Monday, 3 January 2011

KHALIFAH : Bercadar Demi Kewajiban Sebagai Istri

Storyline:
Di usia 23 tahun sepeninggal ibunya, Khalifah bekerja di sebuah salon kecantikan untuk membiayai adiknya studi. Namun ayahnya menuntutnya untuk segera menikah dan menjodohkannya dengan Rasyid, seorang pengusaha barang-barang impor dari Arab Saudi. Berat hati Khalifah menyanggupi untuk menjadi istri Rasyid dan mulai mengenakan jilbab. Rasyid yang kerapkali meninggalkan rumah dengan alasan berniaga ternyata menganut ajaran Islam yang “keras”. Khalifah pun setia mengikuti kemauan suaminya untuk bercadar. Sementara itu pemuda sopan baik hati, Yoga yang baru pindah di seberang rumah Khalifah menaruh hati padanya. Akankah Khalifah mampu menjalani semua dengan ikhlas?

Nice to know:
Diproduksi oleh Triximages & Frame Ritz Pictures dan gala premierenya dilangsungkan di Epicentrum XXI tanggal 3 Januari 2011.

Cast:
Terakhir kali tampil mendukung film ansambel Cinta Setaman (2009), Marsha Timothy kembali sebagai Khalifah yang terpanggil menuruti permintaan suaminya untuk bercadar.
Ben Joshua sebagai Yoga
Indra Herlambang sebagai Rasyud
Jajang C. Noer
Titi Sjuman
Yoga Pratama
Dion Wiyoko
Brohisman

Director:
Nurman Hakim pernah sukses dengan 3 Doa 3 Cinta di penghujung tahun 2008 yang lalu.

Comment:
Siapapun rasanya masih dapat mengingat karya Nurman Hakim sebelumnya yang cukup berkesan itu yang sama-sama bernuansakan agamais. Bedanya disini hanya ada satu standout actor, bukan dua. Dan film ini dapat dikatakan benar-benar mengandalkan nama Marsha seorang. Seperti biasa aktris favorit saya ini tampil memenuhi ekspektasi sebagai Khalifah, gadis yang menghadapi dilema untuk menjalani sesuatu yang masih belum diyakininya. Menarik menyaksikan bagaimana Marsha menjiwai peranannya meski keseluruhan fisiknya nyaris “tertutup”. Terkadang kita hanya menyaksikan sorot mata dan intonasi suaranya saja.
Sebetulnya banyak nama-nama berpotensi yang mengisi jajaran cast dalam film ini. Sayangnya tidak ada penekanan karakter yang benar-benar penting bagi mereka untuk dapat berbicara banyak. Ben Joshua yang sudah absen cukup lama memperlihatkan akting yang menarik sebagai Yoga. Sedangkan Indra Herlambang sebagai Rasyid cukup mewakili karakter keras meski kedatangan dan kepergiannya yang silih berganti tidak banyak menjelaskan semua. Aktris berbakat Titi Sjuman pun rasanya hanya kebagian kurang dari lima scene. Sayang beribu sayang, talenta mereka kurang tereksplorasi disini. Sebaliknya banyak adegan tidak penting yang seharusnya dapat dikurangi untuk lebih berfokus pada interaksi tokoh Khalifah dengan orang-orang di sekitarnya secara lebih dalam.
Proses editing juga menjadi isu penting disini, terasa sekali pemotongan adegan yang tidak mulus sehingga cukup mengganggu. Beruntung dari segi musik latar yang bernuansakan Timur Tengah nan simple cukup mampu membangun “roh” film secara keseluruhan sehingga tidak terlalu terasa kosong. Alurnya memang cenderung lambat sehingga bisa jadi membosankan bagi sebagian orang yang tidak terbiasa dengan genre drama.
Pada akhirnya Khalifah hanyalah menjadi sebuah wacana yang menarik tapi tidak didukung oleh pembahasan yang memadai. Berbagai konflik yang diharapkan dapat muncul secara lebih keras dan tegas tidak terjadi, bisa jadi karena tema yang diangkat cukup sensitif sehingga lebih baik cari aman tanpa bermaksud menggurui ataupun menyudutkan pihak tertentu. Namun bukankah selalu ada jalan lain menuju Roma? Alangkah baiknya jika ditempuh untuk lebih menonjolkan “ketajaman” demi menyuguhkan sesuatu yang benar-benar berbeda.

Durasi:
95 menit

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa

Preview - Film Noir Blogathon

To start this year off right, let’s first remind all readers and fellow bloggers of the second film preservation blogathon hosted by Ferdy on Films, and by the Self Styled Siren, with some details here.

This year’s blogathon is scheduled for February 14th through 21st, and the topic is Film Noir. Please have a look at those two ladies' blogs in February for what I’m sure will be a fabulous list of blog posts, and please donate to support the Film Noir Foundation. Send your contributions here.

And though it’s a little early, I’m calling dibs on “The Prowler” (1951) with Van Heflin and Evelyn Keyes. I expect to post it on Monday, February 14th. Nothing says “Happy Valentine’s Day” like killing your girlfriend’s husband on the front lawn while he’s in his jammies.

Did I give too much away? Doah!

Sunday, 2 January 2011

JULIA’S EYES : Gangguan Penglihatan Misteri Kematian Saudari

Storyline:
Julia yang mengalami kemunduran penglihatan secara perlahan dikagetkan oleh berita bunuh diri saudari kembarnya Sara yang juga menderita penyakit yang sama. Didampingi kekasihnya Isaac, Julia berduka sekaligus penasaran untuk mencari tahu apa yang sesungguhnya membuat Sara nekad gantung diri di rumahnya. Petunjuk demi petunjuk mengarahkan Julia pada satu sosok misterius yang diragukan keberadaannya. Di sisi lain, kebutaan mulai menyerangnya. Berhasilkah Julia mengungkap semua misteri tersebut sebelum dunianya menjadi gelap gulita?

Nice-to-know:
Berjudul asli Los ojos de Julia.

Cast:
Wanita berusia 45 tahun bernama Belén Rueda ini sebelumnya dikenal luas lewat perannya dalam The Orphanage (2007). Kali ini ia bermain rangkap sebagai dua saudari kembar Julia / Sara yang mengalami gangguan penglihatan.
Lluís Homar sebagai Isaac
Pablo Derqui sebagai Iván
Francesc Orella sebagai Inspector Dimas
Joan Dalmau sebagai Créspulo

Director:
Merupakan film panjang kedua bagi Guillem Morales setelah The Uncertain Guest (2004).

Comment:
Saya menyempatkan diri mencari tahu mengenai film ini sebelum menontonnya. Dan ternyata hanya sedikit informasi yang saya dapatkan dari internet. Beruntung sekali Blitzmegaplex menayangkan film ini hanya terpaut 2 bulan saja dari tanggal perilisan di negara asalnya yaitu Spanyol sehingga tergolong fresh.
Memasang nama Belén Rueda besar-besar rupanya tidak salah. Tokoh Julia/Sara dibawakannya dengan memikat. Sesaat kita percaya bahwa wanita ini benar-benar mengalami masalah dengan penglihatan. Emosinya yang naik turun karena depresi dan rasa penasaran yang memuncak tertangkap kamera dengan baik. Di samping itu para aktor pendampingnya juga menuntaskan tugas dengan baik termasuk Homar sebagai Isaac yang dominan di paruh pertama dan Derqui sebagai Ivan di paruh keduanya. Good job!
Sutradara Morales yang sebetulnya belum berpengalaman nyatanya mampu menyuguhkan sinematografi yang memikat. Nuansa gelap kelam nan misterius berhasil dipertahankannya sepanjang film dengan setting yang sebetulnya terbatas. Musiknya pun tergolong mendukung suasana mencekam yang menyelimuti semua scene dalam film ini. Berbagai scene dijamin akan menantang tensi anda untuk bereaksi secara spontan.
Julia’s Eyes dapat dikatakan menyuguhkan plot cerita yang original. Kinerja Morales dan Oriol Paulo dalam menulis skripnya berhasil membuat penonton menebak-nebak arah yang dituju. Rasa penasaran terjaga hingga menjelang akhir film. Elemen horor misteri yang dipertahankan di awal akhirnya menjadi thriller biasa di akhir. Namun hal itu bukan sisi negatif yang patut dikritik karena terbukti saya dan para penonton lain yang berada di Auditorium 7 malam itu puas dengan keseluruhan isi film.

Durasi:
110 menit

Overall:
8 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 1 January 2011

COOL GEL ATTACKS : Serangan Gel Biru Dua Keluarga Kompetitor

Storyline:
Sebuah benda asing jatuh dari langit menembus atmosfer bumi dan mendarat di daratan Thailand. Publik mensinyalir benda biru tersebut sebagai gel penurun panas. Namun jika hidup tentu lain lagi ceritanya. Adalah pemilik pabrik bakpao, Teerachai yang telah bertahun-tahun bertengkar dengan tetangganya pemilik pabrik es, Maew. Belum lagi keponakan Maew, Sommhai yang diam-diam menaruh hati pada putri Teerachai, Moo Dong. Demi mencegah “gel” tersebut mengambil alih tubuh mereka seperti yang terjadi pada Pak San yang berniat membeli tanah disitu, Teerachai dan Maew sepakat bekerjasama. Berhasilkah mereka membasmi “gel” yang terus membesar itu?

Nice-to-know:
Berjudul asli Kradeub dari rumah produksi GMM Tai Hub.

Cast:
Jaturong "Mokjok" Phonboo sebagai Teerachai
Nuttapong Chatpong sebagai Sommhai
Patarasaya “Peak” Kreusuwansiri sebagai Moo Dong
Jim Chuancheun sebagai Maew

Director:
Jaturong "Mokjok" Phonboo yang juga seorang comedian ini sebelumnya bermain dalam The Little Comedian pada awal tahun 2010 yang lalu.

Comment:
Sedikit banyak mengingatkan pada film horror kelas B yang cukup fun di tahun 2006 lalu yakni Slither. Hanya saja produksi GTH ini disajikan sebagai komedi situasi yang dilengkapi dengan spesial efek kartun untuk penampakan makhluk asing tersebut sehingga jauh dari kesan menyeramkan.
Multiplot kembali dihadirkan dengan nuansa santai untuk membuat jalan cerita lebih bervariasi. Ada persaingan antar dua keluarga yang saling bertetangga yaitu empunya pabrik bakpao dan pabrik es. Ada juga romantika pria wanita ala Romeo & Juliet beserta sepasang lesbi. Di penghujung film ditambah pula dengan kehadiran sekelompok gangster dimana terdapat satu waria di dalamnya. Komplit bukan? Itulah sebabnya film ini harus mendapat rating Dewasa. Apalagi beberapa scene yang melibatkan bra ataupun kondom sekalipun. Hilarious!
Sutradara Jaturong mencampur adukkan humor kasar, adegan slapstick dengan dukungan suara khas film kartun yang ear-catchy di sepanjang film yang juga dihiasi jeritan disana-sini. Sekarang tergantung anda apakah bisa menikmatinya atau tidak. Meski terkadang over-the-top dan sangat stereotip, Cool Gel Attacks menurut saya cukup fun dan mampu menghadirkan tawa lepas di beberapa scenenya. Kelemahannya adalah joke di film ini tidak mengandung makna apa-apa, hanya bertujuan menghibur saja. Tidak lebih! Saya cukup ragu penonton di luar Asia dapat mengerti.
Dari jajaran cast, anda akan menemukan satu wajah familiar yaitu Nuttapong yang sudah membintangi salah satu bagian terlucu dalam dwilogi Phobia yang tersohor itu. Perilaku kocaknya menjadi andalan di film ini. Jaturong dan Jim juga cukup kuat sebagai kepala keluarga yang saling berseteru. Kesemua aktor aktris dalam film ini terbilang kompak dalam berslapstick ria. Tak jarang polah tingkah mereka mengingatkan pada film-film khas Stephen Chow.
Saran saya, nikmatilah Kradeub ini dengan kepala dingin sebelum muka anda memerah panas karena tertawa terus menerus sepanjang durasinya yang sayangnya cukup singkat itu.

Durasi:
80 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Rollicking romance (Deya Neya)

I've had a very juvenile belief since I was really small. I believe that if you do something on the first day of the year, you'll keep doing that for the entire year. So, ever since we were children, I made sure that my parents took me out for goodies at a pastry shop on January 1 every year. I made sure that I wore great clothes on this day when I was an adolescent. I made sure to be happy no