawin Wongviriya sebagai Cee
Atthama Chiwanitchapan
Pete Thongjua
Marion Affolter
Bodhin Duke
Thongpoom Siripipat
Monchaya Muangkrut
Ariya Thanwong

Director:
Piyaphan Choopetch termasuk pertama kali dalam Witness (1985).

Comment:
Jika anda menyaksikan My Ex maka tidak salah jika anda coba melanjutkan sekaligus membandingkan dengan sekuelnya ini. Plot ceritanya memang tidak sama persis tetapi beberapa elemen dasar masih dipertahankan seperti adegan syuting di alam terbuka, flashback, mimpi absurd dsb. Tentunya agak sedikit mengingatkan pada kinerja sutradara lokal tersibuk kebanggaan kita, Nayato tetapi rasanya Piyaphan masih sedikit di atas.
Jika pada prekuelnya, karakter utama dimainkan pria maka kali ini diperankan oleh wanita. Ratchawin sebagai Cee terlihat cantik dan segar dengan rambut pendeknya, dan bagi saya justru ia terlihat seperti femme fatale disini. Sebelum anda menelaah lebih jauh, jangan percaya begitu saja pada penampakan keseluruhan para tokohnya karena boleh dibilang semuanya abu-abu sehingga sulit diduga.
My Ex 2 masih mengusung formula horor Asia pada umumnya dan Thailand pada khususnya. Penampakan hantu wanita dengan wajah rusak sebelah itu masih cukup menyeramkan walau kemunculannya cukup sering. Belum lagi close-up shot mimik ketakutan karakter utamanya yang seringkali dilanjutkan dengan teknik roll over kamera dijamin membuat anda berdebar-debar menanti untuk dikejutkan. Tak jarang ditutup pekik penonton yang kaget lebih karena sound effect yang tiba-tiba menggelegar.
Jika biasanya horor Thai menyimpan twist menarik, kali ini tampaknya kali ini sedikit predictable. Proses menuju kesana harus diakui sedikit menyiksa karena batasan mimpi dan kenyataan terasa kabur. Konflik yang dibangun sedemikian rupa pun terkadang tumpang tindih dan menguap begitu saja. Anda yang biasa menyaksikan film horor lokal sejenis semestinya familiar dengan gaya berceritanya. Ada yang sependapat?

Durasi:
85 menit

Movie-meter:

Women in Men's Jammies

See how many ladies you can name, what films, and whose pajamas they're wearing.  Answers on Thursday.


A

B

C

D

Sunday, 23 January 2011

THE WAY BACK : Perjalanan Hidup Mati Para Pelarian

Tagline:
Their escape was just the beginning


Storyline:
Gulag Siberia yang diikuti para napi yang melarikan diri sepakat bersama-sama melakukan perjalanan panjang melintasi hutan Siberia, gurun Mongolia, bukit Tiberia sebelum sampai pegunungan Himalaya untuk mencapai kebebasan di India. Mereka adalah Mr. Smith, Valka, Zoran, Tomasz, Andrej, Khabarov yang dipimpin adalah mantan perwira Polandia, Janusz yang dikhianati istrinya sendiri. Berhasilkah grup tersebut dengan perbekalan dan perlengkapan yang serba terbatas itu?

Nice-to-know:
Saoirse Ronan merayakan ulang tahun ke-16 nya saat syuting film ini.

Cast:
Tahun 2009 lalu terlibat dalam 2 film yaitu Heartless dan Crossing Over, Jim Sturgess disini bermain sebagai mantan perwira Polandia yang harus memimpin perjalanan 4000 mil bersama para tahanan Rusia dan Amerika.
Mungkin publik Indonesia terakhir mengingatnya sebagai Sonny dalam Miami Vice (2006), Colin Farrell kali ini berperan sebagai Valka.
Ed Harris sebagai Mr. Smith
Saoirse Ronan sebagai Irena
Dragos Bucur sebagai Zoran
Mark Strong sebagai Khabarov
Alexandru Potocean sebagai Tomasz
Dejan Angelov sebagai Andrei

Director:
Sejauh ini Peter Weir sudah lima kali dinominasikan Sutradara Terbaik dalam ajang Oscar termasuk pertama kali dalam Witness (1985).

Comment:
Saya tidak pernah meragukan hasil karya seorang Peter Weir yang sayangnya belum berkesempatan memenangkan Piala Oscar meski telah berulang kali dinominasikan. Dan kali ini yang ia tawarkan adalah hasil riset selama tujuh tahun yang mencakup pembahasan masalah-masalah sosial terhadap kehidupan para pelarian dalam situasi yang teramat sulit. Gaya dokumenter coba dihindarinya meski kesan itu tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Mudah-mudahan para juri Academy Awards tahun ini melirik hasil kerjanya dan memberikan apresiasi yang pantas.
Aktor-aktris yang mengisi film ini menuntaskan kewajibannya dengan baik. Ada Harris yang selalu kharismatik meski fisiknya sudah terlihat lemah, Farrell yang sinis menggigit dengan dialek Rusianya yang kental, juga Sturgess yang di usia mudanya mampu menerjemahkan karakter seorang pemimpin dengan kebijaksanaan dan kebaikan hati yang menonjol. Sedangkan aktris muda Ronan yang terkesan ringkih berhasil memberikan sisi feminisme yang kuat di antara gerombolan pria keras tersebut. Belum lagi kemampuan para aktor-aktor di luar hingar-bingar Hollywood berhasil menyuguhkan yang terbaik dari mereka.
Sinematografi yang dihadirkan tergolong menakjubkan. Semua lanskap Rusia, Mongolia, Tibet hingga India tertangkap dengan sangat baik di setiap bagiannya. Memberikan nuansa perhutanan yang liar, gurun yang kering, pegunungan yang asri hingga gangguan cuaca mulai dari badai salju sampai badai pasir yang kesemuanya melengkapi perjalanan itu sendiri. Anda bisa jadi bertanya-tanya bagaimana mereka melakukan semua itu?
The Way Back yang berdurasi panjang mungkin sulit membuat anda tetap terjaga sepanjang film. Namun percayalah perjuangan bertahan hidup sekelompok manusia tetaplah menarik untuk disaksikan. Bagaimana mereka harus berburu dan membagi makanan-minuman serta berinteraksi satu sama lain untuk saling mendukung dan menghilangkan kebencian. Dipastikan emosi anda tertantang disini untuk tertawa ataupun terharu bersama perjalanan mereka yang penuh determinasi itu.

Durasi:
125 menit

U.K. Box Office:
£1,976,176 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Saturday, 22 January 2011

BURLESQUE : Perjuangan Mencapai Puncak Selamatkan Klub

Tagline:
It takes a LEGEND... to make a STAR.

Storyline:
Burlesque Lounge sudah melewati masa-masa jayany. Sang pemilik sekaligus mantan penarinya, Tess yang telah bercerai dengan Vince kesulitan membayar tunggakan sehingga terancam ditutup. Prinsip Tess tetap sama dimana para penarinya Nikki, Coco dkk diharuskan tetap menari dengan lip sync. Hal ini ditentang oleh gadis Iowa, Ali yang bekerja sebagai pelayan atas bantuan Jack sang bartender. Ali yang memohon Tess agar diberi kesempatan menjadi salah satu penari berusaha meyakinkan kemampuannya. Kini Tess harus mengambil keputusan berat dimana pebisnis licik Marcus sudah mengajukan tawaran terbaiknya untuk mengambil alih.

Nice-to-know:
Foto Ali yang berusia tujuh tahun bersama ibunya merupakan foto asli Christina Aguilera bersama ibunya, Shelly Kearns.

Cast:
Absen 7 tahun setelah Stuck On You, Cher kembali sebagai pemilik Burlesque Lounge, Tess yang egosentris idealis.
Christina Aguilera sebagai Ali
Eric Dane sebagai Marcus
Cam Gigandet sebagai Jack
Julianne Hough sebagai Georgia
Alan Cumming sebagai Alexis
Peter Gallagher sebagai Vince
Kristen Bell sebagai Nikki
Stanley Tucci sebagai Sean

Director:
Steve Antin sebenarnya lebih dikenal sebagai aktor termasuk serial televisi NYPD Blue sebagai Detektif Nick Savino.

Soundtrack:
Something’s Got A Hold On Me by Christina Aguilera
Welcome To Burlesque by Cher
Tough Lover by Christina Aguilera
But I’m Am A Good Girl by Christina Aguilera
Guy What Takes His Time by Christina Aguilera
Express by Christina Aguilera
You Havent Seen The Last Of Me by Cher
Bound To You by Christina Aguilera
Show Me How You Burlesque by Christina Aguilera
The Beautiful People by Christina Aguilera

Comment:
Rasanya Antin cukup ambisius saat memutuskan menulis dan menggarap film musikal ini dimana pengalamannya hanya sebagai aktor yang belum ternama juga. Dari segi penulisan, skrip film ini tidak menawarkan hal baru dimana konsep from zero to hero ataupun wrong to right tetap dipertahankan. Sudah berbagai film sebelumnya membahas tema ini, sebut saja Coyote Ugly ataupun Make It Happen dari periode 2000an. Dari segi penyutradaraan, gaya yang diusungnya bisa dikatakan glamour sehingga sebagai sebuah panggung, Burlesque Lounge menjanjikan banyak hal yang memanjakan mata.
Kemampuan menyanyi biduanita senior Cher dan Christina Aguilera yang lebih junior tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi akting, saya tidak bisa katakan buruk tetapi mendapat eksploitasi yang kurang maksimal disini. Bagaimana Cher sebagai seorang pemimpin klub digambarkan egosentris idealis yang bahkan tidak pernah mendengarkan orang lain selain dirinya sendiri terasa stagnan dari awal sampai akhir. Lalu Aguilera sebagai seorang pendatang baru yang penuh mimpi dan percaya diri tidak terlalu terlihat perubahan no one to somebody nya disini selain riasan dan kostumnya saja. Beruntung chemistry keduanya cukup menarik disini walau saya sebetulnya mengharapkan lebih.
Di jajaran aktor pendukung, Tucci bermain gemilang sebagai Sean yang homoseksual. Dimanapun Tucci berbagi scene maka adegan tersebut menjadi hidup. Sedangkan Dane, Bell dan Gigandet cukup memanjakan mata dengan karakterisasi mereka yang penuh warna untuk menghidupkan segala konflik yang terjadi sekaligus menciptakan dialog-dialog yang pandai dan sarkastis meskipun kadang masih terkesan norak dan klise.
Di atas semua itu rasanya Burlesque (berarti olok-olok) masih dapat dinikmati sebagai film musikal yang mengusung konsep seni tari dan tarik suara dengan segala intrik di dalamnya. Bagaimana suara kuat Aguilera dan suara berat Cher berpadu manis dengan koreografi yang menarik di atas panggung meriah di bawah cahaya yang ditata sedemikian rupa. Lagu-lagunya tergolong dinamis walau menurut saya akan sulit disukai hanya dengan mendengarkan tanpa menyaksikan. Uang yang anda keluarkan untuk menonton film ini sepertinya sebanding dengan live concert young diva, Christina Aguilera. But still IMO it was a fun movie though!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,707,062 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Friday, 21 January 2011

YOGI BEAR : Beruang Berbicara Selamatkan Taman Rekreasi

Tagline:
Life's a pic-a-nic.

Storyline:
Perayaan 100 tahun Jellystone Park terganggu oleh ulah Yogi dan Boo Boo yang secara tidak sengaja membakar petasan yang sudah disiapkan Ranger Smith dan Rachel. Pengunjung yang semula antusias menjadi kocar-kacir pulang. Hal ini disyukuri oleh Walikota Brown yang berniat mengubah Jellystone Park menjadi lahan keuntungannya. Dalam putus asa, Yogi dan Boo Boo menyemangati Ranger Smith untuk menyelamatkan Taman sekaligus memenangkan hati Rachel. Petualangan apa yang harus mereka lakukan untuk menggagalkannya?

Nice-to-know:
Banyak siswa Daws Butler mengirim rekaman Dan Aykroyd saat dijelaskan bagaimana berbicara dengan aksen Yogi hingga akhirnya Aykroyd menolak mendengarkannya dan menggunakan interpretasinya sendiri.

Voice:
Ghostbusters I-II merupakan salah satu peran yang paling memorable bagi Dan Aykroyd yang kali ini mengisi suara Yogi Bear
Justin Timberlake sebagai Boo Boo

Cast:
Tahun 2009 lalu menyumbangkan suaranya dalam Cloudy with a Chance of Meatballs dan Alvin and the Chipmunks 2, Anna Faris kini bermain sebagai Rachel, penulis sekaligus peneliti kehidupan satwa liar.
Tom Cavanagh sebagai Ranger Smith
T.J. Miller sebagai Ranger Jones
Nathan Corddry sebagai Asisten Walikota Brown
Andrew Daly sebagai Walikota Brown

Director:
Satu-satunya film panjang yang digarap Eric Brevig sebelumnya yaitu Journey To The Centre Of The Earth (2008) yang kebetulan juga sebuah remake.

Comment:
Sudah cukup lama kombinasi live action dan animasi dalam sebuah film tidak muncul di industri perfilman. Dan harus dikatakan melakukan remake si beruang Yogi bukanlah ide yang buruk, asalkan digarap dengan fresh. Penambahan teknologi 3D juga dilakukan walau hasil akhirnya tidak akan signifikan dibandingkan dengan 2D nya.
Sutradara Brevig yang banyak berpengalaman di bidang visual efek menjalankan tugasnya dengan cukup baik dimana karakter Yogi dan Boo Boo mampu dimix. Namun pada beberapa scene hal tersebut sulit dilakukan, salah satu contoh pada adegan jeram Jellystone Park dimana terasa sekali “penipuan optikal” nya.
Tidak ada yang salah dengan interpretasi Aykroyd dan JT ke dalam tokoh Yogi dan Boo Boo. Keduanya mampu bersinergi secara menarik sehingga apa yang disuarakan tergolong pas dengan mimik wajah ataupun bahasa tubuh yang ditampilkan. JT bahkan menurunkan suaranya sedemikian rupa sehingga anda tidak akan sadar sebelum melihat namanya di credit title. Well done!
Bagaimana dengan para aktor aktris aslinya? Tampaknya Cavanagh, Faris dan Miller bermain aman-aman saja. Khusus Faris, aktris cantik yang satu ini nyaris tidak memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari sudah-sudah. Sedangkan Daly dan Corddry sebagai antagonis masih terkesan terlalu karikatural terutama pengulangan adegan kaca mobil yang sampai berkali-kali sebetulnya cukup mengganggu.
Tak dapat dipungkiri, Yogi Bear adalah tontonan ringan semua umur yang dapat dinikmati seantero keluarga secara aman karena tidak ada unsur seksual ataupun kekerasan samasekali. Yang ada hanyalah polah tingkah slapstick Yogi yang pintar-pintar bodoh itu. Separuh durasi awal cukup membosankan dengan berbagai adegan klise yang pernah disaksikan berpuluh-puluh kali sebelumnya. Seakan memaksa kita tertawa dan terhibur meskipun enggan. Beruntung di separuh terakhir, intensitas cerita sedikit meningkat dan membaik hingga berujung pada klimaks yang sangat berpihak pada penonton. Not surprising though yet still quite enjoyable movie for all ages!

Durasi:
80 menit

U.S. Box Office:
$84,197,416 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

A Freudian romance (Baksha Badal)

Trust the genius of Satyajit Ray to turn a tiny short story by Bibhutibhushan Bandopadhyay into a two-hour rollicking romance without stretching it to monotony. The writer in him adds certain joyful elements and a unique twist of psychology to make the romance so delectable. The characters are fun, the events absolutely credible, the music just takes the plot forward and the climax of Baksha

Thursday, 20 January 2011

PELUKAN JANDA HANTU GERONDONG : Transformasi Serial Televisi Kehidupan Nyata

Storyline:
Kylie yang telah bertunangan dengan Robby tinggal di sebuah apartemen di Jakarta mengundang temannya dari Kuala Lumpur, Jenna untuk bertandang. Jenna gemar sekali menonton serial televisi yang bercerita mengenai Patty dan kekasihnya Rocky yang akhirnya dibantai pada malam pertama pernikahan mereka beserta seluruh orang seisi rumah. Kecurigaan jatuh pada Tommy, adik Patty yang menderita gangguan jiwa. Tanpa Kylie sadari, semua hal dalam serial televisi itu mulai terjadi dalam kehidupan sehari-harinya. Robby dan sahabatnya Rio bertemu dengan Dokter Lucas yang tertarik dengan kasus itu setelah diperingati Tante Rose dan anjingnya Mini yang misterius itu. Apakah nasib Kylie dan Robby akan berakhir sama?


Nice to know:
Diproduksi oleh K2K Productions dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 17 Januari 2011.

Cast:
Indah Kalalo
sebagai Kylie

Aida Saskia
sebagai Jenna

Angel Lelga sebagai Patty
Lia Ladysta
sebagai Joena

Andreano Phillip
sebagai Robby

Shidiq Hamidi
sebagai Rio

Adam Jordan
sebagai Dokter Lucas


Director:
Garapan kedua Yoyok Dumprink setelah Rintihan Kuntilanak Perawan (2010).


Comment:

Tidak perlu menunggu lama kemunculan film-film sampah di tahun 2011 ini. Baru memasuki minggu ketiga bulan pertama rilis kembali karya pria India idealis bin ajaib bernama KK Dheeraj ini. Saya tidak terlalu peduli jika ia memakai nama Yoyok Dumprink di kursi sutradaranya karena apapun filmnya, citarasanya sama persis. Sayangnya bukan citarasa yang enak tetapi buruk bin eneg bikin muntah seisi perut sampai kosong tak bersisa hingga tak terasa lapar kembali sekalipun. Berlebihan? Itulah kenyataannya.

Siapapun aktor aktris yang dipakai dalam film produksi K2K saya acungi empat jempol, dua kaki dan dua tangan untuk keberaniannya terlibat bahkan mencantumkan nama. Mungkin bisa ditambah jempol kaki anjing saya kalau bisa. Oops sampai lupa kalau saya tidak memiliki anjing, tetapi anjing tetangga bolehlah dipinjam sejenak selagi saya menulis review ini. Sebab apapun peranan yang ditawarkan pada mereka rasanya itu tidak penting dan tidak akan berarti apapun bagi perkembangan karir akting mereka ke depannya. Namun apa boleh buat? Namanya juga cari uang toh?

Plot ceritanya mengenai kehidupan nyata yang sama persis dengan apa yang tayang di televisi. Lupakan rentang waktu dan sekuens cerita karena dua hal tersebut tidak penting disini. Penonton bisa diajak melompati ruang waktu dengan cerita yang maju mundur. Batas dunia nyata dan dunia televisi menjadi absurd. Dan jangan coba mencari-cari hubungan yang rasional dari keterkaitan tersebut sebab akibatnya fatal: kram otak sementara!

Tidak ada yang benar dalam Pelukan Janda Hantu Gerondong selain tangan hitam yang suka menjawil rambut, muka, kaki bahkan nyaris kemaluan lelaki pada scene kakus toilet di penghujung film. Berbagai adegan syur yang menjadi ciri khas kali ini tidak ketinggalan, hanya saja dalam batas yang sangat tidak sensual samasekali. Satu-satunya yang mengasyikkan saat menonton film KK adalah tebak-menebak film asli apa yang menjadi adaptasinya. Terima kasih pada rekan saya, Bee http://film-nggak-jelas.blogspot.com/2011/01/pelukan-janda-hantu-gerondong-2011.html yang sudah menyebutkan film India berjudul 13B sebagai sumbernya. So, apakah anda masih berminat untuk nonton setelah serangkaian kritik di atas?


Durasi:
75 menit


Movie-meter:

Sidewalk Elevator - "Hot Water" - 1924


It’s been a long time since we featured that wonderful invention and movie prop, the sidewalk elevator. Not seen since this post from nearly three years ago. Three years without another sidewalk elevator?! It’s been agonizing, hasn’t it?


I’ve been searching for one (high and low, you might say), and constantly came up empty time after time. Even “Shane”, from last week’s post, surprisingly, did not feature a sidewalk elevator.


At last, our dry spell is over. Here is the reliable Harold Lloyd in “Hot Water” (1924). The proud owner of a new auto, he takes it for a spin, and as you can see in this series of captures, accidentally parks on a sidewalk elevator.


Enjoy. Now I have to go look for another one.




Wednesday, 19 January 2011

Introducing Feluda (Sonar Kella)

Last year my husband gave me a lovely surprise on my birthday. There is a place in Rajasthan that we both really wanted to visit. But somehow, something or the other kept cropping up and despite making prior plans, we had to postpone our tour everytime. Such was my desperation that I had started calling it the 'Jinxed Land'. Then one day it just happened. He came home. He kept his bag and other

Ist Indonesian Movie Bloggers Choice Awards 2011

Perkembangan film nasional tidak hanya terjadi pada industri film itu sendiri, tapi juga pada pecinta film di seluruh Indonesia. Melalui media blog, berbagai tulisan tentang film dan pengalaman menonton semakin mewarnai dunia maya. Dengan pengetahuan tentang film yang bervariasi, tulisan yang dibuat oleh movie bloggers adalah titik demi titik dari proses pembelajaran dirinya untuk semakin memahami film.

Sebuah blog bernama Gila Sinema, yang kini sudah ditutup, sempat mencatat sekitar 40 blog film yang berhasil Ia temukan. Blog lain, Labirin Film, meneruskan pencatatan ini dan berhasil menemukan 80 blog yang membahas film hingga 2011. Banyak di antaranya adalah blog yang khusus membicarakan film saja dan ada juga yang membahas topik lain. Untuk menyatukan movie blggers dan terus membudidayakan diskusi film melalui internet, dibentuklah Indonesian Movie Bloggers Community (IMBlog Community). Sampai sekarang, sudah ada 44 movie bloggers yang bergabung di dalamnya.

Kegiatan utama dan pertama dari IMBlog Community adalah 1st Indonesian Movie Bloggers Choice Awards (IMBlog Choice Awards) 2011 yang diselenggarakan sepenuhnya secara online. Ajang penghargaan ini akan dibagi menjadi 2, yaitu : IMBlog Choice Awards untuk Film Berbahasa Asing dan IMBlog Choice Awards untuk Film Indonesia. Masing-masing penghargaan memiliki deretan kategori yang terdiri atas kategori utama dan kategori unik. Pemenang hasil pilihan seluruh anggota IMBlog Community akan disebut Jawara dan pemenang hasil pilihan masyarakat luas melalui voting di FLICK Magazine akan disebut Tersohor.

Ada 20 kategori dalam IMBlog Choice Awards untuk Film Berbahasa Asing dan 17 kategori dalam IMBlog Choice Awards untuk Film Indonesia. Voting Jawara dari setiap kategori berlangsung dari tanggal 14 Januari 2011 hingga 30 Januari 2011. Sedangkan voting Tersohor berlangsung dari tanggal 20 Januari 2011 hingga 15 Februari 2011. Pengumuman Jawara dan Tersohor akan diumumkan pada tanggal 20 Februari 2011.

Kami mengharapkan variasi genre, aliran, dan kualitas film-film yang menjadi nominasi IMBlog Choice Awards 2011 bisa menjadi wadah apresiasi untuk filmmaker dibalik film-film tersebut dan juga mengingatkan akan sangat dibutuhkannya kehadiran film-film dengan jangkauan genre dan aliran yang lebih luas dan tentu berkualitas.

Happy voting, Indonesia!

Facebook : Indonesian Movie Bloggers Community

Twitter : @IMBlogCommunity

Untuk vote film berbahasa asing langsung klik disini:
Nominasi dan Voting IMBlog Choice Awards 2011 untuk Film Berbahasa Asing

Untuk vote film Indonesia langsung klik disini:
Nominasi dan Voting IMBlog Choice Awards 2011 untuk Film Indonesia

Partisipasi anda sangat diharapkan untuk mensukseskan ajang 1st Indonesian Movie Bloggers Choice Awards (IMBlog Choice Awards) 2011 ini di negeri sendiri.

Terus terang, saya bangga bisa menjadi salah satu bagian dari komunitas IMBlog ini yang berisikan orang-orang kreatif yang mau bersusah payah dalam kesehariannya menulis informasi film dalam bentuk apapun yang sangat informatif bagi masyarakat pecinta film secara khususnya.

Bagi anda yang menerima link dari blog Databasefilm ini setelah melakukan voting jangan lupa tinggalkan komentar berikut nama dan alamat email pada kolom yang sudah disediakan sebab ada beberapa tiket nonton gratis yang akan diundi untuk anda menangkan.

Tuesday, 18 January 2011

CEWEK GOKIL : Gadis Muda Dengan Segudang Impian

Quotes:
Eyang: Semua orang kalau nyetir harus ke satu tempat. Tapi belum tentu sampai ke satu tujuan.

Storyline:
Gadis muda bernama Keke ini memiliki segudang impian, mulai dari ibu yang pengertian, kakak yang penyayang, pacar yang baik hati hingga mobil Mini Cooper idamannya. Apakah ini disebabkan oleh kepalanya terbentur saat baru dilahirkan? Entahlah. Yang pasti Keke terus gigih mengejar semuanya hingga menjalani berbagai profesi semisal guru les, agen MLM, SPG, penyanyi hingga aktris! Hal tersebut membawanya bertemu Dino, cowok keren yang kemudian menaruh hati padanya. Tabungan Keke mulai terkumpul tapi akankah semua kebahagiaan itu sendiri bisa dibeli dengan uang?

Nice to know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di fX Platinum XXI tanggal 17 Januari 2011.

Cast:
Velove Vexia sebagai Keke
Syailendra Soepomo sebagai Dino
Enditha Bonacelli sebagai Fitri

Director:
Merupakan karya ke-12 bagi Rizal Mantovani yang diawali dengan Kuldesak (1999).

Comment:
Penampakan film ini sejak awal terasa kurang meyakinkan mulai dari sinematografi yang old-fashioned, gaya bercerita yang tidak lazim dan lain-lain. Namun jangan cepat-cepat menyimpulkan. Kapabilitas dan tingginya jam terbang seorang Rizal Mantovani tidak boleh diremehkan begitu saja. Terbukti bujet rendah yang dipercayakan padanya tetap dapat diolah menjadi sebuah tontonan drama komedi remaja yang menarik.
Munculnya nama Velove yang memulai debut peran utama layar lebar ini juga tergolong surprise. Nyatanya ia mampu menghidupkan peran Keke dengan sangat natural. Gadis muda yang tidak dewasa dan cenderung egois ini justru tidak membuat penonton antipati padanya melainkan tertawa dan antusias melihatnya mengejar mimpi-mimpi. Berbagai ekspresi juga ditampilkan Velove secara maksimal, salah satunya yang paling memorable adalah pada saat menjalani proses casting. Syailendra juga berhasil mengimbangi Velove dengan kekaleman dan kedewasaannya sebagai Dino yang cool. Chemistry keduanya juga terasa normal dan tidak dipaksakan. Berbagai peran pendukung lain juga terampil menjalankan fungsinya masing-masing walau dengan porsi yang sedikit.
Skenario yang ditulis oleh Ve Handojo ini runut dalam bercerita dengan menggunakan alur yang terus maju secara cepat. Nyaris tidak ada celah yang tidak penting untuk dilewatkan. Seakan semua elemen penceritaan memiliki makna sendiri yang mendukung plot cerita secara dinamis. Apalagi didukung lagu-lagu hit yang sudah sangat familiar sebagai latar belakangnya. Menarik!
Tak bisa dipungkiri, mungkin akan cukup sulit menjual Cewek Gokil di pasaran. Namun percayalah film ini fun untuk ditonton dan sebanding untuk menggantikan waktu anda yang berharga. Berbagai adegan slapstick dengan sound effect yang catchy dijamin akan mengembangkan tawa anda tanpa terkesan norak samasekali. Tanpa lupa beberapa pesan moral juga diselipkan secara ringan saja. Kekurangannya ya seperti yang sudah disebutkan di atas yaitu kemasannya yang terasa kurang “menjual” seakan produser tidak cukup percaya diri pada film ini untuk bisa mencatat hasil yang memuaskan.

Durasi:
80 menit

Movie-meter: