Showing posts with label jordi onsu. Show all posts
Showing posts with label jordi onsu. Show all posts

Wednesday, 5 September 2012

RADIO GALAU FM : Galau Tak Kenal Jomblo Atau Berpasangan

Quotes:
Bara: Ujan di luar sih udah berhenti tapi ujan di hati gue masih deres

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini screeningnya dilangsungkan di fX Platinum XXI pada tanggal 5 September 2012.

Cast:
Dimas Anggara sebagai Bara Mahesa
Natasha Rizki sebagai Velin Caliandra
Jordi Onsu sebagai Rio
Joe P Project sebagai Ayah Bara
Alisia Rininta sebagai Diandra Pramita
Indri Giana sebagai Tata
Ramon Y Tungka sebagai Edo

Director:
Merupakan film kesebelas bagi Iqbal Rais setelah The Tarix Jabrix (2011).

W For Words:
Sesungguhnya novel Radio Galau FM terdiri dari 12 chapter yang menceritakan petualangan cinta seorang remaja pria bernama Bernard Batubara dan 5 chapter tambahan kiriman followers @RadioGalauFM tentunya dengan satu tema: GALAU. Terbitan 2011 ini lantas menuai sukses karena dianggap dekat dengan kehidupan pribadi pembacanya. Akun Twitternya yang berhasil meraup lebih dari empat ratus ribu pengikut itu pun berhasil menciptakan eforia bagi galauers. Tak heran jika Rapi Films melihat peluang ini untuk melakukan adaptasi layar lebar dengan bintang-bintang anyar.

Aktif di mading sekolah, Bara Mahesa bermimpi menjadi penulis sukses meski impian terdekatnya belum tercapai yaitu punya pacar. Kesempatan itu datang saat adik kelasnya, Velin menunjukkan sinyal cinta yang kuat. Segera Bara membalasnya setelah berkonsultasi dengan ayah dan kakaknya Rara yang sama-sama gokil itu. Lambat laun, Velin berubah manja serta penuntut hingga Bara meminta break dan memilih untuk mendekati kakak kelasnya, Diandra. Benarkah keputusan Bara tersebut menghalau kegalauan dari hidupnya?

Istimewanya, sudut pandang dari novel dan film ini adalah remaja laki-laki bernama Bara Mahesa. Untuk itu penonton pria bisa jadi merasa amat dekat dengan karakter utamanya. *switch sudut pandang pria* Fase galau karena jomblo atau pacaran mulai dari pencarian hingga penemuan kekasih hati dijelaskan secara gamblang. Proses pendekatan yang berujung 'penembakan' akan membuat anda tertawa mengenang pengalaman pribadi, dag-dig-dug sekaligus harap-harap cemas menanti jawaban gadis pujaan. Proses pacaran yang kerap membuat cowo sulit mengerti isi hati cewe pun dijabarkan disini, tak ayal anda akan berujar: "Ah itu gue banget."

Namun bukan berarti penonton wanita dikesampingkan begitu saja. *switch sudut pandang wanita* Penulis skrip Haqi Achmad punya cara khusus bagi anda untuk memasuki pikiran karakter Velin atau Diandra yang sebenarnya hanya ingin perhatian dalam skala besar atau kecil. Semuanya dilakukan pada timing tepat sehingga konsep the battle of sexes dapat diselesaikan secara seimbang walaupun keduanya memiliki dunia masing-masing yang samasekali berbeda. Natasha Rizki mampu menerjemahkan emosi Velin lewat tangisan berurai air mata, menegaskan dirinya sebagai gadis rapuh nan posesif. Kebalikannya Alisia Rininta adalah gadis high class Diandra yang punya segudang tingkah menyebalkan karena merasa memiliki kelebihan fisik.

Dimas Anggara akhirnya mendapat kesempatan emas untuk berkibar sebagai aktor setelah lakonnya dalam Kembang Perawan (2009). Keragaman ekspresi yang luwes turut mengiringi karakter Bara yang masih mencari jati diri dan tambatan hati. Tiga chemistry inti dengan orang-orang terdekatnya berhasil dibawakan secara pas. Apresiasi khusus ditujukan bagi Joe P'Project sebagai ayah nyablak gaul, Jordi Onsu sebagai sohib kepo cerewet dan Tiara Sumiarto sebagai kak Rara yang gokil nyentrik. Yang terakhir ini seringkali kemunculannya tak sedap dipandang mata.

Kembalinya Iqbal Rais ke bangku sutradara setelah sempat berjuang melawan leukimia memang pantas diacungi jempol. Kapabilitasnya menggarap drama roman terbukti masih terjaga terlepas dari segmentasi film yang jauh lebih muda dari karya-karya sebelumnya. Frame demi frame tertata rapi untuk menghadirkan konteks emosi yang dibutuhkan sehingga storytellingnya mengalir lancar dan tidak melebar kesana-sini. Sumbangan musik dari Andhika Triyadi juga mampu menghidupkan suasana di samping kreatifitas Khikmawan Santosa yang lagi-lagi menata suara dengan begitu asyik, sound effect denyut jantung akan membuat anda terpingkal-pingkal.

Untungnya Radio Galau FM tidak berusaha menjadi istimewa. Pengerucutan belasan karakter yang semula ada di novelnya membuat konflik cinta remaja ini semakin fokus. Kesahajaannya meramu formula biasa menjadi baru lewat sentuhan personal yang sudah disesuaikan dengan perkembangan jaman jelas menjadi nilai tambah tersendiri. Fenomena sosial media dan ponsel komunikatif masa kini turut menjadi sarana percakapan yang umum disamping realita dialog dan spontanitas humor yang berkali-kali mengundang tawa. Galau is word of the year and get ready to experience it in the movie.Beware, reflection might come along afterwards!

Durasi:
94 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:

Friday, 4 May 2012

3 POCONG IDIOT : Anggap Bodoh Tak Dapat Diajar


Quotes:
Pipin: Pokoknya sebagai pocong sejati, kita harus balas dendam pada gorilla fitness itu!

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Rapi Films ini mengadakan screeningnya di fX Platinum XXI pada tanggal 30 April 2012.

Cast:
Ajun Perwira sebagai Pipin
Joshua Suherman sebagai Keling
Jordi Onsu sebagai Jadoel
Rina Diana sebagai Rayna
Rozie Mahally sebagai Glenn
Reymon Knuliqh sebagai Azis
Keira Shabira
Karina Meita

Director:
Merupakan film kelima bagi Nayato Fio Nuala setelah Seandainya di tahun 2012 ini.

W For Words:
Masih ingat dengan film India fenomenal berjudul 3 Idiots (2009) yang mencetak sukses dimanapun ditayangkan? Entah kita harus berbangga atau malu hati akan arti sebuah kreatifitas karena penulis anonim All Izz Well membuat versi novelnya berjudul “3 Pocong Idiot” yang lantas diadaptasi lagi oleh Gope T. Samtani dkk ke dalam versi filmnya lewat Rapi Films. Saya pribadi merasa malu kuadrat akan ketidak-kreatifan pangkat tiga ini dan tidak lagi peduli akan siapa-siapa yang terlibat di dalamnya.

Cendol Itu Asyik alias CIA merupakan boyband yang beranggotakan Glenn, Pipin, Jadoel dan Keling yang cukup populer di sekolah mereka. Malangnya saat akan manggung di sebuah cafe, Pipin, Jadoel dan Keling mengalami kecelakaan akibat kelalaian Azis mengemudi. Ketiganya pun menjadi pocong dan harus menyesuaikan diri dengan hidup baru mereka termasuk berinteraksi dengan orang-orang terkasihnya dahulu. Akankah kebahagiaan akan muncul dalam bentuk hidup yang lain bagi mereka?
Ide cerita yang ditulis oleh Ipnu Rinto Nugroho ini kemudian dituangkan dalam bentuk skrip oleh Djamaludin Moenaf dan Ery Sofid. Terus terang saya bingung apa sesungguhnya esensi yang ingin dihadirkan? Jika persahabatan, tidak ada gregetnya. Jika cinta, tidak ada chemistrynya. Jika kebodohan, nah yang satu ini banyak sekali, bertebaran dari menit awal sampai akhir, tanpa keeleganan samasekali yang mampu menyelamatkan kualitasnya dari keburukan fatal. Bayangkan seikat pocong bisa dengan mudahnya mengeluarkan tangan dan kaki untuk beraktifitas atas dasar apa?

Duet Joshua Suherman dan Jordi Onsu disini nyaris membuat saya menyesal karena sangat menyukai mereka dalam Tendangan Dari Langit (2011). Humor Keling dan Jadoel yang biasanya natural kali ini meleset disana-sini. Sama halnya dengan Ajun Perwira yang semakin membosankan dengan peran stereotype pocong sok asik. Sorry dude, you are not fun to watch anymore. Kalo melihat aktor-aktris langganan Nayato seperti Rozie, Reymon, Rina, Keira tak perlu dikomentari lagi, mereka sudah melekat dalam kebuntuan seperti kawanan kerbau dicocok hidungnya.
Sutradara Nayato bahkan menggunakan nama Koya Pagayo dalam jajaran penata kamera bersama Freddy A. Lingga. Jangan katakan bahwa “alter ego” nya tersebut sebetulnya nyata! Kembali pada 3 Pocong Idiot, trailernya yang lucu manis itu tidak usah dipercaya. Isinya tak lain tak bukan adalah daur ulang dari formula lawasnya saja, tambal sulam tanpa juntrungan yang mungkin berefek samping pada kecerdasan anda. Harapan terbesar saya adalah semoga ini kali terakhir kali saya melihat tiga anak manis tersebut bermain dalam film Nayato.

Durasi:
81 menit

Overall:
6 out of 10

Movie-meter: