Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Saturday, 6 August 2011

TRANSFORMERS 3 DARK OF THE MOON : Pertarungan Baja Perebutkan Cybertron

Quotes:
Optimus Prime: In any war, there are calms between storms. There will be days when we lose faith. Days when our allies turn against us. But the day will never come, that we forsake this planet, and its people.


Storyline:
Kelompok Autobots yakti Bumblebee, Rachet, Ironhide, Sideswipe yang dipimpin oleh Optimus Prime harus menghadapi Decepticons yang ingin membalas dendam dengan cara menciptakan jembatan untuk mencapai kapal luar angkasa Cybertronian yang tersembunyi di bulan demi mempelajari rahasianya. Sementara itu Sam Witwicky yang kesulitan mencari pekerjaan selepas status pahlawannya harus sekali lagi berada di tengah-tengah pertarungan, tentunya dengan ditemani kekasihnya Carly yang sudah memiliki pekerjaan dan atasan yang teramat menjanjikan.

Nice-to-know:
Autobots mengalami peningkatan “kelas” antara lain Bumblebee menjadi Chevrolet Camaro 2011, warna Ratchet menjadi putih hijau-rumput, Sideswipe menjadi Chevrolet Centennial Corvette.

Cast:
Shia LaBeouf sebagai Sam Witwicky
Josh Duhamel sebagai Lennox
John Turturro sebagai Simmons
Tyrese Gibson sebagai Epps
Rosie Huntington-Whiteley sebagai Carly Spencer
Patrick Dempsey sebagai Dylan
John Malkovich sebagai Bruce Brazos

Director:
Installment ketiga dari 9 film yang sudah disutradarainya sejauh ini cukup menjelaskan kecintaan Michael Bay akan franchise ini.

Comment:
Rasanya semua orang mengamini fakta bahwa duet Bay-Spielberg hanya berusaha mengeruk dollar sebanyak-banyaknya dari franchise Transformers ini selama masih bisa dijual. Jadi tidak usah heran jika di kemudian hari akan muncul Transformers 4, 5, 6 dst. Sayang sekali mengingat banyak fans serial ini yang masih berharap adanya pengembangan kisah yang lebih cerdas lagi dari yang sudah-sudah tanpa mengurangi unsur fun to watch itu sendiri.
Skrip yang ditulis oleh Ehren Kruger ini boleh dibilang sedikit mengulang apa yang dikisahkan dari Revenge of the Fallen yang menekankan posisi umat manusia di tengah-tengah perseteruan dua kubu robot yang saling bertentangan yaitu Autobots dan Decepticon dengan perbedaan motif saja. Tak usah heran apabila anda merasa mengalami dejavu dengan suguhan demikian. In the end it’s always about good versus bad, right?

Hal serupa juga terjadi pada jajaran castnya. Anda tidak akan peduli akan nasib Duhamel, Turturro, Gibson, Dempsey dkk yang masih melambangkan superioritas kepahlawanan Amerika! Penggantian Megan Fox dgn Rosie Huntington-Whiteley juga cukup mengecewakan dari segi sensualitas dan eksotisme walaupun keduanya merupakan pemuncak daftar gadis FHM. Tokoh Carly memang sedap dipandang layaknya boneka Barbie pirang tetapi setiap kemunculannya terbilang mengganggu dengan sederetan dialog dumb cliche terlontar dari mulutnya.
Bagaimana dengan Sam Witwicky? Shia masih memerankannya dengan aura sama tapi dengan penjiwaan yang flat. Kesulitan mencari pekerjaan hingga menghadapi saingan cinta tidak membuat perbedaan apapun dari aktingnya. Mungkin ada baiknya ia berpikir ulang untuk menerima tawaran installment selanjutnya jika tidak ingin karirnya mandek. Interaksi yang menjurus gay jokes dengan Ken Jeong juga terasa tidak pada tempatnya. Jika dimaksudkan untuk memancing tawa, bagaimana dengan penonton belia yang mencernanya?

Bay memang mematuhi janjinya untuk mengedepankan visualisasi revolusioner dalam format 3D. Segala efek CGI berbujet 195 juta dollar dikerahkan sepenuhnya untuk memanjakan mata penonton, porsinya bahkan lebih dari yang bisa dibayangkan sebelumnya. Seakan semua terjadi tepat di hadapan anda atau justru anda yang serasa mengalaminya sendiri, sebuah pengalaman sinema yang mengagumkan asalkan indera pendengaran anda tidak lelah menerima rangsangan suara-suara “elektronis” di sepanjang film.
Highlight film ini adalah saat Shia terlontar keluar dari Bumblebee sehingga tergantung-gantung, atau ketika The Driller menggulung gedung bertingkat raksasa yang didiami Sam dkk, atau tentara yang terbang bebas layaknya kelelawar setelah terlontar dari pesawat yang terbakar? Terkadang saya merasa ini adalah film bencana akhir dunia, bukan Transformers apalagi dengan penghancuran jalan, bangunan hingga umat manusia yang menjadi abu. Mengingatkan pada War of the Worlds, anyone?

Satu kata untuk Transformers 3 yaitu OVER-THE-TOP. Sesuatu yang berlebihan biasanya tidak pernah baik. Durasi teramat panjang yang harusnya bisa diselesaikan dalam 90 menit andai tidak ada show off spesial efek tidak jarang malah membuat saya merasa bosan dan mengantuk di paruh pertama film. Harus diakui sedikit lebih baik dari Transformers 2 dari segi logika cerita tapi masih di bawah Transformers dari segi kelekatan dengan penonton. Endingnya cukup klimaks, ditutup dengan pertarungan finale Optimus vs Sentinel yang entah kenapa pergerakannya seperti dua jago martial arts yang tengah berlaga!
Satu lagi (dari sekian banyak) persembahan Michael Bay yang berputar-putar di plot cerita stereotype dengan berbagai pengulangan adegan aksi spektakuler rasanya memang hanya dirancang untuk kepuasan pribadinya sendiri. Dark of the Moon fantastis secara tampilan tetapi tidak memiliki nyawa. Sajian summer movies yang memenuhi standar “WAH” untuk lantas dilupakan begitu saja tanpa kesan berarti. Masih menantikan sekuelnya di masa mendatang? Rise of the Sentinel Prime, perhaps?

Durasi:
150 menit

U.S. Box Office:
$302,878,797 till mid July 2011

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Saturday, 25 December 2010

GULLIVER'S TRAVELS : Petualangan Negeri Liliput Raksasa Bernyali Kecil

Tagline:
Something big is going down

Storyline:
Llemuel Gulliver merupakan pria biasa dengan mimpi besar tetapi kurang percaya diri. Itulah sebabnya pekerjaan administrasi surat-menyurat yang dilakoninya selama 10 tahun tidak memberikan apa-apa termasuk modal untuk mendekati karyawan divisi perjalanan, Darcy Silverman. Karena ditantang rekan kerja barunya, Gulliver nekad menyambangi Darcy pada suatu malam untuk mengajaknya kencan tetapi berakhir mendapat tugas membuat liputan perjalanan wisata. Satu yang ia lakoni adalah bepergian ke Segitiga Bermuda hingga terdampar di negeri liliput saat kapalnya diterjang badai dan tornado. Gulliver pun menjadi tawanan hingga akhirnya memutuskan untuk memulai petualangannya sendiri

Nice-to-know:
Awalnya Taylor Lautner sempat dipertimbangkan sebagai Horatio tetapi batal karena dianggap terlalu muda oleh produser

Cast:
Paska kesuksesan Kungfu Panda (2008), Jack Black kembali lagi dalam film semua umur sebagai Gulliver, pegawai bagian surat yang terdampar di negeri liliput saat melakukan perjalanan ke Segitiga Bermuda.
Baru saja mengisi suara Vector dalam Despicable Me, Jason Segel berperan sebagai Horatio
Emily Blunt keluar dari Iron Man 2 untuk bermain sebagai Princess Mary
Amanda Peet sebagai Darcy Silverman
Billy Connolly sebagai Raja Theodore
Chris O’Dowd sebagai Jenderal Edward

Director:
Rob Letterman tahun lalu menggarap animasi yang juga berformat 3D yaitu Monsters Vs Aliens.

Comment:
Merupakan adaptasi novel klasik yang sudah berulang-ulang kali difilmkan ke dalam layar lebar ataupun layar kaca dengan berbagai pemain di berbagai jaman. Sekarang sudah tahun 2010 apakah sutradara Letterman punya formula baru untuk modernisasi? Jawabannya tidak juga karena yang ia tambahkan hanyalah alat pelacak GPS, robot raksasa petarung, billboard, baliho, kaleng Coca-cola besar dsb. Tidak lebih. Sisanya hanyalah formula lama seperti Kerajaan Liliput dan segala atribut di dalamnya.
Dari jajaran cast, mungkin mayoritas dari anda menyukai Jack Black seperti halnya saya. Ia adalah salah satu komedian masa kini yang orisinil dari segi aksi dan gaya humornya yang biasanya bekerja dengan baik dalam film-film sejenis. Namun sebagai Gulliver sang raksasa yang biasanya serius, Black menjiwainya dalam kacamata komedik yang terkesan tidak pernah serius. Beberapa bagian cukup berhasil tapi sebagian besar sangat mudah ditebak. Aktor-aktris lain terkesan tidak terlalu penting alias out of the frame. Memang terkadang Blunt dapat mencuri perhatian, tetapi nama-nama seperti Segel ataupun Peet tidak terlalu mengesankan apalagi O’Dowd yang masih kelewat kaku sebagai antagonis.
Mengenai efek 3D, rasanya tidak perlu anda istimewakan. Beberapa scene memang dimaksudkan untuk 3D dan sudah disesuaikan kedalaman gambarnya tetapi sayangnya tidak ada yang benar-benar “keluar” dari layar. Seharusnya untuk versi modern kisah yang sedemikian terkenal, unsur 3D tidak boleh menjadi gimmick semata. Soundtrack pendukungnya juga tidak kuat selain satu dua lagu yang menyisipkan pesan moral bahwa peperangan tidaklah perlu atas alasan apapun juga.
Rasanya Gulliver’s Travels hanya diperuntukkan bagi para pecinta Black pada khususnya ataupun publik pada umumnya terutama yang perlu mengisi waktu bersama keluarga di liburan Natal tahun 2010 ini. Tidak lebih dan tidak kurang. Namun perlu diingat bahwa komedi disini lebih cocok bagi kalangan remaja dewasa, bukan anak-anak, jadi pikir dua kali sebelum mengajak anak anda yang masih di bawah umur. Satu hal lagi sebagai penutup, semua elemen dalam film ini serba prediktif dan secara mengejutkan kurang imajinatif sama sekali.

Durasi:
90 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Wednesday, 4 August 2010

THE LAST AIRBENDER : Avatar Penyatu Empat Elemen Dunia

Quotes:
Aang: I will stop them.
Dragon Spirit: I know you will try...

Storyline:
Udara, Air, Bumi dan Api merupakan 4 bangsa yang ditentukan oleh takdir. Sayangnya bangsa Api memutuskan untuk menguasai dunia dengan menyingkirkan ketiga bangsa lainnya. Satu abad berlalu tanpa adanya harapan yang muncul untuk menghentikan kehancuran itu. Saat itulah, Aang muncul dan menyadari dirinya merupakan satu-satunya Avatar harapan dengan kekuatan yang mampu mengendalikan empat elemen tersebut. Kemudian Aang bertemu kekuatan Air, Katara dan kakaknya, Sokka dan berupaya mengembalikan keseimbangan dunia.

Nice-to-know:
Awalnya diberi judul Avatar : The Last Airbender tetapi saat Avatar (2009) dirilis lebih dahulu oleh 20th Century Fox maka akhirnya menjadi The Last Airbender saja untuk menghindari kerancuan.

Cast:
Noah Ringer baru berusia 13 tahun saat terpilih menjadi Aang.
Angkat nama di Hollywood lewat Slumdog Millionaire (2008), Dev Patel bermain sebagai Prince Zuko
Nicola Peltz sebagai Katara
Jackson Rathbone sebagai Sokka
Shaun Toub sebagai Uncle Iroh
Aasif Mandvi sebagai Commander Zhao

Director:
Pria asal India berusia 40 tahun, M. Night Shyamalan pertama kali mendapat kesempatan menyutradarai lewat Praying With Anger (1992).

Comment:
Saya bukanlah penggemar seri kartun televisi Avatar yang sempat menghebohkan itu. Saat mengetahui filmnya akan diproduksi, saya tidak terlalu antusias. Saat melihat cuplikan trailernya, saya menjadi sedikit penasaran. Saat filmnya dirilis dan mendapat rating buruk, saya putuskan untuk membuktikannya sendiri. Demi menetralisir opini, saya mengajak salah seorang teman yang memang pecinta Avatar series untuk kemudian menilainya bersama dari sudut pandang Avatar fans dan non Avatar fans.
Plot ceritanya sebetulnya menarik dan sesungguhnya film ini memang coba digarap dengan epik. Tetapi tidak didukung oleh sinematografi yang konsisten ataupun penulisan skrip yang baik. Belum lagi alur maju mundur yang membingungkan dan tidak pada tempatnya. Alhasil sekitar satu setengah jam, penonton serasa disuguhi potongan-potongan klip yang bercitarasa campur aduk, bagus dan buruk, kesemuanya tidak menjadikan satu kesatuan tontonan yang utuh.
Dari segi cast, mungkin hanya Patel yang sedikit memberi nyawa. Sisanya nama-nama baru dari berbagai ras yang masih miskin pengalaman dan langsung didaulat bermain dalam film besar seperti ini. Sayangnya lagi nyaris tidak ada ruang dan waktu untuk pengembangan karakter-karakternya samasekali sehingga yang tercipta hanyalah dialog-dialog pendek yang tidak berisi, diperburuk lagi dengan narasi yang tidak pas dari narator yang berganti-ganti pula.
Kegagalan, setidaknya dari segi kualitas, patut dilayangkan pada Shyamalan yang tidak perform walau produser besar mempercayakan 150 juta dollar di tangannya. Keseluruhan The Last Airbender masih dapat dikatakan BERANTAKAN walau semua orang di luar Shyamalan sudah berusaha maksimal, termasuk spesial efek yang masih tergolong ok juga musik latar yang terdengar menggugah. Dari segi box-office, penempatan tanggal rilis summer movies mungkin akan berdampak positif dalm raupan dollar. Namun jika memang ada rencana sekuelnya seperti disugestikan endingnya, saya mengharapkan suatu perombakan total dimulai dari kursi sutradara.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$127,293,447 till early Aug 2010.

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 13 March 2010

THE IMAGINARIUM OF DOCTOR PARNASSUS : Absurdnya Dunia Imajiner Dokter Parnassus

Quotes:
Tony-Can you put a price on your dreams?

Storyline:
London masa lampau, Doctor Parnassus mendirikan "Imaginarium", sebuah dunia yang akan membawa audiens mengalami hal-hal menakjubkan yang dikontrol oleh pikirannya. Doctor Parnassus bercerita pada timnya yaitu putrinya Valentina, asistennya Anton dan si kerdil Percy bahwa ia telah berumur ribuan tahun tetapi kehilangan keabadiannya saat jatuh cinta dengan seorang manusia. Demi hal itulah, Parnassus membuat perjanjian dengan iblis, Mr. Nick untuk mengambil nyawa Valentina di usia 16 tahun. Saat usia Valentina mulai memasuki fase tersebut, Parnassus mengulang perjanjiannya dengan menjanjikan lima nyawa yang terperangkap dalam Imaginarium. Di lain kesempatan, Percy, Valentina dan Anton menyelamatkan Tony yang digantung di bawah jembatan pelabuhan. Kehadiran Tony mungkin menentukan kelangsungan Imaginarium berikutnya.

Nice-to-know:
Honor yang diperoleh Depp, Law, Farrell untuk melanjutkan peran Ledger di tengah proses produksi diberikan kepada putri Ledger, Matilda untuk masa depannya.

Cast:
Film terakhir bagi peraih Oscar Aktor Pembantu Terbaik lewat The Dark Knight (2008), Heath Ledger bermain sebagai Tony. Dimana figur imajinasinya dipegang oleh Johnny Depp, Jude Law dan Colin Farrell secara bergantian.
Sang pemimpin Doctor Parnassus dilakoni oleh aktor senior asal Kanada, Christopher Plummer.
Karakter pendukung Doctor Parnassus masing-masing Anton, Percy dan Valentina diperankan oleh Andrew Jackson, Verne Troyer dan Lily Cole.

Director:
Mengawali karir penyutradaraan lewat Storytime (1968), Terry Gilliam juga aktif sebagai aktor, penulis, produser dan di beberapa departemen lainnya.

Comment:
Masa produksinya sempat digegerkan oleh kematian aktor muda berbakat Ledger tetapi tidak menghalangi Gilliam untuk menyelesaikan film dan pada akhirnya mendedikasikannya untuk Heath. Seperti biasa Gilliam membawa semangat klasik fantastik seperti yang pernah ditunjukkannya lewat karya-karyanya di masa lalu. Ceritanya sendiri bergulir lambat dan nyaris membuat penonton sulit bertahan di kursinya masing-masing, terlebih tone depresi dan visualisasi suram yang digunakan di paruh pertama film. Pengenalan semua karakter juga terasa absurd tetapi realistis. Tetapi jajaran cast berhasil melakukannya dengan baik dan terlihat menjiwai peranan masing-masing, terima kasih pada kostum dan setting yang sangat meyakinkan. Plummer dan Waits menciptakan chemistry yang baik sebagai dua pihak yang "berseberangan". Trio Ledger, Cole dan Jackson juga membawakan kemelut cinta segitiganya dengan baik. Sayangnya, The Imaginarium Of Doctor Parnassus bukanlah film yang dapat dikonsumsi publik umum, terutama mereka yang hanya mencari hiburan tontonan. Apalagi endingnya tidak bahagia selayaknya khas Hollywood, tetapi mungkin itulah nilai plusnya karena terasa lebih manusiawi.

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$7,504,196 till early March 2010

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Monday, 8 March 2010

ALICE IN WONDERLAND : Dunia Wonderland Kreasi Terbaru Tim Burton

Quotes:
Alice Kingsley-This is impossible.
The Mad Hatter-Only if you believe it is.

Storyline:
Abad 19, Alice Kingsleigh adalah putri saudagar Charles Kingsleigh yang meninggal beberapa tahun lalu. Kehilangan masa kecilnya yang indah, Alice malah dipaksa menerima lamaran Hamish, putra mantan rekan bisnis ayahnya pada suatu pesta kebun. Kebingungan, Alice meninggalkan lokasi dan mengikuti seekor kelinci putih hingga terjatuh di lubang tak berdasar. Tak diduga setibanya di dasar, tubuhnya sudah mengecil dan menggenggam sebuah kunci yang membuka jalan taman indah yang teramat luas. Disana Alice menemukan makhluk-makhluk aneh mulai dari Dourmouse, burung Dodo, si kembar Tweedles, Cheshire Cat, Mad Hatter hingga Abosolom yang memiliki ramalan bahwa Alice akan mampu memberantas Jabberwocky, monster andalan Red Queen yang jahat itu. Berhasilkah Alice menyelamatkan kerajaan White Queen sekaligus keluar dari wonderland tersebut?

Nice-to-know:
Diangkat dari serial televisi ternama awal 1990an yang diangkat dari novel klasik karangan Lewis Caroll dan dibuat versi layar lebar kontemporernya dengan bujet 250 juta dollar!

Cast:
Mia Wasikowska yang asli Australia ini menyisihkan beberapa kandidat ternama lain seperti Amanda Seyfried dan Lindsay Lohan untuk mendapatkan peran Alice Kingsleigh.
Terbiasa dengan tokoh eksentrik di beberapa filmnya yang justru sukses besar, Johnny Depp kembali sebagai Mad Hatter, sang ahli pembuat topi yang mendapat porsi cukup besar disini.
Karakter yang bertolak belakang, Red Queen dan White Queen dimainkan oleh Helena Bonham Carter dan Anne Hathaway.

Director:
Pria kelahiran California 52 tahun silam bernama Tim Burton ini bekerjasama 6 kali dengan istrinya, Bonham Carter dan 7x dengan aktor kesayangannya, Depp melalui film ini.

Comment:
Harus diakui kharisma seorang Tim Burton selama beberapa dekade terakhir cukup kuat di perfilman Hollywood. Beberapa film terakhirnya sukses secara kualitas dan juga pundi-pundi dollar di pasaran internasional. Gaya eksentrik dan gelap merupakan trademarknya dalam menggarap film, seperti halnya yang dibayangkan orang saat mengetahui Burton akan menggarap versi layar lebar terbaru kisah kartun legendaris ini. Film ini merupakan episode ketiga sehingga tidak heran jika Alice sudah berumur 19 tahun dan kunjungannya ke Wonderland adalah kesekian kalinya. Beruntung beberapa elemen dari episode pertama dan kedua tidak dihilangkan begitu saja sehingga tetap menuntun penonton yang belum tahu kisahnya untuk tetap bisa mengikuti jalan ceritanya. Dari segi cast, Mia sebagai Alice bermain cukup wajar, bukan kebetulan usia aslinya sama persis dengan usia Alice di film. Depp, Bonham Carter, Hathaway rasanya terbantu dengan kostum dan make-up yang menunjang mereka berakting tanpa bermaksud mengecilkan improvisasi masing-masing. Tetapi karakter Depp disini agak tidak beralasan karena diplot sebagai salah satu karakter utama. Jika tujuannya mengangkat film rasanya tidak terlalu berarti. Pada akhirnya, Alice In Wonderland versi Burton hanya memanjakan mata dengan visual grafik yang sangat mengagumkan dan detail. Selebihnya tidak ada yang baru dari tema dan ending yang berusaha disuguhkan dengan konsep modernisasi di segala bidang. Menonton versi 3D nya rasanya tidak akan berpengaruh banyak. Percayalah! Saran saya, nikmati film ini dari sudut pandang masa kanak-kanak anda.

Durasi:
110 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10

Thursday, 31 December 2009

TREASURE HUNTER : Balapan Perburuan Harta Karun

Storyline:
Novelis muda, Lan Ting lewat suatu inspirasi bertekad menulis novel tentang pencarian harta karun yang pernah diceritakan ayahnya. The Company merupakan suatu sindikat yang mengawali perburuan tersebut melalui selembar peta yang dimiliki Boss Tu yang menyerahkannya pada asistennya, Qiao Fei. Pada saat bersamaan, putri tunggal Boss Tu, Ting Ting diculik oleh seterunya. Selama petualangan berlangsung, Qiao Fei dan Lan Ting bersama arkeolog, Hua Ding Bang menemui banyak rintangan. Belum lagi tantangan terbesar dari Desert Eagle yang muncul. Siapa yang akhirnya mendapatkan harta karun tersebut?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Chang-Hong Channel Film & Video Co. dan Yen Ping Films Production.

Cast:
Terakhir tampil dalam Kungfu Dunk, Jay Chou sebagai Qiao Fei
Baru saja sukses mendukung dwilogi Red Cliff, Lin Chiling sebagai Lan Ting
Eric Tsang sebagai Chop
Chen Daoming sebagai Master Hua

Director:
Chu Yen Ping merupakan salah satu sutradara kawakan Hongkong yang mengawali karirnya lewat Shi da wang pai (1982).

Comment:
Antusiasme awal melihat 3 nama sebagai daya tariknya mulai dari Jay Chou dan Lin Chiling beserta sutradara Kevin Chu mendadak sirna setelah setengah jam berlalu. Plotnya merupakan campur aduk yang sangat tidak orisinil, comotan sana sini dari Indiana Jones ataupun The Mummy yang Hollywood style dikonversikan ke nuansa Asia. Bahkan latar belakang padang pasir dan bangunan tersembunyi di bawahnya juga lengkap tersaji! Oh well..
Mood menonton yang langsung drop semakin hilang ketika Jay dan Lin yang diharuskan membangun chemistry malah terasa berakting sendiri-sendiri. Satu persatu karakter datang dan pergi tanpa andil merekonstruksi bangunan cerita yang ingin dihadirkan termasuk beragam tokoh antagonis yang pada akhirnya dikalahkan dengan mudahnya. Sayang sekali Chen Daoming dan Eric Tsang yang sudah senior menyia-nyiakan bakat mereka dengan bermain disini.
Sutradara Kevin harusnya realistis pada kemampuan terbatasnya mengarahkan komedi modern masa kini saja seperti yang sudah dilakukannya sebelum ini bersama Jay lewat Kungfu Dunk (2008) yang jauh lebih berhasil itu. Konflik yang ingin dihadirkannya terasa berputar-putar saja dan tidak benar-benar menjadi permasalahan yang harus diselesaikan pada akhirnya. The Treasure Hunter merupakan salah satu contoh adaptasi Hongkong yang gagal yang menghasilkan tontonan tidak berisi dan hanya akan membuat penonton menangis karena mencoba bertahan menyaksikannya hingga durasi berakhir dengan harapan menemukan ending yang memuaskan.

Durasi:
105 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sunday, 18 October 2009

INGLOURIOUS BASTERDS : Sarkasme NAZI Sudut Pandang Tarantino

Quotes:
Col. Hans Landa-[Aldo has just killed his driver] Are you mad? What have you done? I made a deal with your general for that man's life!
Lt. Aldo Raine-Yeah, they made that deal, but they don't give a fuck about him. They need you.
Col. Hans Landa-You will be shot for this!
Lt. Aldo Raine-Naw, I don't think so. More like I'll be chewed out. I've been chewed out before.

Cerita:
Saat Nazi menduduki Perancis, gadis muda Yahudi bernama Shosanna menyaksikan keluarganya dibantai dengan sadis oleh Kolonel Hans Landa sebelum melarikan diri. Perlahan-lahan, Shosanna membangun kehidupannya sambil merencanakan balas dendam beberapa tahun kemudian saat pahlawan perang Jerman, Fredrick Zoller menaruh hati padanya. Di lain pihak, the Basterds, sebuah kelompok Yahudi Amerika yang dipimpin Letnan Aldo Raine bertekad membunuh setiap perwira Nazi yang mereka temui. Pada akhirnya semua pihak pun bertemu di gedung teater tepat pada pertunjukkan film dokumen kebanggaan Jerman yang turut dihadiri sang pemimpin Nazi itu sendiri, Adolf Hitler!

Gambar:
Demi menciptakan situasi yang sesungguhnya, Tarantino mengambil dua lokasi di Jerman yaitu Saxony dan Brandenburg sebagai latar belakang jaman penjajahan Nazi.

Act:
Dengan cast keroyokan, aktor-aktris yang bermain dalam Inglourious Basterds tetap menunjukkan performa terbaik sesuai tuntutan sutradara.
Brad Pitt sebagai Lt. Aldo Raine
Mélanie Laurent sebagai Shosanna Dreyfus
Christoph Waltz sebagai Col. Hans Landa
Eli Roth sebagai Sgt. Donny Donowitz
Michael Fassbender sebagai Lt. Archie Hicox
Diane Kruger sebagai Bridget von Hammersmark
Daniel Brühl sebagai Pvt Fredrick Zoller
Til Schweiger sebagai Sgt. Hugo Stiglitz

Sutradara:
Memenangkan satu-satunya Oscar pada tahun 1995 kategori Naskah Penulisan Terbaik dalam Pulp Fiction (1994), Quentin Tarantino merupakan salah satu sutradara eksentrik Hollywood yang sangat ternama berkat karya-karyanya yang off-mainstream.

Comment:
Film yang gelap penuh kekerasan tapi sedikit bernuansa fiksi komikal. Ya rasa salut harus dilayangkan pada Tarantino yang berhasil menggambarkan sekelompok bajingan yang bisa jadi mengingatkan kita semua pada kekejaman Nazi pada masanya. Terbagi dalam lima sekuens yang fasih dalam bercerita, Tarantino tidak hanya menyorot Inggris, Amerika ataupun Jerman yang saling bersitegang tetapi juga Perancis dan warga sipil Jerman yang tertindas karenanya. Hal unik dilakukannya lewat bertukar dialog dimana orang Perancis berbicara Jerman dan sebaliknya sehingga tercipta percakapan yang lucu sekaligus tajam. Hampir semua cast bermain brilian, hanya saja daya tarik utamanya yaitu Pitt terlihat paling lemah saat memerankan karakter idiot berkuasa yang penuh dendam. Pada beberapa adegan lambat, mungkin cukup mencengangkan anda dengan dramatisasi kekejaman yang seolah dibuat untuk ditertawakan.
Akhir kata, acungan jempol buat Tarantino yang sukses membuat banyak orang yakin ia pantas menerima gelar Sutradara Terbaik pada Oscar tahun depan. Namun saya ingatkan, Inglourious Basterds tidak bisa "dinikmati" begitu saja, terutama bagi anda yang tidak menyukai atau mengenal gaya dari Tarantino.

Durasi:
145 menit

U.S. Box Office:
$118,297,669 till early Oct 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!

Tuesday, 6 October 2009

THE SECRET OF MOONACRE : Perselisihan Dua Keluarga Membawa Bencana

Tagline:
A Magical Journey Begins.

Cerita:
Saat ayahnya meninggal, remaja 13 tahun, Maria Merryeather terpaksa meninggalkan London dan tinggal bersama pamannya yang eksentrik, Sir Benjamin di sebuah Puri Moonacre. Satu-satunya peninggalan ayahnya hanyalah buku fiksi tua yang berangsur-angsur menjadi kenyataan dimana perselisihan dua keluarga Merryweather dan de Noir bermula. Maria kemudian menemukan fakta bahwa dirinya adalah penerus terakhir Putri Moonacre yang harus menghentikan kutukan dengan cara menemukan seuntai kalung mutiara yang telah hilang bertahun-tahun sebelum semuanya terlambat.

Gambar:
Keindahan alam Hungaria dipaparkan dalam film ini dimana gambar-gambar klasik nan indah seakan pas dengan visualisasi bukit Moonacre.

Act:
Aktor Inggris, Ioan Gruffudd seumur hidupnya lebih banyak terlibat dalam produksi serial teve sampai Fantastic Four (2005) sukses mengangkat namanya di kancah perfilman Hollywood. Kali ini ia berperan sebagai Sir Benjamin Merryweather yang eksentrik dan keras hati.
Aktris cilik Dakota Blue Richards angkat nama lewat The Golden Compass (2007) yang walaupun digadang-gadang sukses tapi flop di pasaran. Disini ia bermain sebagai Maria Merryweather yang pemberani dan gigih.
Juliet Stevenson sebagai Miss Heliotrope, pengasuh Maria yang cerewet tapi baik hati.
Nastascha McElhone sebagai Loveday.
Tim Curry sebagai Coeur de Noir.
Augustus Prew sebagai Robin de Noir.

Sutradara:
Pria kelahiran Hungaria bernama Gabor Csupo ini boleh dibilang menguasai perfilman anak-anak baik animasi televisi ataupun fiksi layar lebar walau lebih sering duduk di kursi writer ataupun departemen animasi. Secret Of Moonacre merupakan film ketiganya setelah sebelumnya Bridge To Terabithia (2007).

Comment:
Selayaknya film fiksi yang diangkat dari novel remaja atau bisa disebut anak-anak, The Secret Of Moonacre fasih bercerita dengan narasi yang mudah diikuti dan tentunya detail dalam eksplorasi imajinasi. Tetapi penerjemahan ke versi layar lebar tentunya tidak semudah itu, butuh elemen-elemen bagus yang bisa mengangkatnya menjadi luar biasa. Beban berat disandangnya karena beberapa film sejenis belakangan flop di pasaran seperti contohnya Golden Compass dsb. Dari segi cast, Moonacre bisa dibilang sudah tepat karena aktor-aktrisnya tampil baik apalagi dibantu dengan kostum yang menarik mata. Spesial efek atau biasa disebut CGI juga terlihat halus disini terutama kemunculan singa hitam dan kuda unicorn. Secara keseluruhan di mata saya, dari segi kualitas Moonacre sedikit lebih baik daripada Bridge To Terabithia atau Seeker tetapi masih kalah memikat dibandingkan Stardust atau The Golden Compass. Permasalahan utama adalah plot cerita yang dirasa masih terlalu sederhana dan berlarut-larut bagi penonton dewasa.

Durasi:
100 menit

Europe Box Office:
£944,197 till May 2009

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!