Showing posts with label iNAFFF. Show all posts
Showing posts with label iNAFFF. Show all posts

Tuesday, 6 December 2011

CARJACKED : Pembajakan Mobil Ibu Anak Pelarian Perampok

Tagline:
It's her car. Don't tell her what to do with it.


Storyline:
Berusaha memenangkan hak asuh Chad dalam persidangan menghadapi mantan suaminya Gary Burton, Lorraine menyewa pengacara handal. Sayangnya dalam perjalanan mengendarai mobil, Lorraine dan Chad dihadang oleh Roy yang baru saja merampok sebuah bank dan bertekad melarikan diri. Pembajakan mobil tak dapat dihindari dimana Lorraine harus menuruti setiap permintaan Roy atau nyawanya bersama Chad menjadi taruhan yang mahal harganya.

Nice-to-know:
Film yang mengambil lokasi syuting di Baton Rouge, Louisiana, USA ini rilis di Amerika Serikat pada tanggal 22 November 2011.

Cast:
Memulai karir aktingnya dalam Maintenance (1992), Maria Bello bermain sebagai Lorraine Burton
Tahun lalu sempat tampil dalam Somewhere, Stephen Dorff berperan sebagai Roy
Joanna Cassidy sebagai Betty
Connor Hill sebagai Chad Burton

Director:
Merupakan film kedua yang digarap John Bonito setelah The Marine (2006).

Comment:
Thriller bergaya road movie adalah salah satu sajian yang patut didukung oleh skrip yang baik dan karakterisasi yang kuat dari para tokoh-tokohnya. Sherry Compton dan Michael Compton melakukan usaha terbaiknya untuk menerjemahkan premis yang sederhana dimana hanya melibatkan seorang ibu dengan putra kecilnya berhadapan dengan sang penjahat yang membajak mobil mereka. Tiga orang yang bahu membahu selama lebih kurang satu setengah jam ini.

Stephen Dorff merupakan aktor berpengalaman yang jarang menampilkan akting di bawah standar. Peran Roy di tangannya tidak terlalu mengerikan walau cukup menyebalkan untuk dibenci penonton. Maria Bello juga aktris berkualitas yang selalu memberikan penjiwaan yang menarik. Kali ini Lorraine adalah seorang wanita biasa yang sedang mengalami hari buruk dimana sisi emosionalnya dituntut untuk bereaksi sesuai kenyataan yang bisa anda bayangkan.
Chemistry keduanya dalam bertukar dialog cukup mengesankan. Ketegangan dapat dijaga lewat serangkaian peristiwa kucing-tikus yang wajar. Bagaimana usaha Lorraine untuk mengelabui Roy merupakan poin yang menarik disini terutama perlawanan yang diberikan menjelang akhir cerita. Sebetulnya saya berharap lebih pada Connor Hill untuk bisa menyuguhkan twist yang unik, sayangnya hal tersebut tidak terjadi.

Sutradara Bonito gagal menampilkan kekerasan yang sama dengan The Marine. Ia memilih bermain aman dan menyajikan Carjacked sebagai tontonan ringan yang mudah diikuti. Thriller yang pada akhirnya mengecewakan para pecinta genre ini karena minimnya adegan seru ataupun gory di dalamnya. Predikat direct-to-dvd memang sulit dilepaskan oleh film ini karena nyaris tidak ada sisi kreatif yang dapat dijual selain adu emosi antara Dorff versus Bello disini.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 22 November 2011

FISFIC VOL. 1 : Enam Teror Omnibus Urban Lokal


@film_bioskop bekerjasama dengan akun @film_Indonesia membuka jalur khusus pemesanan DVD yang layak dikoleksi. Caranya mudah, cukup mention salah satu akun tersebut perihal ketertarikan judul yang diminati. Lalu kirimkan email ke official.filmIndonesia@gmail.com / official.filmbioskop@gmail.com yang menyertakan nama, alamat dan nomor telepon/ponsel yang dapat kami hubungi.

Untuk penawaran akhir bulan November ini ada "FISFiC Vol.1", sebuah film omnibus bergenre horor/thriller/fantasi yang baru saja diputar @iNAFFF pertengahan November 2011 lalu.

Agar lebih meyakinkan anda akan menariknya 6 film pendek garapan filmmaker masa depan Indonesia tersebut, silakan baca ulasan Database Film berikut:


Overview:
MEALTIME (20 min) by Ian Salim
”Surprising hidden agenda keeps u guessin. Consistent tone color added with good artistic. Catchy scoring music as well!”

Ian adalah sutradara yang pandai menyatukan konsep terlepas dari segala keterbatasan yang ada. Konsistensi warna yang digunakan menutupi kekurangan fokus kinerja kamera yang terkadang terlihat terlalu wide. Beruntung scoring music dari Albert Juwono berhasil menciptakan dinamika tersendiri untuk mempertahankan intensitas film.

Abimana Arya memang terlihat paling menonjol sebagai sipir bernama Sutisna dimana ekspresi kalutnya tertangkap dengan baik. Sayangnya terdapat beberapa pemotongan adegan yang menyebabkan eksplorasi hubungan antar karakternya menjadi sedikit terganggu. Satu sama lain terasa berakting sendiri-sendiri sesuai porsinya.

Khusus sobat saya, Josep Alexander. Pengalaman pertama ini patut disyukuri tetapi rasanya belum bisa dinilai banyak karena terlalu sedikitnya porsi yang diberikan dalam sebuah film pendek. Ada baiknya melatih mimik muka dan intonasi suara di kemudian hari karena amat kentara jika harus syut close-up scenes agar tidak terkesan datar.

Mealtime dengan misteri sipir-narapidana yang terjaga hingga akhir walau twistnya tidak luar biasa menempati peringkat 4 dalam Fisfic Vol. 1 versi Databasefilm.


RENGASDENGKLOK (19 min) by Dion Widhi Putra
“Rengasdengklok Interesting animation concept opens unimagineable thriller. Laughable till the end in a fun way experiment. “

Ide Yonathan Lim menyuguhkan sesuatu yang berbau nasionalisme jelas memiliki added value tersendiri apalagi dikaitkan dengan perjuangan kemerdekaan. Eksekusi Dion yang membuka thriller ini dengan sekelumit animasi kreatif juga patut diacungi jempol selain fakta bahwa penggunaan efek kamera lawas memang relevan dalam menghadirkan keotentikan gambar-gambar “tempo doeloe”.

Hosea Aryo, Surja, Ari dkk menyuguhkan akting seadanya tetapi tetap fun to watch, berulang kali membangkitkan senyum ataupun tawa penonton melihat wajah-wajah muda mereka dalam balutan kostum hijau tersebut. Make-up dan body language zombie-zombie ala Jepang di tengah hutan itu juga sedikit “tidak biasa” sebagai suguhan maut.

Rengasdengklok adalah terobosan peristiwa rahasia yang harus terjaga, fiktif tetapi provokatif menjadikannya ranking 5 dalam Fisfic Vol. 1 versi Databasefilm.


THE RECKONING (22 min) by Zavero G. Idris
“Has some very good editing and cinematography, not to mention the acts. I wish it was subtitles added.”

Zavero tampaknya terinspirasi dari gaya thriller penyanderaan bergaya documenter yang banyak digarap oleh sineas Hollywood. Demi melokalkan film pendeknya ini, maka digunakan sinematografi “hitam putih” ala Jonathan Hoo yang digabungkan dengan original score berbau musik tradisional dari Bhismo Kunokini. Pergerakan kameranya yang dinamis menyorot segala sisi ruang dalam sebuah rumah mewah ini memang menjadi kelebihan tersendiri.

Emil Kusumo mungkin mengingatkan anda akan Yama Carlos. Akting yang belum terlalu matang tetapi usahanya cukup terlihat maksimal. Nicole Jiawen Lee yang berwajah oriental terasa pas mengisi peran istri terabaikan yang seakan terpenjara dalam status rumah tangga belaka. Sebaliknya Katharina Vassar yang berwajah Indo itu teramat fasih berbahasa Inggris dan menjadikan dirinya villain yang unik.

The Reckoning cukup layak tonton dengan kinerja DoP yang ciamik menghadirkan teror metropolitan beresensikan perjanjian “tradisional” ini. Sayangnya penerjemahan konflik yang dirasa terlalu berlarut-larut membuat posisinya berada di urutan terbawah versi Database Film.


RUMAH BABI (22 min) by Alim Sudio
“Chinese horror style creates the perfect atmosphere. Great angles with sudden turns provide u memorable goosebumps!”

Alim adalah nama yang sudah mulai dikenal oleh pecinta film Indonesia karena keterlibatannya dalam beberapa proyek layar lebar sebelum ini. Oleh karena itu, cukup mengejutkan melihatnya muncul dalam kompetisi FISFiC yang notabene diperuntukkan bagi para pemula ini. Meski demikian, gaya dokumenter yang dikombinasikannya dengan horor amat berhasil membangun atmosfir menyeramkan yang dibangun oleh unsur gore dari manusia dan binatang itu sendiri.

Anwari Natari yang berpengalaman di panggung teater lumayan berhasil menghidupkan tokoh Darto, filmmaker ambisius yang mengabaikan hati nurani. Debut menarik Nala Amrytha yang bermain sebagai sang “korban” A Hun dengan kostum dan make-up yang amat mendukung perannya bahkan menyanyikan sendiri lagu berbahasa Mandarin gubahan Ng Su Chen yang kerapkali mendirikan bulu kuduk tersebut.

Rumah Babi yang sesungguhnya mengingatkan kita akan tragedi 1998 yang melibatkan etnis Cina itu secara konsisten mengajak penonton untuk benar-benar masuk ke dalam rumah kuno tersebut sambil menikmati sebagian kejutan tak terduga yang memantapkannya pada posisi teratas versi Database Film.


EFFECT (20 min) by Adriano Rudiman
“Nicely done from action to reaction sequential. Very urban characterization and storytelling. Sympathy for guilty feeling! “

Adriano Rudiman adalah salah satu nama yang patut ditunggu gebrakannya di masa depan. Citarasa filmmaker masa kini yang dimilikinya benar-benar terasa dalam short movie yang bergaya urban ini terutama dari kinerja kamera yang efisien dengan syut jauh dekatnya. Sekuensi cerita disuguhkan secara dinamis dimana scene demi scene tersusun rapi menggiring penonton untuk mengikuti hingga akhir.

Sita Nursanti menjiwai peran “killer boss” dengan meyakinkan lewat serangkaian bahasa tubuh, sorot mata sampai intonasi suara yang tegas. Sedangkan Tabitha menampilkan karakter wanita karir modern yang bercita-cita meningkatkan taraf hidupnya dengan kenaikan jabatan yang sudah berada di pelupuk matanya itu. Berbagai tokoh pendukung lain juga sukses menekankan arti “kerjasama” yang kompak satu sama lainnya.

Effect mencerminkan thriller mystery yang stylish mengenai isu dunia kerja yang seringkali tidak ramah bagi para profesional itu dengan sudut pandang yang memikat dan tidak biasa. Amat layak menaruhnya pada anak tangga ketiga versi Database Film.


TAKSI (16 min) by Arianjie AZ
“Horrifying incident with unpredicted twists. True engaging from start to finish. Again Shareefa rocks! “

Nadia Yuliani tampaknya memahami kesulitan kaum wanita saat sendirian dalam belantara ibukota di malam hari sehingga terciptalah sebuah skrip menarik bergaya feminis. Arianjie berhasil memanfaatkan ruang sempit di dalam sebuah kendaraan yang tengah berjalan dengan ciamik untuk menarasikan cerita dengan begitu alami. Bukan kebetulan juga jika setting lokasinya teramat familiar karena dekat dengan area perkantoran saya.


Shareefa sekali lagi membuktikan dirinya sebagai aktris spesialis thriller. Lihat bagaimana teraniayanya dia dalam situasi yang paling tidak diinginkannya. Tak kalah cemerlang adalah tiga pemeran pria yang berlaku sebagai “subyek” kali ini yaitu Hendra Louis, Manahan Hutauruk dan Alex Loppies dimana mereka benar-benar terlihat begundal dengan agenda tersembunyinya masing-masing.

Taksi menunjukkan apa arti intensitas tinggi yang dibutuhkan oleh sebuah film pendek untuk menyampaikan sesuatu terlepas dari sedikitnya waktu yang diberikan. Twist yang begitu mengejutkan menghadiahinya predikat nomor dua versi Database Film.

Durasi:
119 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Sunday, 20 November 2011

CLOSING INAFFF11 – INDONESIA INTERNATIONAL FANTASTIC FILM FESTIVAL 2011


Tanpa terasa sudah 10 hari penyelenggaraan iNAFFF11 Jakarta yang ditutup tepat pada tanggal 20-11-2011. Itu artinya pemutaran 57 show telah dituntaskan di bioskop Blitzmegaplex Grand Indonesia yang rata-rata dibanjiri penonton dengan antusiasme yang sangat tinggi, terutama dari kalangan pecinta horror dan thriller sejati.

Salah satu highlight tahun ini adalah FISFiC alias Fantastic Indonesian Short Film Competition yang awalnya diikuti oleh lebih dari 400 peserta lalu dipilih menjadi 25 besar sebelum disaring kembali menjadi 6 terbaik saja sebagai berikut:
- Meal Time (Ian Salim & Elvira Kusno)
- Rengasdengklok (Dion Widhi Putra & Yonathan Lim)
- The Reckoning (Zavero G. Idris & Katharina Vassar)
- Rumah Babi (Alim Sudio & Harry Setiawan)
- Effect (Adriano Rudiman & Leila Safira)
- Taksi (Arianjie AZ, Nadia Yuliani & Titis Sapto)

Di luar dugaan, sambutan media dan khalayak umum begitu tinggi terhadap 6 film pendek tersebut, terbukti 3x pemutaran tanggal 14, 15, 19 November tidak ada bangku kosong yang tertinggal! Setelah melalui penjurian ketat oleh Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans, Lala Timothy, Ekky Imanjaya dan Rusli Eddy maka diputuskan Taksi sebagai pemenangnya dan Rumah Babi sebagai special mention. Itu artinya Arianjie, Nadia dan Titis berhak mendapatkan kesempatan menggarap sebuah film pendek yang akan diproduseri oleh Lifelike Pictures untuk konsumsi publik periode 2012 mendatang.

Film penutup iNAFFF11 ini adalah The Raid yang bercerita mengenai misi sekelompok tim SWAT yang berusaha membekuk raja bisnis narkoba dalam sebuah bangunan “tak tersentuh” yang dijaga ketat oleh kawanan preman tangguh di setiap lantainya.

Kredibilitas Gareth Evans dalam menggarap The Raid membuat film ini sukses meraih penghargaan Midnight Madness Award dalam ajang Toronto International Film Festival 2011 yang diadakan di Kanada beberapa waktu lalu. Bahkan hak edar dan remakenya sudah dibeli oleh Sony Pictures sejak dini. Publik Indonesia baru berkesempatan menyaksikan The Raid pada medio April 2012. Harap bersabar menunggu kehadirannya di ranah negeri sendiri.


Malam penutupan berlangsung meriah apalagi dihadiri oleh sederetan tokoh negara maupun selebritis tanah air. Applause panjang pun mengiringi kemunculan credit title The Raid yang juga menandakan kepuasan penonton akan kualitas film yang dibintangi oleh Iko Uwais, Ray Sahetapy, Joe Taslim, Donny Alamsyah, Yayan Ruhian ini. Bagi publik Bandung, silakan cek website http://www.inafff.com dan meriahkan eforia iNAFFF11 di kota anda 25-27 November mendatang!

Friday, 18 November 2011

5th INDONESIA INTERNATIONAL FANTASTIC FILM FESTIVAL 2011


The Loft
Twist over twist over twist. You'll never get the whole picture until the very last end. Believeable "grey" characters are among us, people!
iNAFFF

The Incident
Feel the experiences inside the asylum. When insanity takes control, the worst is about to happen. Disturbing motion pictures!
iNAFFF

The Monk
Controversial between saint and sinners slow-paced drama. Vincent Cassel are damn good behind robes. Be careful what you wish for!
Not-iNAFFF

Surprise Movie
Thrillin cat & mouse acts with breathtaking cinematography over the mountain. Surviving gunshots are painful to watch
iNAFFF

Bellflower
Indie style. Strange love, frontal sex, brutal acts in a chaos post-apocalyptic world. Not for the sanity-caring people!
Not-iNAFFF

Absentia
Slow-paced horror with depressing tones. Some shocking scenes with unpredictable turns leave u guessin through the tunnel
Not-iNAFFF

Livid
French typical unique horror, beautifully crafted, artistically built. Creepy ballerina on song makes different in terrorize!
iNAFFF

Sennentuntschi
Hidden mystery involving many interesting characters. Engaging stacked plots with beautiful cinematography of Alps!
iNAFF

Hobo With A Shotgun
Puts maximum gore action to make u gags witnessing real chaos. Old Rutger Hauer's cold-blooded executor's awesome!
iNAFFF

Dark Souls
Too many turns which kinda confusing its genre between horror n thriller. Still has some few funny n scary moments indeed
Not-iNAFFF

Rabies
Slow start towards a series of unfortunate events that makes u feeling eery and depressed in ur seats. Crazy characters!
iNAFFF

The Cat
Draggin a short story into typical slow Korean horror for almost two hours. This time repetitive scary scenes work no wonder!
Not-iNAFFF

Claypot Curry Killers
Good approach but less intensity as a sick drama thriller. Nothing's more stronger than family bound afterall!
iNAFFF

Friday, 11 November 2011

OPENING INAFFF11 – INDONESIA INTERNATIONAL FANTASTIC FILM FESTIVAL 2011

Tanpa terasa sudah memasuki tahun kelima, ajang iNAFFF digelar di Blitzmegaplex dengan sponsor utama L.A. Lights yang berlangsung selama 10 hari di Grand Indonesia, Jakarta dilanjutkan dengan 3 hari di Paris Van Java, Bandung.


Opening speech dari Eddy Rusli, sang director iNAFFF.

Total film yang diputar adalah 35 judul dari negara-negara seperti Amerika, Inggris, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Malaysia, Belanda, Finlandia, Spanyol, Swiss, Swedia, Norwegia bahkan Israel serta tidak ketinggalan tuan rumah sendiri yaitu Indonesia yang diwakili oleh The Raid, FisFic Vol 1 dan The Perfect House.



Antrian panjang 30 menit menjelang pemutaran film pembuka iNAFFF11


Suasana Audi 1 sebelum film dimulai, full penonton!

Animo penonton yang begitu tinggi terlihat dari langsung ludesnya tiket presale beberapa show yang dibuka sejak tanggal 2 November 2011 itu terutama The Raid dan Surprise Movie. Penjualan tiket sendiri dapat dilakukan melalui online ticketing dan box office on spot dengan ketentuan yang berlaku masing-masing.


Seorang model dewa Yunani berkeliling melayani permintaan foto bareng pengunjung Blitz GI

Film pembuka iNAFFF11 di Blitzmegaplex Grand Indonesia ini adalah Immortals yang berkisah tentang Raja Hyperion yang kejam dan gila kekuasaan nekad menyatakan perang terhadap kemanusiaan dengan menciptakan sebuah armada tentara tangguh yang haus darah. Bukan hanya itu, ia bertekad menemukan Busur Epirus legendaris. Adalah sebuah ramalan yang menyebutkan akan adanya seorang manusia biasa yang mampu menghentikan Raja Hyperion itu bernama Theseus yang baru kehilangan ibunya dan tidak pernah mengenal ayahnya sendiri itu. Siapa yang memenangkan pertarungan pada akhirnya?

Sekadar catatan, Indonesia termasuk satu dari sedikit negara yang mendapatkan kesempatan pertama menayangkan Immortals dengan tanggal fantastis yaitu 11-11-11 dalam format reguler sekaligus 3D. Oleh karena itu, kita berhak merasa bangga bisa menyaksikannya terlebih dahulu dibandingkan negara-negara lain.

Jangan lupakan sederetan film keren lainnya yang bisa anda cek melalui website http://www.inafff.com atau information counter yang menyediakan booklet iNAFFF lengkap dengan resensi film dan jadwal tayangnya. Mari sukseskan event perfilman negeri sendiri yang terbilang sudah mapan ini!


Kawanan moviebloggers Indonesia yang menyempatkan diri berfoto setelah pemutaran film.

Monday, 1 August 2011

THE SNOW WHITE : Horor Janin Mayat Wanita Hamil


Storyline:
Dua siswa universitas yang bersahabat yaitu Yong dan Pong bisa dikatakan pecundang. Yong yang juga putra pengurus rumah sakit kesulitan mengatrol nilai-nilainya sedangkan Pong terobsesi menjadi penakluk gadis cantik klub malam. Keduanya tanpa sengaja menemukan cara untuk memenuhi keinginan masing-masing dengan cara melakukan ritual ilmu hitam yang menggunakan janin wanita yang sudah mati. Di sisi lain, pegawai rumah sakit Golf dan suster Oh tengah berencana menikah. Rumah sakit terkadang bisa menjadi panggung mengerikan bagi keempat insan tersebut.

Nice-to-know:
Berjudul asli Tai Tang Klom dan sudah dirilis di Thailand pada tanggal 23 September 2010 yang lalu.

Cast:
Pattaranan Deeratsamee sebagai Suster Oh
Atiwat Lamgul sebagai Golf
Nuttapong Chatpong sebagai Yong
Prinya Ngamwongwarn sebagai Pong

Director:
Sarawut Intaraprom yang sebelumnya menangani komedi romantis indie berjudul Boring Love.

Comment:
Sempat diputar dalam ajang iNAFFF 2010 yang lalu, Thailand tak henti-hentinya membombardir Indonesia dengan suguhan horor/thrillernya yang harus diakui jauh lebih baik dibandingkan produksi local. Itulah sebabnya masih dapat diminati para penonton kita yang membutuhkan tontonan bermutu dengan kultural yang tidak jauh berbeda.
Premis film ini harus diakui tidak banyak berbeda dari film-film Nayato, sutradara terproduktif kita itu. Setting rumah sakit yang menjadi backgroundnya plus cerita dua pemuda loser dan pasangan kekasih yang clueless. Yang baru hanyalah hantu wanita bunting yang dengan cerdasnya diperlihatkan dalam aksen warna hijau dengan perut membuncah dan separuh muka rusak yang cukup berhasil membangkitkan bulu roma.

Kelemahan utama film ini adalah bujetnya yang rendah sehingga sinematografinya terkesan murahan. Bukan berarti tidak mampu dimaksimalkan untuk menghasilkan sesuatu yang lebih artistik dengan teknik yang lebih baik. Hanya saja minus yang satu ini sangat mempengaruhi kualitas film secara keseluruhan. Bahkan janin bayi 8 bulan saja benar-benar terlihat seperti mainan lilin dengan ukuran super mini, bahkan berkali-kali ditunjukkan di atas kompor, tungku sate, kuah sop dsb. What the heck? Twist yang berusaha disembunyikan penulis skrip rasanya tidak terlalu sulit diterka oleh penonton. Semua petunjuk sudah mengarah kesana sejak memasuki pertengahan film. Beruntung masih ada satu scene tambahan sebelum credit title bergulir yang sedikit banyak menyelamatkan ending film ini dari keklisean serupa. Namun dengan konklusi demikian menyebabkan nyaris tidak ada tokoh yang patut mendapat simpati anda kali ini, sangat disayangkan.
The Snow White juga terkesan rancu dengan penggunaan judulnya yang entah mengacu pada siapa ataupun apa disini. Debut yang kurang meyakinkan bagi "Nannie" si cantik dari grup pop, Girly Berry. Kelebihan film ini jelas hanya pada sosok hantu wanita bunting yang inovatif bermain-main dengan pena, godam, janin atau usus sekalipun. Menjijikkan memang menyaksikannya tapi bukankah atraksi serupa yang ditunggu-tunggu penggila horor?

Durasi:
80 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Tuesday, 8 March 2011

RAMMBOCK : Muatan Zombie Citarasa Jerman

Storyline:
Menempuh perjalanan jauh dari Vienna ke Berlin, tujuan Michael cuma satu yaitu menemui mantan kekasihnya Gabi yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Namun begitu sampai di apartemen Gabi, Michael langsung disambut oleh zombie yang menyerangnya. Pontang-panting ia dibantu oleh seorang remaja bernama Harper untuk menyelamatkan diri. Situasi ternyata sudah berubah menjadi mencekam dimana bahaya mengancam dimana-mana. Berhasilkah Michael keluar dari mimpi buruk itu?

Nice-to-know:
Didistribusikan secara internasional oleh EastWest Distribution pada tahun 2010 yang lalu.

Cast:

Michael Fuith sebagai Michael
Theo Trebs sebagai Harper
Sebastian Achilles sebagai Kai
Ingrid Beerbaum sebagai Stimme
Carsten Behrendt sebagai Manni
Anna Graczyk sebagai Gabi

Director:
Merupakan feature film pertama bagi Marvin Kren setelah 3 film pendek yang dihasilkannya.

Comment:
Merupakan salah satu film yang mencuri perhatian pada ajang iNAFFF10 yang berlangsung di Blitzmegaplex beberapa waktu yang lalu. Nanti dulu jika anda pikir yang satu ini akan sejenis dengan film-film bertemakan zombie lainnya. Dikarenakan buatan Jerman bisa jadi hasilnya berbeda dari apa yang sudah-sudah.
Plot ceritanya sangat sederhana dan mudah diikuti. Langsung menuju sasaran tanpa berbelit-belit dengan tempo yang cukup cepat, tidak mencoba untuk terlihat terlalu pintar atau istimewa. Itulah nilai lebih film yang berjudul internasional Siege of the Dead ini sehingga penonton hanya duduk tertib dan menikmati suguhan yang disajikan saja.
Sutradara Kren dengan gemilang menyiasati bujet kecil yang dipercayakan padanya. Ia memaksimalkan ruang sempit antar unit apartemen untuk menjaga teror dari gerombolan zombie tersebut. Skrip minimum yang dieksekusinya terkesan membebaskan aktor-aktrisnya untuk bermain sewajarnya disini terutama Fuith yang berperan sebagai Michael.
Endingnya tergolong di luar dugaan karena menampilkan sebuah romantisme dalam cara yang aneh. Entahlah apakah ini didramatisasi atau sekadar keberanian untuk mewujudkan konsep “out-of -the-box-thinking”. Rammbock tetaplah sebuah karya non Hollywood yang cukup menegangkan untuk disimak, terlebih bagi anda zombie-mania untuk sekadar perbandingan.

Durasi:
60 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Tuesday, 22 February 2011

BLACK DEATH : Misteri Wabah Pro Anti Kristiani

Quotes:
Dark haired woman: Are you shy?
Mold:I am ugly, and I am Christian. And that is not a good combination in here, hm? Piss off.

Storyline:
Pada tahun 1348, Inggris dihancurkan oleh wabah Bubonic yang menyebabkan kematian massal di segala penjuru. Pendeta muda Osmund mengajak kekasihnya Averill untuk melintas desa terpencil di dekat Hutan Dentwich Forest yang belum dilalui wabah. Namun nasib kemudian memisahkan mereka. Osmund bergabung dengan perkumpulan Staveley Monastery yang beranggotakan Ulric dkk melewati hutan dan rawa tersebut sambil mendengar desas-desus bahwa ada suatu kekuatan yang melindungi orang-orang untuk selamat dari wabah. Apa yang mereka temukan kemudian terlebih pemimpin desa Hob dan penyihir Langiva tidak menerima mereka secara baik-baik.

Nice-to-know:
Awalnya peran Langiva sempat diberikan pada Lena Headey ataupun Famke Janssen sebelum Carice van Houten mendapatkannya.

Cast:
Mengawali karir aktornya dari serial televisi The Bill (1984), Sean Bean disini bermain sebagai Ulric.
Pernah mendukung The Other Boleyn Girl (2008), Eddie Redmayne sebagai Osmund
David Warner sebagai The Abbot
Carice van Houten sebagai Langiva
Kimberley Nixon sebagai Averill

Director:
Pria kelahiran Inggris bernama Christopher Smith ini sebelumnya menyutradarai Triangle (2009) yang ironisnya masih dalam jadwal tayang di Indonesia.

Comment:
Mengambil setting lanskap Jerman mulai dari Kastil Blankenburg hingga Querfurt, film Inggris menceritakan kurun waktu tahun 1300an dengan cukup meyakinkan. Sutradara Smith berhasil mengemas plot dan temponya dalam bercerita secara runut walaupun masih terdapat berbagai kekosongan.
Casting disini merupakan nilai kuat. Sebabnya para aktor Bean maupun Redmayne dan kawan-kawan bukanlah tipikal aktor Hollywood berwajah rupawan. Mereka terlihat kasar dan bengis selayaknya para prajurit yang sedang menempuh perjalanan. Sayangnya dari sisi para aktris terasa kurang maksimal dimana karakter yang dimainkan Nixon ataupun van Houten tidak memiliki kedalaman yang cukup.
Black Death juga diyakini akan memicu kontroversi disebabkan polemik antar kepercayaan yang dibahasnya dalam hal ini kaum Kristiani. Perdebatan pro dan kontra lebih banyak dipicu dari sisi kemanusiaan dan cara hidup mereka sehari-hari. Terasa masuk akal sebab pada masa itu, religion bukanlah hal utama yang dapat menjadi pedoman hidup manusia.
Cukup disesalkan endingnya yang terasa dipercepat dalam menit-menit terakhir. Seakan sketsa hasil coret-coretan yang belum selesai langsung diterjemahkan begitu saja menjadi bahasa gambar kosong yang dibantu narasi suara John Lynch. Namun berbagai adegan brutal yang miris untuk disaksikan rasanya cukup berbicara banyak dalam film yang bertemakan era Middle Ages ini.

Durasi:
95 menit

U.K. Box Office:
£128,668 till July 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Monday, 10 January 2011

NEW TOWN KILLERS : Permainan Kucing Tikus Taruhan Uang Nyawa

Storyline:
Di Edinburgh, remaja Sean Macdonald hidup nyaris tanpa tujuan bersama kakaknya Alice Kelly yang tiba-tiba berhutang 12,000 pounds pada orang-orang berbahaya yang kemudian memaksanya menjual obat di Amsterdam. Saat kebingungan, Sean dihubungi dua pria tak dikenal yaitu Alistair dan Jamie yang menawarkannya uang sejumlah sama untuk bermain kucing tikus. Terdesak akhirnya Sean menerima tawaran tersebut tanpa menyadari Alistair adalah pembunuh sadis yang tidak berperikemanusiaan. Berhasilkah Sean bertahan hidup tanpa memikirkan untuk memenangkan kompetisi ini?

Nice-to-know:
Merupakan proyek kerjasama dari Independent, Str8jacket Creations, Scottish Screen dan Screen East.

Cast:
Terakhir sempat muncul dalam Hitman (2007), Dougray Scott kini bermain antagonis sebagai Alistair Raskolnikov
Satu dari dua film yang diperankannya di tahun 2008 selain The Edge Of Love, Alastair Mackenzie sebagai Jamie Stewart
Angkat nama via serial televisi Casualty (2005-2007), James Anthony Pearson berakting sebagai Sean Macdonald
Liz White sebagai Alice Kelly
Charles Mnene sebagai Sam

Director:
Pria kelahiran Skotlandia bernama Richard Jobson ini menggarap film keempatnya yang dimulai dari 16 Years of Alcohol (2003).

Comment:
Tidak banyak film indie khas Inggris yang terdengar di telinga publik perfilman dunia selain karya-karya Guy Ritchie yang sekarang bisa dikatakan salah satu sutradara papan atas itu. Kini ada sebuah film yang sempat diputar dalam ajang iNAFFF10 yang lalu akhirnya tayang regular di Blitzmegaplex dengan bersetting kota Edinburgh.
Banyak sekali film bertemakan permainan berhadiah sejumlah uang yang berujung mematikan sebelumnya. Yang membedakan disini adalah subyeknya dua orang yang salah satunya berjiwa psikopat.
Sutradara Jobson cukup terampil bermain dengan scene cepat tanpa terkesan melelahkan. Sinematografinya tergolong konstan dengan warna dark orange yang berpadu kontras dengan kegelapan malam. Anda akan menemukan banyak twist yang berbelok-belok di sepanjang film meski fokusnya hanya di tiga aktor utama tersebut.
Penampilan Scott cukup meyakinkan sebagai Alistair sehingga penonton dibuat percaya kegilaan jiwanya yang seakan tak pernah terpuaskan. Sebaliknya Pearson berakting cukup baik sebagai Sean yang terlihat lemah tetapi nyatanya lincah dan cerdas seperti kancil. Keduanya mampu menerjemahkan kubu yang saling berlawanan dengan baik.
Satu-satunya cela yang dimiliki New Town Killers adalah kesulitan menutup film dengan brilian. Ending yang kita harapkan akan menjadi pamungkas nyatanya tidak terjadi. Sayang sekali mengingat perjalanan menuju kesana sudah dikonstruksikan sedemikian maksimal. Meski demikian action thriller ini diyakini mampu mengaduk-aduk emosi anda untuk tetap terjaga mengikuti perburuan sekaligus mengetahui siapa yang menang pada akhirnya. Berani bertaruh?

Durasi:
100 menit

U.K. Box Office:
$3,280 till mid Jun 2009.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 16 November 2010

MONSTERS : Perjalanan Panjang Keluar Dari Area Terinfeksi

Tagline:
Now, it’s our turn to adapt.

Storyline:
Enam tahun lalu, NASA menemukan bahwa ada kemungkinan alien hidup di dalam sistem geologi bumi kita. Sekelompok ahli dikerahkan untuk mengumpulkan sampel tetapi hancur lebur begitu memasuki Amerika Tengah. Selanjutnya, bentuk kehidupan baru segera dimulai dan setengah Mexico dikarantina sebagai “Daerah Terinfeksi”. Keadaan tersebut membuat pihak militer Amerika dan Mexico berjuang keras untuk memusnahkan komunitas “makhluk asing” tersebut. Pada saat itulah seorang jurnalis Amerika setuju untuk mengawal seorang turis melewati daerah terinfeksi di Mexico menuju perbatasan Amerika yang aman.

Nice-to-know:
Film ini disyuting di lokasi yang sesungguhnya dimana terkadang tidak meminta ijin terlebih dahulu. Segala ekstra yang ada merupakan kejadian sebenarnya di sana tanpa direncanakan sebelumnya.

Cast:
Whitney Able sebagai Samantha Wynden
Scoot McNairy sebagai Andrew Kaulder

Director:
Film layar lebar pertama Gareth Edwards setelah sebelumnya hanya terlibat dalam serial televisi dokumenter seperti Heroes and Villains – Attila the Hun (2008) dan Perfect Disaster – Solar Storm &/ Super Tornado (2006).

Comment:
Harus diakui daya pikat terbesar film ini adalah bagaimana memaksimalkan 15000 U.S dollar untuk membuat sebuah drama thriller sains fiksi yang baik hanya dilakukan oleh satu orang saja! Coba tanyakan Gareth Edwards yang bertindak sebagai penulis skrip, sutradara, kameraman, teknisi suara, spesial efek dsb yang nyatanya berhasil menghadirkan film ala Hollywood, bahkan lebih baik dari beberapa film kelas B sejenis, sebut saja Cloverfield.
Jangan harapkan sebuah blockbuster yang seru dan menegangkan karena anda akan kecewa, sebagaimana yang dirasakan sebagian penonton “umum” pada saat opening iNAFFF10 di Blitzmegaplex Grand Indonesia. Namun jika anda termasuk penonton “luar biasa” niscaya dapat menangkap esensi film ini dengan baik.
McNairy dan Able berakting cukup maksimal dengan melahap keterbatasan skenario yang diberikan pada mereka. Mungkin saja keduanya dapat menerjemahkan keseluruhan cerita hanya dalam 30 menit saja tetapi chemistry keduanya cukup menarik sehingga tercipta interaksi unik selayaknya romantisme antar dua orang asing walaupun dialog-dialog antar Sam dan Andrew masih tergolong kosong. Mereka tidak berusaha mengumbar kemesraan disini walau akhirnya berciuman juga pada endingnya.
Setelah lebih dari sejam audiens menahan “klimaks” yang tidak kunjung datang walau sudah berkali-kali terpancing, sutradara Edwards rupanya lebih menitik beratkan karyanya ini sebagai road trip movie dengan latar belakang sains fiksi. Sesuatu yang jarang sekali dilakukan karena dikhawatirkan akan merusak minat penonton. Itulah sebabnya film ini hanya rilis terbatas dimana-mana karena bukan mainstream movie yang bisa dijual begitu saja.
Meskipun sedikit membosankan, Monsters akan tetap merekatkan anda pada kursi masing-masing hingga berujung pada suatu konklusi yang menjelaskan penggunaan judul ini. Menurut pengertian saya, monster disini bukanlah sebagai obyek (alien), melainkan sebagai subyek (militerisme adi kuasa). Dimana seringkali pihak yang dominan justru lebih mengerikan tindakannya. Sebuah film alternatif yang menarik dengan sudut pandang yang berbeda. Pujilah “kemampuan super” seorang Gareth Edwards dalam menangani Monsters ini!

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$60,620 till early November 2010 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sunday, 14 November 2010

Quiz Databasefilm iNAFFF10 11-15 November 2010 telah ditutup!

Berikut adalah para pemenang yang masing-masing mendapatkan dua tiket nonton iNAFFF10 di Blitzmegaplex Grand Indonesia:
1. Sandra R
2. M. Firas B
3. Ivy F
4. Deden R
5. Dimas R

Saya ucapkan selamat bagi nama-nama di atas.
Silakan cek email masing-masing dan mohon dikonfirmasi kembali sebelum pukul 12.00 hari Senin tanggal 15 November 2010 ini.

Bagi yang belum beruntung kali ini, tetap pantau blog ini dan siapa tahu anda berkesempatan menjadi pemenang berikutnya dalam quiz-quiz mendatang!

SMS – Salam Movie Selalu! =)

Thursday, 11 November 2010

Best Horror Movies in Last 5 Years

Setelah saya melihat ke belakang perfilman nasional selama periode 2006-2010 rasanya cukup sulit menemukan banyak film horor/thriller berkualitas. Namun saya tetap harus membuat daftar tersebut. Mengapa? Sebab saya sangat sangat mencintai genre ini lebih dari apapun juga. Kita mulai saja ya:

Pintu Terlarang (2009)
”Harus diakui Joko Anwar cukup gila disini karena berhasil menjungkir balikkan fakta yang tersusun dalam benak penonton yang terbentuk setelah menyaksikan film ini sejak menit awal. Akting ciamik juga disodorkan Fachri Albar yang memiliki kompleksitas tersendiri dalam pikirannya. Tak lupa adegan berdarah juga disisipkan membuat film ini tak ada lawannya dalam 5 tahun terakhir!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Pocong 2 (2006)
”Meskipun tidak dapat dikatakan orisinil 100%, film ini berhasil menggedor batin para penontonnya dengan kemunculan pocong yang tak diduga-duga di sebuah apartemen yang didukung dengan musik yang tepat. Anda bisa rasakan ketakutan Risty Tagor disitu yang berpadu dengan kebingungan Revalina S Temat yang berujung pada suatu konklusi mengejutkan. Sebuah persembahan terbaik Rudi Soedjarwo untuk genre ini yang sayang prekuelnya tidak pernah tayang karena tidak lulus sensor!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Rumah Dara (2009)
The Mo Brothers sukses menciptakan genre slasher pertama di Indonesia dengan jajaran bintang yang ciamik termasuk Julie Estelle yang berdiri sebagai protagonis. Penjiwaan Shareefa Daanish sebagai ibu psikopat yang tidak mati-mati membuatnya kesohor sebagai sosok Dara hingga saat ini. Scene demi scene sadis yang bersimbah darah lewat pencahayaan indoor yang remang-remang dijamin membuat anda terkesiap dan geregetan menyusuri endingnya!”
Spooky-meter : 4 out of 5

Kuntilanak (2006)
”Meski logika ceritanya diragukan, film garapan Rizal Mantovani ini tetap sukses besar mengusung sosok kuntilanak berwujud wanita berkepala kuda yang muncul akibat pesugihan. Terbukti sebagai film lokal pertama yang diputar di bioskop kategori The Premiere di Senayan City pada waktu itu. Lagi-lagi Julie Estelle yang kali ini nekad menelusuri lorong gelap dan kamar tertutup asramanya yang angker itu untuk mencaritahu penyebab kematian misterius teman-temannya.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Pencarian Terakhir (2008)
Affandi Abdul Rachman menampilkan drama horor yang dibalut dengan kisah para pendaki gunung. Penggarapannya yang serius dengan penuturan yang teratur membuat film ini enak diikuti. Memasuki pertengahan, tensinya mulai meningkat terlebih setelah mengetengahkan konsep ‘dunia lain’ dengan sangat wajar tetapi mampu mendirikan bulu kuduk itu. Ingat sosok kakek-kakek di pondok terpencil? Lukman Sardi bersinar dalam memandu aktor-aktris lainnya disini.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Takut (2008)
”Lahir dari iNAFFF 2008, film ini digawangi oleh beberapa contributor filmmaker genre horor/thriller luar negeri. Namun pada akhirnya tetap dikerjakan oleh sutradara-sutradara tanah air seperti Riri Riza, The Mo Brothers dkk yang menggarap 6 cerita pendek dengan nuansa yang berbeda-beda mulai dari unsur tradisional, modern, futuristik membuat film yang juga berjudul Faces of Fear ini kaya cita dan rasa. Apalagi dijejali dengan bintang-bintang film tanah air semisal Marcella Zalianty, Shanty, Dinna Olivia dsb.”
Spooky-meter : 3.5 out of 5

Hantu (2007)
Adrianto Sinaga menggarap kisah para pecinta alam yang mencari sebuah telaga Setra Wingit. Tanpa diduga salah satu dari mereka menghilang dan korbanpun mulai berjatuhan akibat penunggu yang merasa terganggu. Sosok hantu yang tidak diforsir kehadirannya itu justru berhasil menghadirkan suasana mencekam. Tak lupa ada pesan moral yang disisipkan bahwa sikap yang egois dan mau menang sendiri dapat membahayakan dirinya sendiri, sahabat bahkan orang yang dicintainya. Oka Antara juga bersanding “manis” dengan Dhea Ananda disini.”
Spooky-meter : 3 out of 5

Lantai 13 (2007)
”Salah satu dari dua horor karya Helfi Kardit yang cukup berkualitas. Meski plotnya mirip dengan film Hongkong yang juga bersetting di gedung perkantoran tetapi sah-sah saja jika dapat digarap secara maksimal. Oleh karena itu diamini sebagai horor dewasa dimana para penontonnya kebanyakan karyawan yang bekerja di bangunan bertingkat tinggi dan mungkin pernah mengalami cerita-cerita aneh tersebut sendiri. Widi AB Three tergolong memikat kali ini menyuguhkan sosok karyawan baru yang lugu sekaligus idealis.”
Spooky-meter : 3 out of 5

Lawang Sewu (2007)
”Garapan Arie Azis ini sebetulnya tidak terlalu istimewa. Namun settingnya lah yang membuatnya spesial. Bangunan buatan arsitek Belanda di tahun 1908 bernama Lawang Sewu ini berdiri kokoh dan angker tepat di kawasan Tugu Muda, pusat Kota Semarang. Penonton mungkin lebih takut pada settingnya dibandingkan jalan cerita yang disodorkan di dalamnya sebab telah banyak mitos yang berhembus di sekitarnya. Namun rasanya melihat dua remaja eye catching yang berpasangan yaitu Marcell Darwin dan Thalita Latief juga rasanya cukup menarik ”
Spooky-meter : 2.5 out of 5

Sumpah Pocong Di Sekolah (2008)
”Trailernya sempat heboh mengisi jaringan bioskop 21 setiap sebelum pertunjukan dimulai. Boleh dikatakan eksperimen horor pertama Awi Suryadi dengan pendekatan siswa-siswi SMU. Walaupun banyak yang tidak menyukainya, saya tetap menganggap film ini menarik. Setiap sudut bangunan sekolah disyut dengan angle yang tepat sehingga menghasilkan visualisasi yang cukup meyakinkan mendekati keaslian yang pernah kita alami sehari-hari di masa bersekolah jaman dahulu. Unsur komedi juga cukup menonjol sehingga menjadi penyeimbang cerita. Penampakan dan tampilan hantu pada khususnya mendekati yang biasa disuguhkan horor Jepang/Korea sehingga beberapa orang menyebutnya jiplakan. Hm..“
Spooky-meter : 2.5 out of 5

Sebetulnya posisi 8-10 masih cukup berimbang dengan posisi 11-15 nya secara berurutan yakni
11. Legenda Sundel Bolong (Hanung Bramantyo)
12. Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko)
13. Dikejar Setan (Harry Dagoe)
14. The Real Pocong (Hanny R Saputra)
15. Lentera Merah (Hanung Bramantyo)

Bagaimana menurut pendapat anda?

Tinggalkan komentar anda di bawah ini atau tweet langsung dengan mention databasefilm via Twitter.
Komentar yang saya terima di atas tanggal 14 November 2010 tidak disertakan dalam kompetisi free ticket iNAFFF10.

Wednesday, 10 November 2010

QUIZ Databasefilm 11-15 November 2010

Dear all readers,

Dapatkan 2 tiket gratis nonton iNaFFF 2010 untuk 5 pemenang dengan mengikuti quiz ini. Caranya simpel dan mudah saja!

Tinggalkan komentar terbaik anda pada feature artikel "Best Horror Movies in Last 5 Years" yang akan dipublish pada http://databasefilm.blogspot.com hari Jumat tanggal 12 Nov.

Bagi yang memiliki account Twitter bisa follow @databasefilm dan tweet langsung komentar kalian kepada saya dalam 160 karakter/tweet.

Deadline hanya sampai tanggal 14 Nov dan jangan lupa untuk meninggalkan email address anda untuk dihubungi lebih lanjut.

Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Nov untuk jadwal pengambilan tiketnya.

Selamat mencoba! Siapa tahu anda yang beruntung!!

Footnote:
Quiz ini terbuka untuk siapa saja, tetapi diutamakan bagi yang berdomisili di Jabodetabek dan dapat menuju lokasi Blitzmegaplex Grand Indonesia pada waktu yang ditentukan untuk pengambilan tiketnya.

Quiz yang diadakan untuk merayakan 50,000 visitors blog databasefilm ini murni inisiatif pribadi tanpa kerjasama dengan pihak manapun dan bertujuan mempromosikan program iNAFFF 2010 yang juga didukung oleh Blitzmegaplex.