Sunday, 8 August 2010

FEMALE AGENTS : Aksi Spionase Wanita Perancis Terhadap NAZI

Storyline:
May 1944, sekelompok wanita Perancis yang tergabung dalam pelayanan publik sekaligus kaum pemberontak masing-masing Jeanne, Suzy, Gaelle, Maya diminta bekerjasama dalam Operasi Eksekutif Khusus Inggris yang dipimpin oleh janda Louise Desfontaines dan adiknya Pierre. Misi mereka adalah menyelamatkan tentara geologis Inggris yang tertangkap di Pantai Normandy serta membunuh kolonel Jerman, Heindrich yang memegang rahasia misi Phoenix yang akan segera dijalankan. Sebuah tugas yang tidak mudah dan bisa jadi mengorbankan banyak hal dalam hidup masing-masing.

Nice-to-know:
Berjudul asli "Les femmes de l'ombre".

Cast:
Sophie Marceau sebagai Louise Desfontaines sudah memulai akting di film Perancis berjudul The Party (1980).
Julie Depardieu sebagai Jeanne Faussier
Marie Gillain sebagai Suzy Desprez
Déborah François sebagai Gaëlle Lemenech
Moritz Bleibtreu sebagai Karl Heindrich
Julien Boisselier sebagai Pierre Desfontaines

Director:
Jean-Paul Salomé terakhir mengarahkan Sophie Marceau dalam Belphégor - Le fantôme du Louvre (2001).

Comment:
Jika anda pernah menyaksikan aksi spionase beberapa pria yang saling bekerjasama menjatuhkan musuh dalam hal ini Nazi, bayangkan sekelompok wanita yang melakukannya dan terciptalah film ini. Anda akan melihat kecantikan berpadu dengan ketangkasan dengan sisipan adegan nudis yang menjurus seksualitas tentunya. Menarik rasanya melihat Marceau kembali sebagai leading lady di usia yang mendekati paruh baya. Emosinya tertangkap dengan baik sepanjang film termasuk pada penutupannya dimana ia kembali menjalani hidup normal. Keempat wanita lainnya juga bermain memikat dengan karakterisasi masing-masing yang beraneka ragam. Sutradara Jean-Paul tetap memberikan porsi action yang sesuai porsi mulai dari tembak-menembak, ledakan bom, kejar-kejaran, penerobosan bangunan dsb ada disini. Cukup menyenangkan rasanya melihat banyak korban berjatuhan dari pihak Nazi dibandingkan protagonisnya meskipun beberapa scene penyiksaan dan pembunuhan bisa jadi membuat penonton terhenyak. Female Agents tidak akan menyajikan kompleksitas intrik ataupun konspirasi disana-sini tetapi lumayan memuaskan sebagai sebuah aksi spionase wanita khas Eropa walau tentunya tidak terlalu sulit menerka plot ceritanya. Pada akhirnya perang memang tidak hanya membawa korban jiwa tetapi juga perasaan ketakutan dan kehilangan itu sendiri yang akan selalu membekas. Sebuah peringatan khusus bagi Perang Dunia II dari sudut pandang British SOE.

Durasi:
110 menit

U.K. Box Office:
£157,077 till early July 2008.

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 7 August 2010

KILLERS : Problema Menikahi Mantan Pembunuh Bayaran

Tagline:
Marriage... give it your best shot.

Storyline:
Pembunuh bayaran sewaan Pemerintah, Spencer Aimes pada suatu tugasnya di Nice bertemu dengan seorang wanita cantik yang baru saja putus cinta, Jen Kornfeldt. Keduanya dalam waktu singkat saling jatuh cinta dan memutuskan menikah. Tiga tahun berlalu, Spencer dan Jen tetap menikmati hari-hari pernikahan mereka sampai tibanya ulang tahun Spencer yang ke-30 dimana Spencer menjadi buruan semua pembunuh bayaran lain dengan iming-iming jutaan dolar. Dan faktanya para pembunuh tersebut berasal dari orang-orang dekat di sekeliling mereka. Kini Jen harus ikut dalam penyelamatan diri bersama Spencer sambil mencari tahu motif apa yang sesungguhnya mendalangi itu semua.

Nice-to-know:
Saat syuting, Ashton Kutcher secara tidak sengaja menjatuhkan seorang stuntman dengan tinjunya.

Cast:
Seringkali mendapat nominasi Teen Choice Award diawali dari Dude, Where's My Car? (2000), Ashton Kutcher berperan sebagai pembunuh bayaran yang stylish sekaligus ceroboh bernama Spencer Aimes.
Boleh dibilang angkat nama lewat My Father the Hero (1994), Katherine Heigl bermain sebagai Jen Kornfeldt, pewaris bisnis teknologi komputer yang tidak sadar menikahi seorang pembunuh bayaran.
Dua bintang veteran Tom Selleck dan Catherine O'Hara sebagai Mr. dan Mrs. Kornfeldt.

Director:
Kerjasama kedua kali berturut-turut dengan Heigl setelah The Ugly Truth (2009), Robert Luketic yang baru berusia 37 tahun asal Australia ini.

Comment:
Sutradara Luketic pernah menghasilkan beberapa film yang cukup menghibur sebelumnya dan kelihatannya ia cukup menguasai beberapa elemen komedi yang baik. Tapi apakah itu sudah cukup untuk menyajikan tema yang sudah basi dengan fresh?
Rasanya masih segar dalam ingatan beberapa waktu lalu ada Knight & Day (2010) (yang kebetulan rilis duluan di Indonesia) dengan plot serupa atau kalau mau dikatakan Mr & Mrs Smith (2005) yang lebih mirip lagi. Dua film tersebut menjual nama megabintang Cruise-Diaz ataupun Pitt-Jolie. Lantas mampukah Kutcher-Heigl berbicara banyak? Sulit dikatakan. Heigl bisa dikatakan late bloomer dan baru belakangan ini masuk kategori America's sweetheart, Kutcher sejak dulu tergolong aktor mediocre yang rasanya film-filmnya pantas masuk kategori straight-to-dvd. Disini keduanya tidak berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda di luar stereotype mereka, bisa jadi skrip juga tidak mengharuskan mereka berimprovisasi terlalu banyak. Keduanya berbagi chemistry yang terasa dipaksakan walaupun screen presence nya cukup memikat. Di luar mereka, cast pendukung seakan menjadi tempelan belaka dengan kecenderungan entah kaku atau bodoh, tipis sekali perbedaannya.
Adegan demi adegan yang ditampilkan mengacu pada sebuah konklusi di akhir yang tidak terlalu mengejutkan dengan sedikit mengada-ngada. Yang patut dipuji disini adalah penempatan tiap scene nya terasa wajar, unsur aksi dan komedi cukup seimbang. Namun sayangnya tidak pernah lebih baik dari film-film yang sudah disebutkan di atas ataupun judul-judul lainnya yang panjang jika dibuatkan daftar. Killers tidak termasuk kategori film sampah tetapi tidak mengesankan juga, hiburan yang benar-benar ringan bagi pengisi waktu senggang anda.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$46,859,803 till early August 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Friday, 6 August 2010

BEFORE SUNRISE : Interaksi Sehari Semalam Dua Orang Asing

Tagline:
Jump on and live a Eurorail journey you will never forget!

Storyline:
Turis Amerika, Jesse dan mahasiswi Perancis, Celine bertemu secara tidak sengaja dalam perjalanan kereta dari Budapest menuju Vienna. Keduanya terlibat dalam perbincangan seru sampai Jesse meminta Celine menghabiskan sehari semalam di Vienna sebelum penerbangannya di pagi hari esoknya. Keduanya pun menciptakan suatu hubungan intim yang unik hanya dalam satu hari. Akankah hal tersebut mengubah pandangan masing-masing mengenai cinta?

Nice-to-know:
Ide film ini berasal dari sang sutradara yang pernah menghabiskan semalam penuh di Philadelphia bersama seorang wanita yang ia temui bernama Amy.

Cast:
Mengawali karir akting lewat Explorers (1985), Ethan Hawke bermain sebagai Jesse, turis Amerika yang berlibur menggunakan kereta api di Eropa.
Di tahun yang sama juga bermain dalam Blah Blah Blah (1995), Julie Delpy berperan sebagai Celine, mahasiswi Perancis yang setuju menemani pria yang baru dikenalnya dalam perjalanan berlibur.

Director:
Richard Linklater sebelum ini menghasilkan Dazed and Confused (1993) yang mendapat review baik dari penonton publik.

Comment:
Saya sudah mendengar kabar tentang film ini jauh bertahun-tahun sebelumnya tetapi baru benar-benar menyempatkan diri menontonnya tahun ini. Hm, melihat premisnya bisa jadi membuat anda membayangkan kebosanan. Jangan ambil kesimpulan terlalu cepat.
Memenangkan Silver Berlin Award untuk kategori Sutradara Terbaik di tahun 1995, Linklater mendasarkan kisah ini dari pengalaman pribadinya. Skrip yang ditulisnya sederhana tetapi brilian karena menampilkan interaksi dua orang yang baru berkenalan dan tertarik satu sama lain hingga saling mengeksplorasi. Dan pemilihan Hawke dan Delpy tidaklah salah, keduanya di kehidupan nyata memang berteman baik sehingga mampu menciptakan chemistry yang sempurna. Hawke yang terlihat cuek dan spontan berpadu pas dengan Delpy yang lembut dan easy going. Menarik melihat cara mereka berbicara dan memandang satu sama lain dari berbagai sudut kamera dibalut dengan pemandangan indah kota Vienna yang tradisional dan romantis itu.
Before Sunrise bukanlah drama biasa karena berkaca pada kehidupan nyata itu sendiri. Keseluruhan aspek di film ini terasa realistis. Bayangkan saja berapa banyak orang yang sudah anda temui di sepanjang jalan baik yang meninggalkan kesan ataupun tidak samasekali. Semua itu akan membentuk pribadi anda disadari atau tidak. Pada akhirnya hidup memang tiada hentinya dan akan selalu membawa hal-hal baru bagi anda.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$1,423,537 till end of January 1995.

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 5 August 2010

THE OPEN ROAD : Reuni Ayah dan Anak Penuh Polemik

Tagline:
They've got a long way to go.

Storyline:
Carlton bermain baseball di liga kampusnya di bawah bayang-bayang kebesaran nama ayahnya, Kyle Garrett yang pernah masuk Hall of Fame cabang olahraga yang sama. Saat mengetahui ibunya Katherine akan dioperasi karena kebocoran jantung dalam waktu dekat, Carlton bersama mantan kekasihnya, Lucy bertekad mengajak ayahnya pulang untuk menjenguk. Sayangnya hal tersebut tidaklah semudah yang dibayangkan, perjalanan dari Houston harus ditempuh dengan berbagai kejadian dan peristiwa yang akan mempengaruhi hidup Carlton secara pribadi.

Nice-to-know:
Nama belakang Garrett yang digunakan Jeff Bridges dalam film ini sesuai dengan nama depan kakak kandungnya yang meninggal karena SIDS pada umur satu setengah bulan.

Cast:
Terakhir mendukung The Love Guru (2008), Justin Timberlake bermain sebagai Carlton yang berjanji membawa pulang sang ayah kepada ibunya yang akan menjalani operasi.
Pertama kali bermain film lewat The Yin and the Yang of Mr. Go (1970), Jeff Bridges berperan sebagai Kyle, mantan bintang baseball Amerika.
Kate Mara sebagai Lucy.
Mary Steenburgen sebagai Katherine.

Director:
Merupakan karya kedua bagi Michael Meredith setelah Three Days Of Rain (2002) .

Comment:
Nyaris tidak terdengar gaung film ini hingga muncul di jaringan Blitz Megaplex. Bahkan dengan iming-iming promo buy 2 tickets get 1 free cd juga masih tetap sepi penonton! Apakah sedemikian tidak menjualnya? Mari kita telusuri bersama. Intinya adalah drama keluarga yang berfokus pada interaksi ayah dan anak yang sudah bertahun-tahun hidup terpisah. Bagaimana mereka berusaha menyesuaikan diri satu sama lain di tengah permasalahan yang dihadapi masing-masing. Mungkin penonton akan jenuh melihat polah tingkah Bridges tetapi penjiwaannya sebagai seorang ayah bermasalah cukup berhasil. JT sekali lagi membuktikan bakatnya sebagai aktor, kita tidak akan melihat figur penyanyi disini tetapi seorang remaja labil yang masih belajar nilai-nilai kehidupan dari pengalaman pribadinya. Kehadiran Mara juga memberikan warna yang berbeda dengan sorot mata dan mimik mukanya yang lembut. Selain itu peran Dean Stanton, Steenburgen, Lovett, Danson yang kesemuanya sudah senior tidak perlu diajarkan lagi dalam mengisi karakternya masing-masing.
Kemiskinan jam terbang sutradara Meredith masih sangat kentara terutama dalam hal permainan kamera dan proses produksi yang agak menyedihkan. Beruntung hal tersebut tertutupi oleh penulisan skrip yang brilian dan kegemilangan aktor-aktrisnya. Ditambah dengan music theme yang kaya akan nuansa blues, jazz ataupun instrumental minimalis yang mengiringi scene demi scene. Terus terang menurut saya interaksi Bridges dan JT merupakan nilai jual utama yang sangat menarik untuk disimak. Meskipun olahraga baseball seakan menjadi tempelan belaka di prolog film, selebihnya alur bergulir dengan lancar membangun konflik-konflik yang ada tanpa terasa membebani penonton sedikitpun. Alhasil Open Road merupakan drama keluarga yang menghangatkan hati sekaligus menyentuh di beberapa bagian lewat pesan moral yang ingin disampaikannya. Sayang sekali film ini tidak tereksploitasi dan kemungkinan hanya akan teronggok berdebu di bagian rak rental yang tidak tersentuh pelanggan.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$19,348 till early September 2009 (7 screens only).

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Drive-in Theater, Rhode Island

Not much but the sign of this drive-in movie theater if you’re driving northbound on Route 146 in Rhode Island. But that’s the way it is with drive-ins, you have to enter the inner sanctum to see what’s there. What’s there is just nothing but a big screen, and the big black night sky, and maybe the soft glow from the snack bar.

In the daytime, there’s no magic.

This drive-in theatre, now called the Rustic Tri-view, was opened in 1951 in North Smithfield, Rhode Island. As mentioned in this previous post on drive-ins, there aren’t a lot left in New England, but this one’s managed to survive the decades. It is now the only drive-in movie theater left in the state of Rhode Island.

For more on the Rustic Tri-view (so named for its three screens), have a look at this website, and here.