Showing posts with label stanley tucci. Show all posts
Showing posts with label stanley tucci. Show all posts

Thursday, 22 March 2012

THE HUNGER GAMES : Hungry Young Souls Against Autocracy













Quotes:
Haymitch Abernathy: This is the time to show them everything. Make sure theyremember you.

Nice-to-know:
Pada tanggal 22 Februari, empat minggu sebelum rilis, Lionsgate mulai menjualtiket di muka. Tidak hanya berhasil memecahkan rekor per hari yang dicetak olehThe Twilight Saga: Eclipse sebelumnya tetapi mengumpulkan 83% dari total penjualanhari tersebut.

Cast:
Jennifer Lawrence sebagai Katniss Everdeen
Stanley Tucci sebagai Caesar Flickerman
Josh Hutcherson sebagai Peeta Mellark
Wes Bentley sebagai Seneca Crane
Willow Shields sebagai Primrose Everdeen
Liam Hemsworth sebagai Gale Hawthorne
Elizabeth Banks sebagai Effie Trinket

Director:
Merupakan film ketiga bagi Gary Ross yang pertama kali diawali olehPleasantville (1998).

W for Words:
Selepas 7 seri Harry Potter berakhir, wajar jika banyak pecinta film di seluruhdunia menantikan kehadiran franchise baru yang sedianya dapat selalu ditunggukelanjutannya. Harapan itu ada pada novel trilogy milik Suzzane Collins yangterdiri dari The Hunger Games, Catching Fire dan Mockingjay. Trailer seripertama yang sudah wara-wiri sejak akhir tahun lalu ini nyatanya suksesmemancing perhatian publik dimana skripnya digarap sendiri oleh Collins bersamasutradara Gary Ross yang juga dibantu oleh Billy Ray ini.
Capitol memilih sepasang remaja laki-laki dan perempuan dari 12 distrik untukberkompetisi dalam ajang The Hunger Games ke-74. Mengajukan diri sebagaipengganti adiknya Primrose yang terpilih, Katniss Everdeen harus meninggalkansahabatnya Gale untuk bergabung dengan Peeta Mellark. Mentor mereka adalahCinna dan Haymitch yang mengajarkan trik khusus agar mendapat simpati daripenonton sehingga mau memberikan sponsor yang mungkin saja mempengaruhi hasilakhir permainan yang tinggal menyisakan satu orang saja tersebut.

Premisnya mungkin akan lumayan brutal dalam bayangan anda. Namun sutradara Rossdengan cerdas memanipulasi berbagai aksi di antara para kontenstan untukmenyelamatkan rating Remaja yang disematkan pada film ini. Adegan kekerasanmemang terlihat di beberapa bagian tapi tidak eksplisit menampilkan darah.Sebaliknya sisi kemanusiaan turut ditekankan, dimana remaja-remaja ini seakanmenjadi tumbal para Pemerintah sehingga mengundang simpati siapapun yangmelihatnya.
Jennifer Lawrence pernah dinominasikan Oscar kategori Aktris Terbaik bukantanpa alasan. Ia mewakili kekuatan, ketakutan, kemauan hingga kelembutan hatiKatniss dengan penjiwaan yang baik. Josh Hutcherson dan Liam Hemsworth jugamenjadi padanan yang seimbang bagi Lawrence meskipun nama tersebut belakangantidak terlalu dominan disini. Siapa yang tahu jika cinta segitiga ini akanbersemi pada sekuelnya di kemudian hari. Another Twilight wannabe perhaps?

Aktor-aktris pendukung yang sudah punya nama juga menuntaskan tugasnya denganmaksimal, sebut saja Stanley Tucci yang menggelikan sebagai presenter televisi Caesarlayaknya The Truman Show, Donald Sutherland yang mengerikan sebagai PresidenSnow, Woody Harrelson yang eksentrik sebagai mentor pemabuk Haymitch. Janganlupakan juga si menyebalkan Wes Bentley sebagai Seneca dan Elizabeth Banks yangtampil bak Lady Gaga sebagai Effie dengan make-up dan rambut warna-warninya.
Bagi yang sudah membaca bukunya niscaya akan menyukai perubahan minor dari Rossyang berhasil mempertajam narasi, apalagi suguhan musik T-Bone Burnett danJames Newton Howard yang semakin mengangkat semangat permainan itu sendiri.Sejujurnya saya belum menemukan sesuatu yang terlalu istimewa dari seri pertamanyaini walau mengakui adanya potensi besar di dalamnya untuk pengembangan yanglebih dalam di masa mendatang. Konsep “perburuan” yang terlalu berlarut-larutdengan “aturan” membunuh yang tidak biasa memang tak jarang membuat penontonmenguap ataupun mengernyitkan dahi. Beruntung jajaran cast dan eksekusi ciamikRoss masih menjadikan The Hunger Games tontonan yang berkelas dan memilikipesan moral di dalamnya. Yes, it’s us versus the government, hungry for justiceagainst hungry for autocracy!

Durasi:
142 menit

U.S. Box Office:.
$50,451,681 till Feb 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sunday, 18 March 2012

MARGIN CALL : Positioning For The Sake Of Choices


Quotes:
John Tuld: There are three ways to make a living in this business: be first, be smarter, or cheat.

Nice-to-know:
J.C. Chandor said that he wrote the script for the story he had been carrying around in his head for about a 'year-and-a-half' in just four days, filling time between job interviews in Boulder, Colorado.

Cast:
Kevin Spacey sebagai Sam Rogers
Paul Bettany sebagai Will Emerson
Jeremy Irons sebagai John Tuld
Zachary Quinto sebagai Peter Sullivan
Penn Badgley sebagai Seth Bregman
Simon Baker sebagai Jared Cohen
Demi Moore sebagai Sarah Robertson
Stanley Tucci sebagai Eric Dale

Director:
Merupakan debut penyutradaraan J.C. Chandor.

W for Words:
Saya bukanlah seorang pialang saham meskipun sempat magang untuk sementara waktu di sebuah perusahaan keuangan yang terletak di bilangan Thamrin beberapa tahun lalu. Film ini diyakini akan membuat ingatan anda melambung pada Wall Street: Money Never Sleeps (2010) ataupun prekuelnya yang mengulas kejatuhan harga pasar secara signifikan. Bedanya J.C. Chandor yang menulis sekaligus menyutradarai mempersempit ruang lingkup kasusnya yaitu sebatas di antara para eksekutif papan atas di perusahaan tersebut.
Sebuah perusahaan investasi terkemuka yang berlokasi di Manhattan baru saja memecat kepala manajemen resiko, Eric Dale tanpa penjelasan yang masuk akal. Eric pergi dengan kecewa dan sempat menitipkan flashdisk pada bawahannya sang analyst, Peter Sullivan. Peter memeriksa data tersebut dan mendapati keuangan perusahaan di ambang kehancuran. Terpanggillah para petinggi seperti Will Emerson, Sarah Robertson, Jared Cohen yang bertanggungjawab penuh pada CEO, John Tuld dalam rapat dadakan tengah malam. Waktu sempit yang tersisa harus digunakan untuk menghasilkan keputusan terbaik.

Salah satu yang paling outstanding menurut saya adalah karakter demi karakternya yang diperkenalkan seiring konflik berjalan. Inilah yang membuat penonton mampu mengenali wajah demi wajah dan beragam kepribadian mereka dalam menangani masalah urgensi nan pelik. Tak hanya itu, peran masing-masing dalam perusahaan juga terdefinisikan dengan jelas berikut resiko dan tanggungjawabnya. Bahkan perbedaan penghasilan yang mempengaruhi gaya hidup juga dihadirkan melalui dialog satir dari mulut Seth, Peter ataupun Will.
Sulit mempercayai bahwa inilah debut Chandor yang tampak begitu menguasai semua departemen dalam film ini. Anda akan menemukan ketegangan yang tampak di raut wajah masing-masing karena berpacu dengan waktu atau keputus asaan yang tergambar dari bahasa tubuh karena bingung dengan keadaan yang tidak terselamatkan meskipun tanpa kekerasan atau kematian sekalipun. Tidak ada tokoh baik dan jahat disini karena jika anda memposisikan diri sebagai mereka mungkin akan menemukan motivasi yang berbeda-beda terhadap satu sama lain.

Kesemua aktor dan juga Demi Moore tampil luar biasa dalam peran masing-masing. Favorit saya adalah Zachary Quinto yang bertindak sebagai staf analyst dari latar belakang yang jauh bertolak belakang dan juga seperti biasa Kevin Spacey tang berperan sebagai pembuat keputusan tertinggi di luar CEO yang juga dimainkan secara karismatik oleh Jeremy Irons. Sedangkan Penn Badgley dan Paul Bettany juga sama efektifnya dalam posisi yang terjepit di tengah-tengah. Jangan lupakan Stanley Tucci yang sukses menyita perhatian di pembuka film dengan penjiwaan gemilang karyawan terPHK semena-mena.
Anda tidak akan dikuliahi oleh aspek investasi keuangan disini karena Margin Call bercerita dengan kreatif. Meskipun tidak mengerti keseluruhan konflik yang terjadi di dalamnya, anda tetap merasakan hal tersebut penting dan akan membuat anda terjaga hingga credit title bergulir. Jempol bagi Chandor yang berhasil menyuguhkan narasi yang tajam dengan sinematografi yang meyakinkan sebagai pendukungnya. Ironi memang bisa terjadi dalam situasi apapun dimana pilihan menjadi amat terbatas atau bahkan tidak ada samasekali.

Durasi:
107 menit

U.S. Box Office:
$5,344,104 till Jan 2012

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 22 January 2011

BURLESQUE : Perjuangan Mencapai Puncak Selamatkan Klub

Tagline:
It takes a LEGEND... to make a STAR.

Storyline:
Burlesque Lounge sudah melewati masa-masa jayany. Sang pemilik sekaligus mantan penarinya, Tess yang telah bercerai dengan Vince kesulitan membayar tunggakan sehingga terancam ditutup. Prinsip Tess tetap sama dimana para penarinya Nikki, Coco dkk diharuskan tetap menari dengan lip sync. Hal ini ditentang oleh gadis Iowa, Ali yang bekerja sebagai pelayan atas bantuan Jack sang bartender. Ali yang memohon Tess agar diberi kesempatan menjadi salah satu penari berusaha meyakinkan kemampuannya. Kini Tess harus mengambil keputusan berat dimana pebisnis licik Marcus sudah mengajukan tawaran terbaiknya untuk mengambil alih.

Nice-to-know:
Foto Ali yang berusia tujuh tahun bersama ibunya merupakan foto asli Christina Aguilera bersama ibunya, Shelly Kearns.

Cast:
Absen 7 tahun setelah Stuck On You, Cher kembali sebagai pemilik Burlesque Lounge, Tess yang egosentris idealis.
Christina Aguilera sebagai Ali
Eric Dane sebagai Marcus
Cam Gigandet sebagai Jack
Julianne Hough sebagai Georgia
Alan Cumming sebagai Alexis
Peter Gallagher sebagai Vince
Kristen Bell sebagai Nikki
Stanley Tucci sebagai Sean

Director:
Steve Antin sebenarnya lebih dikenal sebagai aktor termasuk serial televisi NYPD Blue sebagai Detektif Nick Savino.

Soundtrack:
Something’s Got A Hold On Me by Christina Aguilera
Welcome To Burlesque by Cher
Tough Lover by Christina Aguilera
But I’m Am A Good Girl by Christina Aguilera
Guy What Takes His Time by Christina Aguilera
Express by Christina Aguilera
You Havent Seen The Last Of Me by Cher
Bound To You by Christina Aguilera
Show Me How You Burlesque by Christina Aguilera
The Beautiful People by Christina Aguilera

Comment:
Rasanya Antin cukup ambisius saat memutuskan menulis dan menggarap film musikal ini dimana pengalamannya hanya sebagai aktor yang belum ternama juga. Dari segi penulisan, skrip film ini tidak menawarkan hal baru dimana konsep from zero to hero ataupun wrong to right tetap dipertahankan. Sudah berbagai film sebelumnya membahas tema ini, sebut saja Coyote Ugly ataupun Make It Happen dari periode 2000an. Dari segi penyutradaraan, gaya yang diusungnya bisa dikatakan glamour sehingga sebagai sebuah panggung, Burlesque Lounge menjanjikan banyak hal yang memanjakan mata.
Kemampuan menyanyi biduanita senior Cher dan Christina Aguilera yang lebih junior tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi akting, saya tidak bisa katakan buruk tetapi mendapat eksploitasi yang kurang maksimal disini. Bagaimana Cher sebagai seorang pemimpin klub digambarkan egosentris idealis yang bahkan tidak pernah mendengarkan orang lain selain dirinya sendiri terasa stagnan dari awal sampai akhir. Lalu Aguilera sebagai seorang pendatang baru yang penuh mimpi dan percaya diri tidak terlalu terlihat perubahan no one to somebody nya disini selain riasan dan kostumnya saja. Beruntung chemistry keduanya cukup menarik disini walau saya sebetulnya mengharapkan lebih.
Di jajaran aktor pendukung, Tucci bermain gemilang sebagai Sean yang homoseksual. Dimanapun Tucci berbagi scene maka adegan tersebut menjadi hidup. Sedangkan Dane, Bell dan Gigandet cukup memanjakan mata dengan karakterisasi mereka yang penuh warna untuk menghidupkan segala konflik yang terjadi sekaligus menciptakan dialog-dialog yang pandai dan sarkastis meskipun kadang masih terkesan norak dan klise.
Di atas semua itu rasanya Burlesque (berarti olok-olok) masih dapat dinikmati sebagai film musikal yang mengusung konsep seni tari dan tarik suara dengan segala intrik di dalamnya. Bagaimana suara kuat Aguilera dan suara berat Cher berpadu manis dengan koreografi yang menarik di atas panggung meriah di bawah cahaya yang ditata sedemikian rupa. Lagu-lagunya tergolong dinamis walau menurut saya akan sulit disukai hanya dengan mendengarkan tanpa menyaksikan. Uang yang anda keluarkan untuk menonton film ini sepertinya sebanding dengan live concert young diva, Christina Aguilera. But still IMO it was a fun movie though!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$38,707,062 till mid Jan 2011.

Movie-meter:

Sunday, 11 April 2010

THE LOVELY BONES : Saat Perasaan Kehilangan dan Pelepasan Terperangkap

Quotes:
Susie Salmon-I was slipping away, that's what it felt like, life was leaving me, but I wasn't afraid; then I remembered: "There was something I was meant to do; somewhere I was meant to be."

Storyline:
6 Desember 1973, saat mengambil jalan pintas perjalanan pulang dari sekolah ke rumah, Susie Salmon dikuntit tetangganya, George Harvey dan diajak ke lubang rahasia di bawah ladang jagung. Disana Susie diperkosa, ditikam dan dimutilasi George. Ayah-ibunya Jack dan Abigail melaporkan pada polisi dan ditangani oleh Detektif Len Fenerman. Sayangnya penyelidikan tidak kunjung mendapat titik temu walau semuanya sempat mencurigai George tapi tidak menemukan bukti yang kuat. Beberapa waktu berlalu, arwah Susie tidak benar-benar pergi, dia terjebak di antara alam hidup dan mati. Menyaksikan dari kejauhan kekasih yang belum sempat diciumnya, Ray dan keluarganya termasuk neneknya serta kedua adiknya, Lindsey & Buckley. Akankah akhirnya kasus tersebut dapat terungkap? Berhasilkah Susie menemukan kedamaian sendiri dalam jalan hidupnya?

Nice-to-know:
Penulis novel laris ini, Alice Sebold lebih menginginkan aktris yang tidak terkenal untuk peran Susie Salmon. Setelah ikut menentukan proses casting dan menjatuhkan pilihannya, Saoirse Ronan dinominasikan Oscar kategori Aktris Pendukung Terbaik lewat Atonement (2007).

Cast:
Terakhir tampil cukup memikat dalam City Of Ember (2008), Saoirse Ronan kebagian tokoh Susie Salmon, remaja putri 14 tahun yang periang tetapi bernasib malang.
Pertama kali dinominasikan Academy Awards 2010 kategori Aktor Pendukung Terbaik lewat peran George Harvey disini, Stanley Tucci sudah membintangi puluhan judul film termasuk debutnya dalam Prizzie's Honor (1985).
Kedua orangtua Susie yaitu Jack dan Abigail Salmon dimainkan oleh Mark Wahlberg dan Rachel Weisz.
Rose McIver dan Christian Thomas Ashdale memerankan Lindsey dan Buckley.

Director:
Angkat nama di seantero dunia lewat trilogi The Lord Of The Rings, Peter Jackson juga memperoleh satu-satunya Oscar Sutradara Terbaik lewat bagian penutup trilogi tersebut.

Comment:
Durasi aslinya dipangkas 10-15 menit untuk konsumsi bioskop Indonesia. Tebakan saya itu terjadi di bagian pembunuhan terhadap Susie yang dianggap terlalu sadis dan provokatif karena pedofilia bukan sesuatu yang dapat diterima umum apalagi untuk masyarakat umum, juga beberapa adegan di ending yang dirasa tidak terlalu perlu. Plot ceritanya simpel tetapi dieksplorasi dengan sangat riil dan detail. Dramatisasinya dibangun cukup sempurna oleh Jackson. Dunia orang hidup dan orang mati dikombinasikan dengan menarik. Dunia peralihan yang biasanya digambarkan gelap gulita kali ini ditampilkan dengan nuansa yang berbeda. Sinematografinya tergolong indah dengan warna kuning dan coklat yang dominan disertai perubahan suasana siang dan malam. Dari segi cast, Ronan bermain cemerlang dimana emosinya terekam baik sebagai remaja 14 tahun yang masih kebingungan dengan jati dirinya. Yang patut diacungi jempol adalah Tucci yang menambah bobot dan memangkas bulu-bulu tubuhnya untuk menghayati peran psikopat pedofil. Pada beberapa bagian, peran-peran pendukung anggota keluarga Salmon juga berhasil mengisi peran secara utuh. Apakah terlihat seperti review yang sempurna? Tidak juga. Minus film ini cukup banyak, narasi yang terlalu datar dan terkesan berulang-ulang. Belum lagi perpindahan antar sekuens dua dunia yang cukup mengganggu. Dialog-dialognya cenderung biasa sehingga agak membosankan. Inti cerita The Lovely Bones sesungguhnya mengenai pelepasan terhadap sesuatu, bagaimana keterikatan duniawi menjadi suatu dilema yang sulit diselesaikan. Masalah yang bisa jadi dialami setiap orang di muka bumi.

Durasi:
125 menit

U.S. Box Office:
$43,818,839 till Mar 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 5 April 2010

JULIE & JULIA : Dua Wanita Inspiratif Jago Masak

Quotes:
Paul Child-What is it you REALLY like to do?
Julia Child-Eat!

Storyline:
Sang legenda kuliner, Julia Child menyediakan resep baru bagi seorang pegawai yang frustasi, Julie Powell lewat sebuah buku dan acara televisi. Pada akhirnya Julie benar-benar terinspirasi dan menyelesaikan 524 resep dalam waktu 365 hari sekaligus memperkenalkan generasi baru keajaiban masakan Perancis. Semua itu berkat dukungan suami dan kucingnya di apartemen tercinta mereka. Blog yang ditulisnya pun semakin digemari orang-orang yang mendorongnya mendapat banyak tawaran menulis dari puluhan editor terkenal. Bagaimana kehidupan seorang Julia sendiri? Dan bagaimana hal tersebut dapat memacu Julie untuk membenahi hidupnya yang semula membosankan?

Nice-to-know:
Sesungguhnya Meryl Streep hanya bertinggi 5 kaki 6 inci dan dibantu oleh trik kamera untuk membuatnya terlihat seperti Julia Child asli yang bertinggi 6 kaki 2 inci!

Cast:
Kedua kalinya memerankan karakter bernama Julia sejak debut aktingnya dalam Julia (1977), Meryl Streep meraih nominasi Oscar 2010 kategori Aktris Utama Terbaik lewat film ini.
Pertama kali mendapat nominasi Oscar 2006 kategori Aktris Pendukung Terbaik lewat Junebug (2005), Amy Adams memangkas rambutnya untuk menjadi seorang Julie Powell, karyawati customer care yang stress luar biasa menghadapi keluhan pelanggan hingga menikmati waktu sepulang kerja dengan memasak!

Director:
Pertama kali meraih nominasi Oscar Best Screenplay bersama Alice Arlen lewat Silkwood (1984), Nora Ephron merupakan satu dari sedikit sutradara wanita senior di kancah Hollywood.

Comment:
Diangkat dari kisah nyata dimana buku berjudul "Mastering the Art of French Cooking" benar-benar ada dalam beberapa volume di tahun 1970an! Plotnya sendiri mengenai kehidupan dua wanita di tempat yang berbeda dan tidak saling mengenal. Streep bermain cemerlang seperti biasa dengan aksen Perancis dan bahasa tubuhnya sebagai koki handal. Meski sedikit kalah kelas, Adams juga sudah berusaha keras berakting sebagai pegawai yang tertekan dan berusaha konsisten dengan hobi barunya yang inspiratif. Chemistry masing-masing mereka dengan Tucci dan Messina juga terlihat natural dan manis. Sang sutradara Ephron rasanya terlalu berfokus pada karakter Julie, nyaris 90% dari durasi film menceritakan aktifitasnya. Apakah itu siasatnya untuk memotong bagian dalam bukunya yang banyak bertutur tentang sudut pandang Julia dan aktifitasnya bersama teman-temannya yang dirasa tidak terlalu penting? Akhir kata, Julie & Julia mungkin akan membosankan bagi penonton awam, kelezatan masakan tidak terlalu ditampilkan secara gamblang tetapi konsep dan semangatlah yang dikedepankan. Apakah anda akan menggemari selera makanan Perancis selayaknya banyak penduduk Amerika yang terobsesi setelah menyaksikannya?

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$94,125,426 till Nov 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!