Quotes:The Queen: They're not wrinkles. They're just crinkles.Nice-to-know:Lily Collins dalam sesi interview mengakui bahwa ia sempat diaudisi untuk peran Snow White dalam Snow White and the Huntsman (2012) sebelum kalah dari Kristen Stewart.Cast:Julia Roberts sebagai The QueenLily Collins sebagai Snow WhiteArmie Hammer sebagai Prince AlcottNathan Lane sebagai BrightonJordan Prentice sebagai NapoleonMark Povinelli sebagai Half PintJoe Gnoffo sebagai GrubSean Bean sebagai KingDirector:Merupakan film keempat Tarsem Singh setelah tahun lalu mencuri perhatian lewat Immortals.W for Words:Siapa yang tidak mengenal dongeng Putri Salju dan kutukan Nenek Sihir serta Pangeran Tampan yang menyelamatkannya. Hollywood dan industri perfilman manapun di dunia pernah mengadaptasinya dalam berbagai judul termasuk yang satu ini dan yang akan segera beredar nantinya yaitu Snow White and the Huntsman. Menarik melihat dua film ini akan berhadapan langsung dalam tangga box-office di tahun 2012 meskipun secara penekanan samasekali berbeda, antara light dan dark.Setelah Raja menghilang, Ratu kejam mengontrol kerajaan dengan pajak tinggi. Putrinya yang berusia 18 tahun, Snow White dikurung dalam menara karena dianggap akan menyaingi kecantikannya. Namun Snow White berhasil menyelinap keluar dan mempertemukannya dengan Pangeran Alcott yang tampan dan kaya raya. Ratu tak tinggal diam, ia merencanakan pernikahan dengan Pangeran Alcott walau harus menyingkirkan Snow White. Dibantu 7 kurcaci perampok, Snow White mulai mengenal jati dirinya sendiri untuk melanjutkan perjuangan ayahnya di masa lampau.
Jason Keller dan Melisa Wallack menerjemahkan kinerja klasik dari Jacob Grimm danWilhelm Grimm dengan twist menyenangkan. Di luar topik cinta yang masih menjadi jualan, film ini bercerita mengenai politik lewat tirani Sang Ratu yang memeras keringat rakyat dengan pajak tinggi dan juga strata sosial melalui keberadaan 7 kurcaci yang terpinggirkan dari peradaban karena dianggap miskin, tidak mampu ataupun tidak normal. Transformasi Snow White dari gadis pingitan menjadi mandiri hingga memimpin pemberontakan pun merupakan pencapaian tersendiri yang semakin menegaskan emansipasi wanita.Sutradara Tarsem Singh terkenal dengan visualisasi estetikanya yang memukau. Kelebihan itu terpancar dari tatanan setiap sudut kerajaan yang memanjakan mata terlebih dunia dalam cermin ajaib yang sangat imajinatif itu. Anda tidak perlu gimmick 3D untuk menikmati suguhannya kali ini. Sayangnya Tarsem melakukan hal bodoh sewaktu credit title bergulir yakni sosok Lily Collins yang bernyanyi dan berdansa dengan menggelikan dalam alunan musik India bersama seantero cast disini. Dude, it’s a live action movie, not animation like we’ve seen before!
Julia Roberts bermain di luar kebiasaannya yaitu ratu iblis sekaligus ibu tiri pencemburu. Upaya Ratu mempercantik diri lewat perawatan “tak biasa” merupakan bagian terbaik dari film yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Lily Collins walaupun alisnya “unik” menampilkan pesona aktris muda bermasa depan cerah dimana tokoh Snow White di tangannya terasa feminin dan menyenangkan. Armie Hammer sendiri menjiwai peran Pangeran dengan santai dan lugas. Sedangkan Tujuh kurcaci diperankan oleh aktor-aktor yang wajahnya tak asing lagi karena filmografi yang demikian panjang adanya.Mirror Mirror adalah sajian Singh di luar kebiasaan genrenya yang justru sukses menghadirkan tontonan keluarga yang menyegarkan, berwarna, sarat pesan moral yang disampaikan secara sederhana tanpa kesan menggurui. Humornya yang terkadang sarkastis bekerja dengan baik walau sebagian di antaranya terasa dipaksakan. Andai saja film ini beredar sebelum franchise Shrek (2001-2010) mungkin hasilnya akan lebih diapresiasi oleh penikmat film. Anyway it’s still a nice effort by the filmmakers for re-storytelling in such diversity!Durasi:106 menitU.S. Box Office:$36,773,242 till April 2012Overall:7.5 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent
Tagline:The Gods Need a Hero
Storyline:Dihantui gila kekuasaan, Raja Hyperion menyatakan perang terhadap kemanusiaan dengan menciptakan sebuah armada tentara tangguh yang haus darah. Bukan hanya itu, ia bertekad menemukan Busur Epirus yang legendaris itu yang mampu membuatnya berkuasa hingga ke Surga sekaligus membebaskan the Titan. Ramalan lama yang menyebutkan akan ada seorang manusia biasa yang mampu menghentikan maksud Raja Hyperion seakan timbul dalam diri Theseus yang baru kehilangan ibunya dan tidak pernah mengenal ayahnya itu. Siapa yang memenangkan pertarungan pada akhirnya?Nice-to-know:Diproduksi oleh Relativity Media, Atmosphere Entertainment MM, Hollywood Gang Productions, Virgin Produced dan mendapat kehormatan diputar sebagai film pembuka iNAFFF 2011 di Blitzmegaplex Grand Indonesia tanggal 11 November 2011.Cast:Sebelum ini disibukkan dalam serial televisi Tudors (2007-2010), Henry Cavill ditunjuk sebagai TheseusTerakhir banyak mengisi peran antagonis dalam film-filmnya, Mickey Rourke kebagian peran Raja HyperionStephen Dorff sebagai StavrosFreida Pinto sebagai PhaedraLuke Evans sebagai ZeusJohn Hurt sebagai Old ManKellan Lutz sebagai PoseidonIsabel Lucas sebagai AthenaDirector:Merupakan film ketiga Tarsem Singh yang keturunan India ini setelah The Fall (2006).Comment:Nama Tarsem Singh mungkin cukup tenar sebagai sutradara internasional di samping M. Night Shyamalan yang kebetulan sama-sama berkebangsaan India. Terbukti debut dan karya terakhirnya diterima baik karena sangat visioner. Namun mengangkat sebuah kisah para dewa dan manusia dalam mitologi Yunani tentunya tidaklah mudah. Lihat saja hasil akhir dari Charley Parlapanides dan Vlas Parlapanides yang banyak mengundang pertanyaan itu.Mengapa dewa bisa mati? Mengapa Zeus melarang para dewa ikut campur membela manusia? Mengapa Theseus seakan lebih ”superior” dari para dewa itu sendiri? Jawaban-jawabannya memang bisa ditemukan tetapi tidak didukung oleh logika yang pasti. Semakin diperburuk dengan rentang waktu yang dituturkan dalam film, kadang yang panjang terasa pendek dan begitupun sebaliknya. Semisal panah ajaib yang ditemukan di kuburan ibu Theseus yang baru saja meninggal? Saya tidak berani memberikan opini kali ini.
Sutradara Singh juga menggunakan tempo lambat yang seharusnya tidak menjadi masalah jika saja dilengkapi dengan percakapan menarik di antara aktor-aktrisnya. Sayangnya hal itu tidak terjadi disini. Demikian yang tersisa hanyalah berbagai adegan stop motion pertarungan disana-sini yang sangat memanjakan mata sekaligus memiriskan hati jika kelewat sadis, seperti kepala pecah ataupun pencacahan anggota-anggota tubuh dari pedang terhunus dsb.Cavill tidak diragukan lagi memiliki modal yang cocok sebagai Theseus. Ia tegap dan rupawan, tetapi dari segi akting tidak terlalu maksimal karena cenderung datar-datar saja. Begitu pula dengan Pinto, saya tidak melihat banyak perbedaan dari apa yang sudah disuguhkannya dalam Rise of the Planet of the Apes baru-baru ini. Sedangkan Rourke memang mampu menghadirkan sosok antagonis keji dan mengundang antipati walaupun masih teramat monoton.
Nyaris tidak ada kedalaman karakter-karakter dalam film ini sehingga tidak sulit bagi anda untuk menebak adegan apa yang akan terjadi sesungguhnya bahkan sampai endingnya. Reaksi yang timbul setelah munculnya aksi begitu seterusnya apalagi tidak adanya twisted plot yang diharapkan oleh khalayak penonton. Mereka bagaikan kawanan domba yang digiring patuh oleh gembala melewati padang rumput sampai batas waktu tertentu. Inilah yang tidak terhindarkan.Immortals jelas cuma memiliki kelebihan dalam visualisasi memikat dan terkonsep penggunaan warna-warni simbolik mitologi Yunani yang kental. Suatu aspek yang dimanfaatkan demi menutupi kelemahan-kelemahan yang sudah tersebut di atas. Penggunaan 3D “timbul”nya juga tidak terlalu krusial, mungkin akan mengingatkan anda pada 300 (2006) atau Clash of the Titans (2010). Launching tanggal keramat 11-11-11 bisa jadi menyita perhatian penikmat film internasional untuk setidaknya mau menengok sosok Theseus dan dewa-dewa lainnya yang berpostur indah layaknya mitos Yunani tapi sayangnya tidak mampu berbahasa Greek.Durasi:110 menitOverall:7.5 out of 10Movie-meter:
Notes:Art can’t be below 66-poor6.5-poor but still watchable7-average7.5-average n enjoyable8-good8.5-very good9-excellent