This is to announce (STOP BLARING THOSE TRUMPETS!!! I’m trying talk. Thank you.)
I wrote a book.
"Meet Me in Nuthatch", a novel of humor, warmth, Christmas tree farming, dressing up like it was 1904, and selling your small town to a theme park conglomerate is now issued as an ebook on Amazon Kindle, and on Smashwords, available in a variety of tasty formats.
Here’s the blurb:
A publicity stunt to attract tourists to a small dying town (population 63), results in the entire community turning the clock back to 1904. It is local Christmas tree farmer Everett Campbell’s idea, after watching the film “Meet Me in St. Louis,” his young daughter’s new favorite movie. What begins as half practical joke and half desperate ploy initiates the rebirth of Nuthatch, Massachusetts. Tourists do come, along with the media. Everett’s resentful teenaged son rebels at living in the pretend past. His wife, a medical transcriptionist who works at home, a self-employed and self-professed loner, has panic attacks when tourists stop to take her picture. The town’s unofficial historian, a genteel septuagenarian, supports Everett’s scheme, but for personal gain.
To Everett’s dismay, his campaign to save their community results in also attracting representatives of a chain of theme parks who want to buy Nuthatch 1904. Everett now stands to lose his town in a way he never imagined, and the community is divided on which alternate future to choose. On the sidelines but ever encroaching toward the center is a local drug dealer, the longtime enemy of Everett and his best friend Bud, who discovers a new opportunity to threaten them and exploit the town, or its new owner.
The novel is mainly humorous, a bit poignant, a little sad, briefly scary, incidentally educational, and so gosh darn entertaining if you like that sort of thing.
You do not need a Kindle or other e-reader device, as both Kindle and Smashwords versions can be downloaded to your computer. Read a sample for free. Take it around the block. Kick the tires. See if you like it. Then if you want to commit, I’ve got a heck of a deal, just for you…I’ll let you take it home for $2.99. Because you’re my friend.
That’s MEET ME IN NUTHATCH on Kindle or MEET ME IN NUTHATCH on Smashwords. Be the first on your block.
And now, back to our regularly scheduled blog.
Thursday, 7 October 2010
Monday, 4 October 2010
THE STEPFATHER : Teror Ayah Tiri Pembunuh
Tagline:
Daddy's home.
Storyline:
Ketika Michael Harding kembali ke rumah dari sekolah militernya, ia menemukan ibunya tergila-gila dengan kekasih barunya, David yang walaupun baru berpacaran selama 6 bulan bahkan berencana menikah dalam waktu dekat. Mulanya, David nampak seperti pria baik yang pantas menjadi figur suami dan ayah tiri yang sempurna. Kemudian Michael dan kekasihnya, Amber tanpa sengaja mendapati segala keanehan yang berasal dari masa lalu David yang misterius. Kini yang harus dilakukan adalah membongkar sisi gelap calon ayah tiri tersebut sebelum semuanya terlambat.
Nice-to-know:
Bintang The Stepfather (1987), Terry O'Quinn sempat ditawarkan menjadi cameo dalam remake ini tetapi ditolaknya.
Cast:
Sebelumnya Walsh dan Ward lebih banyak bermain dalam serial televisi.
Dylan Walsh sebagai David Harris
Sela Ward sebagai Susan Harding
Penn Badgley sebagai Michael Harding
Amber Heard sebagai Kelly Porter
Director:
Lebih banyak menyutradarai serial televisi, Prom Night (2008) merupakan debut layar lebar bagi Nelson McCormick.
Comment:
Jika anda sudah disuguhi jawaban sebuah film pada bagian prolognya, lantas apa lagi yang bisa dijual? Jawabannya tentu saja prosesnya. Dalam sebuah thriller ada lagi yang lebih penting yaitu siapa saja yang berhasil selamat dari teror antagonisnya. Apalagi jika targetnya adalah sebuah keluarga yang biasanya beranggotakan orangtua dan anak-anak. Tidak tega rasanya membayangkan hal itu terjadi.
Disini kita punya Ward sebagai sang ibu, Badgley sebagai sang putra dan Heard sebagai kekasihnya. Ketiga tokoh ini cukup dominan daripada aktor-aktris cilik yang bahkan kemunculannya tidak konsisten. Ward bermain lumayan tetapi tidak diberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi kegalauannya sebagai ibu tiga anak dan janda yang kesepian. Sedangkan Badgley-Heard nyaris selalu mengenakan pakaian minim di setiap scene yang melibatkan mereka. Baiklah, sebut saja audiens tahu badan mereka berdua memang bagus tetapi apakah pantas jika diperlihatkan terus menerus? Saya jadi mempertanyakan motif di baliknya. Namun kunci utama justru ada di tokoh antagonis dalam hal ini Walsh yang terus terang saja belumtidak cukup mengerikan. Ia hanya mengandalkan wajah dingin dan seringai sinisnya. Saya tidak pernah menyaksikan O’Quinn tetapi banyak review yang menilai ia lebih berhasil dalam sisi ini. Entahlah. Karakterisasi para tokoh disini juga menurut saya masih terlalu dangkal.
Sutradara McCormack memang tergolong sukses menyajikan adegan demi adegan yang memacu adrenalin anda. Hal ini tidak lepas dari kesetiaannya pada originalitas film yang diproduksi pada tahun 1987 itu. Tentunya beberapa elemen penting juga diperbaharui disini terutama dari segi musik latar yang mengiringinya. Namun apakah sebuah thriller bisa disebut memuaskan hanya dengan fakta tersebut? Penilaian akhir, The Stepfather sudah memiliki elemen thriller yang baku dan baik tetapi sayangnya terlalu lemah di karakterisasi dan penerjemahan skripnya sehingga menjadi tidak memorable.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$28,802,131 till mid Nov 2009
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
Daddy's home.
Storyline:Ketika Michael Harding kembali ke rumah dari sekolah militernya, ia menemukan ibunya tergila-gila dengan kekasih barunya, David yang walaupun baru berpacaran selama 6 bulan bahkan berencana menikah dalam waktu dekat. Mulanya, David nampak seperti pria baik yang pantas menjadi figur suami dan ayah tiri yang sempurna. Kemudian Michael dan kekasihnya, Amber tanpa sengaja mendapati segala keanehan yang berasal dari masa lalu David yang misterius. Kini yang harus dilakukan adalah membongkar sisi gelap calon ayah tiri tersebut sebelum semuanya terlambat.
Nice-to-know:
Bintang The Stepfather (1987), Terry O'Quinn sempat ditawarkan menjadi cameo dalam remake ini tetapi ditolaknya.
Cast:
Sebelumnya Walsh dan Ward lebih banyak bermain dalam serial televisi.
Dylan Walsh sebagai David Harris
Sela Ward sebagai Susan Harding
Penn Badgley sebagai Michael Harding
Amber Heard sebagai Kelly Porter
Director:
Lebih banyak menyutradarai serial televisi, Prom Night (2008) merupakan debut layar lebar bagi Nelson McCormick.
Comment:
Jika anda sudah disuguhi jawaban sebuah film pada bagian prolognya, lantas apa lagi yang bisa dijual? Jawabannya tentu saja prosesnya. Dalam sebuah thriller ada lagi yang lebih penting yaitu siapa saja yang berhasil selamat dari teror antagonisnya. Apalagi jika targetnya adalah sebuah keluarga yang biasanya beranggotakan orangtua dan anak-anak. Tidak tega rasanya membayangkan hal itu terjadi.
Disini kita punya Ward sebagai sang ibu, Badgley sebagai sang putra dan Heard sebagai kekasihnya. Ketiga tokoh ini cukup dominan daripada aktor-aktris cilik yang bahkan kemunculannya tidak konsisten. Ward bermain lumayan tetapi tidak diberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasi kegalauannya sebagai ibu tiga anak dan janda yang kesepian. Sedangkan Badgley-Heard nyaris selalu mengenakan pakaian minim di setiap scene yang melibatkan mereka. Baiklah, sebut saja audiens tahu badan mereka berdua memang bagus tetapi apakah pantas jika diperlihatkan terus menerus? Saya jadi mempertanyakan motif di baliknya. Namun kunci utama justru ada di tokoh antagonis dalam hal ini Walsh yang terus terang saja belumtidak cukup mengerikan. Ia hanya mengandalkan wajah dingin dan seringai sinisnya. Saya tidak pernah menyaksikan O’Quinn tetapi banyak review yang menilai ia lebih berhasil dalam sisi ini. Entahlah. Karakterisasi para tokoh disini juga menurut saya masih terlalu dangkal.
Sutradara McCormack memang tergolong sukses menyajikan adegan demi adegan yang memacu adrenalin anda. Hal ini tidak lepas dari kesetiaannya pada originalitas film yang diproduksi pada tahun 1987 itu. Tentunya beberapa elemen penting juga diperbaharui disini terutama dari segi musik latar yang mengiringinya. Namun apakah sebuah thriller bisa disebut memuaskan hanya dengan fakta tersebut? Penilaian akhir, The Stepfather sudah memiliki elemen thriller yang baku dan baik tetapi sayangnya terlalu lemah di karakterisasi dan penerjemahan skripnya sehingga menjadi tidak memorable.
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$28,802,131 till mid Nov 2009
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
A Review: Rich Man, Poor Man: The Complete Collection DVD Set
Having conducted the contest over the past two posts for the prize of the newly released DVD of “Rich Man, Poor Man” The Complete Collection by A&E Home Entertainment, here are a few thoughts on the DVD and the miniseries that broke ground, broke records, but whose legacy was seemingly short-lived.
Short-lived mainly because, as the saying goes, they don’t make them like that anymore. The miniseries, a new and exciting form of television, is no longer produced. There are probably practical (money) reasons for this, but there are even more intangible ones, such as television today being vastly changed.
“Rich Man, Poor Man”, which aired on ABC for 12 weeks beginning in February 1976, was based upon the novel by Irwin Shaw published in 1970. It follows the family saga of the Jordache family, principally the fate of two brothers, from 1945 through the late 1960s.
For those of us who caught the series the first time around, we may first marvel that the era in which this saga unfolds was not merely history; at the time, it was memory. We ourselves were who teens or young adults in 1976 did not remember first-hand VE-Day or the political and social upheaval of the 1950s and 1960s, but we were not more than a generation separated from them.
To adults who experienced and were part of this colorful and tumultuous American popular history backdrop of the Jordache brothers, this miniseries was more than a 12-week prime time soap opera; it was a very personal trip down memory lane. Like the collage of memorabilia that decorates the opening titles of the beginning chapters, this show is a souvenir from our own lives.
A younger person today viewing the DVD set of this critically acclaimed and popular program will naturally feel a more remote attitude toward the events, but the pacing of the show may be even more difficult for them to appreciate. This was filmed long before the “attention deficit disorder” shots so common in film and television today, where the view is bombarded with a constantly moving camera. It was also filmed in the days where, though adult subject matter is portrayed, it is portrayed with discretion not employed today when we are bludgeoned with images to make sure we get it.
There is nothing exploitive or dumbed down in this series, and audience is given credit for having intelligence. In a much less cluttered television landscape (four channels), it was a show everybody watched about a book people were reading.
So much scope for intelligent discussion.
Nick Nolte, and Peter Strauss, who play the at-odds, different as night and day brothers, became stars as a result of “Rich Man, Poor Man,” and the cast roster is loaded with 1970s television characters, as well as giants from the Hollywood heyday popping in and out of the different episodes. Veterans Dorothy McGuire, Van Johnson, Ray Milland, Gloria Grahame, Dorothy Malone mix it up with newcomers Talia Shire, Susan Blakely, Dennis Duggan, and Lawrence Pressman.
Ed Asner took an astonishing 180-degree turn from grumpy-but-heart-of-gold Mr. Grant from the weekly series “The Mary Tyler Moore Show” to scoop up an Emmy award for his bullying, morose, and tragic immigrant father, Axel Jordache.
Robert Reed, Dick Sargent, and Bill Bixby left the safety of nice guy sitcom characters the public had known them for and showed a range that illustrated these men were experienced actors and not really the cardboard cutouts we had taken them for on their other gigs that paid the bills.
And yet, if these years in the middle of the “American Century” and these familiar names of nearly 35 years ago are remote to audiences in 2010, the larger theme of the rise and fall of these flawed human beings is as strong and passionate as ever.
Do we smile, even ruefully, at bombastic Ray Milland, department store mogul for bellowing, “This country’s on the crest of a wave!” as he tried to lure Peter Strauss from a job in academia to join Big Business? We might truly smile at his disgust over his doctors telling him he has some new-fangled illness. What was it? Oh, yes. “High cholesterol.” Did you ever hear of such nonsense? High cholesterol. What will they think of next?
We re-live the fear many smaller store owners had, such as the Jordaches with their bakery in the cellar, of the coming of the “supermarket” era and the urban renewal that destroyed old neighborhoods. (I love the detail of the blotch of flour fingerprints on the light switch plate at the top of the stairs in the Jordache home.)
Much later on in the series, when the brothers are united in a tragic moment, the ne’r do well Nick Nolte, who has found peace with himself, urges Peter Strauss to fight the good fight and go get the bad guys. By this time, the “good” brother, who as excelled in business, politics, and publishing, has fallen short of his early promise of idealism, and he laments, “I don’t know who they are anymore. I think I’m one of them.” The series held a mirror up to an inquiring and introspective America at that time, and this was perhaps chief among its accomplishments.
“Rich Man, Poor Man” still has the power to move, to illuminate, and to entertain. The style of 1970s film work or the big names which are no longer big names should not make this series a museum piece. It needs to be seen again, and now it can be.
This set of 9 discs released by A&E Home Entertainment includes Book I, the original 12-episode series from 1976, as well as Book II, the 1977 sequel in 22 episodes. The transfer of the video to digital is good, however I noted in one episode of Book I, where the diminished quality remaining from the original tape showed a few brief flaws on the DVD.
Peter Strauss does the commentary track in Episode 1 along with television historian David Bianculli. His comments are especially interesting, and run from noting how the style of long acting scenes would not be used today, noting the immediate success of the series, “Monday was ‘Rich Man, Poor Man’ night”, and the series’ profound view of America in the postwar years.
He also notes his luck at working with two Hollywood veteran actress in his early career: Teresa Wright in the movie “Hail Hero” (1969) (he confesses having fallen in love with her from watching “The Best Years of Our Lives”), and Dorothy McGuire here, whom he calls a “beautiful, beautiful, elegant, charming woman.” Clearly, Mr. Strauss is a really swell guy.
For more of Peter Strauss’ astute observations and his trip down memory lane in the audio commentary, see episode 1 of this DVD set.
For more details on the “Rich Man, Poor Man”: The Complete Collection DVD set newly released by A&E Home Entertainment, have a look here.
FCC disclaimer: for purposes of review, this DVD set was provided by A&E Home Entertainment.
Short-lived mainly because, as the saying goes, they don’t make them like that anymore. The miniseries, a new and exciting form of television, is no longer produced. There are probably practical (money) reasons for this, but there are even more intangible ones, such as television today being vastly changed.
“Rich Man, Poor Man”, which aired on ABC for 12 weeks beginning in February 1976, was based upon the novel by Irwin Shaw published in 1970. It follows the family saga of the Jordache family, principally the fate of two brothers, from 1945 through the late 1960s.
For those of us who caught the series the first time around, we may first marvel that the era in which this saga unfolds was not merely history; at the time, it was memory. We ourselves were who teens or young adults in 1976 did not remember first-hand VE-Day or the political and social upheaval of the 1950s and 1960s, but we were not more than a generation separated from them.
To adults who experienced and were part of this colorful and tumultuous American popular history backdrop of the Jordache brothers, this miniseries was more than a 12-week prime time soap opera; it was a very personal trip down memory lane. Like the collage of memorabilia that decorates the opening titles of the beginning chapters, this show is a souvenir from our own lives.
A younger person today viewing the DVD set of this critically acclaimed and popular program will naturally feel a more remote attitude toward the events, but the pacing of the show may be even more difficult for them to appreciate. This was filmed long before the “attention deficit disorder” shots so common in film and television today, where the view is bombarded with a constantly moving camera. It was also filmed in the days where, though adult subject matter is portrayed, it is portrayed with discretion not employed today when we are bludgeoned with images to make sure we get it.
There is nothing exploitive or dumbed down in this series, and audience is given credit for having intelligence. In a much less cluttered television landscape (four channels), it was a show everybody watched about a book people were reading.
So much scope for intelligent discussion.
Nick Nolte, and Peter Strauss, who play the at-odds, different as night and day brothers, became stars as a result of “Rich Man, Poor Man,” and the cast roster is loaded with 1970s television characters, as well as giants from the Hollywood heyday popping in and out of the different episodes. Veterans Dorothy McGuire, Van Johnson, Ray Milland, Gloria Grahame, Dorothy Malone mix it up with newcomers Talia Shire, Susan Blakely, Dennis Duggan, and Lawrence Pressman.
Ed Asner took an astonishing 180-degree turn from grumpy-but-heart-of-gold Mr. Grant from the weekly series “The Mary Tyler Moore Show” to scoop up an Emmy award for his bullying, morose, and tragic immigrant father, Axel Jordache.
Robert Reed, Dick Sargent, and Bill Bixby left the safety of nice guy sitcom characters the public had known them for and showed a range that illustrated these men were experienced actors and not really the cardboard cutouts we had taken them for on their other gigs that paid the bills.
And yet, if these years in the middle of the “American Century” and these familiar names of nearly 35 years ago are remote to audiences in 2010, the larger theme of the rise and fall of these flawed human beings is as strong and passionate as ever.
Do we smile, even ruefully, at bombastic Ray Milland, department store mogul for bellowing, “This country’s on the crest of a wave!” as he tried to lure Peter Strauss from a job in academia to join Big Business? We might truly smile at his disgust over his doctors telling him he has some new-fangled illness. What was it? Oh, yes. “High cholesterol.” Did you ever hear of such nonsense? High cholesterol. What will they think of next?
We re-live the fear many smaller store owners had, such as the Jordaches with their bakery in the cellar, of the coming of the “supermarket” era and the urban renewal that destroyed old neighborhoods. (I love the detail of the blotch of flour fingerprints on the light switch plate at the top of the stairs in the Jordache home.)
Much later on in the series, when the brothers are united in a tragic moment, the ne’r do well Nick Nolte, who has found peace with himself, urges Peter Strauss to fight the good fight and go get the bad guys. By this time, the “good” brother, who as excelled in business, politics, and publishing, has fallen short of his early promise of idealism, and he laments, “I don’t know who they are anymore. I think I’m one of them.” The series held a mirror up to an inquiring and introspective America at that time, and this was perhaps chief among its accomplishments.
“Rich Man, Poor Man” still has the power to move, to illuminate, and to entertain. The style of 1970s film work or the big names which are no longer big names should not make this series a museum piece. It needs to be seen again, and now it can be.
This set of 9 discs released by A&E Home Entertainment includes Book I, the original 12-episode series from 1976, as well as Book II, the 1977 sequel in 22 episodes. The transfer of the video to digital is good, however I noted in one episode of Book I, where the diminished quality remaining from the original tape showed a few brief flaws on the DVD.
Peter Strauss does the commentary track in Episode 1 along with television historian David Bianculli. His comments are especially interesting, and run from noting how the style of long acting scenes would not be used today, noting the immediate success of the series, “Monday was ‘Rich Man, Poor Man’ night”, and the series’ profound view of America in the postwar years.
He also notes his luck at working with two Hollywood veteran actress in his early career: Teresa Wright in the movie “Hail Hero” (1969) (he confesses having fallen in love with her from watching “The Best Years of Our Lives”), and Dorothy McGuire here, whom he calls a “beautiful, beautiful, elegant, charming woman.” Clearly, Mr. Strauss is a really swell guy.
For more of Peter Strauss’ astute observations and his trip down memory lane in the audio commentary, see episode 1 of this DVD set.
For more details on the “Rich Man, Poor Man”: The Complete Collection DVD set newly released by A&E Home Entertainment, have a look here.
FCC disclaimer: for purposes of review, this DVD set was provided by A&E Home Entertainment.
Saturday, 2 October 2010
LEGEND OF THE GUARDIANS : THE OWLS OF GA'HOOLE Saat Burung Hantu Berpetualang
Tagline:
On his way to finding a legend...he will become one.
Storyline:
Saat sedang belajar terbang dan terjatuh ke dasar hutan, dua burung hantu muda, Soren dan Kludd diculik oleh tentara St. Aggie's yang memiliki camp pelatihan burung hantu agar menjadi tentara yang handal. Kludd yang ambisius merasa dihargai dan memilih tinggal, sedangkan Soren yang lembut hati berusaha melarikan diri bersama Gylfie yang ditemuinya disana. Usaha yang tidak mudah karena Soren masih dalam tahap belajar sedangkan Nyra beserta bala tentaranya terus mengejar. Susah payah kembali ke kampung halamannya, Soren kemudian bertemu idolanya Ezylryb yang kemudian mengajarnya menjadi burung hantu sejati. Kini Soren yang baru siap menjalani petualangannya sendiri dan meneruskan apa yang diyakininya.
Nice-to-know:
Film pertama sutradara Snyder yang tidak mendapat rating Dewasa.
Voice:
Jim Sturgess sebagai Soren
Emily Barclay sebagai Gylfie
Abbie Cornish sebagai Otulissa
Essie Davis sebagai Marella
Adrienne DeFaria sebagai Eglantine
Joel Edgerton sebagai Metalbeak
Ryan Kwanten sebagai Kludd
Anthony LaPaglia sebagai Twilight
Helen Mirren sebagai Nyra
Hugo Weaving sebagai Noctus / Grimble
Sam Neill sebagai Allomere
Richard Roxburgh sebagai Boron
Director:
Mulai dikenal setelah membesut Dawn of the Dead (2004), Zack Snyder kini dianggap sebagai salah satu sutradara bertalenta yang rata-rata filmnya sukses.
Comment:
Jangan ragukan kemampuan grafis sutradara Snyder. Ia sudah membuktikannya berkali-kali lewat live-action movie sebelumnya. Bagaimana dengan animasi? Film ini adalah jawabannya. Dan sekali lagi ia menjawab tantangan itu dengan baik. Lihat bulu, paruh, kedipan mata, gerak bibir, kepakan sayap para burung hantu disini yang sangat nyata dan detail. Dipadukan dengan elemen 3D menghadirkan konsep visualisasi yang luar biasa indah apalagi dengan berbagai close-up shot. Awesome!
Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru disini. Pengenalan terhadap dua saudara yang saling bersaing untuk kemudian memisahkan keduanya ke dalam sisi gelap dan terang. Otomatis konsen penonton akan jatuh pada protagonisnya yaitu Soren yang sepintas terlihat lebih lemah dan kurang ahli dibandingnya sang antagonis Kludd yang lebih kuat dan banyak kemampuan. Sturgess dan Kwanten memberikan intonasi suara yang pas ke dalam kedua karakter tersebut.
Sketsa yang lebih besar adalah keberadaan dua kubu yang juga saling bertolak belakang. Pertama ada The Aggie’s yang memiliki kekuatan misterius dari persembahan-persembahan yang dilakukan warganya. Mereka lebih terlihat sebagai negara fasis yang mengusung militerisme dengan berbagai persenjataan yang komplit.
Kedua ada Tree of Ga’Hoole yang terasa lebih beradab dan manusiawi dimana semua warganya hidup berdampingan secara aman dan damai. Mereka mewakili negara demokrat yang mengembangkan suasana kekeluargaan yang kental.
Sepanjang film anda akan disuguhi petualangan Soren dkk dalam menjalani impian masa kecilnya akan figur kepahlawanan yang nyata sekaligus memerangi tirani yang membelenggu. Saran saya saksikan film ini dalam 3D sebab memang dibuat untuk itu. Versi 2D nya terus terang menjadi kurang menggigit apalagi sosok burung hantu masih terasa asing untuk dikedepankan dalam sebuah film animasi. Dibandingkan film-film sejenis yang sudah lebih dahulu beredar. Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole tidaklah terlalu istimewa tetapi sangat memanjakan mata.
Durasi:
90 menit
U.S. Box Office:
$16,112,211 in opening week end of Sep 2010
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
On his way to finding a legend...he will become one.
Storyline:Saat sedang belajar terbang dan terjatuh ke dasar hutan, dua burung hantu muda, Soren dan Kludd diculik oleh tentara St. Aggie's yang memiliki camp pelatihan burung hantu agar menjadi tentara yang handal. Kludd yang ambisius merasa dihargai dan memilih tinggal, sedangkan Soren yang lembut hati berusaha melarikan diri bersama Gylfie yang ditemuinya disana. Usaha yang tidak mudah karena Soren masih dalam tahap belajar sedangkan Nyra beserta bala tentaranya terus mengejar. Susah payah kembali ke kampung halamannya, Soren kemudian bertemu idolanya Ezylryb yang kemudian mengajarnya menjadi burung hantu sejati. Kini Soren yang baru siap menjalani petualangannya sendiri dan meneruskan apa yang diyakininya.
Nice-to-know:
Film pertama sutradara Snyder yang tidak mendapat rating Dewasa.
Voice:
Jim Sturgess sebagai Soren
Emily Barclay sebagai Gylfie
Abbie Cornish sebagai Otulissa
Essie Davis sebagai Marella
Adrienne DeFaria sebagai Eglantine
Joel Edgerton sebagai Metalbeak
Ryan Kwanten sebagai Kludd
Anthony LaPaglia sebagai Twilight
Helen Mirren sebagai Nyra
Hugo Weaving sebagai Noctus / Grimble
Sam Neill sebagai Allomere
Richard Roxburgh sebagai Boron
Director:
Mulai dikenal setelah membesut Dawn of the Dead (2004), Zack Snyder kini dianggap sebagai salah satu sutradara bertalenta yang rata-rata filmnya sukses.
Comment:
Jangan ragukan kemampuan grafis sutradara Snyder. Ia sudah membuktikannya berkali-kali lewat live-action movie sebelumnya. Bagaimana dengan animasi? Film ini adalah jawabannya. Dan sekali lagi ia menjawab tantangan itu dengan baik. Lihat bulu, paruh, kedipan mata, gerak bibir, kepakan sayap para burung hantu disini yang sangat nyata dan detail. Dipadukan dengan elemen 3D menghadirkan konsep visualisasi yang luar biasa indah apalagi dengan berbagai close-up shot. Awesome!
Dari segi cerita, nyaris tidak ada yang baru disini. Pengenalan terhadap dua saudara yang saling bersaing untuk kemudian memisahkan keduanya ke dalam sisi gelap dan terang. Otomatis konsen penonton akan jatuh pada protagonisnya yaitu Soren yang sepintas terlihat lebih lemah dan kurang ahli dibandingnya sang antagonis Kludd yang lebih kuat dan banyak kemampuan. Sturgess dan Kwanten memberikan intonasi suara yang pas ke dalam kedua karakter tersebut.
Sketsa yang lebih besar adalah keberadaan dua kubu yang juga saling bertolak belakang. Pertama ada The Aggie’s yang memiliki kekuatan misterius dari persembahan-persembahan yang dilakukan warganya. Mereka lebih terlihat sebagai negara fasis yang mengusung militerisme dengan berbagai persenjataan yang komplit.
Kedua ada Tree of Ga’Hoole yang terasa lebih beradab dan manusiawi dimana semua warganya hidup berdampingan secara aman dan damai. Mereka mewakili negara demokrat yang mengembangkan suasana kekeluargaan yang kental.
Sepanjang film anda akan disuguhi petualangan Soren dkk dalam menjalani impian masa kecilnya akan figur kepahlawanan yang nyata sekaligus memerangi tirani yang membelenggu. Saran saya saksikan film ini dalam 3D sebab memang dibuat untuk itu. Versi 2D nya terus terang menjadi kurang menggigit apalagi sosok burung hantu masih terasa asing untuk dikedepankan dalam sebuah film animasi. Dibandingkan film-film sejenis yang sudah lebih dahulu beredar. Legend of the Guardians : The Owls of Ga’Hoole tidaklah terlalu istimewa tetapi sangat memanjakan mata.
Durasi:
90 menit
U.S. Box Office:
$16,112,211 in opening week end of Sep 2010
Overall:
7 out of 10
Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
Friday, 1 October 2010
SWEETHEART : Potret Kontras Dunia Remaja Putri
Quotes:
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??
Storyline:
Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.
Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi
Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.
Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Imel: Gimana caranya mereka masih mau sama gue kalo gue udah dipake??
Storyline:Berat hati, Nina terpaksa pindah ke sekolah dan lingkungan tempat tinggal yang baru mengikuti ibunya Cynthia yang baru saja dinikahi secara siri oleh seorang pengusaha kaya. Kemudian Nina berkenalan dengan cowok tampan bernama Irwan yang juga tinggal di sekitar situ. Di sekolah Nina juga berteman dengan Misha yang terobsesi menjadi anggota geng Sweetheart yang paling populer disana. Geng ini beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry sebetulnya bukan panutan yang baik. Mereka senang berfoya-foya, dugem, mabuk-mabukan bahkan melakukan seks bebas. Imel yang paling dominan diantara ketiganya mengalami guncangan batin saat diputuskan oleh Jodi yang juga vokalis band tenar. Sayangnya sakit hati Imel lalu dilampiaskan kepada Nina lewat serangkaian "penyiksaan". Batin Nina hancur tetapi ia harus bangkit berdiri dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya dan lingkungan barunya itu.
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Virgo Putra Film dan diproduseri oleh Ferry Angriawan.
Cast:
Marcel Chandrawinata sebagai Irwan
Aurellie Moeremans sebagai Nina
Sabai Morscheck sebagai Imel
Joanna Alexandra sebagai Cherry
Sheila Thohir sebagai Fifi
Ayu Azhari sebagai Cynthia
Ivan Ray sebagai Jodi
Director:
Merupakan film kedua bagi Hanny R. Saputra di tahun 2010 ini setelah Sst.. Jadikan Aku Simpanan di bulan Januari lalu.
Comment:
Prolog film ini seperti ada di pertengahan sesuatu. Kita tidak tahu siapa Nina yang lugu ataupun trio populer berlakuan negatif Sweetheart yang beranggotakan Imel, Fifi dan Cherry. Latar belakang keempatnya tidak disinggung samasekali. Hal yang sesungguhnya sangat penting bagi audiens untuk dapat menyelami karakterisasi tokoh-tokoh utama itu. Yang ada narasi berjalan terus merekam berbagai polah tingkah keempat remaja putri tersebut dengan alur linier. Konflik demi konflik terus dijejali kalau tidak mau disebut berlebihan. Namun harus diingat kembali, ini adalah film remaja yang menyimpan misi edukasi tersendiri.
Sutradara Hanny menyajikan sinematografi yang teduh dengan pemilihan warna-warni lembut yang menarik. Kepiawaiannya menyajikan drama yang baik memang tidak bisa dipungkiri seperti yang pernah diperlihatkannya dalam Heart. Momen-momen bold yang menohok emosi ditampilkan secara gamblang. Penampilan Sabai yang meledak-ledak sebagai gadis pembangkang cukup mampu membuat penonton berantipati padanya. Sebaliknya Aurellie tampil kalem tetapi persuasive. Kedua karakter yang bertolak belakang itulah yang menjadi nilai jual utama film ini. Kehadiran Marcell, Joanna, Ayu dll hanya terkesan sebagai pelengkap belaka dan tidak ada alasan yang kuat untuk membuat mereka beerimprovisasi disini.
Jika anda bisa memaafkan letusan peluru yang terjadi di awal, niscaya Sweetheart akan menjadi tontonan yang memenuhi standar kualitas sebuah film. Terlepas dari klise dan predictable endingnya, saya menganggap film ini masih layak untuk ditonton. Nilai-nilai persahabatan yang berpadu dengan peran orangtua dalam menanamkan pendidikan moral sejak dini memang bagian terpenting dalam pertumbuhan seseorang yang beranjak remaja. Bukankah masa depan dan pilihan dalam hidup ditentukan dari fase tersebut?
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Subscribe to:
Posts (Atom)

