Showing posts with label david r ellis. Show all posts
Showing posts with label david r ellis. Show all posts

Wednesday, 23 November 2011

SHARK NIGHT 3D : Liburan Pelarian Serangan Hiu Lapar

Effect looks cheap. The sharks seem unreal. Without gore and nudism as expected, there won't be too much left to watch!

Tagline:
Terror runs deep.


Storyline:
Tiga tahun terakhir sejak kepulangannya di rumah danau Louisiana Gulf, Sara mengajak kawan-kawannya Nick, Beth, Blake, Malik dan Maya untuk menghabiskan akhir pecan. Disana mereka bertemu Sherif Sabin dan juga mantan kekasih Sara, Dennis dengan kawannya yang cabul, Red. Keceriaan semula berganti menjadi tragedi saat Malik disambar hiu ketika sedang berselancar air. Teror berikutnya pun tak menunggu lama untuk terjadi. Siapa yang bisa bertahan hingga akhir?

Nice-to-know:
Sutradara David R. Ellis awalnya menggunakan judul "Untitled 3D Shark Thriller" bagi film yang tidak dipertunjukkan lebih awal untuk media screening ini.

Cast:
Angkat nama lewat Aquamarine (2006), Sara Paxton berperan sebagai Sara
Dustin Milligan sebagai Nick
Chris Carmack sebagai Dennis
Katharine McPhee sebagai Beth
Chris Zylka sebagai Blake
Sinqua Walls sebagai Malik
Joshua Leonard sebagai Red

Director:
David R. Ellis terakhir menggarap The Final Destination, franchise keempat yang kebetulan juga berformat 3D.

Comment:
Masih terbayang dalam ingatan bagaimana Alexandre Aja mengemas Piranha 3D (2010) menjadi sebuah tontonan yang fun dan gory. Melihat kemunculan “serangan ikan” lainnya yang lebih besar dalam format serupa, tentunya harapan anda adalah tontonan yang lebih seru dan berdarah-darah. Nanti dulu! Estimasi bujet yang tidak jauh berbeda yaitu 24 juta U.S. dollar untuk yang lawas dan 25 juta U.S. dollar untuk yang gres ini ternyata kualitasnya jauh berbeda.
Will Hayes dan Jesse Studenberg yang mengerjakan skripnya sepertinya lupa untuk “bermain-main” dengan predator paling ganas di lautan itu. Alih-alih menyajikan hiu sebagai momok pembunuh mematikan, keduanya malah tetap memakai manusia sebagai sosok antagonisnya. Idenya memang orisinil tetapi menilik judul, rasanya premis tersebut sulit mengharapkan untuk diterima penonton. Apalagi tokoh-tokoh protagonisnya tidak melakukan sesuatu yang spesial disini.

Jebolan American Idol, Kat McPhee dan Chris Zylka adalah dua nama yang setidaknya bermain lumayan terlepas dari minoritas karakter mereka disini. Paxton yang sedianya memimpin casts malah tampil di bawah standar karena tokoh Sara di tangannya terkesan kurang kuat. Lemahnya karakterisasi dapat ditimpakan pada kualitas skenario yang sama buruknya. Tak heran berbagai konflik yang dituangkan malah seperti sinetron televisi. Sebagai bukti, lihat saja pasangan Sara-Dennis ataupun Malik-Maya yang overdramatisasi itu.
Sutradara Ellis juga gagal menjaga intensitas yang diinginkan sejak menit-menit awal. Bahkan hingga ending pun tidak ada improvisasi yang berarti untuk menyuguhkan tontonan yang menggigit. Belum lagi spesial efek yang “cupu” disana-sini. Adegan maut saat hiu menyerang pun tidak ditampilkan secara eksplisit, hanya cipratan darah atau genangan air yang memerah. Untuk apa membicarakan 36 jenis hiu jika hanya ditampilkan beberapa dalam hitungan sebelah jari tangan saja!

Efek 3D yang dibebatkan ke dalam film hanya bekerja dengan baik di bawah air, seakan membawa penonton menelusuri sebuah akuarium raksasa. Selebihnya cuma pemborosan uang belaka. Alhasil Shark Night 3D tidak lebih baik dari film-film kelas B atau C pengisi saluran televisi anda di malam hari. Mudah sekali ditebak arahnya. Jika memang penasaran, tontonlah dengan ekspektasi serendah mungkin dan anggap saja sebuah film serius non hewan predator. Namun jangan harapkan adegan gore atau nudis terjadi disini karena yang ada hanyalah sirip hiu dalam lighting temaram mencoba membangun ketakutan yang amat minim.

Durasi:
91 menit

U.S. Box Office:
$18,860,403 till Nov 2011

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Thursday, 26 August 2010

ASYLUM : Sejarah Kampus Eks Rumah Sakit Jiwa

Tagline:
Once you're in, you can never get out.

Storyline:
Madison McBride pernah mengalami trauma di masa kecil saat ayahnya bunuh diri di hadapan ibunya dikarenakan mengalami delusional. Hal yang sama menimpa kakak kandungnya, Brandon di Universitas Richard Miller beberapa tahun kemudian. Madison lalu memutuskan masuk kampus yang sama dan bertemu beberapa teman baru yaitu mantan pecandu Holt, kutu buku cerdas String, korban penyiksaan seksual Ivy dan Maya serta atlet jayus Tommy. Penasihat angkatan Rez ditugaskan mengawasi mereka. Diam-diam kelimanya menelusuri masa lalu kampus dimana dulunya adalah RS Jiwa dengan Dr. Magnus Burke sebagai kepalanya yang kemudian dihakimi sendiri karena suatu insiden. Benarkah hal tersebut mempengaruhi keganjilan yang kerap terjadi disana?

Nice-to-know:
Mengambil lokasi syuting di South Carolina termasuk Winthrop University.

Cast:
Kesemua aktor-aktris muda yang bermain disini pernah bermain sebagai pendukung film-film remaja ataupun serial televisi sebelumnya.
Sarah Roemer sebagai Madison
Jake Muxworthy sebagai Holt
Mark Rolston sebagai Doctor Burke
Travis Van Winkle sebagai Tommy
Ellen Hollman sebagai Ivy
Carolina Garcia sebagai Maya
Cody Kasch sebagai String

Director:
Lebih banyak berpengalaman sebagai stunt coordinator, ini merupakan film kelima bagi David R. Ellis setelah terakhir Snakes On A Plane (2006) yang cukup memuaskan hasil box-officenya itu.

Comment:
Tergolong lambat diputar di Indonesia dimana posternya sudah menghiasi bioskop sejak tahun 2009. Nyaris tidak ada yang baru dalam film ini dimana penonton terutama saya sebagai penggemar film horor sudah berkali-kali menyaksikan hal serupa sebelumnya. Beruntung lah ini bukan produksi Indonesia sehingga masih tergolong layak tonton.
Sekelompok mahasiswa-mahasiswi dengan berbagai karakter dasar terdampar di kampus yang berhubungan dengan bekas rumah sakit jiwa dimana pernah hidup seorang dokter sinting di dalamnya. Yang terjadi kemudian bisa ditebak dimana satu persatu menemui ajal dengan ketakutannya masing-masing. Bagi anda yang familiar dengan A Nightmare On Elm Street, Dr. Magnus Burke disini bisa disamakan dengan Freddie Krueger, hanya saja pembunuhan terjadi di alam nyata, bukan di alam mimpi. Jika Freddie mengenakan sweater hijau merah garis-garis, Magnus memakai tali kulit yang mengikat sekujur tubuhnya. Sebetulnya lebih terlihat seperti kostum S&M konyol pada tubuh seorang pria tua daripada kesan menakutkan seorang dokter sinting pembunuh. Roh Magnus yang awalnya tinggal di dalam bangunan yang terkunci rapat pada akhirnya bisa keluar mengejar Madison dan Holt sampai ke hutan. Bingung? Belum lagi ternyata sampai pada satu kenyataan dimana ia menyandera seluruh arwah muda-mudi yang pernah dibunuhnya. Aneh? Mohon jangan terlalu dipikirkan.
Dari jajaran cast tidak ada yang istimewa dikarenakan peran-peran serupa terlalu stereotype dan tidak ada pengembangan yang berarti. Sutradara juga tampaknya lebih memperhatikan aspek lighting yang remang-remang dan setting gedung tua yang terbengkalai dibandingkan elemen-elemen lain yang lebih penting.
Asylum hanyalah predictable horror movie dengan kualitas straight-to-DVD sambil berusaha menakuti-nakuti audiens dengan beberapa scene yang mengagetkan tiba-tiba yang herannya masih cukup berhasil pada teman menonton saya. Menyaksikan ini pada akhirnya hanya akan membuat anda menggeleng-gelengkan kepala saat credit title menutup ending yang dipaksakan demikian.

Durasi:
90 menit

Overall:
6.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent