Showing posts with label lily collins. Show all posts
Showing posts with label lily collins. Show all posts

Sunday, 22 April 2012

MIRROR MIRROR : THE UNTOLD ADVENTURE OF SNOW WHITE Re-storytelling Effort In Such Diversity


Quotes:
The Queen: They're not wrinkles. They're just crinkles.

Nice-to-know:
Lily Collins dalam sesi interview mengakui bahwa ia sempat diaudisi untuk peran Snow White dalam Snow White and the Huntsman (2012) sebelum kalah dari Kristen Stewart.

Cast:
Julia Roberts sebagai The Queen
Lily Collins sebagai Snow White
Armie Hammer sebagai Prince Alcott
Nathan Lane sebagai Brighton
Jordan Prentice sebagai Napoleon
Mark Povinelli sebagai Half Pint
Joe Gnoffo sebagai Grub
Sean Bean sebagai King

Director:
Merupakan film keempat Tarsem Singh setelah tahun lalu mencuri perhatian lewat Immortals.

W for Words:
Siapa yang tidak mengenal dongeng Putri Salju dan kutukan Nenek Sihir serta Pangeran Tampan yang menyelamatkannya. Hollywood dan industri perfilman manapun di dunia pernah mengadaptasinya dalam berbagai judul termasuk yang satu ini dan yang akan segera beredar nantinya yaitu Snow White and the Huntsman. Menarik melihat dua film ini akan berhadapan langsung dalam tangga box-office di tahun 2012 meskipun secara penekanan samasekali berbeda, antara light dan dark.
Setelah Raja menghilang, Ratu kejam mengontrol kerajaan dengan pajak tinggi. Putrinya yang berusia 18 tahun, Snow White dikurung dalam menara karena dianggap akan menyaingi kecantikannya. Namun Snow White berhasil menyelinap keluar dan mempertemukannya dengan Pangeran Alcott yang tampan dan kaya raya. Ratu tak tinggal diam, ia merencanakan pernikahan dengan Pangeran Alcott walau harus menyingkirkan Snow White. Dibantu 7 kurcaci perampok, Snow White mulai mengenal jati dirinya sendiri untuk melanjutkan perjuangan ayahnya di masa lampau.

Jason Keller dan Melisa Wallack menerjemahkan kinerja klasik dari Jacob Grimm danWilhelm Grimm dengan twist menyenangkan. Di luar topik cinta yang masih menjadi jualan, film ini bercerita mengenai politik lewat tirani Sang Ratu yang memeras keringat rakyat dengan pajak tinggi dan juga strata sosial melalui keberadaan 7 kurcaci yang terpinggirkan dari peradaban karena dianggap miskin, tidak mampu ataupun tidak normal. Transformasi Snow White dari gadis pingitan menjadi mandiri hingga memimpin pemberontakan pun merupakan pencapaian tersendiri yang semakin menegaskan emansipasi wanita.
Sutradara Tarsem Singh terkenal dengan visualisasi estetikanya yang memukau. Kelebihan itu terpancar dari tatanan setiap sudut kerajaan yang memanjakan mata terlebih dunia dalam cermin ajaib yang sangat imajinatif itu. Anda tidak perlu gimmick 3D untuk menikmati suguhannya kali ini. Sayangnya Tarsem melakukan hal bodoh sewaktu credit title bergulir yakni sosok Lily Collins yang bernyanyi dan berdansa dengan menggelikan dalam alunan musik India bersama seantero cast disini. Dude, it’s a live action movie, not animation like we’ve seen before!

Julia Roberts bermain di luar kebiasaannya yaitu ratu iblis sekaligus ibu tiri pencemburu. Upaya Ratu mempercantik diri lewat perawatan “tak biasa” merupakan bagian terbaik dari film yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Lily Collins walaupun alisnya “unik” menampilkan pesona aktris muda bermasa depan cerah dimana tokoh Snow White di tangannya terasa feminin dan menyenangkan. Armie Hammer sendiri menjiwai peran Pangeran dengan santai dan lugas. Sedangkan Tujuh kurcaci diperankan oleh aktor-aktor yang wajahnya tak asing lagi karena filmografi yang demikian panjang adanya.
Mirror Mirror adalah sajian Singh di luar kebiasaan genrenya yang justru sukses menghadirkan tontonan keluarga yang menyegarkan, berwarna, sarat pesan moral yang disampaikan secara sederhana tanpa kesan menggurui. Humornya yang terkadang sarkastis bekerja dengan baik walau sebagian di antaranya terasa dipaksakan. Andai saja film ini beredar sebelum franchise Shrek (2001-2010) mungkin hasilnya akan lebih diapresiasi oleh penikmat film. Anyway it’s still a nice effort by the filmmakers for re-storytelling in such diversity!

Durasi:
106 menit

U.S. Box Office:
$36,773,242 till April 2012

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Wednesday, 5 October 2011

ABDUCTION : Kerahasiaan Identitas Diburu Agen Ganda

Tagline:
What if your entire life was a lie?


Storyline:
Kehidupan Nathan Price terasa sempurna, berkecukupan dengan orangtua yang menyayanginya, Kevin dan Mara. Ia juga bersahabat dengan Gilly dan menaruh hati pada Karen, tetangganya yang dikenal sejak kecil. Saat ditunjuk mengerjakan tugas bersama, Nathan malah menemukan foto kecilnya ada dalam daftar orang hilang. Rasa penasaran malah melibatkan Nathan dalam petualangan bersama Karen menghindari sekelompok orang yang menginginkan sesuatu darinya. Orang-orang berbahaya yang tega membunuh ayah ibunya. Nathan harus mulai belajar untuk tidak mempercayai siapapun juga.

Nice-to-know:
Diproduksi secara asosiatif oleh Lionsgate, Gotham Group, Vertigo Entertainment, Quick Six, Mango Farms dan Tailor Made.

Cast:
Memulai akting di usia 9 tahun lewat Kismet (2001), Taylor Lautner bermain sebagai Nathan Price
Sempat mendukung The Blind Side (2009), Lily Collins berperan sebagai Karen
Denzel Whitaker sebagai Gilly
Sigourney Weaver sebagai Dr. Bennett
Alfred Molina sebagai Burton
Michael Nyqvist sebagai Kozlow
Jason Isaacs sebagai Kevin
Maria Bello sebagai Mara

Director:
John Singleton sebelum ini mengeksekusi Four Brothers (2005) yang cukup keras dan kelam itu.

Comment:
Pertanyaan pertama yang saya ajukan bagi moviegoers: Yang merasa fans Taylor Lautner silakan angkat tangan. Satu, dua, sebelas, tiga puluh empat wanita, okey. Lho ternyata ada prianya juga, enam belas! Baiklah, ini penting untuk demografi film. Jika selama ini Lautner dikenal dalam Twilight Saga, sambil menunggu Breaking Dawn di penghujung tahun, anda bisa saksikan dulu kiprahnya dalam film aksi thriller ini yang menghabiskan bujet 35 juta dollar.
Skrip yang ditulis oleh Shawn Christensen ini seperti comotan dari The Bourne Identity dengan versi remajanya. Perbedaannya adalah tabir tersimpan mengenai Bourne terkesan keren, sebaliknya rahasia terdalam tentang Nathan terbilang cupu. Anda akan peduli dengan kiprah Bourne mencari identitasnya tetapi tidak akan ambil pusing dengan langkah Nathan menemukan jati dirinya. Oleh karena itu, jangan coba membandingkan. Cukup duduk manis dan ikuti menit demi menit film ini.
Tampaknya Lautner masih membutuhkan waktu belasan tahun lagi untuk bisa bermetamorfosis menjadi aktor yang baik. Saat ini kapabilitasnya hanya dalam memamerkan perut six pack nya, bukan akting yang mumpuni. Lihat saja bagaimana peran Jacob dengan limitasi ekspresi dan tutur katanya sampai terbawa disini selagi ia bermain sebagai peran utama. Karakter Nathan memang terlihat tangguh secara fisik tapi kemampuan bertahan hidupnya tidak terlalu meyakinkan.

Beruntung peranan Collins tidak sampai mengganggu sebagai love interest Nathan walau chemistry keduanya nyaris sama kaku dan membosankannya dengan Jacob dan Bella. Dukungan aktor-aktris senior macam Bello, Molina, Weaver, Isaacs dll sebetulnya merupakan poin plus tersendiri tapi sayangnya kemunculan mereka lebih sekadar basa-basi. Porsinya terlampau sedikit dimana karakterisasi tidak tergali dengan kuat.
Sutradara Singleton yang bertangan dingin sekalipun tidak mampu menyelamatkan film yang lebih pantas didegradasi ke dalam kelas B-movie. Koreografi pertarungan satu lawan satunya terasa jadul dan lebih cocok digunakan dalam film-film tahun 90an. Setting yang lebih megah seharusnya dibangun demi meningkatkan tensi action berkelas. Bukan cuma stadium football yang hiruk pikuk dan disulap sedemikian rupa untuk menyimpulkan endingnya dengan begitu antiklimaks.
Kesalahan terbesar Abduction adalah desain poster dan trailernya yang teramat menjual apalagi dengan memasang nama dan wajah Taylor Lautner besar-besar. Namun yang paling fatal yaitu penggunaan judul yang samasekali tidak ada korelasinya dengan konten film. Belum apa-apa, calon penonton sudah diajarkan untuk berpengharapan tinggi dengan menontonnya secepat mungkin, sebelum mereka menyadari tidak ada yang istimewa dari film ini. Semua serba datar dan predictable, sama halnya ketika Lautner langsung memamerkan tubuhnya pada 5 menit pertama durasinya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$10,925,253 opening week in end of Sep 2011

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent