Tuesday, 30 October 2012

LOE GUE END : Teror Misterius Kaum Jetset Ibukota



Quotes: 
Fifi: Alkohol gak bahaya kok, lebih banyak orang yang mati gara-gara obesitas..

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Ganesha Perkasa Film ini gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 30 Oktober 2012.

Cast: 
Dion Wiyoko sebagai Radit
Nadine Alexandra sebagai Alana
Dimas Beck sebagai Timo
Manohara Odelia sebagai Vira
Claudia Hidayat sebagai Adriana
Tracy Shuckleford sebagai Santika
Amanda Soekasah sebagai Zara Zettira
Kelly Tan sebagai Lina

Moudyzania sebagai Fifi
Ray Sahetapy sebagai Ayah Alana

Director: 
Merupakan film kesepuluh bagi Awi Suryadi setelah terakhir Simfoni Luar Biasa (2011).

W For Words: 
Partying in cinemas everywhere. Dari poster dan tagline tersebut sudah jelas, film ini bertemakan kehidupan malam sekelompok muda-mudi yang doyan party. Tentu anda mengira sudah bisa menduga isinya secara keseluruhan, tidak jauh-jauh dari seks, alkohol dan narkoba. Eits, nanti dulu! Adaptasi novel berjudul sama karangan Zara Zettira ZR ini setidaknya masih berupaya memberikan twist tersendiri di akhir cerita. Tidak percaya? Buktikan sendiri karya terbaru Awi Suryadi dengan sederetan aktris muka baru di samping dua aktor utama yang telah dikenal sebelumnya.

Novelis tersohor, Zara Zettira kehilangan gairah menulis sepulang dari Kanada walau didesak asistennya, Vina. Suatu ketika, ia menerima email-email misterius dari seseorang bernama Alana yang berkisah tentang kaum jetset Jakarta lengkap dengan segala intrik-intriknya. Alana tidak pernah mengenal ibunya selain ayahnya yang dokter bedah sibuk. Teman-temannya adalah pecandu anak Jaksa Agung – Timo, desainer kesepian – Fifi, pekerja kantoran ganteng – Radit, bandar narkoba lesbian – Lina, guru TK yang hobi fly – Yosi dan sosialita narsis – Vira. Teror dari Santika secara tak langsung menewaskan mereka satu per satu. Apa hubungannya dengan masa lalu Alana?

Skrip yang juga ditata oleh Archie Hekagery ini memiliki lubang besar yang menganga. Perkenalan singkat terhadap masing-masing karakternya tidak otomatis membangun karakterisasi apalagi sampai membuat penonton berpikir, si A ini gue banget, si B ini temen gue dsb. Lantas untuk apa perkenalan jika pada akhirnya satu persatu menemui "pintu keluar"nya? Penjelasan di paruh terakhir pun dilakukan oleh karakter-karakter yang awalnya tidak ada. Seakan anda tengah belajar bersama di ruang kelas lalu tiba-tiba 1-2 orang tak dikenal masuk dan menerangkan semua pelajaran yang dibutuhkan. Anda semua lantas akan berujar, “Ha?”

Beruntung materi yang miskin itu mampu ditutupi oleh sang sutradara. Suryadi Musalim alias Awi berupaya semaksimal mungkin menampilkan production value yang sangat mendukung. Niat baiknya terlihat dari storytelling yang lumayan asik dengan insert-insert dinamis yang memberi penegasan nuansa kehidupan malam itu sendiri. Lagu tema dari Koil dan Saint Loco memang cadas tapi tergolong pas dengan nyawa film ini, berbaur dengan tata musik Ricky Lionardi dan tata suara Khikmawan Santosa. Editing akhir dari Harris Reggy dipadukan dengan pemakaian spesial efek di beberapa bagian.

Karena kedangkalan karakteristik, tak banyak kapabilitas yang bisa dilihat dari aktor-aktrisnya. Mereka hanya berlalu lalang, bertingkah laku dan berdialog sesuai kebutuhan peran. Nadine lah satu-satunya yang mendapat kesempatan bereksplorasi secara luas. Tokoh Alana di tangannya memang belum cukup freak dan paranoid. Namun usahanya untuk keluar dari peran gadis baik-baik "minggu lalu" bolehlah diapresiasi. Cukup menarik menyaksikan debut dua nama yang sudah saya dengar sebelumnya yaitu Kelly dan Manohara . Semoga ada kesempatan berikut bagi keduanya.

Loe Gue End berusaha keras mengaburkan genre dengan mencampur adukkan unsur thriller, horor, drama sejak menit pertama bergulir. Hal tersebut tak ayal malah membingungkan penonton yang merasa logikanya terjebak sedari awal. Semakin sedikit yang anda tau, rasa penasaran anda akan bertambah besar. Akhir kata, film ini tak lebih dari sekadar iklan layanan masyarakat dengan durasi yang lebih panjang beserta contoh-contoh yang eksplisit. Namun perlukah generasi muda disadarkan dengan presentasi semacam ini? Pertanyaan yang akan memunculkan jawaban yang berbeda-beda jua.

Durasi: 
75 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Saturday, 27 October 2012

FRANKENWEENIE : Stop-Motion Heart Beats From Burton


Quotes: 
Susan: He was a great dog, a great friend.
Ben: The best dog a kid could have.
Susan: When you lose someone you love, they never really leave you. They move into a special place in your heart.
Victor: I don’t want him in my heart. I want him here with me.
Susan: I know. If we could bring him back we would.

Nice-to-know: 
Kolaborasi ketiga antara Winona Ryder dan Tim Burton setelah 21 tahun lalu lewat Edward Scissorhands (1991).

Cast: 

Charlie Tahan sebagai Victor Frankenstein 
James Hiroyuki Liao sebagai Toshiaki 
Atticus Shaffer sebagai Edgar 'E' Gore 
Catherine O'Hara sebagai Mrs. Frankenstien / Weird Girl / Gym Teacher 
Martin Short sebagai Mr. Frankenstein / Mr. Burgemeister / Nassor 
Martin Landau sebagai Mr. Rzykruski 
Winona Ryder sebagai Elsa Van Helsing 
Robert Capron sebagai Bob 

Director: 

Merupakan karya ke-28 bagi Tim Burton yang memulainya lewat short movie The Island of Doctor Agor di tahun 1971.

W For Words: 
Jika The Cabin in the Woods (2011) dianggap sebagai tribute terhadap film horor klasik maka film ini dapat dikatakan homage terhadap film monster klasik yang bukan kebetulan hadir dalam format animasi hitam putih 2D, 3D bahkan IMAX. Daya tarik utama tentunya ada pada sang kreator, Tim Burton yang telah menggagas ide ini sejak 28 tahun lalu lewat film pendek bertitel sama. Biar lambat asal selamat mungkin peribahasa yang paling tepat menggambarkan antusiasme publik terhadap adaptasi skrip yang kemudian dikembangkan oleh John August dan Leonard Ripps sejak tahun 2006 tersebut .

Sekolah dasar New Holland telah menggalakkan pekan ilmiah. Salah satu siswanya Victor adalah anak penyendiri yang punya ketertarikan besar terhadap sains bersama anjing setianya Sparky. Mr. & Mrs. Frankenstein menyuruh putranya untuk keluar rumah dan berolahraga. Inilah awal tragedi terjadi, kala Victor bermain baseball, Sparky tewas tertabrak mobil. Duka yang mendalam berganti menjadi harapan di kelas Mr. Ryzykruski ketika penjelasan terhadap energi petir dikemukakan. Eksperimen Victor di luar dugaan berhasil membangkitkan kembali Sparky hingga menimbulkan kericuhan pada seantero kota. 

Animasi ini masih berjalan dalam tradisi Burton, visualisasi gelap misterius, moralitas kontradiktif serta konsep kematian dan kehidupan seiring sejalan. Berbagai referensi dari Beetlejuice (1988), Edward Scissorhands (1990), A Nightmare Before Christmas (1993), Corpse Bride (2005) mungkin akan anda temui disini. Usaha Burton menampilkan nuansa 50an yang kental melalui kompleks perumahan dengan pekarangan retro terbilang berhasil. Konsep stop-motion animasi black and white yang dikerjakannya pada akhirnya dikonversi ke format 3D oleh Prime Focus World.

Tak salah jika anda menganggap kisah ini gabungan dari Lassie dan Frankenstein yang telah melegenda itu. Hubungan Victor dan Sparky seakan terbagi dalam 3 babak dengan ruang lingkup yang semakin luas. Pertama, anda akan melihat kasih sayang murni seorang anak laki-laki dan seekor anjing normal di sebuah rumah. Kedua, berganti menjadi sosok anjing monster yang segera menjadi kontroversi di sekolah. Ketiga, bertambahnya sosok hewan-hewan monster yang menimbulkan polemik di masyarakat. Disinilah persahabatan, persaingan dan pengorbanan akan menjadi ujian yang paling berharga.

Dengan dukungan pengisi suara kompeten macam O’Hara, Short, Landau, Ryder, Hiroyuki Liao, Shaffer hingga si kecil Tahan menjadikan Frankenweenie terasa hidup! Arah blockbuster movie yang dituju di paruh terakhirnya sebelum ditutup ala Hollywood memang sedikit mengaburkan esensi klasik personal yang terbangun sejak menit pertama. Tidak perlu dipermasalahkan jika drama, komedi, horor nya berjalan seimbang di atas titian makna keluarga dan persahabatan yang kuat. Mengandalkan hati dan detak jantung, Burton pun sukses menghadirkan animasi universal bagi semua kalangan usia. By the way, 2D is enough to watch.

Durasi: 
87 menit

U.S. Movie Box Office: 
$28,238,779 till October 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 26 October 2012

I LOVE YOU, MAS BRO : Drama Nanggung Komedi Garing


Quotes:
Alim: 
Sorry bro, gua gak punya bakat boring kayak loe.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya diadakan di fX Platinum XXI pada tanggal 23 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Andhika Pratama sebagai Bagus
Ramon Y Tungka sebagai Alim
Cecep Reza sebagai Rizky
Tya Ariestya sebagai Alia
Tamara Tyasmara sebagai Max
Joe P-Project sebagai Boss Boss
Bobby Samuel sebagai Vina
Yurike Prastica sebagai Ibu Vivi
Alfie Alfandi sebagai Tanto
Mayang Naomi sebagai Meta
Epy Kusnandar sebagai Notaris

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Raymond Handaya yang sebelumnya lebih banyak bertindak sebagai astrada dan asisten produser.

W For Words: 
Cassandra Massardi boleh dikategorikan sebagai penata skrip yang sukses mengingat sudah nyaris 20 film ditanganinya termasuk yang satu ini. Beragam topik yang saling berkolaborasi mulai dari cinta, keluarga, persahabatan kembali ditampilkan. Namun apakah cukup kreatif untuk setidaknya membuat penonton berpaling dan tertarik menyaksikan drama persembahan Rapi Films ini? Sutradara debutan pun ditunjuk untuk menangani dua aktor yang sudah malang melintang di jagat perfilman nasional selain sederetan aktor-aktris baru yang turut menyemarakkan suasana.

Empat saudara yang kesemuanya laki-laki yaitu Bagus yang juling kala menatap cewek, Alim yang rajin mendatangi masalah, Rizky yang otaknya kurang maksimal, Vina yang kecewek-cewekan hingga kerap berdandan tumbuh bersama sejak kecil. Alim yang lebih dekat dengan adik-adiknya tak jarang menimbulkan kecemburuan dalam diri Bagus. Saat kecelakaan mobil merenggut nyawa kedua orangtua mereka, Bagus dan Alim harus mencari cara masing-masing demi bertahan hidup apalagi seorang mafia misterius dan konco-konconya mulai datang menagih hutang lima ratus juta rupiah.

Satu hal yang paling fatal dalam film ini adalah sisi humor yang coba digali tapi berujung garing. Komedi situasi antar empat bersaudara sudah terlalu sering diperlihatkan sebelumnya dimana sejak awal Bagus, Alim, Rizky dan Vina sudah dikondisikan sesuai karakteristik tipikal masing-masing. Mungkin ini adalah penampilan terburuk Joe P-Project yang biasanya kocak dengan spontanitasnya. Bagaimana tidak, tokoh Bos yang dimainkannya sibuk memberi instruksi bodoh pada anak buahnya atau berbicara dengan burung nuri yang juga didubbing suaranya.

Unsur dramanya pun tidak kuat. Alasan mengedepankan sosok Alim di dalam keluarga tidak berjalan wajar. Ketegaran Bagus, Alim, Rizky dan Vina dalam menjalani hidup setelah kematian orangtuanya juga tidak terlihat bersungguh-sungguh.  Kehadiran Alia, Meta dan Max terkesan sebagai pengalih dari kejenuhan, padahal sosok keduanya sebagai love interest Alim, Bagus dan Vina sebenarnya mampu menghadirkan konflik serius tersendiri andai digali lebih dalam. Penyimpulan berbagai subplot yang berkembang di akhir cerita terbilang instan, lagi-lagi tanpa nyawa yang dibutuhkan.

Begitu banyaknya nama-nama berbakat yang mendukung tidak satupun memberikan kesan yang berarti. Sulit menyebutkan secara pasti salahnya dimana. Skrip? Sutradara? Atau ada faktor lain? Ramon yang umumnya mencuri perhatian, Andhika yang biasanya memiliki karisma tidak jua mampu keluar dari st
ereotype bad boy dan good boy yang melekat pada mereka. Apabila harus memilih, Tya dan Bobby setidaknya masih berakting lumayan dalam menyembunyikan perasaan mereka dalam-dalam sambil tetap berusaha memberikan sinyal kepada orang yang disukai. 

I Love You Mas Bro memang bukan drama komedi hancur lebur. Faktanya, ia masih ada dalam tahap tontonan standar. Lupakan elemen action basa-basi yang kontinuitasnya pantas dipertanyakan itu. Berbagai intrik dan twist yang tertata di sepanjang durasinya sudah bisa diduga dari awal. Itu sebabnya beberapa penonton memilih untuk meninggalkan gedung bioskop lebih dahulu sebelum film benar-benar berakhir. Sebagai ilustrasi, jika melihat dialog yang serba klise dan gagal total dalam bertutur, rasanya anda sudah bisa menerka kesalahan utama ada pada siapa. Sorry to say.. I cannot love you, mas bro!


Durasi: 
99 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Thursday, 25 October 2012

SANG MARTIR : Pesan Moral Terhimpit Berat Muatan


Quotes: 
Rangga: Gua ga ngebunuh, gua ngebela diri.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Starvision ini screeningnya dilangsungkan di Hollywood XXI pada tanggal 22 Oktober 2012 yang lalu.

Cast: 
Adipati Dolken sebagai Rangga
Nadine Alexandra sebagai Cinta
Tio Pakusadewo sebagai Rambo
Ray Sahetapy sebagai Jerry
Henidar Amroe sebagai Hj Rosna
Tity Qadarsih sebagai Mama Jerry
Jamal Mirdad sebagai H Rachman
Astri Nurdin sebagai Istri Jerry
Widy 'Vierra' sebagai Lili

Director: 
Merupakan kali keempat, Helfi Ch Kardit menyutradarai film yang ditulisnya sendiri setelah terakhir Mengaku Rasul : Sesat (2008).

W For Words: 
MARTIR berarti SAKSI yang berasal dari bahasa Yunani, μαρτυρ. Umumnya digunakan dalam konteks yang berhubungan langsung dengan umat Kristiani. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan pemakaian kata ini untuk sebuah judul film lokal. Namun seorang Helfi melakukannya dengan satu benang merah yaitu kesaksian yang berujung pada pengorbanan. Premis yang mungkin mengingatkan anda pada Tanda Tanya (2011) milik Hanung Bramantyo dari buah pemikiran Titien Wattimena. Interpretasi berbeda tentunya bisa memperkaya khasanah pemahaman itu sendiri.

Rangga besar di sebuah panti asuhan milik Haji Rachman dan istrinya Hajjah Rosna. Kasus pemerkosaan yang menimpa anak panti bernama Lili membuat Rangga terbakar emosi dan membunuh sang pelaku yang merupakan adik Rambo, kepala preman yang berkuasa. Hukuman 3 tahun penjara dijalani Rangga di bawah lindungan Pendeta Josep. Sekeluarnya dari sana, Rangga menjadi incaran anak buah Rambo yang ingin membunuhnya. Kepala geng preman lain, Jerry yang juga musuh bebuyutan Rambo memberi perlindungan pada Rangga dengan agenda tersembunyi di belakangnya.

Selama lebih dari satu setengah jam durasinya, Helfi sibuk menjejali pikiran penonton dengan isu-isu politik, ekonomi hingga sosial budaya yang tak jarang menyentuh S.A.R.A. Semua headlineyang biasa anda temui di surat kabar muncul di sini, sebut saja penyelundupan narkoba, kasus korupsi, perebutan wilayah kekuasaan, tindakan nepotisme, kesenjangan sosial, perbudakan anak yang dijadikan pengemis di atas dua plot besar yang bergulir yaitu pertikaian antar geng (Rambo dan Jerry) serta percintaan berbeda agama (Rangga dan Cinta).

Penyutradaraan Helfi sendiri berjalan pada rel yang benar. Saya menghargai upayanya untuk mencoba sesuatu yang lain di luar genre komedi/horor belakangan ini. Narasinya terbilang berjalan mulus dengan pembagian frame yang cukup rapat di antara subplotnya. Panggung demi panggung pun disiapkan untuk menjadi “lahan bermain” para karakternya. Sayang begitu banyak yang masuk ke layar rupanya tak diimbangi dengan karakteristik yang mendalam. Padahal aspek ini amatlah dibutuhkan penonton untuk benar-benar terintrusi dengan jalinan konflik yang ada. Hasilnya?  Datar tanpa impresi.

Adipati membawakan peran Rangga dengan misi besar. Bagaimana rentang waktu panjang yang dialami sedikit banyak membentuk karakternya sedemikian rupa. Ia cukup berhasil tapi belum maksimal. Menarik menyaksikan Tio dan Ray ada di pihak yang berseberangan dengan segala karakter “jadi”, dua orang yang hidup untuk mengambil resiko demi menjalankan apa yang mereka yakini terlepas dari unsur benar atau tidaknya. Minimnya porsi Nadine sebagai Cinta sangat disayangkan mengingat relativitas hubungannya dengan Rangga seharusnya bisa digali lebih. Masih banyak nama-nama berbakat lain yang tidak cukup mendapat kesempatan.

Sang Martir patut dipuji karena masih mampu menyampaikan misi dan aspirasinya yang mulia yaitu meluruskan pandangan umat beragama untuk bertindak dan bertingkah laku sebagaimana mestinya serta menegaskan konsekuensi pilihan hidup yang diambil seseorang. Kekerasan dalam film ini tergolong cukup dominan walaupun sebetulnya tidak perlu secara eksplisit. Andaikata Helfi mau mempersempit “ruang lingkup” bahasannya, kemungkinan fokus cerita akan lebih maksimal dengan pengantaran pesan moral yang lebih efektif. Sayang beribu sayang memang.

Durasi: 
98 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Wednesday, 24 October 2012

ALEX CROSS : Underpar Action Unimportant "Cross" Rebuilt


Tagline: 
Don’t ever cross Alex Cross.

Nice-to-know: 
Idris Elba sedianya mengambil alih peran Alex Cross dari Morgan Freeman dimana ia pernah membintangi film Tyler Perry yang berjudul Daddy's Little Girls (2007).

Cast: 

Matthew Fox sebagai Picasso
Tyler Perry sebagai Dr. Alex Cross
Rachel Nichols sebagai Monica Ashe
Giancarlo Esposito sebagai Daramus Holiday
Edward Burns sebagai Tommy Kane
Jean Reno sebagai Leon Mercier


Director: 

Merupakan feature film kesebelas bagi Rob Cohen setelah The Mummy: Tomb of the Dragon Emperor (2008).

W For Words: 
Masih membekas dalam ingatan saya betapa piawainya seorang Morgan Freeman membawakan tokoh Dr. Alex Cross dalam Kiss The Girls (1997) dan Along Came A Spider (2001). Entah apa yang ada di pikiran QED International, Envision Entertainment Corporation, IAC Productions, James Patterson Entertainment untuk menghidupkan karakter tersebut dengan bintang.. Tyler Perry? Marc Moss yang juga menulis skrip tahun 2001 itu kini bertandem dengan Kerry Williamson untuk menerjemahkan novel milik pencetus aslinya yakni James Patterson yang berjudul Cross.

Dr. Alex Cross adalah detektif pembunuhan kawakan yang didukung oleh tangan kanannya, Tommy Kane dan kekasihnya, Monica Ashe. Suatu ketika seorang pembunuh sadis yang dikenal dengan sebutan Picasso muncul dan menebar teror kesakitan dari penyiksaan. Korban pertamanya adalah wanita kaya, Fan Yau Lee dimana pebisnis Jerman, Erich Nunemacher menjadi target berikutnya. Dr. Alex Cross mengendus petunjuk yang ditinggalkan sang pelaku dan berupaya membongkar motif sesungguhnya di balik semua kasus kejahatan ini. 

Entah mengapa saya merasa filmmakers lebih memihak pada tokoh antagonis dibanding protagonis. Ini tidak wajar! Sejak menit pertama kemunculannya, Picasso lebih mencuri perhatian dengan sisi psikopat berdarah dingin yang meyakinkan. Sedangkan Alex Cross tidak mencerminkan sosok detektif cerdas yang sigap. Empatinya terhadap rekan kerja, ibu, istri dan anaknya sendiri pun tidak terlihat hangat. Elemen aksi dan misteri di tiga puluh menit pertama sebetulnya menjanjikan, intensitas suspensinya menurun di tiga puluh menit kedua sebelum berantakan di paruh terakhirnya.

Rob Cohen memang berpengalaman dalam menyutradarai film action. Namun hal itu tidak menjamin kualitas film yang lebih mendekati kelas B dengan dialog cheesyini. Endingnya yang mengambil lokasi di Bali dengan sedikit penggunaan bahasa Indonesia mungkin akan menarik bagi penonton kita meskipun terkesan dipaksakan demi menyimpulkan berbagai plot yang dikembangkan sejak awal. Keputusannya untuk meminimalisasi CGI mungkin harus dibayar mahal mengingat beberapa adegan aksi disini kentara memakai stuntman dengan set lokasi yang terlalu standar pula.

Perry bukanlah aktor buruk tapi ia harus jeli memilih peran. Detektif Alex Cross, sang jagoan intelek jelas bukan untuknya. Bahkan Fox melakukan tugas yang lebih meyakinkan dengan sorot mata tajam dan perawakan mengerikan, terima kasih pada kerja kerasnya dalam memahat tubuh walaupun tidak sekalipun nama karakternya disebut dalam film. Burns dan Nichols tidak memiliki pengaruh apa-apa sebagai sidekick dimana screentimenya juga minimal. Begitupun dengan Reno yang tiba-tiba muncul dan merasa berkewajiban menjelaskan semuanya.

Alex Cross tidak terasa sebagai thriller cerdas high profile seperti dua pendahulunya, melainkan drama kepolisian biasa dengan misi sulit dan balas dendam yang kental tanpa lupa menyebut unsur seksualitas yang cukup eksplisit di bagian prolog. Klimaks yang biasanya menyelamatkan sebuah film kali ini berdampak sebaliknya. Narasi penutup yang terburu-buru,  fokus yang hilang hingga rangkaian penjelasan yang tidak masuk akal mungkin saja menamatkan karakter Cross dalam film untuk selama-lamanya. All i can say, this is under par. So, Morgan Freeman, Ashley Judd and Monica Potter were much luckier that time!

Durasi: 
101 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:
 

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Tuesday, 23 October 2012

STUDENT OF THE YEAR : Extravagant Competition For Love and Honor


Quotes: 
Ashok Nanda: You can either be rich, or a chamcha.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Dharma Productions dan Red Chillies Entertainment ini rilis di Indonesia bersamaan dengan India dan Amerika Serikat yaitu 19 Oktober 2012.   

Cast: 

Sidharth Malhotra sebagai Abhimanyu Singh
Varun Dhawan sebagai Rohan
Nanda
Alia Bhatt sebagai Shanaya Singhania
Sana Saeed sebagai Tanya
Asrani
Rishi Kapoor sebagai Dean Yoginder Vasisht

Ronit Roy sebagai Pelatih Karan Shah
Ram Kapoor sebagai Ashok Nanda
Manjot Singh sebagai Dimpy
Sahil Anand sebagai Jeet Khurana
Kayoze Irani sebagai Sodo

Boman Irani                       

Director: 
Merupakan film kelima bagi Karan Johar setelah My Name Is Khan (2010).

W For Words: 
Sekolah seringkali menjadi panggung bercerita yang asyik dalam sebuah film. Salah satu referensi berkualitas terdahulu adalah film lawas Mansoor Khan berjudul Jo Jeeta Wohi Sikandar (1992) yang dibintangi oleh Aamir Khan, Ayesha Jhulka dan Deepak Tijori. Kali ini Karan Johar, pria kelahiran Bombay 40 tahun lalu yang juga peraih beberapa penghargaan lokal dan internasional atas beberapa film-film sebelumnya berupaya “meremajakan” karyanya dengan menampilkan bintang-bintang muda di barisan terdepan dan memperkenalkan mereka sebagai MURID!

ST Teresa di Dehradun merupakan sekolah papan atas sekaligus pertemuan siswa-siswi kaya atau berprestasi. Kepala sekolahnya Yoginder Vasisht adalah gay yang jatuh cinta pada pelatih olahraga. Penyokong dananya seorang pebisnis kejam dimana putranya, Rohan Nanda bersekolah disana dengan segudang fasilitas mewah. Kekasih Rohan, Shanaya Singhania juga siswi populer. Kedatangan siswa baru dari luar negeri, Abhi yang penuh talenta membuat Rohan merasa tersaingi. Puncaknya terjadi pada saat kompetisi tahunan siswa terbaik yang menjadi penentuan segalanya. 

Skenario Rensil Dsilva memang tidak anyar. Dua lelaki yang saling bersaing untuk seorang gadis dan juga sebuah piala. Sub konflik lain adalah hubungan ayah dan anak yang tidak mulus hingga konsep frenemies diantara beberapa karakter utama pelajarnya mengingat standar tinggi yang sudah ditetapkan sejak awal di sekolah bergengsi yang tidak mengenal kata bodoh dan miskin tersebut. Dialog karangan Niranjan Iyengar juga sebetulnya tidak terlalu kreatif tapi cukup untuk menghadirkan drama klise, romansa tipikal sambil sesekali melontarkan humor praktis. 

Sutradara Johar lagi-lagi bersikap perfeksionis. Sinematografi Ayananka Bose yang megah, editing Deepa Bhatia yang memikat, musik Vishal-Shekhar yang dinamis lengkap dengan koreografi energik sudah menegaskan hal tersebut. Nomor soundtrack macam Vele, Ishq Wala Love, The Disco Song dengan mudah melekat di kepala anda. Tampilan ST Teresa yang luar biasa mulai dari aula, lorong, taman hingga kolam renang standar Olimpiade rasanya mampu mengundang murid manapun untuk bersekolah disini. Pendekatan flashbackmaju mundur reuni “tak terencana” yang mengambil rentang waktu sepuluh tahun sejak perayaan 25 tahun sekolah mengingatkan anda pada hal serupa dalam 3 Idiots (2009).

Indahkan pertanyaan-pertanyaan anda mengenai karakterisasi yang sangat textbook layaknya dalam pakem Glee atau High School Musical. Bagaimana Abhi yang awalnya masuk karena beasiswa mampu mengikuti gaya hidup jetset. Bagaimana Rohan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya setelah meninggalkan rumah. Bagaimana Shanaya menentukan pilihan hati yang sebenarnya. Selain itu karakter siswi kutu buku, siswa gendut, siswi oportunis dan siswa tangan kanan juga menjelma dalam diri Dimpy, Sodo, Tanya dan Jeet yang stereotype hilir mudik di sela aksi ketiga tokoh utamanya tersebut.

Malhotra dan Dhawan mungkin terlihat lebih tua untuk peran siswa tapi keduanya jelas mampu menyajikan esensi rivalitas dan bromance yang menarik. Malhotra mungkin lebih mudah menarik simpati karena ada di posisi underdog selain ketulusan hatinya, Dhawan harus diakui lebih luwes dalam berdansa di samping keteguhan hatinya membuktikan diri, Bhatt cukup konsisten memerankan gadis innocent yang bergelimang harta di luar prestasi yang patut dipertanyakan. Scene stealer jatuh pada Kapoor yang terampil menokohkan kepala sekolah ambisius yang tak jarang bertingkah komikal.

Student of the Year memang tidak akan menjadi film terbaik tetapi tak dipungkiri salah satu yang paling menghibur tahun ini. Penampilan para debutan yang memikat setidaknya mengesampingkan plot cerita yang  cukup timpang. Apresiasi tinggi untuk kinerja sutradara kawakan K Jo yang tahu betul bagaimana memaksimalkan apa yang ia punya. Jangan lewatkan presentasi masa muda yang penuh gejolak tatkala mengejar cita, cinta sekaligus berusaha menjadi yang terdepan. This is an example of extravagant movie should be with eye-candy and ear-catchy on its’ side. Like it!

Durasi: 
146 menit

India Box Office: 
Rs 25.25 crore till mid October 2012

Overall: 
8.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 22 October 2012

DREDD : Judgment Couldn’t Be Any Harder Tasks


Quotes:
Judge Dredd: Negotiation's over. Sentence is death.  

Nice-to-know: 
Tidak seperti film Judge Dredd sebelumnya, Karl Urban menegaskan bahwa helmnya tidak akan dilepas mengacu pada karakter dalam buku komiknya.  

Cast: 

Karl Urban sebagai Judge Dredd
Olivia Thirlby sebagai Anderson
Lena Headey sebagai Ma-Ma
Jason Cope sebagai Zwirner
Rakie Ayola sebagai Chief Judge
Warrick Grier sebagai Caleb
Wood Harris sebagai Kay
 


Director: 

Pete Travis memulai debut layar lebarnya lewat Vantage Point (2008).

W For Words: 
Jika Judge Dredd (1995) yang dibintangi Stallone menawarkan begitu banyak aksi kekerasan yang menyenangkan penikmat film tapi tidak memuaskan pecinta komiknya, maka produksi DNA Films, IM Global, Reliance Big Pictures ini berusaha seimbang. Meski didasari pada karakter utama hasil rekaan John Wagner dan Carlos Ezquerra, saya tidak setuju jika produksi 2012 ini dikatakan sekuel apalagi remake. Keduanya boleh dikatakan berdiri sendiri dan dapat dinikmati masing-masing terlepas dari setting Mega City One yang masih melatarbelakanginya.

Kejahatan merajalela di Mega City One.  Kumpulan polisi urban yang dikenal sebagai “Judges” punya hak untuk menimbang, memutuskan dan mengeksekusi para kriminal di tempat. Salah satu diantaranya adalah Dredd yang tengah melatih si pemula, Cassandra Anderson yang juga seorang cenayang. Epidemi obat bius “Slo-Mo” yang seakan menurunkan kecepatan waktu membuat keduanya sepakat mengobrak-abrik Peach Trees, apartemen 200 lantai yang dihuni oleh ribuan orang termasuk geng pengedar kejam yang disebut Ma-Ma Clan.

Skrip yang ditulis oleh produsernya langsung, Alex Garland ini akan mengingatkan anda pada The Raid : Redemption (2012) milik Gareth Evans. Elemen-elemen seperti apartemen kumuh, penghuni kriminal, penguasa kuat sekaligus pengedar luas yang berdiam di lantai atas memang familiar. Pembedanya adalah pertukaran peluru atau granat yang menggantikan pergantian jurus atau pisau. Selain sosok protagonis Dredd yang terlihat lebih tangguh dengan kepribadian yang lebih dingin, bertandem bersama Anderson yang terkesan lemah dengan perhitungan yang lebih matang. Kombinasi yang menarik, bukan?

Sutradara Travis mengandalkan tempo cepat demi menutupi minimnya sekuens aksi kasat mata. Hal ini dilakukan mengingat Dredd dan Anderson saja sudah kalah “jumlah” dan “modal” dari pihak antagonisnya. Efek CGI juga digunakan secara efektif untuk memperlihatkan konstruksi ledakan dan bombardir senjata canggih yang diinginkan penonton pecinta action. Jangan lupakan berbagai visualisasi cantik slow motion sehingga detail adegan “keras” tersaji dengan baik termasuk gory things macam tumpahan darah, hamburan anggota tubuh dsb.

Urban yang tidak pernah melepaskan helmnya mampu mempertahankan kesan dingin Dredd di balik kostum dengan suara berat dan pergerakannya yang mantap di sepanjang film. Thirlby berhasil menciptakan karakter dilematis yang menarik dalam diri Anderson terutama imajinasi “penglihatan” nya yang tak jarang kelewat batas tersebut. Headey sukses menjiwai penjahat sadis berkelamin perempuan bernama Ma-Ma yang tampak garang dengan codet di pipi dan sorot matanya yang tajam terlepas dari kemampuan bertarung yang tidak terlalu sepadan.

Dredd yang juga unggul dari set futuristik diantara chaos yang tercipta di masa depan mungkin akan membuat anda beruntung untuk tidak hidup dalam kondisi seperti itu. Entah alasan apa yang dikemukakan distributor sehingga publik Indonesia tidak berkesempatan menyaksikannya dalam format 3D padahal sisi artistik yang terbangun oleh sekuens pengaruh Slo-Mo terbilang memberikan pengalaman baru. Kesampingkan fakta bahwa plot film ini sesungguhnya tipis karena konsistensi brutalitas selama durasinya berjalan membuat anda teramat peduli pada duet Dredd dan Anderson, bertahan hidup sebagai penegak hukum atau mati sebagai pahlawan!

Durasi: 
95 menit

U.S. Movie Box Office: 
$13,157,045 till October 2012

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:





Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sunday, 21 October 2012

END OF WATCH : Heroism Charm Against Realism Crime

Quotes:
Mike Zavala: My Grandmother said, "If you can live without her, then man-up and cut her off. Don't string her along."

Nice-to-know:
Dua karakter utama dalam film berdasarkan kisah nyata petugas LAPD, Charles Wunder dan Jamie McBride yang bertandem di Divisi Newton pada pertengahan hingga akhir tahun 90an

Cast: 

Jake Gyllenhaal sebagai Brian Taylor
Michael Peña sebagai Mike Zavala
Natalie Martinez sebagai Gabby
Anna Kendrick sebagai Janet
David Harbour sebagai Van Hauser
Frank Grillo sebagai Sarge


Director: 

Merupakan film ketiga David Ayer setelah Street Kings (2008).

W For Words: 
Buddy cop movies. Berapa banyak judul hadir sebelumnya dengan premis serupa? Beberapa berkesan, beberapa tidak. Kombinasi dua orang yang berasal dari ras berbeda sejauh ini paling efektif mungkin ada pada Training Day (2001), The Fast and the Furious (2001), S.W.A.T. (2003) atau Rush Hour (1998). Konflik narkoba, senjata api serta pertentangan antar geng tentunya tidak asing lagi bagi seorang David Ayer yang hidup di South Central. Itulah sebabnya film produksi Exclusive Media Group, Emmett/Furla Films, Hedge Fund Film Partners, Le Grisbi Productions, Crave Films dan Envision Entertainment Corporation ini menarik untuk ditonton.

Dua petugas LAPD, Mike Zavala dan Brian Taylor ditugaskan berpatroli di South Central Los Angeles. Misi yang tidak mudah mengingat tingkat kejahatan tinggi yang berhubungan dengan narkoba, senjata api hingga human trafficking. Mike sendiri tengah menunggu istrinya Gabby melahirkan sedangkan Brian baru saja berkencan dengan Janet. Persahabatan mereka tak jarang diuji ketika harus melindungi satu sama lain termasuk ancaman pembunuhan yang datang setelah keterlibatan keduanya dalam pertikaian antar geng berbahaya.

Skrip film ini secara tak langsung menegaskan kekhawatiran masyarakat untuk dapat hidup tenang di kota besar seperti Los Angeles. It’s sad but true. Maraknya aksi kejahatan tak terduga tergambar lewat serangkaian kejadian dari yang ringan seperti laporan kehilangan anak dari keluarga junkie sampai yang disturbing seperti kawanan orang terpenjara untuk komoditas human trafficking. Itulah sebabnya para petugas polisi ditempatkan di Divisi dan Area masing-masing untuk berjaga-jaga. Tempo yang lambat terkadang membuat film ini menjadi terlalu episodik layaknya serial televisi mingguan.

Sutradara Ayer awalnya menggunakan konsep found-footage dari kamera yang terpasang di saku Brian. Gambar-gambar hasil shaky cam memang tak nyaman di mata tetapi berhasil menangkap realitas dengan nyata. Sudut pandang orang pertama semacam video game seakan langsung mengajak anda berpatroli menjelajah kompleks rumah/apartemen yang dianggap mencurigakan sambil menerka baha apa yang kira-kira mengancam. Sayangnya ia tidak cukup konsisten dengan gaya tersebut karena seiring film berjalan, format standar orang ketiga mulai dipakai untuk menyelaraskannya. 

Beruntung akting luar biasa Gyllenhaal dan Peña mampu menutupi kekurangan naratif tersebut. Anda akan menyukai sosok Mike dan Brian di sepanjang film serta mau peduli dengan bentuk kehidupan pribadi yang mereka jalani masing-masing. Chemistry bromance di antara keduanya pun tercipta melalui tokoh pria tangguh memesona Gyllenhaal dan family man sensitif Peña yang saling bertukar cerita baik serius maupun becanda. Aktris favorit saya Kendrick juga tidak mengecewakan sebagai kekasih pintar, pula Martinez yang menjelma sebagai istri suportif. Jangan lupakan penampilan berbagai tokoh antagonis kejam yang akan memancing emosi anda.

End Of Watch bisa saja menjelma sebagai crime thriller yang membosankan dengan dramatisir disana-sini. Namun karakterisasi yang kuat dari tokoh-tokoh utamanya meniadakan hal tersebut. Pertukaran peluru dan aksi pengejaran mungkin tidak sebanyak atau seintens yang anda harapkan tapi percayalah setiap subplot disini memiliki sesuatu untuk dikatakan. Saya sedikit menyesalkan tipikal ending yang “memihak” macam ini, di luar logika yang seharusnya terjadi. Ya, stereotype polisi kotor setidaknya bisa terhapus lewat heroisme Zavala dan Taylor kali ini. For seconds, you might believe that it’s a reality show.

Durasi: 
109 menit

U.S. Movie Box Office: 
$36,374,223 till October 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 20 October 2012

FRIENDS WITH KIDS : True Love, Marriage And Parenting In Discuss


Quotes: 
Ben: So, why didn't you guys ever even try to get together?
Jason Fryman: It's too much familiarity. It's like she's one of my limbs.
Ben: And that's bad, because...?
Jason Fryman: Because I hate myself.

Nice-to-know: 
Kristen Wiig, Maya Rudolph, Chris O'Dowd dan Jon Hamm semuanya pernah tampil bersama dalam Bridesmaids (2011).   

Cast: 

Adam Scott sebagai Jason Fryman
Jennifer Westfeldt sebagai Julie Keller
Maya Rudolph sebagai Leslie
Chris O'Dowd sebagai Alex
Kristen Wiig sebagai Missy
Jon Hamm sebagai Ben
Edward Burns sebagai Kurt
Megan Fox sebagai Mary Jane



Director: 
Jennifer Westfeldt yang lebih dikenal sebagai aktris ini memulai debut penyutradaraannya.

W For Words: 
Pernikahan bagi pria dan wanita di kota besar seperti New York mungkin bukan lagi sebuah tuntutan karena dapat mengubah kehidupan masing-masing. Tagline “Family doesn't always go according to plan“ dikemukakan dengan lugas oleh penulis skrip Jennifer Westfeldt yang juga menyutradarai dan membintangi sekaligus. Sayangnya film yang diproduksi oleh Locomotive, Points West Pictures dan Red Granite Pictures ini malah rilis terbatas di pasaran Amerika Serikat itu sendiri sehingga publisitasnya tidak terlalu luas apalagi diketahui luas oleh masyarakat.

Julie dan Jason adalah dua sahabat karib yang bertahan melajang di saat teman-teman mereka, Missy dan Ben serta Leslie & Alex sudah menikah. Tuntutan usia membuat keduanya mengambil keputusan gila yaitu melahirkan anak dan membesarkannya bersama! Lahirlah seorang putra bernama Joe. Awalnya pembagian tugas berjalan lancar sampai Jason berjumpa gadis idamannya yang juga aktris, Mary Jane dimana Julie bertemu lelaki impiannya yang juga duda beranak, Kurt. Akankah status mereka tetap seperti itu walaupun tuntutan perasaan dan masa depan semakin mendesak?

Skrip Westfeldt yang dikembangkan dari panggung teater ini sangat akurat dan relevan dengan kondisi kehidupan modern. Ben dan Missy adalah contoh nyata bahwa hubungan yang berapi-api di masa pacaran pada akhirnya bisa padam juga setelah memasuki jenjang pernikahan. Alex dan Leslie adalah umpama lain bahwa keharmonisan rumah tangga umumnya mulai luntur semenjak kehadiran anak. Pertukaran dialog di antara keenam orang dewasa mengenai karir, pernikahan dan membesarkan anak ini terbilang tajam, menertawakan sekaligus menohok dengan teramat jujur.

Kehidupan lajang tak jarang berarti kebebasan mencari pasangan termasuk urusan seks sekalipun. Konsep easy get, easy gobanyak terjadi di masa sekarang yang serba egosentris ini sehingga membuat orang berubah menjadi “petualang” yang pada akhirnya mengindahkan kebutuhan berumah tangga. Jason adalah pria egois penyuka wanita seksi berdada besar sedangkan Julie adalah wanita sensitif pendamba pria kebapakan berpostur tinggi. Tanpa disadari sosok pasangan ideal yang selalu mereka cari itu sesungguhnya tak ada karena sesempurna apapun pasti memiliki kekurangan yang hakiki.

Saya mengagumi interaksi Westfeldt dan Scott disini. Mereka tampak saling melengkapi dengan plus minus dan pendirian masing-masing. Audiens akan jatuh cinta pada karakter keduanya sejak menit pertama. Lihat bagaimana perubahan emosi Jason ataupun Julie yang sangat bergantung pada timing seakan menegaskan peribahasa “A right person at the right moment”. O’Dowd dan Wiig juga mampu mencuri perhatian di setiap kemunculan mereka tanpa mengecilkan arti Rudolph dan Hamm. Sedangkan Burns dan Fox mampu menokohkan “perfect match” bagi Julie dan Jason sesuai talenta masing-masing.

Friends With Kids jelas komedi romantis wajib tonton di tahun 2012 bagi bff (best friends forever), terlebih penggunaan sudut pandang seimbang dari pria dan wanita ini. Peran seorang anak jelas penting sebagai perekat rumah tangga walau ironisnya kerapkali dianggap lebih penting daripada suami/istri itu sendiri. Pro dan kontra terhadap nilai keluarga dan struktur pembentuknya pun tak luput menjadi perhatian anda sehingga memberikan perspektif baru bagi yang (kebetulan) belum menjalani fase tersebut. Tenang, isu utama yaitu pencarian cinta sejati tak lantas tenggelam karenanya. Speaking about true love, marriage and parenting? Reality does bite!

Durasi: 
107 menit

U.S. Movie Box Office: 
$7,250,054 till June 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 19 October 2012

PACARKU KUNTILANAK KEMBAR : Premis Daur Ulang Komedi Horor Gagal


Quotes:
Bodo: Seksi seksi.. Loe liat lukisan Monalisa aja mimisan!

Nice-to-know: 
Diproduksi oleh Studio Sembilan.

Cast: 
Nikita Mirzani sebagai Rosa/Rosi
Nicky Tirta sebagai Budi
Rizky Mocilsebagai Bodo

Director: 
Merupakan film keempat Nuri Dahlia di tahun 2012 setelah Mama Minta Pulsa.

W For Words: 
Jika biasanya ada trio pinpinbo, maka kali ini cuma ada dua. Jika biasanya ada satu sosok hantu, maka disini menjadi dua. Pada akhirnya sama saja toh? Produser tetap membayar 4 orang dengan asumsi Nikita Mirzani mendapat bayaran dobel atas peran gandanya, lumayan buat tabungan selama doi ada di bui. Oops, no offense. Ya, penulis skrip yang sepertinya ghost writer itu kembali lagi dengan gagasan horor komedi tematik yang sudah kadaluarsa semenjak kuntilanak bisa panjat pohon. Kapan itu terjadi jangan tanyakan pada saya.

Alkisah Budi yang ndeso berkawan dengan Bodo yang sesuai namanya. Keduanya kos dan kuliah di tempat yang sama serta melakukan aktifitas bersama-sama pula mulai dari mengumpulkan tugas ke dosen, menghindari tunggakan uang kos hingga cari pacar dengan kriteria di atas standar seharusnya. Alangkah senangnya saat pulang dari acara Kampus Nite di Seven Fly, keduanya bertemu Rosa dan Rosi yang bersedia menjadi pacar mereka tanpa syarat. Sesungguhnya kedua gadis cantik seksi itu adalah jelmaan kuntilanak kembar yang tengah menuntut balas pada Arnold dkk.

Kekuatan utama film ini jelas ada pada komedi yang tercipta lewat interaksi Budi dan Bodo dan horor yang terangkat melalui teror yang dilakukan Rosa dan Rosi. Saya harus katakan, keduanya gagal secara persentase keseluruhan. Hanya satu dua trik yang masih berhasil memancing tawa atau rasa takut. Selebihnya? Meh! Dialog garing dengan lelucon yang tidak lucu mendominasi layar, sama buruknya dengan spinning zoompenampakan rupa buruk kuntilanak berulang-ulang. Teknik terakhir ini mengingatkan saya terhadap kebodohan yang dilakukan KK Dheeraj dalam Genderuwo (2006).

Rupanya Rizky Mocil telah benar-benar melepaskan ciri khasnya selama ini yaitu rambut keriting kribo dan kacamata frame besar. Keputusan yang salah karena seiring perubahan itu, nuansa komediknya juga berkurang drastis. Yang tersisa tinggal suara sengau  yang tetap berupaya keras melontarkan humor spontan non efektif. Gantinya Nicky Tirta yang kali ini dikacamatai dan diubah aksennya menjadi Jawa kental. Kelambanan dan kepolosannya sedikit lebih menyenangkan tapi tak jarang berlebihan sehingga malah terkesan kemayu. Satu catatan positif, setidaknya Rizky dan Nicky cukup berhasil membangun chemistry.

Bagaimana dengan Nikita Mirzani? Ratu sensasi ini seperti halnya dalam Nenek Gayung (2012) ikhlas menokohkan manusia dan hantu sekaligus. Busana ketat nan minim yang menonjolkan payudara dan lekuk tubuhnya memang dianggap masih menjual. Namun stereotype aktingnya masih belum berubah. Teror yang dilakukan pun sangat sederhana, menipu calon korban dengan wujud cantik, berubah menjadi kuntilanak berwajah seram sebelum mengayunkan sabetan mautnya. Fungsi tokoh lain di luar mereka berempat sebatas numpang lewat saja demi memperpanjang durasi. Tidak heran!

Pacarku Kuntilanak Kembar adalah degradasi karya seorang “Nuri Dahlia”. Contoh nyata bagaimana industri ini tampak begitu putus asa dalam menelurkan konsep horor komedi yang fresh demi menjaring penonton dengan cara yang rendah. Premis daur ulang yang hanya akan menorehkan catatan hitam dalam sejarah perfilman Indonesia ini bahkan sudah salah dari penggunaan judul, “Pacarku” sebetulnya lebih tepat diganti dengan “Pacar kita” karena mengambil sudut pandang dua orang sekaligus yaitu Budi dan Bodo. Pada akhirnya, saya pun cuma bisa berucap, “Kasihan!”

Durasi:
90 menit

Overall: 
6 out of 10

Movie-meter:

Thursday, 18 October 2012

GRABBERS : Enjoyable Creature Horror In Campy Ways


Quotes: 
Dr. Adam Smith: This is something completely different, something alien! In that it's undocumented, not from, you know...  

Nice-to-know: 
Sebelum syuting, sutradara Jon Wright mengajak Richard Coyle dan Ruth Bradley keluar minum dan memfilmkan keduanya saat mabuk. 

Cast: 

Richard Coyle sebagai Garda Ciarán O'Shea
Ruth Bradley sebagai Garda Lisa Nolan
Russell Tovey sebagai Dr. Adam Smith
Bronagh Gallagher sebagai Una Maher
Louis Dempsey sebagai Tadhg Murphy

Lalor Roddy sebagai
Paddy Barrett


Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Jon Wright setelah Tormented (2009).

W For Words: 
Produksi keroyokan Forward Films, High Treason Productions, Irish Film Board, Nvizible dan Samson Films ini (lagi-lagi) mengetengahkan serbuan alien dalam wujud sejenis gurita. Ide yang muncul saat penulis skrip Kevin Lehane berkeliling dunia ala backpacker mendengar mitos bahwa memakan sejenis vitamin B yang disebut Marmite dapat menghindari gigitan nyamuk. Kala itulah ia berpikir bagaimana jika nyamuk mabuk setelah menyedot darah manusia. Premis itu kemudian dikembangkan menjadi skenario film Inggris berbujet 4 juta Poundsterling!

Sesuatu dari luar angkasa jatuh di perairan Irlandia yaitu kawanan gurita haus darah yang bisa meneror seantero warga di Pulau Erin. Petugas Garda lokal, Ciaran O’Shea bekerjasama dengan Lisa Nolan berupaya memecahkan misteri tersebut dengan mempelajari makhluk yang hanya bisa bertahan hidup dengan darah dan air itu. Ide gila yang muncul dari si pemabuk O’Shea adalah mengunci warga di bar Marley dan mengadakan pesta minum agar darah mereka terkontaminasi alkohol yang diyakini akan mematikan kawanan makhluk tersebut. Berhasilkah rencana tersebut? 

Harus diakui, gagasan film ini memang what the f*ck alias gila! Sutradara Wright mengeksekusinya dengan pas. Minimnya bujet memang terlihat dari sinematografi Trevor Forrest yang ala kadarnya, mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 80-90an. Meski demikian intensitas thriller tetap terjaga yang terkadang diselingi oleh komedi situasi yang tidak direncanakan. Visual dan spesial efek  “gurita” jantan dan betina beserta telur-telur dan bayi-bayi mereka setidaknya terlihat meyakinkan di layar, menciptakan teror tatkala dibutuhkan mulai dari cipratan darah hingga kepala menggelinding.

Tokoh-tokoh dalam film ini juga norak dengan keunikan masing-masing. Dr. Adam Smith yang spontan dan pelaut Paddy Barrett yang eksentrik akan membuat kening anda berkerut dengan tingkah mereka. Belum lagi deretan aktor-aktris uzur yang seliweran dengan amat fun nya. Namun perhatian penonton jelas jatuh pada duet Garda yang likeable, O’Shea dan Nolan yang chemistrynya secara pas dihidupkan oleh Coyle dan Bradley. Pada akhir film, anda akan berseru untuk mereka dalam perjuangannya mengalahkan gurita jantan raksasa itu bagaimanapun caranya.

Berbagai referensi  lawas juga dipunyai film ini. Anda akan melihat beberapa homagesbaik dari adegan ataupun percakapan seperti  The War of the Worlds (1953), Jaws (1975), Alien (1979), Gremlins (1984), Tremors (1990) serta yang terbaru Slither (2006). Lupakan kemiripan premis karena unsur alkohol lah yang membuatnya berbeda! Semakin mabuk maka tingkah laku dan celotehan para penghuni pulau di pesisir ini akan semakin tak terduga, semakin membuat anda terpingkal meskipun tak semua lrish jokes tersebut dapat diterima oleh nalar.

Grabbers terbukti setia pada pakemnya yang tidak berusaha ambisius. Jenis hiburan yang sejak awal disetel ke level medium dan berhasil mencapainya dengan baik. Anda boleh menertawakan plotnya, mengolok-olok logikanya, memandang rendah production value nya tetapi pada akhirnya mengakui bahwa sisi hiburan film yang diputar pada Edinburgh Film Festival ini amat memadai. Pesan saya cuma satu, jangan berharap terlalu tinggi. Grab this movie before it’s over. You will know how to get drunk and have some fun moments.

Durasi: 
94 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent