Showing posts with label Putthiphong Promsakha. Show all posts
Showing posts with label Putthiphong Promsakha. Show all posts

Saturday, 14 January 2012

30+ SINGLE ON SALE : Pilihan Cinta Usia Kepala Tiga

Quotes:
Ing: I am 30 now. I don’t want to start over again from zero!


Storyline:
Ing yang berprofesi sebagai fotografer mapan dengan studio sendiri kurang beruntung dalam percintaan. Hubungan jarak jauhnya yang sudah terjalin 7 tahun kandas ketika mengetahui kekasihnya akan menikahi wanita lain. Dalam kesedihan, Mint dan Yee menghibur Ing habis-habisan dan menyemangatinya untuk berkencan dengan beberapa pria sekaligus. Salah satunya adalah peramal babi panggang, Jeud yang banyak menasehatinya bahkan menawarkannya untuk menjadi kekasih palsu sampai Ing bertemu Mr. Tan, fotografer profesional yang menjadi idolanya. Siapa yang pada akhirnya dipilih oleh Ing?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Sahamongkolfilm International dan dirilis di Thailand pada tanggal 13 Oktober 2011 yang lalu.

Cast:
Chermarn Boonyasak sebagai Eing
Arak Amornsupasiri sebagai Jeud
Sudarat Budtporm sebagai Yee
Pijitra Siriwerapan sebagai Mint

Director:
Puttipong Promsaka Na Sakolnakorn terakhir mereguk kesuksesan besar dalam Crazy Little Thing Called Love (2010).

Comment:

Usia 30 tahunan merupakan masa rawan bagi seorang gadis lajang yang mendambakan jodoh dan pernikahan yang sempurna. Tidak banyak waktu yang tersisa untuk bisa mendapatkan pria pilihan yang mau serius berkomitmen yang tampaknya semakin langka dari masa ke masa. Penulis Puttipong Promsaka Na Sakolnakorn menyajikan realita urban tersebut ke dalam genre komedi romantik yang terbukti sudah membesarkan namanya itu.
Cherman Boonyasak yang dikenal dengan nickname Ploy itu pernah kita saksikan dalam horor hit 4BIA (2008). Karakter Eing disini bisa jadi mengingatkan anda pada Chris Horwang dalam film Thailand terfavorit saya sepanjang masa yaitu Bangkok Traffic Love Story (2009). Keduanya sama-sama berwajah cantik sendu yang menangis saat dikecewakan dan berseri-seri kala dibalas cintanya oleh pria idaman. Untungnya Ploy tidak sampai menghadirkan adegan komikal yang sama.

Arak Amornsupasiri pernah saya sukai dalam Best of Times (2009) tetapi saya benci dalam Loser Lover (2010). Karakter Jeud yang juga mendapat sebutan peramal babi panggang memang simpatik tapi sayangnya tidak dibekali background masa lalu yang menunjang penokohannya. Sudarat dan Pijitra yang juga bermain bersama dalam Crazy Little Thing Called Love (2010) banyak memberikan aksi slapstick yang memancing tawa sebagai dua sahabat karib Ing yang amat suportif itu.
Cinta segitiga antara Ing, Jeud dan Mr. Tan merupakan refleksi dari dua jenis cinta yang berbeda. Satu adalah cinta yang memberikan kenyamanan sedangkan yang lain menawarkan cinta yang didasari oleh kekaguman. Sebuah hal yang wajar dimana kaum wanita biasanya memiliki sosok pria idola yang seringkali disalahartikan sebagai cinta. Padahal dalam dunia nyata yang modern seperti sekarang ini, tidak akan ada kisah yang seindah romansa dongeng pengantar tidur.

Dunia fotografi yang ditekuni Ing dan Mr. Tan pada akhirnya hanya menjadi semacam informasi sebatas lalu yang tidak mampu dimaksimalkan demi kekuatan cerita. Apalagi ramalan babi panggang Jeud yang terkesan main-main itu rasanya sulit diterima oleh akal sehat. Percintaan yang terjadi di antara Ing dan Jeud ataupun Ing dan Mr. Tan sedikit terkesan terlalu instan tanpa proses yang menggigit. Bahkan unsur komedi yang ditebar di sepanjang durasi tidak mampu menjembataninya.
30+ Singles On Sale adalah komedi romantik urban yang diformulakan secara manis tetapi gulanya tidak larut habis. Serangkaian hal klise menggemaskan yang ditutup dengan kejutan menarik di akhir cerita tidak mampu menggugah indera. Setidaknya sutradara Puttipong mengajarkan anda untuk tidak mengagungkan cinta. Realistis adalah sikap yang paling benar untuk menjalani suatu hubungan cinta di samping faktor naluri yang dibutuhkan untuk membaca apakah si dia memang orang yang tepat untuk anda. It’s not difficult to find out, just use your own heart to feel it!

Durasi:
112 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:


Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Wednesday, 23 February 2011

A CRAZY LITTLE THING CALLED LOVE : Manis Pahit Cinta Remaja Sekolah

Tagline:
Love conquers everything, especially fear..

Storyline:
Gadis remaja 14 tahun bernama Nam ini sangat biasa dari segi penampilan alias tidak menarik. Namun ia tetap percaya diri dalam menyukai siswa popular di sekolah yang juga seniornya, Chon. Segala cara dilakukan Nam untuk menarik minat Chon tapi selalu tidak berhasil. Saat pementasan drama Snow White, di luar dugaan Nam dipilih oleh Profesor In sebagai peran utama. Disitulah ia menjelma menjadi seorang siswi cantik menarik yang segera digilai cowok-cowok termasuk Top, sahabat karib Chon. Namun perasaan Nam tetap pada Chon hingga membuatnya terpacu untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Apakah semua itu cukup untuk membuat Chon menoleh padanya?

Nice-to-know:
Berjudul asli Sing Lek Lek Tee Riak Wa Ruk.

Cast:
Angkat nama lewat peran dalam The Love of Siam (2007), Mario Maurer yang kini berusia 21 tahun bermain sebagai Chon.
Pimchanok Leuwisetpaibul sebagai Nam
Peerawat Herabat
Sudarat Budtporm
Acharanat Ariyaritwikol

Director:
Putthiphong Promsakha dan Wasin Pokpong.

Comment:
Jika anda mulai menantikan film-film komedi romantis dari negeri Gajah Putih maka tidak ada yang salah dengan hal itu. Sebab berbagai judul yang dirilis 2-3 tahun belakangan ini memang cukup memuaskan. Stereotipe aktor tampan, aktris cantik, romansa yang menggemaskan dengan proses memang bumbu utama yang wajib ada dalam film bergenre serupa.







Bedanya sutradara Putthiphong dan Wasin menyajikan semua dari kacamata remaja belia dengan sangat realistis. Anda akan mengingat kembali masa-masa cinta monyet dahulu dimana anda menyimpan cinta tapi tidak berani mengungkapkannya hingga melihat sang pujaan hati saja berbunga-bunga setengah mati. Sinematografi cantik dominan warna cerah teduh ditampilkan dari setting sekolah hingga berbagai lanskap Thailand yang indah. Proses editing juga tergolong lancar sehingga lompatan tiap scenenya terasa mulus walaupun durasinya panjang.







Mario merupakan pilihan tepat untuk sosok Chon, ia terlihat cool, cute dan fresh, cocok sebagai idola para siswi di sekolah. Sedangkan Pimchanok membawakan tokoh Nam dengan kelembutan gadis belia yang feminine, kita akan dapat merasakan perasaannya yang campur aduk setiap menatap pujaannya dari kejauhan. Bukan hanya mereka berdua yang menjadi sorotan disini karena karakter guru dan teman-teman mereka memberikan corak warna tersendiri bagi unsur penokohan di film ini.







Elemen komedi yang cukup kental di paruh pertama film sepintas mengingatkan pada dorama Jepang tahun 90an dimana komedi situasional yang ditunjukkan terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Hal ini sekaligus menjadi pemanasan bagi paruh kedua yang lebih memberi penekanan drama terutama dalam mencapai cita dan cinta. Acuhkan saja transformasi itik buruk rupa menjadi angsa cantik Nam yang sedemikian drastis, bukan hanya dari penampilan tetapi juga sikapnya secara keseluruhan. Bukankah wajar jika semua orang berkeinginan lebih baik dari sebelumnya demi hal-hal yang positif?









Jika anda tidak menyaksikan A Ctazy Little Thing Called Love dijamin akan kehilangan sebagian kecil waktu hidup anda yang dihabiskan untuk tertawa dan menangis dalam rasa hangat sambil bernostalgia kembali terhadap masa “puber” anda yang telah berlalu. Bisa jadi anda tergerak untuk mengalami kembali sekaligus memperbaiki semua yang tidak pernah selesai pada masa itu. Sebuah komedi romantik yang tidak hanya mengajarkan seluk-beluk cinta tetapi juga arti persahabatan dan motivasi dalam menjalani hidup itu sendiri.


Durasi:
115 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter: