Saturday, 11 June 2011

LADDA LAND : Hidup Baru Perumahan Berhantu

Quotes:
Dead neighbors is what you have to deal to live in your own house.

Storyline:
Demi menghindari tinggal serumah dengan ibu mertua yang tidak pernah menyukainya, Thee membawa istrinya Parn dan putra-putrinya Nat-Nan ke sebuah kompleks perumahan baru yang sedang dibangun yakni Laddaland. Bayangan sebuah kehidupan sempurna perlahan-lahan sirna saat mayat seorang pembantu Burma ditemukan di dalam kulkas rumah tetangganya. Gangguan supernatural mulai melingkupi rumah Thee yang berujung pada konflik intern yang semakin meruncing. Bagaimana Thee dapat mempertahankan keutuhan keluarga pada akhirnya?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh GTH Production yang semakin menancapkan kukunya dalam menghasilkan film-film Thailand siap ekspor.

Cast:
Saharat Sungkhapreecha sebagai Thee
Piyathida Worramusik sebagai Parn
Sutadta Udomsil sebagai Nan
Atipit Chutiwatkajornchai sebagai Nat

Director:
Sophon Sakdapisit sebelumnya menangani Coming Soon (2009).

Comment:
Pernah menonton The Amityville Horror yang legendaris dan telah berulang kali diremake itu? Jika jawabannya iya maka anda akan sangat familiar dengan plot film yang satu ini. Perbedaannya hanyalah dikemas dalam nuansa Asia yang biasanya lebih menonjolkan kekuatan drama selain konsep supernatural yang mungkin terasa lebih lekat dengan kehidupan kita sehari-hari apalagi Thailand yang notabene masih negara tetangga.
Premis film ini murni bercerita tentang kompleksitas hubungan intern sebuah keluarga. Bagaimana konflik orangtua dan anak serta suami dan istri yang menjadi suguhan utama. Sedangkan elemen horor merupakan gimmick belaka yang positifnya bekerja dengan sangat baik untuk memperkuat plot utama. Variasi back and forth ini dimaksimalkan oleh Sophon untuk menjaga antusias penonton meski sedikit beberapa penjelasan dasar yang tidak (sempat) diungkapkan atau sebagian dramatisasi yang (agak) berlarut-larut.









Dari segi akting memang tidak luar biasa. Kekuatan karakterisasi lah yang menolong aktor-aktris disini bermain baik. Bagaimana Saharat menjiwai peran Thee yang tertekan oleh mertua yang memandang rendah dirinya atau membahagiakan keluarganya sendiri dengan segala keterbatasan dirinya. Atau Piyathida yang kesulitan berdiri di antara suami dan anak-anaknya sekaligus menghadapi kondisi keuangan yang mulai menipis. Sutadta dan Atipit juga berperan dengan wajar dan menggemaskan sesuai usia masing-masing.
Sutradara Sophon tidak lupa menyelipkan serpihan komedi justru di tengah-tengah suasana mengerikan sebagai icebreaking. Beberapa scene horor juga berhasil menakutkan sekaligus mengejutkan penonton dengan timing yang tepat tanpa terasa berlebihan. Penggunaan setting lokasi juga sangatlah tepat dimana kompleks perumahan yang pada awal digambarkan sebuah impian sempurna pada akhirnya berubah menjadi mimpi terburuk.









Bagi anda yang penakut tapi memberanikan diri menyaksikan film ini, saya akan berikan beberapa kata kunci yakni kulkas merah, mata sensor AC, halaman jemuran, kertas gambar, hidden camera. Bersiap-siaplah! Maafkan jika saya spoiler sedikit kali ini. Dan bagi yang sudah menonton rasanya akan setuju dengan saya. Hal-hal tersebut sebenarnya bukan formula baru dalam sebuah film horor tetapi masih bekerja dengan efektif.
Bagi penonton yang menghargai kekuatan cerita, Laddaland akan bermakna lebih dari sekadar film horor yang berhasil. Bagaimana disfungsi sebuah keluarga dapat terjadi karena kesalahpahaman kecil dan pengharapan yang begitu tinggi antar anggotanya. Dunia supernatural itu sesungguhnya ada di sekitar kita dan bisa jadi mengganggu kewarasan manusia itu sendiri dalam menghadapinya. Silakan tertawa, terperanjat, tercekam, tersentuh dan bayangkan jika anda berada di posisi Thee. Sulitkah menjadi seorang kepala keluarga yang hanya ingin yang terbaik bagi keluarganya sendiri?

Durasi:
110 menit

Thai Box Office:
117 juta baht till May 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Friday, 10 June 2011

BEASTLY : Kutukan Buruk Rupa Pengharapan Cinta

Quotes:
Kyle: Pretty gruesome, huh?
Lindy: I've seen worse.

Storyline:
Kyle mungkin memiliki segala yang diimpikan remaja pria di dunia mulai dari ayah terkenal, rumah mewah, harta berlimpah, wajah rupawan, tubuh atletis dsb. Hal tersebut menjadikannya tinggi hati dan selalu memandang rendah orang-orang yang buruk rupa terutama Kendra yang sebetulnya seorang penyihir. Meski demikian siswa-siswi SMU mengidolakannya dan memilihnya menjadi Ketua Perkumpulan. Kendra yang sakit hati diam-diam memanterai Kyle sehingga berubah rupa menjadi teramat buruk. Syarat untuk kembali adalah kata-kata “aku mencintaimu” yang tulus dari seorang gadis dalam waktu satu tahun atau ia akan tetap begitu. Harapan pun ada pada Lindy, gadis manis pendiam yang bertekad hidup mandiri.

Nice-to-know:
Sempat dipertimbangkan nama Zac Efron untuk mengisi peran Kyle disini.

Cast:
Karir aktornya diawali lewat Alex Rider: Operation Stormbreaker di usia 16 tahun, Alex Pettyfer kini bermain sebagai Kyle
Lebih banyak terlibat dalam serial televisi remaja termasuk terakhir Robot Chicken (2009), Vanessa Hudgens sebagai Lindy
Mary-Kate Olsen sebagai Kendra
Neil Patrick Harris sebagai Will
Lisa Gay Hamilton sebagai Zola
Peter Krause sebagai Rob

Director:
Merupakan film kedua bagi Daniel Barnz sejauh ini setelah Phoebe In Wonderland (2008).

Comment:
Saya tidak pernah membaca novel berjudul sama karangan Alex Flinn ini. Namun sudah mendengar kabar bahwa inti ceritanya merupakan versi bebas dari Beauty and the Beast yang fenomenal di awal 90an lalu. Atas dasar itulah, saya memutuskan untuk menyaksikannya untuk melihat sejauh mana transformasi sebuah kisah klasik ke jaman modern dapat dilakukan. Apalagi melihat nama-nama pemeran utamanya yang eye-candy itu.
Nyatanya Barnz terlalu asyik dengan dunianya sendiri dalam menerjemahkan skripnya. Dunia remaja yang mungkin hanya pernah dilihatnya saja sewaktu masa sekolahnya dulu tanpa pernah mengalaminya langsung. Itulah sebabnya karakter-karakter disini terasa dangkal tanpa kompleksitas yang dibutuhkan untuk membangun konflik secara lebih emosional. Bagaimana perasaan ketertarikan, kebencian, kesepian, terbuang dst disuguhkan begitu saja dengan datar.
Pettyfer hanya mampu memesona dengan mata biru, rambut pirang dan perut 6 packs nya tetapi transisi penjiwaannya dari Kyle rupawan menjadi Kyle buruk rupa tidak terlalu signifikan. Hanya saja kinerja tim make-up bolehlah mendapat apresiasi dalam menghadirkan sosok botak berwajah penuh luka dan tato aneh di sekujur tubuhnya yang jika boleh jujur sebetulnya lebih bernuansa futuristik dibandingkan ugly.
Hudgens seakan kehilangan charm yang ia tampilkan dalam HSM. Yang membuat penonton jatuh hati pada karakter Lindy mungkin hanya pesona mata dan senyum manisnya saja. Selebihnya tidak terlalu kuat alasan seorang gadis rajin sepertinya bisa “berubah sikap” pada Kyle dengan mudahnya. Satu-satunya yang outstanding disini cuma Harris yang sarkastis sekaligus jenaka sebagai tutor yang buta tetapi selalu menjaga sikapnya itu.
Sebagai sutradara, Barnz terlihat kesulitan mengatur sekuens adegan demi adegannya hingga akhirnya terburu-buru menuju klimaks yang terlampau mudah dan memaksa penonton menerima begitu saja. Dialognya pun sulit terkontrol kontennya sehingga terdengar klise dengan didominasi rayuan gombal yang membuat anda tersenyum (atau mengerutkan kening?). Kelebihannya jelas ada di scoring music yang berhasil membangun mood film secara keseluruhan sehingga enak diikuti.
Drama ini mungkin hanya berhasil pada penonton muda usia pada umumnya dan kalangan perempuan pada khususnya dengan alur mendayu-dayu tanpa keterikatan emosi yang kuat terhadap penonton. Bagi saya hanya mendapat ponten cukup, tidak spesial tapi juga tidak sampai lebur. Beastly (sekali lagi) berusaha mengajarkan manusia untuk melihat kedalaman jiwa seseorang dibandingkan kedangkalan penampilan luarnya saja. Siapa yang tahu jika pada akhirnya orang yang paling tidak diharapkan justru dialah yang dapat anda andalkan.

Durasi:
85 menit

U.S. Box Office:
$27,854,896 till May 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:

Thursday, 9 June 2011

HATI MERDEKA : Lanjutkan Perjuangan Bebaskan Dendam Hati

Original title:
The hearts of freedom.

Storyline:
Tanpa diduga Amir mundur dari Angkatan Darat karena ingin fokus pada keluarga terutama istri yang selalu mengkhawatirkannya. Maka Tomas, Dayan, Marius pun melanjutkan gerakan perjuangan kemerdekaan itu didampingi pula oleh Senja yang dicintai Tomas dan Marius sekaligus. Mereka menuju Bali lewat laut demi membalaskan dendam pada Belanda terutama Kolonel Raymer yang telah membunuh keluarga Tomas di waktu lalu. Tak lama kemudian mereka dibantu pemimpin pemberontak bawah tanah bernama Wayan Suta untuk mempertahankan ideologi dan melanjutkan revolusi yang sudah terpatri di dada masing-masing itu.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Media Desa Indonesia & Margate House Film dan gala premierenya diadakan di Epicentrum XXI pada tanggal 4 Juni 2011.

Cast:
Darius Sinathrya sebagai Marius
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Lukman Sardi sebagai Amir
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Astri Nurdin sebagai Melati
Nugie sebagai Wayan Suta
Ranggani Puspandya sebagai Dayu
Michael Bell sebagai Kolonel Raymer

Director:
Masih digawangi oleh Yadi Sugandi yang bertandem dengan Conor Allyn selayaknya dalam Darah Garuda (2010).

Comment:
Sebandingkah kesabaran anda untuk menikmati trilogi ini dalam rentang waktu 3 tahun? Jawabannya tentu tidak mutlak sama bagi setiap orang. Namun bagi saya pribadi cukup sebanding karena bagaimanapun juga potret sejarah perjuangan patriotisme bangsa Indonesia patut dihargai setinggi-tingginya. Dan film inilah satu-satunya yang berani mengangkat hal tersebut di era baru abad 21 yang banyak didominasi oleh genre horor dan komedi.
Garis besar ceritanya sendiri tidak berbeda jauh dari apa yang sudah ditampilkan dua prekuelnya yaitu bagaimana melumpuhkan tentara Belanda sekaligus meminimalisir korban yang berjatuhan. Yang berbeda adalah setting pertempurannya yang satu terjadi di atas lautan dan yang lain mengambil setting Pulau Dewata. Konsep yang menarik untuk menghadirkan inovasi baru yang menyegarkan walaupun tidak mutlak harus dilakukan sebetulnya.
Karakter utama yang ditonjolkan kali ini adalah Tomas dan Marius. Donny dan Darius menjawab tantangan tersebut dengan baik terbukti penjiwaan mereka terasa lebih detil apalagi didukung oleh dominannya scene yang melibatkan keduanya. Rahayu juga bermain menawan karena tokoh Senja kali ini cukup mendapat porsi besar sekaligus mengedepankan arti pejuang wanita yang masih dapat dihitung jari sepanjang sejarah perebutan kemerdekaan Indonesia. Kredit khusus bagi penampilan aktor asing (alm) Michael Bell yang berakting ciamik sebagai Kolonel Raymer.
Sutradara Yadi dan Conor cukup cerdik memaksimalkan spesial efek tembakan dan ledakan yang terjadi di setiap scene yang memungkinkan. Bagaimana lokasi dapat disiapkan sedemikian rupa untuk menjadi medan peperangan yang realistis. Namun yang sedikit mengganggu adalah faktor “keberuntungan” para tokoh utamanya yang bisa selamat berkali-kali dari terjangan peluru ataupun percikan bom. Bukan berarti saya mengharapkan mereka tewas dalam pertempuran tetapi setidaknya dapat dibuat dengan lebih meyakinkan lagi.
Hati Merdeka pun menutup petualangan Amir-Dayan-Tomas-Marius dengan happy ending. Sebuah proyek ambisius yang dikemas dengan cukup membumi dan bersahabat dengan para penonton dari berbagai lapisan masyarakat. Belum sepenuhnya dikatakan karya anak bangsa tapi semangat filmmaker yang terlibat patut diacungi jempol. Semoga saja semakin banyak produser yang tergerak untuk membangkitkan genre sejenis sekaligus menggairahkan kembali semangat nasionalisme di antara kita semua tanpa terkecuali.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:

Wednesday, 8 June 2011

CARA MENIKMATI FILM BARU DI TENGAH KRISIS FILM

Krisis film yang melanda Indonesia selama 4 bulan terakhir tak dinyana menyebabkan bioskop-bioskop di Ibukota sepi penonton. Menurut sumber yang terpercaya, telah terjadi penurunan drastis sebanyak 20-50% dari jumlah penonton yang tentunya berimbas pada biaya operasional masing-masing sinepleks. Tentunya manajemen harus memutar otak untuk menutupi kekurangan tersebut, salah satunya yang paling kentara adalah penjualan snack (softdrink/popcorn) yang semakin gencar hingga menyambangi setiap baris kursi penonton.

Penyebab krisis ini adalah masalah kenaikan pajak impor film dan sejumlah denda yang ditunggak oleh para importir tersebut sehingga menyebabkan terjadinya boikot oleh 6 studio besar MPAA. Namun saya yakin masalahnya tidaklah sesederhana itu karena telah terjadi praktek monopoli dari lapisan atas hingga bawah sekalipun dalam rentang waktu yang teramat panjang dan juga sederetan isu lain yang tidak terjelaskan. Sayang sekali, Pemerintah kita terkesan berpangku tangan dalam menyelesaikan kasus yang terus berlarut-larut

Kekosongan tersebut lantas diisi oleh pihak 21 yang berusaha “menjual “ stok-stok lama berjumlah +50 judul film yang sudah dipeti-eskan sejak tahun 2005 lalu! Tidak heran jika anda menemukan film yang sedang ditayangkan bisa jadi sudah diputar di HBO, Star Movies bagi yang berlangganan TV kabel ataupun teronggok berdebu pada rak koleksi dvd lawas anda. Fakta ini tidak terelakkan dan sudah dialami oleh para konsumen bioskop pada umumnya.

Tidak terhitung jumlah tweet yang masuk pada jaringan akun Twitter saya menanyakan film-film apa saja yang mereka lewatkan selama periode hiatus ini atau apakah film A akan tayang, bagaimana dengan film B dan seterusnya. Setidaknya daftar panjang berikut dapat menjawab pertanyaan anda perihal film-film unggulan Hollywood yang tidak sudi mampir di negara kita tercinta ini:

Februari:
- The Rite
- Black Swan
- True Grit
- Just Go With It
- I Am Number Four
- Justin Bieber : Never Say Never
- Unknown
- Big Mommas: Like Father, Like Son
- Hall Pass

Maret:
- Rango
- Adjustment Bureau
- Battle : Los Angeles
- Red Riding Hood
- Mars Needs Moms
- Sucker Punch
- Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules

April:
- Hop
- Hanna
- Arthur
- Soul Surfer
- Your Highness
- Rio
- Water For Elephants

Mei:
- Fast Five
- Hoodwinked Too! Hood vs. Evil
- Thor
- Bridesmaids
- Priest
- Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides
- The Hangover II
- Kungfu Panda 2

Ironisnya daftar tersebut akan bertambah panjang karena puncak summer movies justru terjadi di bulan Juni-Juli sekarang ini. Saya dan juga kawan-kawan moviegoers lainnya merasa sangat tersiksa dengan kondisi demikian. Pada akhirnya kami memilih 2 cara yang dianggap realistis setidaknya dari segi tenaga, waktu dan uang yang mungkin dikeluarkan yaitu Download Internet & DVD bajakan!

Survey telah dilakukan beberapa waktu terhadap para bioskopers dengan hasil berikut:

55,2% memilih DVD bajakan

Alasan umum yang dikemukakan adalah harga yang relatif murah dan lapak-lapak DVD yang cukup mudah ditemui. Dengan bermodal 5000-7000 perak saja, anda sudah bisa menonton di televisi rumah sendiri plus subtitle yang bisa dipilih. Mungkin gambarnya belum sejernih kualitas blu-ray atau bioskop tetapi rasanya sudah bisa mengobati kekecewaan. Kekurangannya adalah buruknya kualitas disc atau tergores bisa menyebabkan gambarnya tersendat atapun menimbulkan suara berdecit serta terjemahan yang masih tidak sesuai dengan subtitle aslinya.

44,8% memilih Download Internet

Kebanyakan pengguna internet broadband diyakini memilih cara ini. Bayangkan 1 film bisa diunduh hanya dalam waktu 2-3 jam saja, berapa judul yang bisa anda dapatkan dalam sehari? Tentunya ini kembali lagi pada kecepatan akses masing-masing provider yang berbeda-beda. Jika pihak ini berbaik hati, mereka tidak akan segan-segan membagi hasil unduhan kepada sahabat-sahabatnya. Kelemahannya adalah versi yang diunduh terkadang tidak sesuai dengan yang diharapkan atau belum adanya subtitle yang lumayan menyulitkan pemahaman cerita.

Krisis film ini merupakan sejarah hitam yang tidak akan pernah terhapus dari catatan industri perfilman Indonesia secara global. Cepat atau lambat penyelesaiannya mungkin hanya Tuhan dan pihak-pihak yang berkepentingan yang tahu. Meminjam tagline AVP: “Whoever wins, we lose..” bahwa siapapun pihak yang merasa menang atas kondisi seperti ini sesungguhnya telah menelan kekalahan telak yang tidak terhitung besaran nominalnya.

Monday, 6 June 2011

For the elixir of youth (Ashite Ashiona)

At the very onset let me tell you what the film's name means. Someone out there is trying to tell every member of the human clan that it's really not worth stepping into your eighties. You are infirm, weak, doddering and helpless. But what is most unfortunate is that your near and dear ones treat you like dirt. They brush away feelings and desires, pay no attention towards your well being and