Showing posts with label rizky hanggono. Show all posts
Showing posts with label rizky hanggono. Show all posts

Tuesday, 4 December 2012

BIDADARI-BIDADARI SURGA : Dedikasi Laisa dan Dramatisasi Perjodohan


Quotes: 
Laisa: Kalian harus belajar.. Bukan untuk mama, bukan untuk kakak, tapi demi kehidupan masa akan datang yang lebih baik.

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Starvision ini menyelenggarakan press screening dan gala premierenya sekaligus di Hollywood XXI pada tanggal 4 Desember 2012.

Cast: 
Nirina Zubir sebagai Laisa
Nino Fernandez sebagai Dalimunte
Nadine Chandrawinata sebagai Yashinta
Henidar Amroe sebagai Mamak Lainuri
Rizky Hanggono sebagai Dharma
Chantiq Schagerl sebagai Yashinta kecil
Mike Lewis sebagai Gougsky
Eriska Raenisa sebagai Cie Hui
Adam Zidni sebagai Ikanuri
Frans Nicholas sebagai Wibisana
Astri Nurdin sebagai Andini

Director: 
Merupakan film ketiga bagi Sony Gaokasak setelah terakhir Hafalan Shalat Delisa (2011) juga muncul di bulan Desember dengan masih mengandalkan Nirina Zubir.

W For Words: 
Bagi anda yang belum mengenal siapa Tere Liye, dia adalah seorang pria bernama asli Darwis yang dikenal lewat novel best seller Hafalan Shalat Delisa yang sudah difilmkan rumah produksi Starvision dengan bintang-bintang Reza Rahadian, Nirina Zubir dan si cilik Chantiq Schagerl. Hasil menempati peringkat ketiga film terlaris tahun 2011 dengan raihan jumlah penonton lebih dari enam ratus ribu orang adalah sebuah prestasi. Tahun ini adaptasi lain dari karya penulis yang nama bekennya berarti “For You” itu muncul kembali dimana skripnya ditata oleh Dewa Raka. 

Laisa adalah gadis buruk rupa berhati emas yang tak henti mengingatkan adik-adiknya Dalimunte, Yashinta, Ikanuri, Wibisana untuk rajin belajar dan bersekolah meski berasal dari keluarga sederhana di Lembah Lahambay. Begitu dewasa Dali berhasil menjadi profesor, Yashinta menjadi peneliti, Ikanuri dan Wibisana menjadi pebisnis handal. Kekurangan yang dirasa hanya satu, kakak tercinta mereka itu belum menemui jodoh. Dali sepakat tidak “melangkahi” Laisa dan menjodohkannya dengan beberapa pemuda kenalannya termasuk Dharma yang ternyata telah beristri. Benarkah kebahagiaan sudah menjauhi Laisa?

Menerjemahkan perjalanan hidup dalam rentang waktu yang panjang dengan melibatkan begitu banyak karakter memang bukan hal mudah. Itulah yang terjadi pada film ini. Saya menghargai sekuens animasi sekitar tiga menit sebagai pembuka layaknya cerita rakyat antara umat manusia dan kaum harimau tapi nyatanya tak berkorelasi kuat terhadap plot utama. Penjabaran masa kecil kelima anak Mamak Lainuri tersebut melulu tentang arti pendidikan saja selain penggambaran keteguhan hati seorang Laisa dalam mendidik adik-adiknya sekaligus mengembangkan kebiasaan bercocok tanam.

Sayangnya sebagian besar isi film justru berfokus pada perjodohan dan pernikahan. Penolakan demi penolakan yang diterima Laisa justru lebih banyak memancing tawa dibanding prihatin. Jika boleh, saya lebih memilih untuk menempatkan Laisa sebagai sosok wanita mandiri yang berpegang teguh pada emansipasi daripada kesepian karena cinta atau menderita karena penyakit. Nirina pun sudah menyuguhkan akting lumayan apik dengan penampilan yang lain dari biasanya yaitu rambut gimbal, tubuh bungkuk, badan gempal, kulit hitam dsb yang menjadikannya tidak menarik samasekali. Namun make up artist belum cukup konsisten menerapkan proses penuaan dari masa ke masa.

Begitu banyaknya nama besar yang terlibat membuat duet berbakat Rizky dan Astri seakan melengkapi saja. Begitu pula dengan pasangan senior Piet dan Henidar yang terasa kurang power. Nadine, Zidni, Frans tidak mendapatkan porsi yang memadai untuk mengeksplorasi karakter masing-masing. Mike Lewis tak cukup meyakinkan dengan aksen Inggris-Indonesia yang terbata-bata. Pemilihan aktor-aktris cilik maupun dewasa bertampang Indo memang patut dipertanyakan. Sama halnya dengan setting rumah dan gaya hidup yang terlalu mewah untuk standar warga “kampung” biasa.

Sutradara Sony kembali pada lokasi yang sempat digunakan untuk film pertamanya dahulu. Shot cantik daerah Ciwidey dan Pengalengan yang asri kehijauan menjadi andalan panggung bercerita yang alami. Kesan frame by frame terbukti sulit dihindari karena banyaknya penanda yang hilang saat perpindahan lokasi atau sudut pandang karakter. Editing Cesa David dan Ryan Purwoko kali ini tidak banyak membantu mengingat kontinuitas yang kerap terabaikan. Sebaik apapun kualitas akting jajaran castnya jika tidak melewati proses reading, hasilnya akan terasa kurang maksimal. Beruntung departemen yang satu itu tidak sampai underachieved disini.

Adegan yang dikondisikan (bukan dirasakan) untuk menciptakan momen haru terbilang masih hit and miss padahal esensi novelnya ada di situ. Durasi bisa jadi kendala tersendiri mengingat 136 halaman termasuk materi yang padat. Bidadari-Bidadari Surga lantas menyisakan satu pertanyaan mendasar yang pantas dilayangkan pada Tere Liye. Apa hubungan judul dengan isi cerita? Mungkin Surat Al-Waqi’ah: 22, Ar Rahman: 70, Ash-Shaffat: 49 dalam Al Qur’an mampu menjawabnya. Setidaknya film ini masih bermaksud baik karena mengajarkan nilai-nilai kekeluargaan sebagai pondasi tumbuhnya seseorang ke jalan yang benar.


Durasi: 

105 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:

Thursday, 13 January 2011

ANAKLUH : Cinta Kedua Kontra Peranan Ibu

Quotes:
"Buat aku, Mama seorang sudah cukup dari pada 1000 papa untuk aku"

Storyline:
Sudah belasan tahun, Idayu bertahan hidup menjanda dengan dua putrinya yang beranjak dewasa yaitu Mira yang sudah bekerja dan Kirei yang masih bersekolah. Suatu hari, Idayu bertemu dengan Nando. Keduanya terpikat satu sama lain sejak pandangan pertama dan mulai saling berkomunikasi. Idayu tidak segan mengajak Mira dan Kirei untuk turut mengenal Nando lewat telepon. Namun Mira mengartikan lain, kasih sayang seorang ayah yang sudah lama ia dambakan malah membuatnya jatuh hati pada calon ayah tirinya itu. Idayu tak kuasa menahan perasaan putri kandungnya sendiri dan memilih pergi ke Bali. Akankah Idayu dan Nando pada akhirnya bersatu terlepas dari segala masalah pelik yang tak mudah diselesaikan?

Nice to know:
Diproduksi oleh Bomb Creative Production dan gala premierenya dilangsungkan di Hollywood XXI tanggal 10 Januari 2011.

Cast:
Terakhir mendukung 2 film di tahun 2010 yaitu Bahwa Cinta Itu Ada dan Aku Atau Dia, Rizky Hanggono kali ini berperan sebagai Nando yang masa kecilnya kekurangan kasih sayang seorang ibu.
Shara Aryo sebagai Idayu
Masayu Clara sebagai Mira
Suci Winata sebagai Kirei

Director:
Kembalinya Eduart Pesta Sirait di bangku sutradara setelah satu dekade yang lalu mengarahkan Joshua Oh Joshua (2001).

Comment:
Percintaan usia beda jauh terkadang merupakan suatu polemik tersendiri. Pernah menjadi topic dalam I Love You, Om dan kali ini diperumit lagi dengan cinta segitiga dimana gadis muda itu jatuh cinta pada kekasih ibunya yang sudah lama menjanda. Itulah yang terangkum dalam novel berjudul Anakluh Berwajah Bumi yang diadaptasi menjadi drama keluarga yang bersetting di Jakarta dan Bali sekaligus. Sebuah konflik radikal yang jika tidak ditangani dengan hati-hati akan terkesan tidak mengenakkan.
Sutradara Eduart yang sudah sangat berpengalaman sejak tahun 70an ternyata tidak kehilangan sentuhan emasnya dalam menyajikan aspek-aspek drama secara wajar dengan penekanan topik di beberapa scene. Satu kekurangan yang saya cermati adalah beberapa adegan slow motion setiap suguhan satu scene konflik berlalu disertai dengan alunan lagu dari Seventeen. Rasanya hal ini tidak perlu karena terkesan terlalu mendramatisasi apalagi sampai dilakukan berulang-ulang.
Dari segi acting, Rizky tampaknya sudah sangat berpengalaman sebagai lelaki baik hati yang kurang bisa mengambil sikap tegas. Namun rasanya penonton akan dapat memahami tindakannya jika ditempatkan pada posisi yang sama. Shara sebagai ibu muda mandiri memiliki daya tarik tersendiri. Wajah cantiknya terasa pas saat diclose-up kamera mampu menghadirkan kecemasan seorang ibu dan kebahagiaan seorang kekasih. Memang ia tidak 100% konsisten melakukannya tetapi sudah baik. Masayu dan Suci juga memberikan pendalaman yang lumayan bagus sebagai dua putri single parent, Mira yang spontan dan kurang kasih saying tampak berbanding terbalik dengan Kirei yang rasional dan lebih dewasa.
Esensi novel secara keseluruhan tentunya tidak mungkin masuk semua dalam sebuah film berdurasi satu setengah jam kurang lebih. Itulah yang menyebabkan banyaknya adegan flashback berwarna sepia untuk menjelaskan latar belakang karakternya masing-masing terutama Nando menghadapi problematika ibu-anak dan Idayu suami-istri. Namun bagi saya, penjelasan demi penjelasan ini malah kurang memberikan makna apapun walau jika dihilangkan juga pasti terasa ada yang hilang.
Terlepas dari beberapa kekurangan dasar yang disebutkan tadi belum lagi pengulangan konflik ibu anak yang sedikit melelahkan hingga akhirnya ditutup juga pada endingnya yang puitis itu, saya tetap mengapresiasi Anakluh sebagai sebuah tontonan di atas rata-rata yang kaya wacana apalagi pemandangan dan kultural Bali juga dihadirkan secara nyata. Saya rekomendasikan anda untuk pergi menonton film ini.

Durasi:
95 menit

Movie-meter:

Friday, 29 October 2010

AKU ATAU DIA : Misi Kembali Ke Pelukan Mantan Pacar

Storyline:
Hubungan panjang Dafi dan Novi yang terjalin sejak kuliah menjadi kandas setelah Dafi memasuki dunia kerja. Tawaran partnership di law firm milik Amara tampaknya lebih menarik bagi Dafi apalagi Amara memberikan perhatian khusus padanya. Novi yang kecewa lantas menyewa jasa Heartbreak.Com yang dipimpin Mbak Eliza untuk memenangkan hati Dafi kembali. Tentunya Mbak Eliza tidak sendirian dan mengutus Rama untuk berpura-pura sebagai pacar Novi untuk mengusik perhatian Dafi. Semua berjalan lancar apalagi Novi juga dibantu saudara-saudaranya Pipit, Wawan dan Asep yang kompak. Namun akankah semua yang sudah rusak bisa dengan mudah diperbaiki?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh One Star Productions dan gala premierenya dilangsungkan di Djakarta Theatre tanggal 16 Oktober 2010 yang lalu.

Cast:
Fedi Nuril sebagai Rama
Julie Estelle sebagai Novi
Rizky Hanggono sebag
Terbitkan Entri
ai Dafi
Ringgo Agus Rahman sebagai Asep
Ananda Omesh sebagai Wawan
Aline Adita sebagai Amara
Sophie Navita sebagai Mbak Elza
Alex Abbad sebagai Felipe
Edo Borne
Lukman Sardi
Yama Carlos

Director:
Masih ditangani oleh Affandi Abdul Rachman yang juga menggarap prekuelnya Heartbreak.Com

Comment:
Akhir tahun lalu ada sebuah drama komedi romantis lokal yang nilainya di atas rata-rata meskipun plotnya tidak terlalu orisinil. Itulah Heart-break.com yang dibintangi Ramon dan Raihaanun pada waktu itu.
Nyaris setahun kemudian muncul sekuelnya yang ditulis Affandi bersama Nataya Bagya dengan background cerita yang kurang lebih sama. Bedanya kali ini pihak wanita yang merasa tersakiti dan membutuhkan jasa Heart-break.com tersebut. Dan Julie Estelle lah yang mendapat tugas tersebut dan sebagai leading lady ia berhasil membagi peran dipasangkan dengan siapapun di setiap scenenya. Lihat transformasi karakter Novi di awal cerita yang rapuh dan tak berdaya menjadi tegar dan rasional di akhir cerita. Demikian juga dengan Fedi yang sedikit memberikan aksen berbeda dari peran-peran biasanya, karakter Rama dibawakannya dengan spontanitas yang natural. Cukup lama absen dari layar lebar, Rizky juga menunjukkan kharisma tersendiri sebagai Davi yang labil dan bimbang menentukan pilihan antara cinta dan karirnya.
Apresiasi patut diberikan pada sutradara Affandi yang mampu menekankan karakterisasi tokoh-tokohnya dengan maksimal dan menegaskan porsi yang seimbang di antara mereka. Maka dari itu meski trio Julie-Rizky-Fedi yang menjadi sentral cerita, aktor-aktris lainnya berhasil mencuri perhatian di setiap scene yang dipercayakan. Lihat bagaimana kocaknya duet Omesh dan Ringgo yang bodoh tetapi setia saudara. Sebagai kru inti Heart-break.com trio Sophie-Edo-Lukman juga tergolong konsisten dengan gaya khas masing-masing.
Keseluruhan elemen yang bersinergi dengan pas itu menjadikan Aku Atau Dia sebuah sekuel yang tergarap baik dan mampu meneruskan rasa gemas dan haru yang sama dalam menyaksikannya. Kelemahan justru terasa pada unsur non teknis dimana sinematografi yang dihadirkan terasa kurang maksimal, lebih disebabkan pada pencahayaan dan pengadeganan yang tidak stabil. Belum lagi produk-produk sponsor yang hadir terlalu dominan sampai seakan menjadi warna utama film. Endingnya mungkin menyenangkan penonton tapi bagi saya masih menyimpan beberapa pertanyaan dasar yang seharusnya bisa dituntaskan dengan tepat. Bagaimana menurut pendapat anda?

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Friday, 5 March 2010

BAHWA CINTA ITU ADA : Persahabatan, Mimpi dan Cinta Ala Kampus ITB

Storyline:
Tanpa sengaja saat memasuki kampus baru di wilayah Bandung, Slamet dari Trenggalek, Gungun dari Sunda, Fuad dari Madura, Poltak dari Pematang Siantar, Benny dari Jakarta dan Ria dari Padang bertemu dan menjadi akrab satu sama lain meski memiliki karakter yang berbeda-beda karena berlainan suku.
Gungun anak Sunda yang lugu dan kocak. Fuad dari Madura yang menggebu-gebu, Poltak dari Pematang Siantar yang santai, serta Ria dari Padang, si bintang kampus menjadi pujaan di antara mereka yang pintar dan cantik. Bersama mereka menjalani kehidupan perkuliahan, pertemanan, keluarga, percintaan hingga masa depan yang membentang di hadapan. 20 tahun kemudian, mereka melakukan reuni dan melakukan review kembali terhadap kisah-kisah di masa lalu yang telah membentuk pribadi masing-masing.

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Ganesha Creative Industry dengan judul lain Gading-Gading Ganesha (3G).


Cast:
Ariyo Wahab sebagai Slamet yang pintar tetapi pendiam hingga tak berani mengungkapkan cinta.
Rizky Hanggono sebagai Benny yang percaya diri dan menyukai bidang musik.
Alex Abbad sebagai Fuad yang vokal dan idealis.
Dennis Adishwara sebagai Gungun yang lugu dan kocak.
Restu Sinaga sebagai Poltak yang santai pembawaannya.
Eva Asmarani sebagai Ria yang cerdas cantik.
Didukung pula oleh beberapa bintang senior seperti Niniek L. Karim, Slamet Rahardjo, Nurul Arifin dsb.

Director:
Seniman sekaligus aktor bernama Sujiwo Tejo telah malang melintang di dunia kesenian Indonesia selama puluhan tahun dan kali ini memulai debutnya sebagai sutradara di film yang kental dengan nuansa ITB ini.

Comment:
Pembukaan film yang menggambarkan siluet wayang rupanya sudah cukup menggambarkan film seperti apa yang disuguhkan sang seniman Sujiwo Tejo yang bertindak sebagai dalangnya. Semua dikemas dengan gaya art yang tidak biasa bahkan cenderung nyeleneh apalagi ditambah sentuhan ilustrasi musik dari Viky Sianipar juga semakin memperkuat suasana. Setting kota Bandung yang asri terutama paparan Sawah Lunto boleh jadi hal yang memikat bagi indera penglihatan anda. Nuansa 1980an berusaha dibangun di setiap adegan tetapi sayangnya belum terlalu detail dan konsisten. Penampilan para aktor-aktrisnya pun hanya sekadar "melicinkan" wajah di usia muda dan ditambah janggut/kumis/cambang/uban di usia yang beranjak paruh baya dengan rentang waktu 20 tahunan! Beruntung dari segi akting, mereka semua cukup ciamik merata, tanpa ada yang terlalu lebih menonjol dari yang lainnya. Bahwa Cinta Itu Ada merupakan salah satu bentuk film dengan penggambaran kebudayaan Indonesia yang beraneka ragam dan tema universal yang bisa jadi menyiratkan beberapa pesan moral. Sayangnya ending ditutup tanpa konklusi yang jelas sehingga konflik yang berusaha dibangun seakan hanya menjadi pelengkap saja tanpa perlu diselesaikan. Boleh dibilang sinema perwayangan yang unik dan bisa dijadikan alternatif di tengah keseragaman tema film lokal yang membosankan.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!