Friday, 22 October 2010
Only for Amiran (Umrao Jaan)
The last time I met Meera Ali, and that would be about fours years ago, I kept singing praises about her husband's landmark film. The elegant personality that she is, Meera took my childish prattle rather sportingly and invited me to her house in Mumbai where I could meet Muzaffar Ali. Elated at the offer, I hardly gave enough attention to her new collection of weaves and clothes, which she was
SETAN FACEBOOOK : Arwah Penasaran Hantui Jaringan Online
Quotes:
Ronny-Siapa yang tau setan gak bakal gentayangan lagi?
Storyline:
Kecanduan Facebook memang lumrah terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Remaja belasan tahun Farah termasuk salah satunya. Ia gemar sekali mengupdate status Facebooknya dimana saja dan kapan saja. Hal ini tak jarang merugikan dirinya sendiri karena diusir dari kelas pada saat mata kuliah dosennya ataupun dikomplain kekasihnya, Nauvam dan sahabat karibnya, Cici. Ketakutan mulai melanda Farah saat tahu satu persatu temannya yang mendapat konfirmasi pertemanan dengan sosok misterius bernama Mira Anindhita tewas mengenaskan. Farah meminta bantuan Rony yang jago hack yang mengarahkannya pada Oma Pujo, keluarga dekat Mira. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mira?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh D’Color Entertainment dan diproduseri oleh Harris Nizam.
Cast:
Cindy Anggrina sebagai Farah
Boy Hamzah sebagai Nauvam
Jehaan Sienna sebagai Cici
Maeeva Amin sebagai Mira Anindhita
Waqid
Ricky Ertan
Director:
Helfi Ch Kardit mengawali karirnya dengan sebuah horor yang masih berkualitas lumayan yaitu Bangku Kosong (2006).
Comment:
Sejak awal cerita yang ditulis oleh M. Ilhamka Nizam dan Anggoro ini memang terkesan mengada-ngada. Namun dalam dunia perfilman tidak pernah ada standar baku yang tidak dapat digunakan. Ide senyeleneh apapun sebenarnya tetap bisa dikerjakan asal dibekali dengan kelengkapan-kelengkapan yang memadai. Bagaimana dengan film ini?
Sutradara Helfi tampaknya sekuat tenaga berusaha serasional mungkin menerjemahkan skrip tersebut dengan waras. Hal ini terlihat dari 30 menit pertamanya yang mencoba menampilkan latar belakang kehidupan remaja yang perlahan-lahan mulai menyikapi misteri yang dihadapinya. Namun semakin lama jatuhnya justru semakin tidak meyakinkan.
Pertama, kemunculan setan yang teramat janggal. Kadang ia muncul setelah lampu padam atau listrik mati yang anehnya masih bisa terkoneksi dengan internet? Provider apakah itu yang anti disconnect? Ataukah ia menggunakan portal khusus untuk memindahkan dirinya seperti pintu kemana saja? Sampai sini, itulah yang menarik untuk dicari tahu!
Kedua, motif setan yang semula misterius menjadi tidak penting lagi. Penonton sudah keburu jengah untuk digiring menuju ending yang sebetulnya dipersiapkan menjadi kejutan tersendiri. Balas dendamkah karena setan kebetulan lupa log out setelah sign in sehingga Facebooknya dihack orang? Hm, coba anda cari tahu sendiri.
Dua hal yang tidak meyakinkan itu semakin diperburuk dengan irrasionalnya tokoh-tokoh yang kebetulan “hidup” dalam film ini. Farah yang sok gaul bin oon, Cici yang makan teman, Nauvam yang peselingkuh, Ronny yang penjahat kelamin, Pak Dosen yang mesum dsb. Tidak ada satupun rasanya yang membuat kita bersimpati apalagi peduli pada nasibnya.
Segala uneg-uneg yang saya sebutkan di atas rasanya sudah cukup bagi anda untuk menilai kualitas Setan Facebook ini secara garis besar. Apalagi dengan penampakan yang ala kadarnya, rambut panjang dan muka rusak dalam gaun putih, mudah-mudahan setan ini bisa bertransformasi secara lebih sempurna dalam “sekuel”nya kelak. Twitter, anyone?
Durasi:
80 menit
Overall:
6 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Ronny-Siapa yang tau setan gak bakal gentayangan lagi?
Storyline:Kecanduan Facebook memang lumrah terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Remaja belasan tahun Farah termasuk salah satunya. Ia gemar sekali mengupdate status Facebooknya dimana saja dan kapan saja. Hal ini tak jarang merugikan dirinya sendiri karena diusir dari kelas pada saat mata kuliah dosennya ataupun dikomplain kekasihnya, Nauvam dan sahabat karibnya, Cici. Ketakutan mulai melanda Farah saat tahu satu persatu temannya yang mendapat konfirmasi pertemanan dengan sosok misterius bernama Mira Anindhita tewas mengenaskan. Farah meminta bantuan Rony yang jago hack yang mengarahkannya pada Oma Pujo, keluarga dekat Mira. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mira?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh D’Color Entertainment dan diproduseri oleh Harris Nizam.
Cast:
Cindy Anggrina sebagai Farah
Boy Hamzah sebagai Nauvam
Jehaan Sienna sebagai Cici
Maeeva Amin sebagai Mira Anindhita
Waqid
Ricky Ertan
Director:
Helfi Ch Kardit mengawali karirnya dengan sebuah horor yang masih berkualitas lumayan yaitu Bangku Kosong (2006).
Comment:
Sejak awal cerita yang ditulis oleh M. Ilhamka Nizam dan Anggoro ini memang terkesan mengada-ngada. Namun dalam dunia perfilman tidak pernah ada standar baku yang tidak dapat digunakan. Ide senyeleneh apapun sebenarnya tetap bisa dikerjakan asal dibekali dengan kelengkapan-kelengkapan yang memadai. Bagaimana dengan film ini?
Sutradara Helfi tampaknya sekuat tenaga berusaha serasional mungkin menerjemahkan skrip tersebut dengan waras. Hal ini terlihat dari 30 menit pertamanya yang mencoba menampilkan latar belakang kehidupan remaja yang perlahan-lahan mulai menyikapi misteri yang dihadapinya. Namun semakin lama jatuhnya justru semakin tidak meyakinkan.
Pertama, kemunculan setan yang teramat janggal. Kadang ia muncul setelah lampu padam atau listrik mati yang anehnya masih bisa terkoneksi dengan internet? Provider apakah itu yang anti disconnect? Ataukah ia menggunakan portal khusus untuk memindahkan dirinya seperti pintu kemana saja? Sampai sini, itulah yang menarik untuk dicari tahu!
Kedua, motif setan yang semula misterius menjadi tidak penting lagi. Penonton sudah keburu jengah untuk digiring menuju ending yang sebetulnya dipersiapkan menjadi kejutan tersendiri. Balas dendamkah karena setan kebetulan lupa log out setelah sign in sehingga Facebooknya dihack orang? Hm, coba anda cari tahu sendiri.
Dua hal yang tidak meyakinkan itu semakin diperburuk dengan irrasionalnya tokoh-tokoh yang kebetulan “hidup” dalam film ini. Farah yang sok gaul bin oon, Cici yang makan teman, Nauvam yang peselingkuh, Ronny yang penjahat kelamin, Pak Dosen yang mesum dsb. Tidak ada satupun rasanya yang membuat kita bersimpati apalagi peduli pada nasibnya.
Segala uneg-uneg yang saya sebutkan di atas rasanya sudah cukup bagi anda untuk menilai kualitas Setan Facebook ini secara garis besar. Apalagi dengan penampakan yang ala kadarnya, rambut panjang dan muka rusak dalam gaun putih, mudah-mudahan setan ini bisa bertransformasi secara lebih sempurna dalam “sekuel”nya kelak. Twitter, anyone?
Durasi:
80 menit
Overall:
6 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Thursday, 21 October 2010
ROKKAP : Asmara Gadis Batak Pelukis Tuna Netra
Quotes:
Ivy-Semoga aja loe dapet jodoh orang Batak kayak gue.
Bow-Asal berambut!
Storyline:
Dikarenakan kecelakaan di masa kecil, Lingga yang kini berusia 31 tahun harus menjalani hidup sebagai tuna netra. Namun Tuhan yang maha adil memberikan kelebihan lain pada gadis Batak itu yakni memiliki kemampuan melukis yang mumpuni. Hasil karyanya itu dijual untuk menghidupi keluarga yang menyisakan ayah dan kakak perempuan yang sangat menyayanginya itu. Di belahan bumi lain, Bow terpaksa menyanggupi permintaan kedua sahabatnya, Gun dan Ivy untuk melakukan sesi foto pre wedding di Danau Toba. Disanalah Bow yang awalnya tertarik pada lukisan Lingga akhirnya bertemu dengan pelukisnya. Keduanya saling jatuh cinta satu sama lain meski ayah Lingga tidak menyetujui hubungan itu begitu saja dan juga Bow belum sepenuhnya putus dari kekasihnya, Vienna yang tinggal di Bali. Mampukah keduanya bersatu di antara segala perbedaan yang mendasar tersebut?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Promise Land Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 20 Oktober 2010.
Cast:
Alex Abbad sebagai Bonaventura Christoper
Kinaryosih sebagai Lingga
Agastya Kandou sebagai Gun
Sarah Jane sebagai Ivy
Tongam Sirait sebagai Ayah Lingga
Iyuth Pakpahan sebagai Vienna
Yondik Tanto
Director:
Kolaborasi pertama BM Joe, Ginanti Rona Tembang Asri dan Hendra "Pay" Arifin Hutapea.
Comment:
Entah karena terlalu bersemangatkan indie atau tidak memiliki dana cukup untuk "berkampanye", film ini tiba-tiba melenggang mulus mengisi slot film nasional di minggu ketiga bulan Oktober 2010 ini. Hanya satu hari notifikasi! Namun melihat jajaran pemain dan sekilas posternya, rasanya masih ada sesuatu nilai tersembunyi yang coba dijual disini. Sekadar catatan tambahan, saya menontonnya bersama sekitar lima puluhan siswa-siswi pesantren yang juga didampingi bapak ibu guru mereka, bisa jadi sebagai wacana pembelajaran di sekolah.
Kinaryosih yang mengaku belajar aksen Batak selama sebulan penuh cukup berhasil menjiwai karakter gadis tunanetra Lingga yang berprofesi sebagai pelukis. Ketegarannya tergambar dari komunikasi yang dilakukannya kepada Yang Maha Kuasa serta kelembutan hatinya dalam bersikap terhadap sesamanya. Sedangkan Alex Abbad tampil di luar kebiasaannya yang urakan dan begundal, melainkan jiwa fotografer yang resah dalam mencari arti hidup sesungguhnya. Chemistry keduanya di dalam layar cukup menyatu meskipun alasan yang membuat keduanya cepat saling jatuh cinta tidak cukup kuat. Mungkin inilah yang dimaksud istilah "Rokkap" alias jodoh itu sendiri!
Sutradara Joe, Ginanti dan Pay berhasil menghadirkan lanskap Sumatera Utara dengan sedemikian indahnya. Pesisir Danau Toba yang menjadi latar belakang juga memberikan kontribusi sendiri dalam memanjakan mata. Plot ceritanya sangat kental dengan budaya Batak terbukti dari penggunaan bahasa, musik latar, setting hingga adat istiadatnya. Semua dihadirkan secara minimalis dan lembut, menyatu dengan kekuatan cerita sederhana yang coba dibangun dari awal.
Rokkap merupakan satu dari sangat sedikitnya film nasional off-mainstream yang berani mengusung idealisme tersendiri ini mungkin akan sangat membosankan bagi para penonton awam. Meskipun terkesan terburu-buru menutup layar, endingnya yang agak miris tak terduga sedikit banyak menjadikan drama ini cukup menggigit dan "bernilai" pada akhirnya.
Durasi:
75 menit
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Ivy-Semoga aja loe dapet jodoh orang Batak kayak gue.
Bow-Asal berambut!
Storyline:Dikarenakan kecelakaan di masa kecil, Lingga yang kini berusia 31 tahun harus menjalani hidup sebagai tuna netra. Namun Tuhan yang maha adil memberikan kelebihan lain pada gadis Batak itu yakni memiliki kemampuan melukis yang mumpuni. Hasil karyanya itu dijual untuk menghidupi keluarga yang menyisakan ayah dan kakak perempuan yang sangat menyayanginya itu. Di belahan bumi lain, Bow terpaksa menyanggupi permintaan kedua sahabatnya, Gun dan Ivy untuk melakukan sesi foto pre wedding di Danau Toba. Disanalah Bow yang awalnya tertarik pada lukisan Lingga akhirnya bertemu dengan pelukisnya. Keduanya saling jatuh cinta satu sama lain meski ayah Lingga tidak menyetujui hubungan itu begitu saja dan juga Bow belum sepenuhnya putus dari kekasihnya, Vienna yang tinggal di Bali. Mampukah keduanya bersatu di antara segala perbedaan yang mendasar tersebut?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Promise Land Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Senayan City XXI tanggal 20 Oktober 2010.
Cast:
Alex Abbad sebagai Bonaventura Christoper
Kinaryosih sebagai Lingga
Agastya Kandou sebagai Gun
Sarah Jane sebagai Ivy
Tongam Sirait sebagai Ayah Lingga
Iyuth Pakpahan sebagai Vienna
Yondik Tanto
Director:
Kolaborasi pertama BM Joe, Ginanti Rona Tembang Asri dan Hendra "Pay" Arifin Hutapea.
Comment:
Entah karena terlalu bersemangatkan indie atau tidak memiliki dana cukup untuk "berkampanye", film ini tiba-tiba melenggang mulus mengisi slot film nasional di minggu ketiga bulan Oktober 2010 ini. Hanya satu hari notifikasi! Namun melihat jajaran pemain dan sekilas posternya, rasanya masih ada sesuatu nilai tersembunyi yang coba dijual disini. Sekadar catatan tambahan, saya menontonnya bersama sekitar lima puluhan siswa-siswi pesantren yang juga didampingi bapak ibu guru mereka, bisa jadi sebagai wacana pembelajaran di sekolah.
Kinaryosih yang mengaku belajar aksen Batak selama sebulan penuh cukup berhasil menjiwai karakter gadis tunanetra Lingga yang berprofesi sebagai pelukis. Ketegarannya tergambar dari komunikasi yang dilakukannya kepada Yang Maha Kuasa serta kelembutan hatinya dalam bersikap terhadap sesamanya. Sedangkan Alex Abbad tampil di luar kebiasaannya yang urakan dan begundal, melainkan jiwa fotografer yang resah dalam mencari arti hidup sesungguhnya. Chemistry keduanya di dalam layar cukup menyatu meskipun alasan yang membuat keduanya cepat saling jatuh cinta tidak cukup kuat. Mungkin inilah yang dimaksud istilah "Rokkap" alias jodoh itu sendiri!
Sutradara Joe, Ginanti dan Pay berhasil menghadirkan lanskap Sumatera Utara dengan sedemikian indahnya. Pesisir Danau Toba yang menjadi latar belakang juga memberikan kontribusi sendiri dalam memanjakan mata. Plot ceritanya sangat kental dengan budaya Batak terbukti dari penggunaan bahasa, musik latar, setting hingga adat istiadatnya. Semua dihadirkan secara minimalis dan lembut, menyatu dengan kekuatan cerita sederhana yang coba dibangun dari awal.
Rokkap merupakan satu dari sangat sedikitnya film nasional off-mainstream yang berani mengusung idealisme tersendiri ini mungkin akan sangat membosankan bagi para penonton awam. Meskipun terkesan terburu-buru menutup layar, endingnya yang agak miris tak terduga sedikit banyak menjadikan drama ini cukup menggigit dan "bernilai" pada akhirnya.
Durasi:
75 menit
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Trick or Treating
Here are some trick-or-treaters from 1847, or so "The Man with the Cloak" (1951) would suggest. I didn't know there were trick-or-treaters in 1847. I thought they were just hoodlums vandalizing the neighborhood until people started giving them candy in 1950s suburbia.
We covered "The Man with the Cloak" in this prevous post. It's not really about Halloween, though the Man of the title, an historical figure, knew a lot about terror.
These kids do their trick-or-treating at a tavern in New York City, and get a pile of doughnuts fresh off the broom handle. I think I'd trade Sweetarts and a Snickers just for the panache of it.
Wednesday, 20 October 2010
THE FOUR-FACED LIAR : Menentukan Pilihan Persahabatan Cinta Sejenis
Quotes:
Molly: Never have I been thrown up against a wall and kissed hard.
Bridget: Never have I ever been turned down.

Storyline:
Bridget, Trip, Molly, Chloe, Greg adalah lima orang berusia 20 tahunan yang berusaha mencari jati diri masing-masing di tengah hiruk-pikuk kota New York. Sepasang sahabat karib dan sepasang kekasih bertemu di sebuah bar Irlandia yang terletak di jalan West Village. Melalui berbagai perjumpaan, keempatnya menjadi terikat satu sama lain dan terlibat cinta, pengkhianatan dan patah hati sekaligus. Begitu sulitkah menentukan identitas di tengah kehidupan yang serba abu-abu tersebut?
Nice-to-know:
Diproduksi oeh Brillhart / Gonzales Productions, Cinescape Productions, OneZero Productions.
Cast:
Marja Lewis Ryan sebagai Bridget
Emily Peck sebagai Molly
Todd Kubrak sebagai Trip
Daniel Carlisle sebagai Greg
Liz Osborn sebagai Chloe
Director:
Feature film pertama bagi Jacob Chase setelah 6 film pendek sebelumnya.
Comment:
Sejujurnya saya tidak terlalu memperhatikan poster ataupun premis film ini sehingga memasuki pertengahan baru menyadari kalau ceritanya menyangkut lesbian dan pasangan straight yang berjuang mmepertahankan hubungan mereka. Okay, I’m an open-minded person. So, I treat every movies the same. Lagipula berapa banyak film yang bertemakan gay/lesbian yang bisa dirilis di bioskop Indonesia? Blitzmegaplex terbukti mampu memberikan ragam pilihan yang berbeda.
Judul film ini berasal dari nama sebuah bar di New York City. Ya lagi-lagi New York City yang dipilih oleh penulis skrip Marja Lewis Ryan sebagai setting lokasi kehidupannya. Bisa jadi terinspirasi oleh serial tenar Friends apalagi tokoh-tokoh utamanya memang beberapa pria wanita dewasa yang saling berinteraksi satu sama lain dengan segala problematikanya. Oleh karena itu sentralisasi karakter tidak terjadi karena frame selalu bergulir secara bergantian.
Dari segi akting, tidak ada masalah samasekali dari semua jajaran cast disini meskipun belum ada yang memiliki nama besar. Semuanya menghidupkan karakter masing-masing dengan pas dan natural. Terlebih Carlisle, Lewis Ryan dan Kubrak yang terlihat sangat menjiwai dengan ekspresi dan intonasi yang atraktif. Sayangnya kesemuanya itu pernah ditampilkan sebelumnya oleh puluhan judul Hollywood meski endingnya masih bersemangatkan indie movie yang kental.
Permasalahannya adalah saya tidak mampu berempati pada tokoh manapun juga dalam film ini. Bukan karena saya tidak mau peduli terhadap jalan cerita yang disodorkan melainkan kurangnya latar belakang dan visi masing-masing tokoh dalam menyikapi hidupnya. Seakan semuanya samar-samar dan sutradara Chase terus saja mengalir dengan supervisi dari Lewis Ryan yang tampaknya menyimpan ambisi pribadi tersendiri dengan proyeknya ini.
Kesalahan lain The Four-Faced Liar adalah kurang menyelipkan unsur komedi di dalamnya. Hal ini teramat penting untuk menyeimbangkan film yang sudah sarat dengan muatan sarkasme mengenai cinta, pengkhianatan dan patah hati itu sendiri. Namun jika anda menginginkan tontonan off-mainstream yang menjurus homoseksualitas (gay/lesbian), mungkin film ini bisa menjadi alternatif yang bijaksana. Belum tentu anda sependapat dengan saya, bukan?
Durasi:
85 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Molly: Never have I been thrown up against a wall and kissed hard.
Bridget: Never have I ever been turned down.

Storyline:
Bridget, Trip, Molly, Chloe, Greg adalah lima orang berusia 20 tahunan yang berusaha mencari jati diri masing-masing di tengah hiruk-pikuk kota New York. Sepasang sahabat karib dan sepasang kekasih bertemu di sebuah bar Irlandia yang terletak di jalan West Village. Melalui berbagai perjumpaan, keempatnya menjadi terikat satu sama lain dan terlibat cinta, pengkhianatan dan patah hati sekaligus. Begitu sulitkah menentukan identitas di tengah kehidupan yang serba abu-abu tersebut?
Nice-to-know:
Diproduksi oeh Brillhart / Gonzales Productions, Cinescape Productions, OneZero Productions.
Cast:
Marja Lewis Ryan sebagai Bridget
Emily Peck sebagai Molly
Todd Kubrak sebagai Trip
Daniel Carlisle sebagai Greg
Liz Osborn sebagai Chloe
Director:
Feature film pertama bagi Jacob Chase setelah 6 film pendek sebelumnya.
Comment:
Sejujurnya saya tidak terlalu memperhatikan poster ataupun premis film ini sehingga memasuki pertengahan baru menyadari kalau ceritanya menyangkut lesbian dan pasangan straight yang berjuang mmepertahankan hubungan mereka. Okay, I’m an open-minded person. So, I treat every movies the same. Lagipula berapa banyak film yang bertemakan gay/lesbian yang bisa dirilis di bioskop Indonesia? Blitzmegaplex terbukti mampu memberikan ragam pilihan yang berbeda.
Judul film ini berasal dari nama sebuah bar di New York City. Ya lagi-lagi New York City yang dipilih oleh penulis skrip Marja Lewis Ryan sebagai setting lokasi kehidupannya. Bisa jadi terinspirasi oleh serial tenar Friends apalagi tokoh-tokoh utamanya memang beberapa pria wanita dewasa yang saling berinteraksi satu sama lain dengan segala problematikanya. Oleh karena itu sentralisasi karakter tidak terjadi karena frame selalu bergulir secara bergantian.
Dari segi akting, tidak ada masalah samasekali dari semua jajaran cast disini meskipun belum ada yang memiliki nama besar. Semuanya menghidupkan karakter masing-masing dengan pas dan natural. Terlebih Carlisle, Lewis Ryan dan Kubrak yang terlihat sangat menjiwai dengan ekspresi dan intonasi yang atraktif. Sayangnya kesemuanya itu pernah ditampilkan sebelumnya oleh puluhan judul Hollywood meski endingnya masih bersemangatkan indie movie yang kental.
Permasalahannya adalah saya tidak mampu berempati pada tokoh manapun juga dalam film ini. Bukan karena saya tidak mau peduli terhadap jalan cerita yang disodorkan melainkan kurangnya latar belakang dan visi masing-masing tokoh dalam menyikapi hidupnya. Seakan semuanya samar-samar dan sutradara Chase terus saja mengalir dengan supervisi dari Lewis Ryan yang tampaknya menyimpan ambisi pribadi tersendiri dengan proyeknya ini.
Kesalahan lain The Four-Faced Liar adalah kurang menyelipkan unsur komedi di dalamnya. Hal ini teramat penting untuk menyeimbangkan film yang sudah sarat dengan muatan sarkasme mengenai cinta, pengkhianatan dan patah hati itu sendiri. Namun jika anda menginginkan tontonan off-mainstream yang menjurus homoseksualitas (gay/lesbian), mungkin film ini bisa menjadi alternatif yang bijaksana. Belum tentu anda sependapat dengan saya, bukan?
Durasi:
85 menit
Overall:
6.5 out of 10
Movie-meter:
Subscribe to:
Posts (Atom)