Showing posts with label sam rockwell. Show all posts
Showing posts with label sam rockwell. Show all posts

Thursday, 15 November 2012

SEVEN PSYCHOPATHS : Bizarre Fun Psychotic Crime Comedy

Quotes:
Hans: An eye for an eye leaves the whole world blind.
Billy: No, it doesn't. There'll be one guy left with one eye. How's the last blind guy gonna take out the eye of the last guy left? 


Nice-to-know: 

Film ini awalnya direncanakan rilis terbatas pada tanggal 2 November 2012 sebelum dimajukan ke tanggal 10 Oktober 2012 dengan jangkauan lebih luas lagi.

Cast: 

Colin Farrell sebagai Marty
Sam Rockwell sebagai Billy
Christopher Walken sebagai Hans

Woody Harrelson sebagai Charlie
Michael Pitt sebagai Larry
Michael Stuhlbarg sebagai Tommy
Abbie Cornish sebagai Kaya
Olga Kurylenko
sebagai
Angela 

Director: 

Merupakan feature film kedua bagi Martin McDonagh setelah In Bruges (2008).

W For Words: 
Film ini menyusul jejak The Raid : Redemption (2012) dengan memenangkan gelar Midnight Madness People’s Choice Award di ajang Toronto International Film Festival 2012. Bagi yang tidak mengenal Martin McDonagh coba tengok filmnya sebelum ini yakni In Bruges (2008) yang juga dibintangi oleh Colin Farrell dimana dirinya juga bertindak sebagai produser, penulis skrip dan sutradara sekaligus. Gaya bertutur ala Quentin Tarantino dan Guy Ritchie pun akan anda temui disini, lengkap dalam aksen dan nuansa Inggris yang kental. Menarik bukan?

Penulis skrip Marty tengah kehabisan ide sehingga memilih untuk mabuk-mabukkan yang membuatnya ditinggalkan kekasihnya Kaya. Sahabatnya Billy seorang pembunuh bayaran dan rekannya Hans memang masih setia menemani. Namun keduanya menimbulkan masalah besar tatkala menculik anjing Shih Tzu bernama Bonia milik kepala mafia yang ditakuti yaitu Charlie. Kejadian tersebut memunculkan ide di kepala Marty untuk menulis skrip berjudul “Seven Psychopaths” dengan mengambil kejadian yang mirip dengan apa yang dialaminya saat ini sambil mencari jalan keluar untuk tetap hidup. 

Sebelum berbicara lebih jauh, anda perlu tahu dulu pengertian psikopat yaitu seseorang yang antisosial dengan perilaku yang cenderung merugikan orang lain. Tercatat 1% dari populasi manusia di seluruh dunia masuk dalam kategori ini. Dari luar mereka tampak normal dan samasekali sadar akan kegilaan yang bisa dilakukannya. Sosok yang kemudian terwakili oleh Billy, Hans dan Charlie dengan “cara”nya masing-masing mulai dari yang paling biasa hingga ekstrim sekalipun. Jangan salah, sisi rapuh mereka juga kerap tampak sehingga kompleksitas kepribadian semakin terwakili.

Berbagai referensi psikopat juga digelorakan lewat sejumlah karakter tanpa nama. Ada tentara Vietnam yang menyamar menjadi pastor, pembunuh bayaran misterius bertopeng atau sepasang kekasih kulit putih dan kulit hitam yang beraksi bersama. Tak jarang mereka yang fiktif ini mengintervensi cerita sungguhan sekaligus menegaskan absurditas kekerasan yang akan membuat anda terpekik atau bersorak sorai. Ya, cipratan darah melalui kepala meledak, leher tergorok, perut tertembak, tubuh tertusuk dsb akan mendominasi layar tanpa harus kehilangan unsur fun nya.

Perhatian anda akan tertuju pada interaksi “lempar-tangkap” Rockwell dan Walken yang berisikan dialog pintar-pintar bodoh nan provokatif sambil sesekali menyentil realita yang legendaris. Harrelson lagi-lagi kebagian tokoh kejam berperangai aneh, lihat bagaimana ia menangis ketika anjingnya terancam. Farrell sendiri lebih bersifat sebagai pengamat sekaligus penentu langkah selanjutnya yang patut ia jalankan. Sedangkan karakter wanita seperti dibahas pada satu bagian dalam film terbatas sebagai pemanis belaka meski Bright Clay dan Kurylenko cukup mencuri perhatian.

Seven Psychopaths merupakan satu dari sekian judul film yang menawarkan pengalaman nonton tergila. Komedi hitam berformat meta ini tidak kehilangan arahnya walau sesekali melangkah keluar jalur. Kinerja McDonagh bukan tanpa cela karena setiap ia “kembali” pasti menyisakan celah subplot yang tak mampu ditutupi. Namun ketajamannya dalam bertutur dan kerapiannya dalam mengeksekusi sejak menit awal selalu terjaga dengan penuh energi. Filosofinya kira-kira sebagai berikut, bertahan hidup mungkin keahlian terbaik yang dimiliki oleh seorang manusia semenjak terlahir di muka bumi termasuk kemampuan untuk membunuh atas alasan tersebut. It explains a lot in a way you could never guess!

Durasi: 
110 menit 

U.S. Box Office: 

$13,411,750 till Nov 2012 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Sunday, 14 November 2010

EVERYBODY'S FINE : Perjalanan Orangtua Mengunjungi Anak-Anaknya

Quotes:
Rosie-We could just talk to mom.
Frank Goode-Oh, but you couldn't just talk to me?
Rosie-Well she was a good listener, you were a good talker.
Frank Goode-Well so that's good, we made a good team.

Storyline:
Frank Goode hidup sendirian di Elmira, New York selepas kematian istrinya beberapa bulan yang lalu. Kesepian yang melanda setelah pensiun dari pabrik, Frank bertekad mengunjungi keempat anak-anaknya yang ia pikir sudah sukses dan mandiri masing-masing David yang seniman di New York City, Amy yang eksekutif periklanan di Chicago, Robert yang konduktor musik di Denver dan Rosie yang penari di Vegas. Nyatanya keadaan asli berbeda dari bayangan Frank. Akankah interaksi anak dan orangtua akan tetap terjaga keharmonisannya terlepas dari jam kehidupan yang terus berdetak?

Nice-to-know:
Coba perhatikan karakter Frank yang bekerja di bidang kabel telepon selalu menggunakan telepon berkabel. Sedangkan anak-anaknya memakai handphone alias ponsel nirkabel.

Cast:
Tahun 2008 lalu muncul dalam 2 film yang tidak terlalu booming yaitu Righteous Kill dan What Just Happened, Robert DeNiro kali ini bermain sebagai Frank Goode yang memiliki penyakit jantung dan di usia tua berusaha mempotretkan kehidupan anak-anaknya yang sudah dewasa sesuai imajinasinya.
Drew Barrymore sebagai Rosie
Kate Beckinsale sebagai Amy
Sam Rockwell sebagai Robert

Director:
Sempat menyutradarai Nanny McPhee (2005) sebelumnya, Kirk Jones maju dengan film ketiganya ini yang bergenre family drama.

Comment:
Jika melihat posternya sepintas kita akan mengharapkan drama keluarga yang dibumbui komedi dengan latar belakang Natal dan sejenisnya. Nyatanya tidak seperti itu. Suasana gloomy yang cukup depresif mewarnai sepanjang plot cerita dieksekusi. Tunggu dulu. Jangan artikan ini sebagai sesuatu yang negatif karena film ini justru sangat mendekati kenyataan sehari-hari dari sebuah kehidupan yang terus bergulir tanpa henti.
Seringkali kita tidak menyadari bahwa seiring pertambahan umur, esensi dari keluarga itu sedikit mengalami perubahan, beberapa di antaranya bahkan hilang begitu saja dalam arti para anggotanya benar-benar hidup terpisah satu sama lain. Film ini adalah salah satu contohnya. Sutradara Jones dengan cerdas menghadirkan sinematografi yang lembut dengan alunan musik minimalis untuk menceritakan subplot demi subplot dengan lancar. Rasanya kita semua akan jatuh hati pada karakter Frank yang malang. Acungan jempol bagi DeNiro disini dalam memerankan pria tua yang kesepian dan hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Tidak heran jika ia diganjar piala Best Actor dalam Hollywood Film Award 2009 yang lalu Di luar DeNiro, memang tidak terlalu cemerlang tetapi Barrymore, Beckinsale dan Rockwell memberikan warna tersendiri dengan penokohan yang unik sebagai ketiga anak Frank.
Saya sebagai salah satu dari anak-anak yang kesemuanya selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orangtua kami bisa memahami ketakutan Frank. Orangtua kerapkali melihat anak-anaknya dalam sosok yang jauh lebih muda selayaknya bertahun-tahun silam sehingga terlalu khawatir dan melupakan fakta bahwa anak-anaknya sudah dewasa dan bisa hidup mandiri. Namun ikatan orangtua dan anak itu sendiri memang tidak akan terpisahkan dengan cara apapun juga. Waktu demi waktu terkadang membangkitkan kenangan demi kenangan yang akan membuat kita bahagia tersenyum ataupun menangis terharu mengingat apa yang pernah terjadi dalam keluarga. (Mudah-mudahan review ini tidak diartikan sebagai curhat pribadi saya). Everybody's Fine adalah perjalanan seorang ayah yang berusaha mencari jawaban akan makna hidupnya di usia tua. Drama keluarga yang sangat bermakna dan menyentuh sanubari. It's more than just fine!

Durasi:
100 menit

U.S. Box Office:
$8,855,646 till end of 2009.

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 1 May 2010

IRON MAN 2 : Kehidupan Gemerlap Tony Stark Incaran Musuh Baru

Quotes:
Tony Stark-I am Iron Man. The suit and I are one.
Justin Hammer-I wanna make Iron Man look like an antique.

Storyline:
Kini dunia sudah mengakui Tony Stark sebagai pahlawan super Iron Man dan juga milyuner penemu yang sukses. Hal tersebut memicu tekanan yang ditimbulkan oleh Pemerintah, pers, khalayak umum yang memaksa Tony berbagi rahasia teknologi yang digunakannya kepada bidang militer. Sementara itu saingan Tony, Justin Hammer berusaha keras menemukan teknologi yang sama hingga berjumpa dengan Ivan Vanko, fisikawan sekaligus putra penemu yang pernah bekerjasama dengan ayah Tony. Keduanya membentuk kekuatan baru yang mengerikan. Setelah menyerahkan Stark Enterprise kepada asisten sekaligus kekasihnya, Pepper Pots dan karyawan baru yang cerdas, Natalie Rushman, Tony pun berusaha menyelamatkan dunia sekali lagi dengan bantuan temannya Letnan Kolonel James "Rhodey" Rhodes

Nice-to-know:
Scarlett Johansson telanjur mengecat rambutnya menjadi merah sebelum dipastikan mendapatkan peran Black Widow yang awalnya ditawarkan kepada Emily Blunt yang akhirnya mundur karena jadwal syuting Gulliver's Travels (2010).

Act:
Dua tokoh utama, Robert Downey, JR dan Gwyneth Paltrow masih menokohkan Tony Stark alias Iron Man dan kekasih asistennya Pepper Pots.
Dua pendatang baru dalam sekuel ini yang memegang peran cukup penting adalah Scarlett Johansson sebagai Natalie Rushman dan Don Cheadle sebagai James Rhodes yang menggantikan Terrence Howard yang tidak sepakat dengan Marvel Studios.
Dua karakter antagonis, Justin Hammer dan Ivan Vanko masing-masing dipegang oleh Sam Rockwell dan Mickey Rourke.

Director:
Nominasi besar pertamanya diraih di Emmy Award lewat Dinner For Five (2001), kini Jon Favreau tergolong sutradara sukses yang sudah mengarahkan beberapa film box-office dari periode 1990an hingga sekarang.

Comment:
Tanpa pengenalan karakter lagi, sekuel ini langsung dibuka dengan pengenalan kehidupan Tony Stark sebagai superhero selebritis miliarder yang glamor pede kalau tidak mau dibilang congkak. Terkadang penonton akan merasa muak melihatnya tapi itulah Downey yang berhasil membawakan karakter pahlawan secara berbeda dengan gaya tersendiri. Paltrow masih tampak anggun dan cerdas sedangkan Johansson cantik dingin juga tangguh sebagai tokoh baru disini. Sutradara Favreau masih mempertahankan tone yang kurang lebih sama dengan prekuelnya. Adegan aksinya lebih ke arah penghancuran memang terasa megah walau tidak terlalu intens, terutama di awal dan akhir film. Namun apa yang terjadi di pertengahan? Sepertinya agak sedikit slow dengan perjalanan cerita yang berangsur reda, banyak sekali tempelan adegan yang tidak terlalu penting dan seharusnya bisa dihilangkan saja karena tidak mengganggu cerita. Endingnya juga terasa dipermudah, bahkan sebelum anda berekspektasi lebih, sudah diselesaikan. Kesimpulannya, Iron Man 2 "hanya" sedikit lebih baik dari prekuelnya yang terkesan lebih gelap dan provokatif di bagian awal dan akhir tetapi penilaian lengkap masih belum mampu menyamai Iron Man 1. Semoga tidak akan ada seri ketiganya kecuali betul-betul dipersiapkan secara matang.

Durasi:
120 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent