Showing posts with label oka antara. Show all posts
Showing posts with label oka antara. Show all posts

Sunday, 6 November 2011

SANG PENARI : Kisah Kasih Bertembok Nasib Ronggeng

Quotes:
Rasus: Kalau nggak mau ‘buka kelambu’ ya nggak usah jadi ronggeng!


Storyline:
Kedua orangtua Srintil meninggal karena keracunan tempe bongkrek atas tuduhan warga semasa kecilnya. Beranjak dewasa ia seakan memiliki kewajiban untuk memulihkan nama baik keluarga, salah satu cara adalah menjadi penari ronggeng sesuai bakat magis yang dimilikinya. Adalah Rasus yang mengasihi Srintil sejak kecil hingga beranjak dewasa memadu kasih bersama. Keputusan Srintil menjadi ronggeng mengecewakan Rasus yang kemudian pergi mengabdi negara sebagai tentara muda pemberantas gerakan komunis. Terpisah selama bertahun-tahun, Rasus masih berupaya menemukan Srintil meskipun situasi di antara keduanya tak lagi sama.

Nice-to-know:

Diproduksi oleh KG Productions dan Salto Films dimana gala premierenya diselenggarakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 6 November 2011.

Cast:
Oka Antara sebagai Rasus
Prisia Nasution sebagai Srintil
Slamet Rahardjo sebagai Kartareja
Dewi Irawan sebagai Nyai Kartareja
Landung Simatupang sebagai Sakarya
Happy Salma sebagai Surti
Teuku Rifnu Wikana sebagai Darsun
Tio Pakusadewo sebagai Sersan Binsar Harahap
Lukman Sardi sebagai Bakar

Director:
Merupakan film keenam bagi Ifa Isfansyah yang mulai angkat nama lewat Garuda Di Dadaku (2009).

Comment:
Ahmad Tohari merupakan penulis Indonesia asli Banyumas yang tenar dengan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Satu dari sedikit penulis lokal yang berani mengangkat tema komunis di tahun 1965 sebagai latar belakang percintaan seorang tentara dan ronggeng di sebuah desa yang penuh lika-liku. Sebelumnya pernah difilmkan juga dengan judul Darah dan Mahkota Ronggeng di tahun saya lahir yaitu 1983.
Skenario yang dikerjakan keroyokan oleh Salman Aristo, Ifa Isfansyah, Shanty Harmayn sekaligus sang penulis novel tersebut di atas memang amat solid. Terciptalah dialog-dialog tajam di antara karakter-karakternya yang pluralisme dalam sebuah rentang waktu yang teramat panjang. Cinta Rasus dan Srintil yang seringkali menemui hambatan karena visi masing-masing yang berbeda mampu bersinergi maksimal dengan pergolakan politik yang terjadi.

Pendatang baru Prisia Nasution adalah satu nama yang pantas diingat di masa mendatang. Tarian magis Srintil memang tidak dominan porsinya tetapi dari beberapa kali penampilannya, penonton sudah dibuat percaya melihat keluwesannya melenggokkan tubuh. Belum lagi penjiwaan dramatisnya sebagai cah ayu sebatang kara yang berusaha memenuhi takdir hidup sekaligus tanggung jawabnya terhadap warga desa sehingga harus mengorbankan cinta sejatinya.
Seperti biasa Oka Antara mampu melebur dalam peran yang disodorkan kepadanya. Bagaimana pria desa nan lugu bernama Rasus mampu bertransformasi menjadi tentara sigap yang cepat menyerap ilmu. Lihat caranya belajar saat berhadapan dengan Tio Pakusadewo mulai dari intonasi bicara yang mudah ditertawakan hingga baca tulis yang kelak berguna. Tanggung jawab terhadap negara tidak menghalangi tekad kuat menemukan belahan jiwanya yang seakan hilang ditelan oleh waktu.
Di luar kedua nama tersebut masih terdapat serentetan nama beken yang mampu memberikan kontribusi yang tidak sedikit. Selain Tio, sebut saja Slamet Rahardjo yang bermain sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki Srintil, kakek Kartareja penanggungjawab setiap kegiatan sang ronggeng plus kembalinya Dewi Irawan sebagai dukun ronggeng Nyai Kartareja yang ahli pengobatan dan hal-hal mistik. Belum lagi Lukman Sardi sebagai Bakar dengan segala agenda tersembunyinya. Jajaran cast yang luar biasa dalam menampilkan seni peran berkualitas tinggi.

Sutradara Ifa Isfansyah patut diacungi jempol karena mampu menghimpun kinerja semua departemen mulai dari artistik, gambar, suara hingga editing secara maksimal. Setting lokasi dimunculkan dengan pas sesuai keadaan Jawa Tengah tahun 50-60an mendukung sinematografi sendu yang dibangun Yadi Sugandi sejak menit awal. Tata busana lawas karya Chitra Subiyakto ciamik bersanding dengan scoring musik indah hasil kolaborasi Aksan-Titi Sjuman yang berkali-kali membuat saya merinding.
Ada baiknya sebelum menonton, anda membaca novelnya untuk memperkaya pemahaman karena masih banyak hal yang tidak dijelaskan dalam filmnya yang terbatas oleh durasi dan kebijakan sensor. Meski tidak runut, Sang Penari mampu menyuguhkan dramatisasi yang kaya makna terutama dari segi pengabdian dan pengorbanan dua individu berlainan jenis. Sebuah cinta yang tidak selalu memaksakan kata hati tetapi cukup dimengerti logika sebelum benar-benar berlalu dalam suatu ambiguitas yang pilu. One of the best Indonesian movies ever made!

Durasi:
109 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Saturday, 9 January 2010

HARI UNTUK AMANDA : Dilema Pernikahan Antara Masa Lalu dan Masa Depan

Quotes:
Hari-Hidup itu harus santai kayak di pantai, slow kayak di pulau..


Storyline:
10 hari menjelang pernikahannya dengan Dodi, Amanda masih mempunyai satu pertanyaan besar dalam hatinya: Bisakah ia melupakan Hari, mantan pacarnya sekaligus cinta pertamanya? Pertanyaan itu terjawab saat Amanda harus mengantar undangannya bersama Hari di saat tunangannya Dodi teramat sangat sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Perjalanan seharian itu semakin membingungkan Amanda karena ia menyadari banyak hal-hal yang tidak dipunyai Dodi tetapi ia temukan dalam diri Hari. Siapa yang akhirnya dipilih Amanda untuk melewati masa depan bersama?


Nice-to-know:
Diproduksi oleh MNC bekerjasama dengan Visinema Pictures, film ini berlokasi di Pasar Mayestik, Sabang hingga Blok S untuk menggambarkan setiap sudut Jakarta dengan cukup detail.


Cast:

Memulai debut akting sekaligus menyanyikan soundtracknya dalam Gue Kapok Jatuh Cinta, Oka Antara disini bermain sebagai Hari, pria santai yang masih menyimpan bayang-bayang mantan kekasihnya.

Terakhir terlihat mendampingi Tora Sudiro dalam Preman In Love, Fanny Fabriana kali ini memerankan sosok Amanda, gadis yang bimbang menghadapi perkawinannya yang tinggal hitungan hari.

Tampil mengesankan dalam Emak Ingin Naik Haji, Reza Rahadian mengisi karakter Dodi yang workaholic sampai tidak menyadari tugas-tugasnya sebagai calon pengantin terhadap wanita yang dicintainya.


Director:

Angga Dwimas Sasongko
yang mencuri perhatian pertama kali lewat Jelangkung 3 menyelesaikan drama romantis ini sejak akhir tahun 2007 yang lalu tetapi mengalami penundaan tayang hingga lebih dari satu tahun.


Comment:

Film dibuka dengan pengenalan pada tokoh Amanda dan segala problematikanya dalam menyusun rencana-rencana pernikahannya yang sudah semakin dekat mulai dari menyebar undangan, fitting baju, pengurusan kamar hotel, pemilihan catering dsb. Namun semua itu dihadirkan lewat tone warna lembut yang menarik dan close-up shot pada ekspresi cast nya masing-masing. Pemilihan Fanny dan Oka terbilang tepat, mereka berdua mampu berbagi chemistry dengan pas antara dua soulmate yang sebetulnya punya gaya dan pemikiran yang berbeda. Oka yang cuek dan punya dunia sendiri, Fanny yang teliti dan sensitive. Reza walaupun tidak tampil dominan cukup memberikan aksen seorang eksekutif yang sibuk terutama pada gaya rambut dan berpakaiannya.Acungan jempol patut disematkan pada Angga, sang sutradara. Meski belum banyak berkiprah tapi mampu menghasilkan karya yang enak ditonton. Satu-satunya kekurangan film ini adalah kurang orisinil. Terasa sekali pengaruh film-film Hollywood sejenis pada gaya bercerita dan ilustrasi musiknya. Namun semua itu tidak masalah sejauh memberikan impact yang baik sehingga pada akhirnya Hari Untuk Amanda adalah sebuah perenungan dari potret kegelisahan pasangan yang tengah menuju pelaminan. Anda termasuk salah satunya?


Durasi:
100 menit


Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!