Sunday, 19 September 2010

THE SWITCH : Kedewasaan Dua Sahabat Besarkan Anak

Quotes:
Wally Mars-Did you just use my name as a verb?

Storyline:
Wally dan Kassie telah bersahabat lama hingga mereka selalu berbagi satu sama lain. Tiba saatnya Kassie memutuskan untuk melakukan inseminasi buatan karena yakin tidak akan bertemu jodohnya dan tidak mau usianya terlambat mengandung. Wally yang diam-diam menyukai Kassie pun membantah ide gila tersebut. Namun tekad Kassie sudah bulat dan lewat sebuah pesta ia bertemu dengan Roland yang bersedia mendonorkan spermanya. Secara tidak sengaja ketika sedang mabuk, Wally malah menumpahkan botol sample itu dan menukarnya dengan miliknya sendiri. Bertahun-tahun rahasia tersebut disimpan hingga nasib mempertemukan Wally dengan Kassie lagi yang telah membesarkan seorang diri. Akankah terjadi sesuatu di antara mereka?

Nice-to-know:
Film pertama Miramax setelah dijual Walt Disney Company ke Colony Capital.

Cast:
Pernah meraih Golden Globe lewat serial televisi Arrested Development di tahun 2003, Jason Bateman bermain sebagai Wally.
Memenangkan Golden Globe lewat serial televisi Friends di tahun 1994, Jennifer Aniston berperan sebagai Kassie.
Patrick Wilson sebagai Roland
Jeff Goldblum sebagai Leonard
Juliette Lewis sebagai Debbie
Thomas Robinson sebagai Sebastian

Director:
Kerjasama kedua Josh Gordon dan Will Speck setelah Blades of Glory (2007).

Comment:
Entah sudah berkali-kali film mengenai wanita yang menjalani inseminasi buatan diproduksi sebelumnya. Rasanya baru kemarin The Back Up Plan (2009) menyambangi kita di bioskop-bioskop ibukota. Apa yang bisa membuat film ini berbeda?
30 menit pertama nyaris sama saja dengan yang sudah-sudah bahkan tingkah Bateman yang sedikit over-the-top cukup menyebalkan. Namun pergerakan setelahnya cukup di luar dugaan dimana plot mengalir lancar dan sangat dewasa. Meskipun mudah ditebak arahnya tetapi tidaklah klise karena karakterisasi para tokohnya dikembangkan dengan baik. Duet sutradara Gordon dan Speck memperpanjang cerita pendek karangan Jeffrey Eugenides dengan gaya penyutradaraan yang baik, tentunya hal ini tak lepas dari campur tangan sang penulis All Loeb yang kreatif dalam menyusun skrip itu.
Bateman layak mendapat bintang disini. Ia begitu mendominasi scene dan transformasi sikapnya sangat terasa disini dari seseorang yang kekanak-kanakan menjadi seseorang yang bertanggungjawab. Aniston berakting tanpa improvisasi yang signifikan dari apa yang ia perlihatkan dalam chick-flick serupa. Perubahan dari wanita singel yang mapan hingga menjadi single mother tidak terlalu terasa. Si kecil Robinson ternyata cukup mahir beraksi di depan kamera, lihat bagaimana sorot matanya yang berbicara dan gayanya yang kalem. Sedangkan Goldblum dan Wilson sebagai supporting cast lumayan memberi kontribusi pelengkap.
The Switch adalah komedi romantis yang tidak berfokus pada proses menuju cinta itu sendiri melainkan bagaimana seorang pria dan wanita dewasa mampu bersikap di atas situasi yang canggung dan tidak mengenakkan. Suguhan menghibur dan bisa jadi menginspirasi pria-wanita 40 tahunan yang kebetulan belum menikah di luar sana.

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$27,207,766 till end of Sep 2010

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 18 September 2010

AFTERSHOCK : Trauma Pengorbanan Ikatan Keluarga

Storyline:
Tangshan tahun 1976, gempa bumi besar melanda tiba-tiba di tengah malam. Suami istri Fang dan Yua Ni harus pontang-panting menyelamatkan putra-putri mereka yang berusia 7 tahun, Fang Da dan Fang Deng yang masih terjebak di rumah. Sayangnya bangunan runtuh demikian cepat dan dalam waktu singkat semuanya rata dengan tanah, hanya tersisa puing-puing. Esok harinya, Yua Ni harus menemukan kenyataan pahit. Selain kehilangan suaminya, ia harus memilih satu dari si kembar yang terjebak di reruntuhan. Yua Ni akhirnya menunjuk Fang Da tanpa mengetahui Fang Deng selamat di kemudian hari dan mengetahui keputusannya. Satu momen dilematis itu pada akhirnya mengubah sudut pandang ibu dan anak tersebut selama-lamanya.

Nice-to-know:
Arti sesungguhnya Aftershock adalah gempa kecil yang terjadi setelah gempa kecil yang terjadi setelah gempa besar sebelumnya di daerah yang sama.



Cast:
Zhang Jingchu
sebagai Fang Deng / Wang Deng

Chen Daoming sebagai Ayah Angkat
Chen Li
sebagai Fang Da

Xu Fan
sebagai Ibu Yua Ni

Chen Jin
sebagai Ibu Angkat



Director:
Karya pria berusia 52 tahun bernama Feng Xiaogang ini yang paling saya ingat adalah The Banquet (2006).






Comment:
Melihat trailernya selama 1 menit, anda akan mengalami kepiluan sekaligus rasa penasaran akan keutuhan jalinan kisahnya apalagi melihat nama sutradara Feng sebagai dalangnya. Terbukti ia mampu memperlihatkan setting China dalam rentang waktu panjang mulai dari tahun 1970an, 1980an, 1990an hingga 2000an secara brilian lengkap dengan kostum dan momen-momen bersejarah yang mengiringinya. Apalagi dibekali juga dengan musik latar yang menghanyutkan di sepanjang film. Thumbs up!
Opening film yang diangkat dari novel yang mengacu pada kejadian sesungguhnya yang menelan korban jiwa sekitar 240.000 jiwa ini memang menampilkan visualisasi gempa yang sangat meyakinkan sekaligus mengerikan. Bagaimana bangunan roboh disana-sini dan orang-orang berlarian pontang-panting menyelamatkan diri dan anggota keluarganya. Sebagian besar bujet 25 juta dollar mungkin habis disini tetapi jelas harga sangat layak untuk membangun kekuatan cerita. Selepas 30 menit pertama, anda akan diajak mengikuti perjalanan ketiga tokoh utama selama 32 tahun mulai dari Yua Ni, Fang Da, Fang Deng. Kesemuanya terikat pada subplot baru masing-masing kaya akan konflik interpersonal tersendiri mulai dari hubungan ibu dan putranya, ayah dan putrinya, suami istri, orangtua dan anak angkatnya, kekasih remaja dsb. Xu Fan dan Zhang Jingchu menjiwai peranannya dengan luar biasa, bagaimana bahasa tubuh dan ekspresi keduanya mampu berbicara teramat jujur di depan kamera.
Aftershock jelas tidak seperti film bencana yang dibombardir spesial efek ala Hollywood. Suatu potret perjalanan sebuah keluarga setelah dilanda kerusakan moril yang lebih parah daripada kehancuran fisik. Rangkuman emosi terluka, tertekan, menderita terangkum dalam dramatisasi yang kuat tanpa terkesan manipulatif. Saya dan beberapa penonton lain kerapkali harus menggigit bibir dalam-dalam untuk mengindahkan pelupuk mata yang mulai basah karena haru. Inilah film yang sangat manusiawi, realistis dan patut direkomendasikan untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Terlepas dari beberapa scene penting yang terasa editingnya atau terpaksa dipotong demi menyiasati durasi, film ini bisa jadi dicatat sebagai salah satu yang paling berharga dalam perfilman China. Semoga berjaya di ajang Oscar tahun depan kategori Film Berbahasa Asing Terbaik!

Durasi:
130 menit


China Box Office:

CNY 534,000,000 till early Aug 2010.


Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 16 September 2010

THE INTRUDER : Serangan Kobra Penghuni Apartemen


Storyline:
Pada tahun 1983 sebelum Suvarnabhumi International Airport dibangun, ada sebuah area yang disebut "King Cobra Swamp" oleh penduduk setempat. Disanalah terdapat sebuah pohon banyan tua yang akhirnya berhasil disingkirkan para pekerja sebelum melepaskan 1000 ular kobra dari dalam tanah yang membantai mereka semua. Beberapa waktu kemudian, sebuah apartemen berdiri dengan ratusan penghuni yang memiliki agendanya masing-masing. Benarkah kekuatan jahat Kobra membalaskan dendamnya sekali lagi?

Nice-to-know:
Film yang aslinya berjudul Khew ar-khard ini sempat diputar dalam ajang Festival de Nouveau Cinema di Perancis pada bulan Oktober 2010 lalu.

Cast:
Kwankao Sawetwimol sebagai Panin
Akara Amartayakul sebagai Doctor
Apinya Sakuljaroensuk sebagai Paai
Wasana Chalakorn sebagai Aunt Pai
Peerawit Bunnag sebagai Vick

Director:
Merupakan film pertama Thanadol Nualsuth.

Comment:
Film bertemakan serangan ular biasanya disuguhkan oleh sineas Hollywood. Apa jadinya jika sineas Thailand mencoba hal yang sama? Tentunya sudah dibekali oleh intrusi budaya setempat sehingga tidak lagi murni bermain dalam horor/thriller yang biasa-biasa saja. Penulis skenario Poj Arnon yang kondang lewat Bangkok Love Story (2007) kali ini mengambil kisah di balik lahan sebelum Suvarnabhumi International Airport dibangun berpuluh-puluh tahun yang lalu.
Sayangnya karakterisasi yang demikian beragam itu tidak dibangun dengan baik. Pengenalan tokoh-tokohnya dilakukan dalam waktu yang terlalu singkat sekitar 15 menit sejak adegan pembuka. Ketegangan yang langsung merambat lewat serbuan beruntun ular kobra ganas menjadi tumpul karena tak adanya keterikatan emosi dari penonton terhadap karakter-karakternya. Kita lantas tidak peduli lagi akan nasib masing-masing. Mungkin hanya sang dokter, Panin, Paai yang kita harapkan bisa survive karena dominannya kemunculan mereka disini.

Sutradara Thanadol betul-betul mengandalkan efek CGI yang terbilang mulus disini. Gerakan puluhan (ratusan) ular kobra tersebut secara meyakinkan mampu menciptakan terror. Beberapa serangan “menggigit” di antaranya bahkan sukses menyajikan gory scenes yang cukup eksplisit untuk memuaskan penonton. Minimnya lighting di bagian penutup cukup mengganggu sehingga penonton sedikit kesulitan mendeteksi apa yang sesungguhnya terjadi di tingkat tertinggi bangunan tersebut.
The Intruder dapat disimpulkan sebagai sebuah thriller alami yang didukung oleh spesial efek dan atmosfir apartemen yang amat menunjang demi menutupi kelemahan-kelemahan ceritanya itu sendiri. Sebersit pesan moral bahwa egoisme manusia ketika menghadapi situasi tidak menguntungkan serta sarkasme media yang kerapkali mengambil keuntungan sendiri walau harus mengorbankan kepentingan yang lebih besar tak luput disampaikan. Please don’t compare it with Snakes on a Plane!

Durasi:
106 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

More Niagara Falls Movies

In keeping with our review of “Niagara” (1953) on Monday, let’s continue our visit at Niagara Falls with some other old movies.

That magnificent water works we share with our pals up the road in Canada has long been a tourist attraction, and most film depictions of Niagara Falls show characters on vacation, as in “Niagara”, or on honeymoons. By the way, Americans visiting the falls should most definitely go over to experience the view, and hospitality, on the Canadian side. You need your passport these days, but any inconvenience is worth the effort.

Any film about Niagara Falls is likely going to be filmed on location, since it is a bit unwieldy to fake on the back lot or slap in the background with rear screen projection. However, that’s not to say doubles can’t be used with a second unit film crew.

This shot from “Callaway Went Thataway” (1951 - see this previous post), shows Howard Keel and Dorothy McGuire on a cross-country publicity tour. This actor and actress were probably stand-ins.  It could be rear-screen, but in that case I don't think they'd be shooting them from the back.


Harry Houdini, however, had no problem showing up in person, and naturally, performing his own stunts, in “The Man From Beyond” (1922). Mr. Houdini co-wrote the scenario and also produced this silent film, about a man revived from a one-hundred year sleep. Supposedly, the dangerous action you see in this clip below was done without camera tricks.

(Don't forget to scroll to the bottom of the page to pause the music so you can hear the following video clips.)




Here in “The Crowd” (1928 - see this previous post), the honeymooners James Murray and Eleanor Boardman are actually shot at the Falls, climbing a pretty steep hill to the side of it.

Rainbow Bridge is behind them in this view.

Here below is another movie, this time a 43-minute B-movie (sorry about the commercials) made in 1941 by Hal Roach, “Niagara Falls”. A couple of couples endure comic hijinks at the “Falls View Hotel”, a much swankier spot than the efficiency cabins pictured in “Niagara.” It stars Marjorie Woodworth, Tom Brown, Zasu Pitts, and Slim Summerville, who is featured at the beginning and the end as intending to end his life by jumping into the falls in his jammies. We shouldn’t be too worried about him, he hasn’t been successful at any other endeavor in this movie. A minor role of another honeymooner is played by Rand Brooks, who you may remember as Charles Hamilton in “Gone with the Wind” (1939). What two years can do to your career.



Then of course we have popular references to the Falls, most notably in “42nd Street” (1933), where we have the musical skit “Shuffle Off to Buffalo”. As we are told, “To Niagara in a sleeper, there’s no honeymoon that’s cheaper.”
Then there is the ever-popular, “Niagara Falls routine”, better known to some as “Slowly I Turn.” Here are two variations on this old vaudeville bit. First, with The Three Stooges from “Gents Without Cents” (1944).



Next up to bat, we have the Abbott & Costello version from their 1950s TV show:



You may remember Lucille Ball having a crack on this theme, too, in an episode of “I Love Lucy”, though the trigger word here is not “Niagara Falls”, but Martha. Niagara Falls is the blast of seltzer she gets in the pus. You can watch in on YouTube here.

For more on Niagara Falls, have a look at this blog.

THIS JUST IN!!!!!.......
Doaf!  Our roving reporter Moira Finnie (catch her here at Skeins of Thought), just reminded me about "Remember the Night" (1940) with Fred MacMurray and Barbara Stanwyck.  Am kicking myself as we speak.  Moria supplies us with these two great shots from the film:



Thanks for the help, Moira.

Wednesday, 15 September 2010

BACK TO HELL : Ayah Terluka Telusuri Kematian Malang Putrinya

Tagline:
An act unforgiven. A father lost in grief.

Storyline:
Setelah cerai dari istrinya, kebatinan Christian harus ditempa lagi saat mengetahui kematian putrinya tanpa sebab. Sebuah video tiba tanpa nama yang memperlihatkan putrinya, Jesse sedang mabuk ganja dan dicabuli oleh tiga laki-laki. Segera saja Christian merencanakan perjalanan untuk mencari tahu kejadian sesungguhnya yang mempertemukannya dengan Finn sang produser film yang akan menjadi titik awalnya. Kemudian Christian bertemu Alice yang tengah kabur dari rumahnya. Keduanya pun saling berinteraksi dengan caranya sendiri dimana Christian tetap merencanakan balas dendam terbesar yang harus ditempuhnya.

Nice-to-know:
Untuk mendapat dana produksinya, sebuah film pendek dirancang untuk adegan pembukanya. Film pendek tersebut akhirnya memenangkan Best Independent Drama (10-30 menit) di Queensland New Filmmaker Awards (2006).

Cast:
Peter Marshall sebagai Christian
Caroline Marohasy sebagai Alice
Brad McMurray sebagai Derek
Jack Henry sebagai Finn
Evert McQueen sebagai Jim

Director:
Steven Kastrissios.

Comment:
Di tahun 1970an pernah muncul Last House On The Left yang kemudian diremake berpuluh-puluh tahun setelahnya. Film ini bertemakan sama yaitu balas dendam orangtua atas perlakuan tidak menyenangkan yang menimpa putrinya. Bedanya kali ini sang ayah bertindak sendiri dan putrinya sudah keburu tewas. Mengapa saya bandingkan kedua film tersebut? Ada 3 hal yang mendasarinya. Pertama, latar belakang tahun 70-80an masih terasa kental. Kedua, pelaku balas dendam bukanlah orang yang menguasai keahlian khusus bela diri. Ketiga, adegan demi adegan yang diperlihatkan sangat miris sehingga anda akan menutup mata karena ngeri.
Film berjudul asli The Horseman yang merupakan asli buatan Australia tahun 2008 yang lalu ini dibintangi aktor-aktris sana yang belum mempunyai nama di kancah internasional. Walau begitu kinerja mereka semua cukup meyakinkan terutama applaus khusus bagi Peter Marshall yang terlihat sebagai pria paruh baya biasa tetapi menyimpan kesigapan luar biasa yang dipacu oleh hati yang terluka. Sutradara Kastrissios juga nyaris tidak mengisi aspek musik disini karena menggarap film dengan gaya dokumenter dan nyaris hitam putih dengan tone warna yang monoton di sepanjang film.
Semua hal yang saya sebutkan di atas itulah yang menyebabkan Back To Hell (judul peredaran Blitz Megaplex) ini layak ditonton dikarenakan terasa sangat real seakan-akan penonton diajak mensyut langsung kiprah seorang Christian. Sayangnya gunting sensor yang kelewat tajam sedikit menghilangkan kenikmatan menontonnya saat beberapa adegan sadis terpaksa dipotong begitu saja.

Durasi:
90 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent