Showing posts with label andy serkis. Show all posts
Showing posts with label andy serkis. Show all posts

Saturday, 15 December 2012

THE HOBBIT : AN UNEXPECTED JOURNEY Great But Imperfect Start For Another Trilogy


Quote: 
Gandalf: You'll have a tale or two to tell when you come back. 
Bilbo Baggins: You can promise that I will come back?
Gandalf: ...No. And if you do, you will not be the same. 


Nice-to-know: 

Gollum hanya muncul satu kali di buku. Andy Serkis menyelesaikannya pada minggu pertama produksi kemudian tetap tinggal dengan menjabat sebagai Second Unit Director.

Cast: 
Ian McKellen sebagai Gandalf
Martin Freeman sebagai Bilbo
Richard Armitage sebagai Thorin
Ken Stott sebagai Balin
Graham McTavish sebagai Dwalin
William Kircher sebagai Bifur / Tom Troll
James Nesbitt sebagai Bofur


Director: 
Merupakan film kesebelas bagi Peter Jackson yang juga menggarap trilogi The Lord of the Rings (2001-2003).

W For Words: 
Tentunya anda masih ingat dengan Frodo Baggins yang menjadi tokoh utama dalam The Lord of the Rings trilogy (2001-2003) yang sukses meraup lebih dari satu milyar dollar di peredaran Amerika Serikat dan nyaris tiga milyar dollar di peredaran internasionalnya itu. Sang penggagas cerita, J.R.R. Tolkien mengetengahkan kisah paman Frodo yaitu Bilbo Baggins yang berjarak enam puluh tahun sebelumnya dalam novel spin-off bertitel The Hobbit. New Line Cinema, MGM, WingNut Films dan 3Foot7 segera mengadaptasinya ke layar lebar dengan membaginya menjadi.. Another trilogy! Surprised? No, i’m not.. For some reasons we’ve already known.

Selama bertahun-tahun, Bilbo Baggins menikmati ketenangan hidup di The Shire. Suatu saat penyihir Gandalf mengetuk pintu rumahnya diikuti dengan kedatangan segerombolan kurcaci yang segera menghabiskan stok makanan Bilbo yang melimpah. Pemimpin grup, Thorin Oakenshield meminta Bilbo menemani mereka dalam misi merebut kembali kampung halaman The Lonely Mountain dari naga kejam dan berbahaya, Smaug. Perjalanan itu menemui banyak tantangan berat dimana nasib kaum hobbit, kurcaci, peri dan manusia mungkin akan berubah di masa mendatang.

Skrip yang ditulis oleh Fran Walsh, Philippa Boyens, Peter Jackson dan Guillermo del Toro ini mengambil satu jam pertama durasinya untuk memperkenalkan kehidupan seorang Bilbo Baggins dan latar belakang singkat dari Thorin, Balin, Dwalin, Gloin, Bifur, Bofur, Bombur, Fili, Kili, Oin, Nori, Ori, Dori. Setelah itu terjadilah repetisi TlotR dimana sekelompok protagonis mempertaruhkan nyawanya dalam petualangan menembus alam Middle-earth yang liar demi suatu tujuan. Untungnya karakter Bilbo yang multi dimensi mampu menjembatani setiap konflik dan interaksi dengan karakter lainnya.

Di tangan Martin Freeman, tokoh Bilbo menjadi hidup. Karakter hobbit pemberani, cerdik, humoris dan berpendirian teguh ini akan menarik perhatian anda sejak menit pertama film bergulir. Setiap emosinya terkendali dengan baik dimana sorot mata dan sunggingan senyumnya sudah berbicara banyak dalam berbagai situasi yang ada. Penampilan cameo dari McKellen, Wood, Blanchett, Weaving, Holm, Lee dan kawan-kawan akan membangkitkan sisi nostalgia anda. Kemunculan Serkis dalam wujud Gollum jadi bagian penting disini sekaligus menjawab cikal bakal “one ring” yang legendaris itu.

Sutradara Jackson belum kehilangan sentuhan epiknya. Terlepas dari set yang tidak semegah TLotR, film ini masih menyuguhkan detail yang tak kalah sempurna. Kombinasi trik kamera, CGI, kostum, make-up dan segala alat bantu lainnya membuat seluruh sekuens adegan terasa nyata. Bukan hanya itu, episodik pertarungan di beberapa bagian juga berhasil menampilkan aksi seru yang meningkatkan tempo dan tensi. Sayangnya sederetan humor yang diselipkan disana-sini sebagian besar tidak berhasil mengundang tawa saya dan para penonton lainnya. Forgive us for not been able to live in Middle-earth.
Format 3D yang diusung memang menghadirkan visual yang eye-popping. Bukan hanya itu, Jackson juga memperkenalkan teknik shoot 48 frames-per-second sehingga gambar yang dihasilkan amat realistis dan begitu dekat dengan pengalaman asli. Cukup kontroversial mengingat tidak semua orang nyaman dengan “teknologi baru” ini karena melelahkan mata dan mengambil waktu penonton untuk berimajinasi secara penuh dalam menginterpretasikan tiap momen yang dilihat dan didengarnya. Meski demikian, inovasi Jackson patut dihargai. I suggest that regular 3D is enough for you.

The Hobbit : An Unexpected Journey adalah inisiasi fiksi yang mendobrak pengalaman bersinema layaknya trilogy The Lord of the Rings. Lupakan fakta durasi yang terlampau panjang dan kesampingkan jauh-jauh ekspektasi tinggi anda akan part 2 dan 3 nya kelak, nikmati dahulu keepikan aksi dan keajaiban fantasi dalam pencarian jati diri dan dunia yang lebih baik. Penampakan Hobbits, Dwarves, Elves, Goblins, Orcs, Wargs, Giant Spiders, Shapeshifters, Sorcerers akan membangkitkan sisi petualangan dalam jiwa dan jadilah saksi langsung atas perjuangan generasi Middle-earth yang heroik.

Durasi: 
169 menit 

Overall: 

8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 12 November 2011

THE ADVENTURES OF TIN TIN : SECRET OF THE UNICORN Perkenalan Haddock Harta Kapal Unicorn

Quotes:
Captain Haddock: You do know what you're doing, right?
Tintin: Relax. I interviewed a pilot once!


Storyline:
Membeli replika kapal Unicorn, Tintin malah diburu oleh berbagai pihak yang mengincar peta harta karun tersembunyi termasuk Mr. Sakharine yang bersikeras menghalalkan segala cara untuk mewujudkan kemauannya. Tintin yang diculik bersama anjingnya Snowy kemudian bertemu si pemabuk Kapten Haddock di sebuah kapal yang juga disandera. Ketiganya meloloskan diri dan kabur ke Moroko. DI luar dugaan Kapten Haddock yang amnesia tiba-tiba mengingat sejarah dirinya bersama leluhur Sir Francis Haddock di atas kapal Unicorn asli! Akankah harta tersebut dapat ditemukan pada akhirnya?

Nice-to-know:
Film animasi sekaligus adaptasi komik pertama yang ditangani oleh Steven Spielberg yang sebenarnya sudah memiliki ide ini sejak tahun 80an.

Cast:
Terakhir tampll dalam remake Jane Eyre (2011), Jamie Bell didapuk sebagai Tintin
Memulai karir layar lebarnya dalam Royal Deceit (1994), Andy Serkis ditunjuk sebagai Captain Haddock
Daniel Craig sebagai Ivanovich Sakharine
Simon Pegg sebagai Inspector Thompson
Nick Frost sebagai Thomson

Director:
Produser terkondang seHollywood bernama Steven Spielberg ini pertama kali menyutradarai film berjudul Fireflight (1964) di usia 18 tahun.

Comment:
Salah satu komik petualangan yang tumbuh bersama saya sewaktu kecil adalah detektif berjambul berperawakan kecil bernama Tintin dan anjing cerdas setianya Snowy. Koleksi berharga komik yang semakin lengkap dengan hadirnya beberapa seri VCD original animasi tak dipungkiri menjadi santapan yang sudah puluhan kali saya baca/putar tanpa rasa bosan. Penantian panjang untuk adaptasi layar lebar yang tidak sia-sia apalagi ditangani oleh nama sekaliber Steven Spielberg. Satu kata: EXCITED!
Trio penulis skrip Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish yang bekerja berdasarkan karya Herge ini tidak hanya mengadaptasi satu tetapi tiga komik sekaligus! Kepiting Bercapit Emas, Harta Karun Rakham Merah dan Rahasia Unicorn memang memiliki benang merah yang dapat ditarik sebuah garis lurus. Keputusan tepat demi menghadirkan petualangan yang lebih panjang dengan tempo yang lebih dinamis dalam durasi nyaris dua jam tersebut.

Dalam film memang nyaris tidak ada petunjuk bahwa Tintin adalah seorang reporter handal. Ia hanya digambarkan tidak kenal takut apalagi ragu-ragu serta selalu memperjuangkan apa yang dianggap instingnya benar. Sebaliknya Kapten Haddock sebagai sidekicknya banyak memperlihatkan kelemahan sebagai penyeimbang mulai dari sifat pemarah dan cerobohnya yang membuatnya pantas menyandang julukan pecundang. Komposisi yang tepat bukan sehingga keduanya bisa saling mengisi satu sama lain!
Wajah lugu belia Bell yang sesungguhnya sudah berusia 25 tahun ini terasa pas mewakili karakter Tintin, belum lagi suara tipis dan nyaringnya mewujudkan imajinasi selama ini. Acungan jempol saya berikan pada Serkis yang selalu sukses besar melebur dalam karakter unik yang benar-benar di luar dirinya sendiri. Suara umpatan berat Kapten Haddock terdengar “hidup” dalam aksen Skotlandia. Sedangkan Craig memeragakan Sakharine yang tidak dapat dipercaya dengan karisma tersendiri.

Spielberg yang membandrol filmnya dengan rating PG alias aman disaksikan siapapun ini terbukti membombardir layar dengan suguhan action scenes variatif berangle ekstrim yang tak jarang disyut panjang dalam satu kali take saja, contoh adegan perebutan peta di dermaga. Bahkan kacamata terpasang di wajah yang biasanya mengganggu kenyamanan anda tidak akan terlalu dirasakan mengingat teknologi 3D nya teramat memuaskan menyuguhkan gambar-gambar “hidup” di depan mata.
The Adventures of Tin Tin : Secret of the Unicorn tidak hanya setia dengan komiknya tetapi juga menjanjikan sebagai awal franchise sukses di masa mendatang. Jelas merupakan salah satu adaptasi komik terbaik yang pernah dibuat. Ketajaman visualisasi berpadu dengan kekayaan karakteristik yang mampu menghimpun tawa dan ketegangan sekaligus. Bersiaplah terhibur maksimal wahai anda para pecinta Tintin atau bukan!

Durasi:
107 menit

Europe Box Office:
£6,758,724 opening week in U.K. Nov 2011

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 17 September 2011

RISE OF THE PLANET OF THE APES : Evolusi Monyet Revolusi Peradaban

Quotes:
Will Rodman: I'll take you home.
Caesar: Caesar *is* home.


Storyline:
Perusahaan Gen Sys tengah mengembangkan serum ALZ112 yang dipercaya mampu mengobati penderita Alzheimer. Dipimpin oleh Will Rodman dengan Steven Jacobs sebagai penanggungjawab, serum tersebut diuji coba pada kawanan kera. Ajaib, kera no. 9 yang dijuluki Bright Eyes itu mengalami peningkatan kecerdasan hingga akhirnya harus tewas karena menimbulkan kekacauan di lab. Tanpa diduga, Bright Eyes memiliki bayi kera jantan yang segera diamankan Will ke rumahnya yang juga dihuni oleh ayahnya yang menderita penyakit sejenis. Kera yang kemudian dinamakan Caesar itu tumbuh dengan intelejensi yang jauh lebih tinggi lagi. Namun mampukah Will menciptakan keseimbangan dunia bagi Caesar yang terus berkembang pesat tersebut?

Nice-to-know:
Film kedua Andy Serkis yang memerankan monyet setelah King Kong (2005). Ia juga bermain sebagai Gollum dalam trilogy Lord of the Rings.

Cast:
Mengawali karir layar lebarnya lewat Never Been Kissed (1999), James Franco bermain sebagai Will Rodman
Freida Pinto sebagai Caroline Aranha
John Lithgow sebagai Charles Rodman
Andy Serkis sebagai Caesar
Brian Cox sebagai John Landon
Tom Felton sebagai Dodge Landon
David Oyelowo sebagai Steven Jacobs

Director:
Merupakan feature film ketiga bagi Rupert Wyatt setelah Subterrain (2001) dan The Escapist (2008).

Comment:
Monyet dipercaya sebagai hewan yang paling dekat secara genetik dengan manusia. Mohon pernyataan saya ini tidak ditelaah lebih jauh, apalagi sampai membuat anda berkaca dan mulai bertingkah persis dengan makhluk berbulu tersebut. Baiklah, kita memang sama-sama menyukai pisang dan seringkali menggaruk-garuk bagian tubuh. Okey, skip the part! Saya termasuk salah satu penggemar Planet of the Apes yang legendaris dan sudah berkali-kali diremake itu sehingga berekspektasi cukup tinggi terhadap yang satu ini.
Skrip yang ditulis oleh Rick Jaffa dan Amanda Silver ini menitik beratkan cerita pada hubungan antara ilmuwan muda cerdas Will Rodman dan anak kera hasil pengembangan genetisnya Caesar. Tidak terlalu sulit menerka apa yang disuguhkan dari menit pertama hingga terakhir karena konsep serupa pernah dilakukan sebelumnya sebut saja The Island of Dr. Moreau (1996) atau yang terbaru Splice (2009). Proses eksplorasi itulah yang menjadikan suguhan kali ini tetap mampu mengikat penonton pada kursinya masing-masing.

Meski bukan aktor favorit, saya harus mengakui film-film terakhir James Franco sangat memancing rasa antusias saya. Kali ini ia samasekali tidak mengecewakan sebagai Will yang bertanggungjawab pada tiga makhluk sekaligus. Pertama, pada ayahnya yang menderita Alzheimer dengan kesehatan yang terus memburuk. Kedua, pada dokter hewan yang dicintainya. Ketiga yang paling krusial, pada kera yang diasuhnya sedari kecil dan memiliki intelejensi di atas rata-rata. Franco mampu membagi kapabilitasnya secara seimbang di setiap kesempatan termasuk interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya.
Bujet 93 juta dollar terbukti ampuh untuk menghasilkan kualitas CGI yang dikerjakan oleh ratusan orang tersebut. Tampilan Andy Serkis sebagai Caesar teramat halus dan meyakinkan. Bukan hanya sesaat kita dibuat percaya bahwa kera mampu bertingkah laku selayaknya manusia sungguhan, tetapi sepanjang film kita akan terpukau bagaimana bahasa tubuh yang detail mampu menerjemahkan setiap emosi yang dikehendakinya. Silakan anda bayangkan yang tidak terbayangkan sekalipun dan bersiaplah untuk terpukau karenanya.

Satu-satunya minus yang mungkin timbul di kepala penonton selepas menyaksikan film ini adalah endingnya yang mencapai klimaks tapi justru terasa antiklimaks. Pertanyaan seperti: “So, what’s next?” tidak mampu dijawab dalam film yang berdurasi 105 menit ini. Jika mengindikasikan adanya sekuel rasanya masih terlalu dini untuk berasumsi. Setidaknya sutradara Wyatt mampu menjaga intensitas tinggi yang dibangunnya sejak pembukaan film hingga berakhir pada kepemimpinan Caesar yang heroik tersebut di atas jembatan Golden Gate.
Rise Of The Planet Of The Apes tidak dapat dikatakan sekuel/prekuel dari novel Pierre Boulle melainkan terkoneksi dari sekelumit kisah revolusi kera melawan tirani manusia di muka bumi ini. Jelas merupakan salah satu film musim panas terbaik di tahun 2011 dengan sumbangsih akting yang cantik dari aktor-aktris pendukungnya serta faktor-faktor yang sudah saya sebutkan di atas. Bersiaplah untuk terpaku secara emosional mengikuti perjalanan hidup Caeser dari EQ yang terdalam plus IQ yang terpendam dalam memimpin kawanannya. Mungkin sudah terlambat jika kemudian anda menyadari bahwa kaum manusia lah yang kerapkali bertindak sebagai pihak antagonis terhadap spesies yang lebih rendah darinya.

Durasi:
105 menit

U.S. Box Office:
$167,847,116 till mid Sep 2011

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Karya seni ga boleh dibawah 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
No such perfect 9.5 or 10!