Showing posts with label boy hamzah. Show all posts
Showing posts with label boy hamzah. Show all posts

Tuesday, 3 January 2012

PULAU HANTU 3 : Komedi Ekspos Dada Hantu Pulau

Quotes:
Nero: Kita ini dimana, Mo?
Kimo: Gue juga baru kali.


Storyline:
Resor indah di Pulau Madara memiliki pemilik baru yaitu Patigana yang telah ditinggalkan istrinya. Empat muda-mudi yakni Nero, Kimo, Octa dan Gaby dipertemukan oleh nasib saat bersamaan melamar pekerjaan di resor tersebut. Nero yang merasa dejavu memang pernah berdiam di pulau tersebut bersama teman-temannya dahulu dan kali ini ia memperingatkan yang lain untuk tidak mengusik hantu kuburan belakang pulau. Namun satu-persatu tamu lenyap secara misterius sebelum terungkapnya fakta bahwa mereka dibunuh! Apakah hal ini disebabkan oleh kemarahan hantu belakang pulau atau justru ada kekuatan jahat yang baru?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dimana gala premierenya diselenggarakan di Planet Hollywood pada tanggal 28 Desember 2011.

Cast:
Abdurrahman Arif sebagai Nero
Ricky Komo sebagai Kimo
Shinta Bachir sebagai Monica
Boy Hamzah sebagai Patigana
Grace Veronica sebagai Gaby
Laras Monca sebagai Ibu Monca
Aiko Sarwosri sebagai Santang
Jenny Cortez sebagai Korban pertama

Director:
Merupakan film ke-8 bagi Jose Poernomo setelah terakhir menggarap remake Murder (2004) menjadi Skandal (2011).

Comment:
Kesuksesan komersil Pulau Hantu (2007) disusul Pulau Hantu 2 (2008) secara raihan jumlah penonton memacu sekuel keduanya 3 tahun kemudian. Namun apakah Jose Poernomo yang bertindak sebagai penulis skrip sekaligus sutradara memiliki hal baru untuk dieksploitasi? Atau ia cuma melanjutkan teror hantu menganga berbaju putih dan berambut panjang yang boleh dikatakan perpaduan Sadako dalam The Ring dan Ghostface dalam Scream di pulau terpencil?
Kekhawatiran saya terjadi juga. Jose terlihat kebingungan mengombang-ambingkan ide “setengah jadi” nya di sepanjang durasi. Permasalahan cerita seharusnya ada di sosok Patigana yang berniat membangkitkan istrinya kembali melalui sejumlah ritual. Namun tidak ada penjelasan spesifik akan persyaratan yang dimaksud. Haruskah membunuh? Atau sekadar memperkosa? Korbannya pun ternyata tak pandang bulu, pria atau wanita. Peletakan lilin satu demi satu dianggap cukup untuk membuat penonton mengerti. Justru plot serupa pernah dituturkan lebih baik dalam Enam (2007).

Momok hantu kuburan belakang pulau (selanjutnya disingkat HKBP) malahan tak lagi menakutkan. Kemunculannya semakin sedikit dan sangat predictable, u have seen it before! Hal ini juga disebabkan lebih banyaknya adegan yang menonjolkan (maaf) payudara wanita dalam busana minim. Jose rupanya punya 1001 alasan untuk mensyut bagian tersebut, entah pada saat wanita-wanita tersebut berenang, mandi, jogging, senam dan lain sebagainya, nyaris di setiap kesempatan!
Twist ending yang menyuguhkan “duel maut” sebetulnya bisa menjadi aspek yang menarik sekaligus menjadikan film ini mampu mencapai klimaksnya sebagai sebuah komedi yang digelorakan sejak menit awal. Lagi-lagi Jose mundur beberapa langkah dan berusaha setia dengan pakem horornya yang terus terang saja basi! Satu persatu dibunuh bahkan tanpa cipratan darah sedikit pun? Oh come on, rating Dewasa yang dibebat film ini sudah cukup menjadi lampu hijau baginya.

Abdurrahman Arif dan Ricky Komo yang mengambil alih peran utama yang ditinggalkan Ricky Harun memang cukup berhasil membawakan duet “dumb & dumber”. Kekonyolan dan kemesuman keduanya kompak mengisi setiap frame yang berkesan slapstick. Terima kasih pada sumbangsih Ruslan Bojes yang menghadirkan musik latar layaknya dagelan dalam program televisi. Sebaliknya Boy Hamzah gagal menampilkan akting freak dan psycho yang membuat tokoh antagonis Patigana terasa datar-datar saja.
Pulau Hantu 3 semakin menjauhi kualitas pendahulunya. Originalitas yang semakin semu ditambah kemiskinan kreatifitas membuat sekuel ini lebih pantas “direct-to-dvd” daripada dijual sebagai tontonan layar lebar. Samasekali tidak ada pesan moral yang terkandung di dalamnya. Saya menyaksikan film ini tanpa ekspektasi apa-apa selain unsur fun belaka dan patut bersyukur tidak sampai meninggalkan bioskop dalam kondisi “mabok susu”. U know what I'm talking about!

Durasi:
84 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:

Tuesday, 22 March 2011

MISTERI HANTU SELULAR : Teror Ponsel Merenggut Nyawa

Quotes:
Rama: La, loe pingsan aja ya, jangan melotot, kepala jangan muter, gw takut, gw kan temen loe..

Storyline:
Bereuni di vila Jalatunda awalnya menyenangkan bagi Viki, Alyssa, Cintya, Rama, Rezky, dan Olla yang berasal dari satu SMA. Acara puncaknya adalah pengakuan dosa yang dilakukan via sms. Namun Alyssa dan Viki malah bermesraan di gudang hingga berujung pada tewasnya Alyssa dan Viki sendiri tidak dapat mengingat apapun. Setahun berlalu, kelima sahabat itu mulai diteror oleh telepon misterius dari ponsel bersuara “sinden” yang aneh. Ketika memutuskan kembali ke villa Jalatunda, muda-mudi tersebut mulai menghilang satu persatu. Benarkah hantu tersebut adalah arwah Alyssa yang gentayangan?

Nice to know:
Diproduksi oleh D’ Lalang Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI pada tanggal 22 Maret 2011.

Cast:
Gita Sinaga sebagai Cynthia
Boy Hamzah sebagai Vicky
Celine Evangelista sebagai Canting
Udji Tongki
Umar Syarif
Reyna Venzka
Guruh Sukarno Putra
Permadi Sh

Director:
Debut film bagi Indra Tirtana.

Comment:
Pesimis adalah kata pertama yang terlintas dalam benak saya saat memutuskan nonton film ini, terlebih melihat trailernya yang tidak meyakinkan itu. Prediksi itu tidak salah karena saya informasikan film ini resmi mengisi salah satu kandidat 5 film nasional terburuk di tahun 2011. Entah apa yang ada di pikiran Yissa Luthana dalam mengerjakan skripnya yang saya curiga hanya beberapa kalimat saja karena teramat miskin dalam penceritaan.
Film dibuka dengan scene “aneh” dimana para pemainnya diwajibkan melakukan “narasi” dalam beberapa kalimat yang menjadi sebab musabab peristiwa. Setelah itu tiba-tiba saja waktu bergulir menjadi satu tahun kemudian dan muncullah teror telepon selular yang menghadirkan ringtone “nyinden”. Keanehan yang sebetulnya tidak terlalu mengganggu itu malah menggiring kelimanya untuk melakukan hal klise atas instruksi seorang dukun yaitu menyelesaikan segala sesuatu yang sudah dimulai.
Mereka pun pergi ke sebuah villa luas dengan berbagai ruang yang berlanjut ke sebuah hotel sebagai pamungkasnya. Jika anda perhatikan timeline yang digunakan teramat berantakan dimana suasana pagi-siang-sore-malam seringkali terjadi dalam sekali loncatan sehingga tidak penting lagi. Apakah mereka melakukan stripping movie dalam sehari semalam? Saya tidak terlalu penasaran untuk mencari tahu.
Kinerja sutradara Indra juga tidak lebih baik. Ia terasa kesulitan memadukan teknis-teknis dasar sebuah film. Saya memang bukan orang film tetapi saya menangkap dengan jelas penggunaan musik latar yang tidak pada tempatnya, sound effect yang tidak sinkron dengan adegan, visual effect yang sangat kasar, editing yang tidak mulus dan lain-lain. Padahal sinematografinya sendiri sebetulnya tidak seburuk itu walau seharusnya Candi Dieng, Telaga Warna dan area sekitar Wonosobo dapat menghadirkan lanskap yang lebih optimal lagi.
Dari cast kesemuanya bermain buruk. Masing-masing berakting datar dan berekspresi tidak maksimal terutama dalam menampilkan ketakutan. Chemistry nya juga terkesan mengganggu dengan lontaran dialog yang samasekali tidak nyaman didengar. Hal ini memang tidak sepenuhnya menjadi kesalahan mereka karena tidak adanya penokohan yang rasional disini. Kemunculan GSP sebagai pemilik galeri juga rasanya tidak berarti apa-apa bagi dirinya selain numpang lewat.
Menyaksikan Misteri Hantu Selular adalah pengalaman bersinema yang baru sekaligus unik dimana border apapun tidak berlaku disini. Semua dimix menjadi satu tanpa konsep yang baku sekalipun. Membuat saya berulang kali tertawa pahit tanpa alasan melihat adegan-adegan “tidak wajar” yang disuguhkan sambil sesekali menelan ludah menyaksikan satu persatu penonton beranjak dari tempat duduknya. Berpikir dalam-dalam akan motif saya bertahan hingga menit terakhir selain untuk mencari tahu twist apa yang kira-kira bisa dipertanggung jawabkan sebagai penutup film.
Yakin ingin tahu jawabannya? Bayangkan saat antagonis dan protagonis berdiri berhadapan untuk saling menjelaskan profil dan masa lalu masing-masing di bawah teknik kamera berputar 360 derajat berulang-ulang. Brilian! Rasa pusing pun menyerang berakumulasi dengan rasa mual sejak menit pertama film bergulir, beruntung tidak sampai membuat saya memuntahkan seluruh makan malam yang sudah tertelan.

Durasi:
90 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:

Friday, 22 October 2010

SETAN FACEBOOOK : Arwah Penasaran Hantui Jaringan Online

Quotes:
Ronny-Siapa yang tau setan gak bakal gentayangan lagi?

Storyline:
Kecanduan Facebook memang lumrah terjadi di kalangan anak muda jaman sekarang. Remaja belasan tahun Farah termasuk salah satunya. Ia gemar sekali mengupdate status Facebooknya dimana saja dan kapan saja. Hal ini tak jarang merugikan dirinya sendiri karena diusir dari kelas pada saat mata kuliah dosennya ataupun dikomplain kekasihnya, Nauvam dan sahabat karibnya, Cici. Ketakutan mulai melanda Farah saat tahu satu persatu temannya yang mendapat konfirmasi pertemanan dengan sosok misterius bernama Mira Anindhita tewas mengenaskan. Farah meminta bantuan Rony yang jago hack yang mengarahkannya pada Oma Pujo, keluarga dekat Mira. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan Mira?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh D’Color Entertainment dan diproduseri oleh Harris Nizam.

Cast:
Cindy Anggrina sebagai Farah
Boy Hamzah sebagai Nauvam
Jehaan Sienna sebagai Cici
Maeeva Amin sebagai Mira Anindhita
Waqid
Ricky Ertan

Director:
Helfi Ch Kardit mengawali karirnya dengan sebuah horor yang masih berkualitas lumayan yaitu Bangku Kosong (2006).

Comment:
Sejak awal cerita yang ditulis oleh M. Ilhamka Nizam dan Anggoro ini memang terkesan mengada-ngada. Namun dalam dunia perfilman tidak pernah ada standar baku yang tidak dapat digunakan. Ide senyeleneh apapun sebenarnya tetap bisa dikerjakan asal dibekali dengan kelengkapan-kelengkapan yang memadai. Bagaimana dengan film ini?
Sutradara Helfi tampaknya sekuat tenaga berusaha serasional mungkin menerjemahkan skrip tersebut dengan waras. Hal ini terlihat dari 30 menit pertamanya yang mencoba menampilkan latar belakang kehidupan remaja yang perlahan-lahan mulai menyikapi misteri yang dihadapinya. Namun semakin lama jatuhnya justru semakin tidak meyakinkan.
Pertama, kemunculan setan yang teramat janggal. Kadang ia muncul setelah lampu padam atau listrik mati yang anehnya masih bisa terkoneksi dengan internet? Provider apakah itu yang anti disconnect? Ataukah ia menggunakan portal khusus untuk memindahkan dirinya seperti pintu kemana saja? Sampai sini, itulah yang menarik untuk dicari tahu!
Kedua, motif setan yang semula misterius menjadi tidak penting lagi. Penonton sudah keburu jengah untuk digiring menuju ending yang sebetulnya dipersiapkan menjadi kejutan tersendiri. Balas dendamkah karena setan kebetulan lupa log out setelah sign in sehingga Facebooknya dihack orang? Hm, coba anda cari tahu sendiri.
Dua hal yang tidak meyakinkan itu semakin diperburuk dengan irrasionalnya tokoh-tokoh yang kebetulan “hidup” dalam film ini. Farah yang sok gaul bin oon, Cici yang makan teman, Nauvam yang peselingkuh, Ronny yang penjahat kelamin, Pak Dosen yang mesum dsb. Tidak ada satupun rasanya yang membuat kita bersimpati apalagi peduli pada nasibnya.
Segala uneg-uneg yang saya sebutkan di atas rasanya sudah cukup bagi anda untuk menilai kualitas Setan Facebook ini secara garis besar. Apalagi dengan penampakan yang ala kadarnya, rambut panjang dan muka rusak dalam gaun putih, mudah-mudahan setan ini bisa bertransformasi secara lebih sempurna dalam “sekuel”nya kelak. Twitter, anyone?

Durasi:
80 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa