Tuesday, 14 September 2010

PUBLIC ENEMY NUMBER ONE : Asal Usul Gangster Legendaris Perancis

Original title:
L'instinct de mort

Storyline:
Sejak muda Jacques Mesrine sudah menunjukkan karakternya yang keras dan pemberani. Seringkali ia berpindah-pindah dari pelukan satu wanita ke wanita lain sampai bertemu Sofia yang akhirnya memberinya 3 anak dan berujung perceraian. Kemudian ia berjumpa Jeanne yang berpaham sama dengannya. Keduanya melakukan perampokan bersama dan berakhir di penjara untuk waktu yang cukup lama. Namun bukan Mesrine namanya jika menyerah begitu saja. Ia pun merancang pelarian bersama Jean-Paul di tengah penjagaan yang ketat..

Nice-to-know:
Awalnya Barbet Schroeder sempat ditunjuk untuk mengarahkan dua film Mesrine ini.

Cast:
Mengawali karier akting layar lebar lewat Les cigognes n'en font qu'à leur tête (1989), Vincent Cassel bermain sebagai Jacques Mesrine yang dikenal sebagai musuh publik Perancis nomor satu pada jamannya.
Cécile De France sebagai Jeanne Schneider
Gérard Depardieu sebagai Guido
Gilles Lellouche sebagai Paul
Roy Dupuis sebagai Jean-Paul Mercier
Elena Anaya sebagai Sofia

Director:
Jean-François Richet sebelum ini mengarahkan film Hollywood, Assault on Precinct 13 (2005).

Comment:
Saya sedikit mempertanyakan mengapa film ini masuk ke Indonesia! Bukan atas dasar negatif tapi lebih merupakan pemakaian judul yang salah seakan merupakan satu film yang utuh. Padahal sebetulnya terbagi dua yang dirilis nyaris bersamaan yaitu Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine : Public Enemy Number One. Bahwa tidak jelas part II nya apakah akan masuk kembali ke bioskop? Tidak ada yang tahu sejauh ini.
Ini adalah film Eropa secara umum yang menceritakan biopik seorang Jacques Mesrine, gangster legendaris Perancis pada periode tahun 60-70an. Otomatis ingatan kita membubung pada Public Enemies (2009) nya Johnny Depp yang mengisahkan seorang John Dillinger, gangster legendaris Amerika pada periode tahun 30an. Dejavu? Tidak juga. Mesrine tetaplah tokoh unik yang secara luar biasa diwujudkan oleh aktor berbakat Vincent Cassel yang sudah membuktikan kualita aktingnya di berbagai film internasional. Semua scene utama Cassel mulai dari perampokan, penyanderaan, perkelahian, pembunuhan, penyiksaan, pelarian termasuk romantisme dan pemukulan terhadap wanita akan memporak-porandakan perasaan anda yang menyaksikannya. Terasa sangat real hingga dibutuhkan beberapa gunting sensor untuk beberapa bagiannya.
Richet juga menyajikan sinematografi yang memuaskan. Setting tahun 60an dihadirkan dengan pencahayaan yang pas. Belum lagi close-up shot para tokohnya yang seringkali membuat audiens merasa terlibat langsung dalam adegan terkait. Tensi tinggi sebuah action thriller juga terjaga sepanjang durasinya sehingga perjalanan hidup seorang Mesrine sebelum menjadi legenda benar-benar tereksploitasi dengan maksimal. Yah mudah-mudahan saya berkesempatan menonton kelanjutannya. Jika tidak di bioskop maka terpaksa di dvd. Go see it!

Durasi:
110 menit

U.S. Box Office:
$413,958 till mid Sept 2010 (limited screens).

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Monday, 13 September 2010

SANG PENCERAH : Kehidupan Inspiratif Sang Pendiri Muhammadiyah

Quotes:
Ahmad Dahlan-Kebenaran ada di tangan Allah, manusia hanya bisa berikhtiar.

Storyline:
Setelah mendapat restu dari kedua orangtuanya, Darwis yang baru berusia 15 tahun meninggalkan Jogjakarta pada tahun 1867 demi mendalami Islam di Mekkah. Sepulang dari sana, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan dan mulai membenahi pelaksanaan syariat Islam ke arah yang lebih tepat. Langkah awalnya adalah mendirikan Langgar yang diikuti oleh sebagian pemuda yang tertarik pada visinya. Namun sayang tidak semuanya berpihak pada Ahmad Dahlan saat ia bertekad membenarkan kiblat yang salah di berbagai masjid termasuk Masjid Besar Kauman yang dikepalai oleh Kyai Penghulu Kamaludiningrat. Warga yang tersinggung merobohkan Langgar Ahmad Dahlan secara paksa dan menuduh ajarannya sesat. Istri tercinta, Siti Walidah terus menguatkan suaminya untuk terus berkiprah dan mendirikan Surau baru yang kemudian beranggotakan 5 murid setianya. Penggabungan dengan organisasi Budi Utomo juga menjadi titik tolak munculnya organisasi Muhammadiyah. Namun apakah jalan terbentang lurus begitu saja bagi Ahmad Dahlan?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh MVP Pictures dan diproduseri oleh Raam Punjabi.

Cast:
Lukman Sardi sebagai Ahmad Dahlan
Zaskia Adya Mecca sebagai Siti Walidah
Slamet Rahardjo sebagai Kyai Penghulu Kamaludiningrat
Giring Nidji sebagai Sudja
Dennis Adhiswara sebagai Hisyam
Ricky Perdana sebagai Sangidu
Mario Irwiensyah sebagai Fachrudin
Abdurrahman Arif sebagai Dirjo
Ihsan Taroreh sebagai Darwis

Director:
Karya kedua Hanung Bramantyo di tahun 2010 ini setelah Menebus Impian yang cukup mencuri perhatian publik itu.

Comment:
Tidak salah rasanya jika saya menempatkan film ini sebagai yang terakhir ditonton dari 4 film nasional yang rilis menyambut Idul Fitri 2010. Ujaran ternama "Save The Best For Last" berlaku disini, dari worst to the best, jika penasaran lihat tanggal postingan review saya. Bagaimana tidak? Film ini solid dari berbagai sisi. Sang sutradara dan penulis cerita Hanung memberikan energi terbaiknya untuk menerjemahkan semibiografi kehidupan seorang Ahmad Dahlan. Meski tidak menyeluruh kerunutannya dan hanya berdasarkan referensi faktual dari orang-orang di sekitarnya semasa beliau hidup, Hanung menampilkan sudut pandang yang menarik secara meyakinkan!
Bagaimana seorang pemuda berkeyakinan tinggi berguru ke negeri seberang dan sebagai kyai mulai membagikan ajarannya sekembalinya ke tanah air hanya dengan satu tujuan, menjadikan Islam lebih bersahabat maknanya bagi para pemeluknya sendiri. Proses tersebut diterjemahkan dengan runut yang berujung pada timbulnya konflik saat hal tersebut ditentang oleh kaum-kaum tua yang merasa lebih benar. Para aktor muda disini menampilkan penjiwaan yang cukup natural mulai dari Ihsan sebagai Darwis muda, Mario, Ricky, Abdurrahman, Dennis hingga debut menarik Giring, sang vokalis Nidji! Kredit tersendiri disematkan pada Lukman, terlepas dari beberapa ciri khasnya yang masih muncul, menerjemahkan karakter Ahmad Dahlan dengan cemerlang mulai dari akting mengajar, berdialog hingga berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya. Penunjukan Slamet Rahardjo sebagai "rival" juga terasa tepat karena senioritas dan profesionalitasnya masih sangat tinggi. Justru Zaskia yang terasa paling minus disini karena logat Jawanya tidak kental dan "penampilan"nya tidak banyak berubah dari muda sampai tua.
Indahnya sinematografi yang menghadirkan setting akhir 1800an dan awal 1900an secara pas berkolaborasi manis dengan ciamiknya musik latar sepanjang film hasil kinerja apik Tya Subiakto. Alur bercerita yang digunakan juga mengalir mulus tanpa ada kesan dipaksakan sehingga nyaman diikuti walau durasinya cukup panjang. Alhasil Sang Pencerah merupakan tontonan inspiratif sarat makna yang mampu melebarkan sudut pandang anda akan konsep berbagi sebuah kebenaran yang mumpuni dan arti sebuah perjuangan dalam menggapainya.

Durasi:
110 menit

Overall:
8.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Niagara - 1953



(Remember to scroll down to the bottom of the page to pause the music first so you hear the video.)

As you can see by the trailer above, “Niagara” (1953) was a showcase built more around Marilyn Monroe than even Niagara Falls, though the Falls gets prominent play in this movie, as so too does Jean Peters. She’s the non-bombshell in this movie as we are repeatedly reminded.

The IMDb website notes a bit of trivia that a scene with Marilyn Monroe walking is the longest walk filmed in movie history at 116 feet of film. Apparently, the camera couldn’t let go of her.

Hollywood either saw her as box office or future box office, because although she had made quite a few movies before this one, “Niagara” was her most important role to date, and after this movie, it was stardom all the way.

There is an offbeat quality to this movie, a certain unevenness, a disarming goofiness that makes it intriguing. An average couple played by Jean Peters and Max Showalter, billed as Casey Adams, take a delayed honeymoon at Niagara Falls. They encounter their complete opposites in another couple played by Joseph Cotten and Marilyn Monroe. Directed by Henry Hathaway, the film almost feels like Alfred Hitchcock material in the way pleasant, even comic, normality is suddenly accosted by the weird and threatening.

The film has the Kodachrome look of old family vacation slides. We get a travelogue of Niagara Falls throughout the course of the movie.

Peters and Showalter have been married a couple of years, and take this trip ostensibly as a honeymoon, but also because he works for the Midwestern branch of Shredded Wheat, which has its corporate office in Buffalo, New York. He won a contest for most imaginative sales campaign, and his prize is to be hosted by a company mucky-muck. When they arrive at their lodgings after a leisurely drive in their convertible (and need no documentation to get over to the Canadian side, nor probably back again), Mr. Showalter exclaims with excitement, “You can see it from here!”

We think he means the Falls, but he means the Shredded Wheat plant. We have in Showalter’s character one of the most delicious cornball yokels in movie history, someone Hitchcock would have probably featured as the guy who is comically oblivious to the murder and gore around him. Mr. Showalter may not be totally oblivious, but his ever-present grin and enthusiasm might be tiring it if weren’t so funny.

His wife, Jean Peters, is the steady, sensible one of the pair. She is more in tune to what is going on around them, and by nature, is more eager to be involved. She turns into Nancy Drew and gets her life threatened before the movie is over.

The tension is provided by Joseph Cotten, a recently released psychiatric patient from a veterans’ hospital (shades of his character from “I’ll Be Seeing You” - 1945 - see this previous post), and his nubile, duplicitous wife, Marilyn Monroe. Miss Monroe, is actually quite good in this movie, despite the caricature the studio is already making of her as a sex object, playing a woman hatching a plot to murder her husband all the while playacting she loves him and is so worried about his mental condition.

But, being Marilyn Monroe with her star on the ascendant, we get a lot of eye candy which has nothing to do with the plot. Shots of her showering, of provocative poses, and costumes, and constant stares by all the males around her.

We start the cheesecake from the very beginning of the film, when Joseph Cotten, after a solitary ramble around the Falls in the early morning while his voiceover tells us how miserable he is, returns to their room to find her nekkid in bed. He calls her name, picking up one of her stockings that she had dropped on the floor, but she pretends to sleep. When he gives up and goes to his own twin bed, we see her contemptuous sneer.

Their digs are a motel of efficiency cabins right by the Falls. Peters and Showalter have booked the same cabin, but Miss Monroe and Mr. Cotten have not vacated yet, and so the new couple agreeably takes another cabin.

It’s a whole world unto itself, this land of efficiency cabins, where the resident owner plods around watering flowers and knowing everything about everybody, where the companionable vacationers dance in the pavilion to swing records on a phonograph and sip from Coke bottles on the steps under the stars. They are in no rush to see and do.

If you don’t count the murder plot, it seems like a very relaxing holiday. These days I think we’re programmed to be constantly on the go, even on vacation.

But, it’s not all ho-hum reading magazines in the rooms that have no cable TV, phones, or Internet service. The travelogue continues as Miss Peters and her goofy husband do all the requisite tourist stuff at Niagara Falls: the Rainbow Bridge, the Maid of the Mist boat ride, the Cave of the Winds. They spend a fair amount of time in raincoats and boots.

On one such excursion, Peters notices faithful worried wife Marilyn Monroe kissing a strange man. This is also a movie of darkened stairwells, trysting places, and secret haunts.

Miss Peters observes, as do we, that there’s something not quite right about that couple in the other cabin. Miss Monroe is not the faithful wife she pretends to be. But what about Mr. Cotten? Is he really a sick man the way his wife contends?

Jean Peters, smart, open-faced and unassumingly friendly gets to decide that for herself. When the cabin neighbors are all dancing under the stars, Monroe comes out to enjoy the music alone, puts on a record she has brought with her, and joins the normal couple on the steps.

In a moment, Cotten barges out of their room and smashes the record in his hands like The Incredible Hulk. We begin to see that the tune has a deeper meaning, and her actions are calculated for effect. She is not embarrassed or worried about her husband; she is pleased that so many people have witnessed his over-the-top behavior.

She is planning for her boyfriend to murder him, and wants to make it look like suicide. It won’t be hard. It apparently doesn’t take much for Mr. Cotten to become unglued.

It is Jean Peters, not his wife, who rushes to his room with a first aid kit and mercurochrome to patch up the cuts on his hand. If you’re going to smash a 78 rpm record, wear gloves.

It is an interesting scene, her caring for him, but even when he turns off the lights so she can better see Niagara Falls lit up at night, there is no intended eroticism. She is businesslike in her kindness, and he is too overwrought over his oversexed wife to contemplate sex or romance with anyone else.

When Peters’ goofy husband enters, he is so comfortable in his marriage and in her that he is not even jealous or suspicious. Maybe he’s too stupid. I can see where an audience might find his obtuse cheerfulness irritating, but I think he’s a hoot.

Cotten smashes the wooden model car he has been making in his room (more fun things to do when there is no cable TV) as he tells his back story about always messing up his life and how his wife is a tramp. He imagines she is unfaithful with every man she meets.

We don’t know that for a fact, but we do know that Miss Monroe is playing him like a violin, and uses his jealousy to lure him into a hidden spot where Boyfriend can knock him off.

Cotten’s paranoia serves him well, because he kills the boyfriend in self defense. He sneaks back to his cabin, knowing his wife thinks him dead, and finding Jean Peters there instead taking a nap. Again, more confidentiality in the half-light, but she screams and he runs away. Later, her tails her (more raincoats and boots) on another walk to the Falls, and he pleads with her to not tell anyone he is alive so that he can leave his wife and just get on with his miserable life by himself.

She’s willing to do this at first, even keeping his secret when the boyfriend’s body is found and the cops get involved. But, then she realizes that he might now be after his wife, who has fainted at identifying the body of her boyfriend in the morgue. This time she isn’t faking; she’s really shocked. Miss Peters, by default, becomes her caretaker.

Miss Peters’ goofy husband finally loses his remarkable serenity and is fed up with her continued involvement with the neighbors.

“We wait three years for a honeymoon and spend it with a couple of spooks!”

Then we get another burst of comedy when Mr. Showalter’s Shreaded Wheat boss welcomes him. Played by the booming barrel of chuckles, Don Wilson, who was the announcer for many years on the Jack Benny radio show, the boss and his wife, played by Lurene Tuttle, escort them on a social whirl of Niagara Falls. More raincoats, more hiking up wet wooden stairways along wet cliffs, and finally, a fishing excursion on the Niagara River that has tragic consequences.

By the way, Don Wilson is not the only connection to Jack Benny we have in this movie, if you think about it. The model car Joseph Cotten builds is a Maxwell. Remember the Maxwell chauffeured by Rochester, and the sputtering sounds made by Mel Blanc?

There’s a lot more danger and intrigue from this point, but if I go on, I’ll ruin it for anybody who hasn’t seen it. Just a couple of items about this movie that are fun to note:

Will Wright, perennial movie night watchman and grumpy crooked suspicious fellow (remember his small but pivotal role in “The Blue Dahlia”? We’ll have to cover that movie one sometime or other.) Here he has a small role as a grumpy boat rental owner.

The Carillon featured in this movie was part of the Rainbow Tower on the Canadian border side, and was completed in 1947. “O, Promise Me” is played on it early in the movie, I suppose to refer to the honeymoon connotations of the Falls, but popular tunes are also heard on it, and in one scene, a secret message is sent to Marilyn Monroe in a song. At the time this movie was made, the Carillon was played manually by a carilloneur. Today, it’s all automated.

Come back Thursday for more fun at Niagara Falls through the perspective of other Hollywood films.

Sunday, 12 September 2010

CENTURION : Permainan Kucing Tikus Batalion Romawi Misterius

Tagline:
Fight or die!

Storyline:
Tahun 117 Masehi, Kekaisaran Romawi sudah menguasai Mesir hingga Laut Hitam. Tetapi di Inggris Utara, Jenderal Quintus justru tertangkap kawanan Gorlacon yang juga dikenal sebagai bangsa Picts. Diutuslah Legion 9 yang dipimpin Jenderal Virilus beserta armadanya untuk membawa Quintus kembali sekaligus menghancurkan Gorlacon. Hal tersebut tidaklah mudah karena ada wanita serigala, Etain yang selalu berhasil melacak jejak mereka kemanapun pergi. Beruntung saat membutuhkan perlindungan, wanita Picts bernama Arianne memberikan pertolongan tulus pada Quintus dkk. Satu demi satu korban berjatuhan kemudian dan kini Quintus harus memimpin yang tersisa untuk mencapai area aman di perbatasan Romawi.

Nice-to-know:
Seorang arkeolog Jerman menemukan bukti adanya legion 9 yang dihapuskan dari sejarah karena tidak adanya kesaksian kuat yang menyatakan keberadaan mereka setelah pertempuran terakhir di Skotlandia.

Cast:
Baru saja mendukung Inglourious Basterds, Michael Fassbender bermain sebagai Centurion Quintus Dias yang tangguh dan optimistis.
Angkat nama lewat 007-Quantum of Solace (2008), Olga Kurylenko sebagai Etain, wanita serigala yang haus darah Romawi.
Andreas Wisniewski sebagai Commander Gratus
Dave Legeno sebagai Vortix
Axelle Carolyn sebagai Aeron
Dominic West sebagai General Titus Flavius Virilus
Noel Clarke sebagai Macros
JJ Feild sebagai Thax
David Morrissey sebagai Bothos
Ulrich Thomsen sebagai Gorlacon
Imogen Poots sebagai Arianne

Director:
Merupakan karya kelima bagi Neil Marshall setelah terakhir menggarap Doomsday (2008) yang bertemakan masa-masa paska kiamat dunia itu.

Comment:
Saya harus mengatakan unsur sejarah disini cukup meragukan? Eksistensi Legion Nine yang sesungguhnya serta pergulatan bangsa Picts dan tentara Romawi? Segala penjelasan yang akan mendukung jalan cerita secara keseluruhan disajikan dalam 30 menit pertama membuat saya mengantuk dan tidak memiliki pijakan apapun. Selepas itu barulah permainan kucing tikus dimulai dan saya mulai menikmatinya setidaknya untuk beberapa alasan. Pertama, Kurylenko membawakan karakter Etain dengan meyakinkan, sorot matanya yang tajam dan gesture tubuhnya yang sedingin es dalam memburu musuh-musuhnya. Kedua, latar belakang pegunungan Skotlandia yang menjadi ajang pertempuran divisualisasikan dengan baik dan menghidupkan unsur sepi nan membahayakan. Ketiga, sutradara Marshall kembali menyajikan darah dan kesadisan dalam porsi yang tepat, terlepas dari adegan berkelahi yang tidak terlalu detail yang tampaknya menyiasati bujet rendah ataupun teknik minimalis.
Ketiga alasan tersebut rasanya cukup bagi saya untuk melakukan penilaian keseluruhan terhadap Centurion.
Jangan harapkan epik seperti Spartacus, Gladiator, King Arthur dsb karena film ini hanya replika kecil dari judul-judul tersebut. Terbukti lebih difokuskan pada adegan aksi daripada pengembangan karakter para tokohnya yang sangat minim. Jika mau dicermati sebetulnya terdapat banyak hal yang mengganjal pikiran penonton selepas ending yang terasa ditutup dengan terburu-buru itu mulai dari apa, siapa, kenapa, bagaimana bisa terjadi. Tapi sudahlah tidak perlu ditelaah lebih jauh.

Durasi:
90 menit

U.S. Box Office:
$99,204 till early Sept 2010 (limited screens).

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 11 September 2010

DARAH GARUDA : Perjuangan Nasionalisme Perang Gerilya 1947

Storyline:
Perang gerilya tahun 1947, Amir memimpin rekan-rekannya yaitu Tomas, Marius dan Dayan untuk menyelamatkan wanita-wanita yang mereka cintai yaitu Lastri, Senja dan Melati yang ditawan Belanda. Selepas itu mereka melanjutkan perjuangan di daerah Jawa Barat dan berjumpa dengan tentara Jenderal Sudirman untuk kemudian bersatu menuntaskan misi menghancurkan lapangan udara Belanda. Jenderal Van Mook yang berhasil lolos dari tawanan Dayan tidak tinggal diam. Ia menghimpun pasukannya untuk mendesak Amir cs yang secara jumlah dan persenjataan masih kalah. Namun semangat dan perjuangan merupakan suatu suntikan yang bisa membalikkan semua keadaan. Pertanyaannya apakah Amir cs mampu meminimalisir kerugian moral ataupun materiil dalam menghadapi Kompeni kali ini?

Nice-to-know:
Diproduksi oleh Margate House Film.

Cast:
Donny Alamsyah sebagai Tomas
Rahayu Saraswati sebagai Senja
Lukman Sardi sebagai Amir
T. Rifnu Wikana sebagai Dayan
Atiqah Hasiholan sebagai Lastri
Darius Sinathrya sebagai Marius
Astri Nurdin sebagai Melati
Ario Bayu sebagai Yanto
Rudy Wowor sebagai Van Mook

Director:
Masih disutradarai Yadi Sugandi sejak prekuelnya. Namun kali ini didampingi Conor Allyn yang sudah beberapa kali berpengalaman menggarap spesial efek film-film bujet besar Hollywood.

Comment:
Cukup disayangkan melihat nama Allyn Brothers yaitu Conor dan Rob sebagai penulis cerita dalam bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan langsung. Mengapa? Sebab ini adalah salah satu film kolosal modern kita yang mengacu langsung pada sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Namun tidak terlalu penting mengingat Yadi menjalankan fungsi sutradara dengan baik. Plotnya melanjutkan apa yang tertinggal di prekuelnya yaitu masa-masa paska kemerdekaan Indonesia dimana Kompeni masih berusaha menduduki wilayah-wilayah yang belum "merasa" dipersatukan NKRI. Semua konflik yang dihadirkan di paruh pertama film lebih merupakan konflik intern para pejuang nasional tersebut saja mulai dari kelompok Amir sampai pertemuan mereka dengan gerombolan pejuang Sudirman. Bagaimana satu sama lain berusaha meyakinkan dirinya sendiri untuk menjalankan misi di tengah keterbatasan sumber daya sekalipun ataupun mencoba bekerjasama dengan pihak baru yang masih mempertanyakan integritas bangsanya sendiri. Di paruh kedua barulah pertempuran melawan Belanda menjadi suguhan yang menarik dimana adu tembak, strategi hingga pelarian terasa cukup nyata.
Dari jajaran cast, menurut saya Rifnu tergolong paling outstanding disini. Emosinya saat berjuang maupun terluka benar-benar terekam kamera dengan baik. Selain Rudy, Aryo dan Alex Komang tentunya yang sudah membuktikan kualita akting masing-masing. Jangan lupakan Atiqah yang membuka opening scene dengan gemilang. Sayangnya akting Lukman sebagai seorang pemimpin disini masih tergolong mentah lebih dikarenakan sentralisasi tokoh kerapkali berpindah-pindah selama durasi 95 menit tersebut.
Spesial efek yang digunakan secara keseluruhan terlihat lebih rapi dan meyakinkan dibandingkan Merah Putih. Tensi ketegangan dan permainan emosi di dalamnya juga sedikit meningkat sehingga jiwa nasionalisme penonton turut dilibatkan disini. Namun Darah Garuda belumlah sempurna dikarenakan kemonotonan unsur drama yang berlarut-larut dan penyelesaian konflik yang terkesan serba tanggung. Saya harapkan sekuel penutup trilogi ini mampu mencapai klimaks yang diharapkan kita semua. Mari tunggu bersama!

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa