Monday, 9 November 2009

Waste Not, Want Not


If the ballroom on board ship in “A Blueprint for Murder” (1953), covered here last month, looks familiar, perhaps you remember it from another movie released earlier that year, “Titanic” (1953). Here, Brian Aherne holds court at the Captain’s table on the Titanic.

Where Joseph Cotten and Jean Peters met towards the movie’s end for romantic subterfuge and a potentially fatal showdown, Clifton Webb and Barbara Stanwyck met to condemn a failed marriage. Coincidentally, both men were to have sneaked onto the ship at the last minute to surprise their ladies. It’s interesting to look at the set from different angles.

Joseph Cotten in “A Blueprint for Murder” ballroom.











Jean Peters approaches Joseph’s Cotten’s table.











A similar vantage point in “Titanic”.







Clifton Webb greets his son in “Titanic.”











Reportedly, this set was also used for shipboard scenes in “Gentlemen Prefer Blondes” and “Dangerous Crossing”, both of which were released in 1953. Quite the year for going on a cruise.

Sunday, 8 November 2009

THIS IS IT : Mengenang Sang Musisi Legenda Michael Jackson

Quotes:
Michael Jackson: With the love, L.O.V.E.

Cerita:
Dibuka dengan teks singkat alias catatan kaki berbunyi “For the fans..”. Ya film ini memang diabadikan khusus penggemar setia ataupun orang-orang yang pernah mengenal nama Michael Jackson. Anda akan dibawa memasuki dunianya dan menyaksikan sendiri beberapa aksi panggung yang melejitkan lagu "Wanna Be Startin' Somethin'", “Speechless", "Jam", "Bad", "They Don't Really Care About Us", "Human Nature", “Smooth Criminal", "The Way You Make Me Feel", "I Just Can't Stop Loving You", “Thriller", "Beat It", "Who Is It", "Black or White", "Earth Song", “Billie Jean”, “Man In The Mirror”, dan beberapa lagu hit Jackson 5.

Gambar:
Hampir keseluruhan syuting dilakukan di Staples Center - 1111 S. Figueroa Street, Downtown, Los Angeles, California, USA dimana Jacko mempersiapkan konser akbar yang sedianya dilangsungkan pertengahan 2009 ini.

Cast:
Megastar Michael Jackson sesungguhnya pernah tampil sekilas dalam Men in Black II (2002) sebagai Agent M, mendampingi Will Smith dan Tommy Lee Jones. Kelahiran Indiana, 29 Agustus 1958, ia meninggal di usia 51 tahun karena penyebab yang disinyalir pengaruh konsumsi obat-obatan yang menggerogoti kesehatan tubuhnya.
Alex Al … Electric and Synth Bass
Nick Bass ... Dancer
Michael Bearden ... Keyboards
Daniel Celebre ... Dancer
Mekia Cox ... Dancer
Misha Gabriel ... Dancer
Chris Grant ... Dancer
Judith Hill ... Vocalist
Dorian Holley ... Vocal Supervision
Shannon Holtzapffel ... Dancer
Devin Jamieson ... Dancer
Bashiri Johnson ... Percussion
Charles Klapow ... Dancer
Jonathan Moffett ... Drums
Tommy Organ ... Guitar
Oranthi ... Lead Guitar
Darryl Phinnessee ... Vocalist
Mo Pleasure ... Keyboards / Trumpet
Dres Reid ... Dancer
Ken Stacey ... Vocalist
Tyne Stecklein ... Dancer
Timor Steffens ... Dancer

Sutradara:
Nama Kenny Ortega paling dikenal lewat trilogy High School Musical dari 2006-2008 walau baru yang terakhir yang diedarkan di layar lebar. Semuanya disambut dengan baik oleh public sehingga karir ke depannya terbentang lebar.

Comment:
Walaupun bergaya dokumenter, film ini menyajikan potret perfeksionis seorang Jacko yang merancang konsernya dengan sangat telaten mulai dari setting panggung, lighting, sound, koreografi dan semua efek pendukung. Belum lagi audisi besar-besaran yang dilakukannya untuk mencari dancer terbaik di seluruh Amerika. Beruntung semua orang-orang yang bekerjasama dengannya sangat kooperatif dan menghargai Jacko. Beberapa persiapan yang dilakukannya dalam menyajikan lagu-lagunya sangat cemerlang sehingga kita seperti diajak menonton konser megah yang sangat memanjakan indera penglihatan dan pendengaran kita. Dari segala polah tingkah lakunya di atas panggung, kita seakan diajak mengenal sosok Jacko lebih dekat, dimana kita selama ini melihatnya sebagai orang yang dingin, aneh, tidak sehat, ambisius, bertingkah dan sebagainya. This Is It adalah sebuah rangkuman hari-hari terakhir Jacko, film yang bisa dinikmati semua orang, terlepas penggemarnya atau bukan.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$34,442,926 till Nov 2009

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

SORORITY ROW : Balas Dendam Bagi Persaudaraan Theta Pi

Quotes:
Jessica-Please God don't let me get killed. Please God don't let me get killed.
Cassidy-Stop giving him ideas.

Cerita:
Nyaris lulus dari kampus membuat pesta pribadi, enam anggota Theta Pi masing-masing Cassidy, Jessica, Claire, Ellie, Chugs dan Megan sepakat menggoda Garrett, adik Chugs di suatu kamar asmara. Malang karena hal tersebut berbuntut pada kematian Megan secara mengenaskan. Mereka kemudian sepakat menguburkan Megan di suatu pertambangan dan menyimpan rapat-rapat rahasia tersebut. Delapan bulan berlalu, tepat pada hari graduasi, kasus Megan kembali terkuak saat ponsel kelima saudari berbunyi secara bersamaan. Mau tidak mau mereka harus kembali memutar otak untuk menyelesaikan hal tersebut sampai benar-benar akhir sebelum satu-persatu menemui ajalnya.

Gambar:
Keseluruhan syuting dilakukan di Pennsylvania termasuk Soldiers and Sailors Museum and Memorial - 4141 Fifth Avenue untuk adegan graduasi.

Act:
Lima bidadari ditampilkan di film ini yang berakting berlari dan menjerit sepanjang film masing-masing Briana Evigan sebagai Cassidy, Leah Pipes sebagai Jessica, Jamie Chung sebagai Claire, Margo Harshman sebagai Chugs, Rumer Willis sebagai Ellie. Juga Audrina Patridge sebagai Megan, si korban utama di awal film.

Sutradara:
Memulai penyutradaraan sejak Beyond Suspicion (1997), Stewart Hendler memang banyak terlibat dalam genre thriller ataupun horor. Disini ia berusaha meremake film bergagasan sama yang pernah muncul di tahun 1983 lalu.

Comment:
Bisa dikatakan sebuah remake yang cukup berhasil jika dibandingkan Black Christmas (2006) atau Prom Night (2008). Plot ceritanya mungkin mengingatkan anda pada perpaduan Mean Girls dan I Know What You Did Last Summer dimana perkumpulan saudari kampus Theta Pi tersebut sudah disumpah untuk saling percaya, saling merahasiakan dan menjunjung solidaritas dimana kemudian terjadilah misteri pembunuhan yang baru bisa diungkap di akhir film. Tidak asing bukan? Untungnya thriller remaja ini berhasil menjaga tensi secara konsisten dari awal sampai akhir, terima kasih pada penampilan seksi para gadis-gadis tersebut yang cukup memanjakan mata dan saling melontarkan sindiran tajam satu sama lain. Beberapa scene pembantaian cukup sadis dan mengejutkan walau tidak ditampilkan secara eksplisit. Pelaku pembunuhan terasa dipaksakan "kerahasiaannya" sehingga memang tidak mudah untuk anda tebak. Secara keseluruhan, Sorority Row cukup menyenangkan sebagai sebuah tontonan ringan tanpa ekspektasi berlebihan terutama bagi anda pecinta genre slasher.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$11,956,207 till Nov 2009

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Saturday, 7 November 2009

HALLOWEEN II : Kembalinya Michael Myers Demi Saudari Kandung

Quotes:
Laurie Strode-I'm not me.
Mya Rockwell-Who are you, then?
Laurie Strode-I'm Michael Myers' sister.

Cerita:
Beberapa waktu setelah pergulatan dengan psikopat pembunuh Michael Myers di sebuah bunker, Laurie Strode kerapkali dihantui mimpi buruk di tengah malam. Beberapa hari menjelang Halloween, Laurie semakin ragu bahwa Michael sudah tewas. Dugaan tersebut tidak salah karena Michael tengah kembali ke kota kelahirannya setelah lolos dari penjagaan mobil jenazah yang mengangkut tubuhnya. Lewat serangkaian peristiwa pembunuhan sadis, Laurie akhirnya mengetahui bahwa ia sebenarnya bernama Angel Myers dan saudari kandung Michael. Akankah tujuan Michael mendapatkan Laurie kembali berhasil?

Gambar:
Sebagian besar berlokasi di Georgia, USA, Halloween II kental dengan nuansa kelam malam yang mencekam. Beberapa adegan pembantaian teramat sadis walau diambil dari jarak jauh.

Cast:
Terakhir mendukung Obsessed (2009), Scout Taylor Compton kembali melanjutkan peran Laurie Strode. Disini ia terlihat lebih dewasa dan berusaha tegar menghadapi situasi sulit sekalipun.
Psikopat penjagal tinggi besar, Michael Myers dipegang oleh Tyler Mane yang pernah tampil dalam Troy (2004).
Psikiater Dr. Samuel Loomis dan Sheriff Lee Brackett masih dimainkan oleh dua actor kawakan, Malcolm McDowell dan Brad Dourif.

Sutradara:
Rob Zombie baru menghasilkan beberapa film dimana ia duduk di kursi sutradara. Namanya memang lebih dikenal sebagai penyanyi bersama grup bandnya yang pernah mengisi soundtrack Daredevil (2003) dalam tembang berjudul The Man Without Fear.

Comment:
Sempat kagum dengan usaha Zombie dalam meremake Halloween membuat saya berekspektasi lebih pada sekuelnya ini. Tetapi menit-menit awal yang menjanjikan hanya berhenti sampai memasuki dua pertiga film. Mengapa? Plot ceritanya hampir tidak ada karena scenario terasa dibuat dengan terburu-buru dan terkesan murahan. Karakterisasi Michael yang digambarkan detail psikologisnya di seri pertama kali ini hanya membunuh, membunuh dan membunuh dengan cepat dan sadis tanpa motif apapun sehingga terasa membosankan. Yang lebih mengganggu lagi, penampakan ibu kandung Michael dan kuda putih sepanjang Michael melakukan aksinya sungguh mengganggu. Maksud hati membangun visualisasi masa lalu sebagai paradigma Michael tetapi tidak tercapai korelasinya. Backsound klasik yang biasa melatarbelakangi Halloween series juga tidak terdengar samasekali disini. Cast meskipun sama tapi mereka tidak didukung penokohan yang kuat seperti sebelumnya, alhasil sulit bagi penonton untuk bersimpati pada sosok Laurie ataupun Sam Loomis. Kesalahan terbesar memang ada di sutradara yang seakan menghancurkan Halloween II sejak awal.

Durasi:
95 menit

U.S. Box Office:
$33,096,757 till Nov 2009

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Friday, 6 November 2009

SERIGALA TERAKHIR : Pertikaian Dua Geng Berseberangan Berbuntut Maut

Cerita:
Lima sekawan masing-masing Ale, Jarot, Lukman, Sadat, Jago adalah geng penguasa daerah pinggiran sejak remaja. Dalam suatu peristiwa pertandingan sepakbola yang berbuntut pertikaian, Jarot tanpa sengaja membunuh seorang preman saat membela Ale yang mengakibatkan dirinya dipenjara bertahun-tahun. Kehidupan keras di penjara membentuk pribadi Jarot yang keras, terlebih ia merasa ditinggalkan teman-temannya seorang diri. Sekeluarnya dari penjara, Jarot bergabung dengan geng Naga Hitam yang selalu berseberangan dengan Ale dkk. Pada akhirnya, Jarot mungkin saja berhadapan langsung dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya di masa lalu.

Gambar:
Seperti mendapat banyak influence dari film-film mafia Hongkong, gaya noir modern sedikit tertangkap disini. Terbukti gambar-gambar yang dihasilkan sedikit dark dengan tone yang cukup konsisten.

Act:
Baru saja tampil sebagai polisi konyol dalam The Police Movie, Vino Bastian kali ini berperan sebagai mafia muda penuh dendam, Jarot yang ditempa di penjara.
Terakhir terlibat dalam Susahnya Jadi Perawan, Fathir Muchtar disini bermain sebagai Ale, kepala geng yang ditakuti sahabat-sahabatnya.
Reza Pahlevi sebagai tokoh kunci, si bisu yang sulit ditebak.
Fanny Fabriana yang terakhir mendampingi Tora Sudiro dalam Preman In Love kebagian peran Aisya, love interestnya Jarot sekaligus adik kandung Ale.
Beberapa aktor debutan seperti Dion Wiyoko, Dallas Pratama, Ali Syakieb bermain sebagai Lukman, Jago dan Sadat.
Juga turut didukung oleh beberapa pemain senior seperti George Rudy, Agus Melasz, Ully Artha dll.

Sutradara:
Terakhir mengarahkan Vino dalam Realita, Cinta dan Rock & Roll yang cukup dipuji, Upi kembali setelah absen beberapa tahun dalam film Serigala Terakhir ini yang disebut-sebut film mafia pertama bergaya Indonesia. Akankah sukses seperti harapannya? Kita tunggu saja.

Comment:
Sulit rasanya menilai film ini secara keseluruhan karena dua unsur yang sangat bertolak belakang. Pertama, plot cerita yang sungguh terasa dipaksakan mulai dari awal sampai akhir sehingga agak tidak rasional. Hal tersebut berpengaruh pada skenario yang terkesan dibuat-buat dan dialog yang terkadang bodoh, tidak peduli sebaik apapun penjiwaan aktor-aktrisnya. Kedua, penggarapan yang dilakukan sebetulnya bisa dikatakan baik, terima kasih pada kemampuan sang sutradara. Konsistensi pengadeganan dibantu dengan backsound yang pas membuat film ini masih enak untuk diikuti. Jika kedua hal tersebut bersinergi, anda akan merasakan apa yang saya rasakan saat menyaksikannya, yaitu intensitas menonton yang asyik tetapi berkali-kali mengernyitkan kening. Durasi yang teramat panjang sama sekali tidak membantu, hanya memperpanjang bagian-bagian yang sebetulnya tidak perlu. Oleh karena kesalahan di rangka cerita, saya harus memberikan ponten rendah bagi Serigala Terakhir. Sayang sekali!

Durasi:
140 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!