Thursday, 16 December 2010

Now Playing - "I'll Be Seeing You"

Here's an ad for "I'll Be Seeing You" (1944), which we covered in this previous post.  We've got the soldier, the beautiful girl, and a hint of scandal (prison) and romantic intrigue one wartime Christmas.  But, we smack a great big photo of teenaged Shirley Temple in case the names of Selznick, Cotten, and Rogers aren't enough.  Always hedge your bets.

Monday, 13 December 2010

THE NEXT THREE DAYS : Melarikan Istri Dari Tuduhan Pembunuhan

Tagline:
Lose who you are to save what you love.

Storyline:
Tiba-tiba saja Lara Brennan ditahan di rumahnya sendiri karena dituduh membunuh bosnya sendiri dimana keduanya sempat terlibat argumen keras pada malam sebelumnya. Menurut Kepolisian, sidik jari Lara terekam di TKP sehingga memberatkannya dan mengganjarnya hukuman 20 tahun penjara. Suami Lara, John Brennan menghabiskan bertahun-tahun untuk mengeluarkan Lara tetapi sia-sia saja karena bukti dan kesaksiannya saja tidak cukup. Putus asa saat putranya Luke mulai menjauhi ibunya, John pun menempuh satu-satunya cara yaitu menjebol penjara dan merencanakan pelarian sempurna. Berhasilkah John merancang semuanya sekaligus menuju kehidupan baru yang harmonis kembali?

Nice-to-know:
Sebelumnya Elizabeth Banks pernah bermain sebagai ibu rumah tangga yang dituduh melakukan pembunuhan dalam serial "Law & Order: Special Victims Unit" (1999).

Cast:
Terakhir kita lihat bermain sebagai Robin Longstride dalam Robin Hood, Russell Crowe kini berperan sebagai John Brennan, ayah, suami sekaligus guru biasa yang nekad melawan hukum demi mempertahankan keutuhan keluarganya.
Turut bermain dalam serial televisi Scrubs di sela-sela kesibukannya, Elizabeth Banks tampil berbeda dari biasanya sebagai Lara Brennan yang dituduh melakukan pembunuhan terhadap bos wanitanya sendiri.
Jason Beghe sebagai Detective Quinn
Aisha Hinds sebagai Detective Collero
Liam Neeson sebagai Damon Pennington
Olivia Wilde sebagai Nicole
Ty Simpkins sebagai Luke

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Merupakan remake dari action thriller Perancis berjudul Anything for Her di tahun 2008. Kini sutradara Paul Haggis mengganti setting Paris, Eropa menjadi Pittsburgh, Amerika Utara. Nyaris sama persis dan konon sama baiknya meski saya belum menyaksikan versi originalnya. Lebih dari sepertiga film diawali dengan lambat saat karakter John melakukan riset terbaiknya sebelum menjalankan rencana nekad yang bisa dibilang kesempatan sekali seumur hidupnya. Melewati pertengahan film barulah intensitas mulai meningkat dan menyajikan berbagai aksi yang seru.
Crowe sebagai John, seorang guru bahasa Inggris kampus sepintas terlihat tidak beremosi tetapi tindakannya menunjukkan bahwa ia sepenuhnya percaya dan mencintai istrinya. Menarik melihat Crowe dalam porsi superior tapi masih manusiawi disini. Sebaliknya, Banks yang biasa bermain dalam genre komedi memperlihatkan akting yang baik sebagai istri sekaligus ibu yang terfitnah hingga terancam harus mengakhiri hidupnya di penjara akibat tuduhan pembunuhan. Meskipun tampil sekilas, Neeson cukup mengesankan sebagai figur mentor yang baik di prolog film.
Saya harus akui sebagai action thriller, The Next Three Days ditutup dengan baik lebih dikarenakan sudut pandang unik yang dipakainya walaupun durasinya cukup panjang. Berbagai twists dan turns berhasil menyajikan ketegangan sendiri dalam mengikutinya. Sedikit mengingatkan apa yang biasa dilakukan Haggis sebelumnya yang juga dikombinasikan dengan musik latar yang sangat membangun mood penonton. Anda seakan diajak peduli sepenuhnya pada usaha John melarikan Lara. Bagaimana seorang pria biasa berusaha semaksimal mungkin menyatukan keluarganya kembali walau harus melakukan hal-hal di luar kebiasaan dan kemampuannya. Sesaat kadang kita dihadapkan pada situasi dimana seperti berdiri di antara garis tipis benar atau salah yang terkadang sulit ditebak kenyataannya. Slow start then closed with excellency!

Durasi:
120 menit

U.S. Box Office:
$18,310,917 till early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Off Topic


Book review blog, “MotherLode” has recently reviewed my novel “Meet Me in Nuthatch”, available as an ebook through Amazon.com, Barnes & Noble, and Smashwords.

Sunday, 12 December 2010

HAUNTED CHANGI : Menelusuri Rumah Sakit Bersejarah Terbengkalai

Tagline:
In January 2010, a group of filmmakers began exploring Old Changi Hospital in Singapore.. with terrifying and tragic results.

Storyline:
Empat orang masing-masing Andrew, Sheena, Audi dan Farid mempunyai proyek menyelidiki RS Changi yang terbengkalai dan konon berhantu. Berbagai kamera ditempatkan di setiap sudut untuk mengambil gambar sepanjang hari, siang dan malam. Terkadang mereka turun langsung ke lokasi untuk mencari terowongan rahasia yang tersembunyi sejak jaman penjajahan Jepang atas bangsa Singapura tersebut. Kemudian bergabungnya Tim Pemburu Hantu Singapura dengan keempat muda-mudi tersebut. Apa yang akan mereka temukan disana?

Nice-to-know:
Tanggal premiere film ini di negara asalnya adalah 2 September 2010.

Cast:
Andrew Lau sebagai Director
Sheena Chung sebagai Producer
Farid Azlam sebagai Sound
Audi Khalis sebagai Camera

Director:
Andrew Lau

Comment:
Film ini sangat menghebohkan Singapore beberapa bulan terakhir. Pasalnya keempat orang yang berinisiatif terjun langsung dalam proyek ini menggunakan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk menciptakan eforia tersendiri. Bagaimana mereka membeberkan timeline produksi mulai dari ide awal hingga berjalannya syuting. Taktik promosi yang pintar sehingga membuat publik setempat penasaran luar biasa apalagi Rumah Sakit Tua Changi itu memang sudah kesohor angkernya sejak tahun 1997.
Prolog dibuka dengan pengenalan para kru yang terlebih dahulu menceritakan sejarah rumah sakit tersebut sekaligus mewawancarai beberapa penduduk setempat. Hal ini sangat krusial mengingat audiens di luar Singapura membutuhkan informasi tersebut untuk benar-benar masuk ke dalam tujuan pembuatan dokumenter ini. Bisa diartikan juga pemanasan agar anda bisa berimajinasi terlebih dahulu akan apa yang ditampilkan kelak. Nyaris separuh durasi film dihabiskan untuk hal ini dan suka tidak suka memang agak membosankan.
Ketakutan yang berusaha dihadirkan terbagi menjadi dua yaitu siang dan malam hari. Pada siang hari, walau tanpa spesial efek apapun, gedung tua itu sudah sangat mengerikan yang menyiratkan akan kesepian yang misterius. Bagian ini diyakini mampu membuat anda terjaga untuk berusaha menangkap setiap detil yang mungkin muncul. Pada malam hari memang dibantu oleh night vision dari berbagai jenis kamera yang sukses menyingkap bayangan dari pencahayaan yang minim. Bagian ini saya acungi jempol akan keberanian mereka menelusuri lorong-lorong sempit dimana terkadang bertemu dengan hal-hal aneh yang sulit dijelaskan.
Twist dirancang pada akhir cerita yang meski tidak terlalu mencengangkan tetapi kenyataan yang terbangun cukup membuat audiens sedikit "blank". Haunted Changi merupakan proyek ambisius negeri Singapura untuk menembus pasaran horor internasional dengan konsep found footage pertamanya. Benarkah rekaman yang terdiri dari potongan-potongan gambar ini asli? Terus terang saya sedikit meragukannya atas berbagai alasan. Bagaimana menurut anda?

Durasi:
85 menit

Overall:
7 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent

Saturday, 11 December 2010

THE CHRONICLES OF NARNIA : THE VOYAGE OF THE DAWN TREADER

Quotes:
Aslan-But I will not tell you how long or short the way will be, only that it lies across a river. But do not fear, for I’m the great Bridge Builder.

Storyline:
Saat Lucy dan Edmund berdebat dengan sepupu mereka Eustace, lukisan kapal laut di kamar Lucy tiba-tiba menjadi nyata dan membawa mereka bertiga kembali ke Narnia. Eustace yang tidak mempercayai negeri khayalan itu menjadi terheran-heran melihat si tikus Reepicheep dan makhluk-makhluk dongeng lainnya. Sedangkan Lucy dan Edmund malah senang berjumpa kembali dengan sahabat mereka Caspian yang sudah menjadi Raja saat ini dan sedang dalam misi menemukan tujuh pedang Raja-Raja Narnia yang hilang seperti janjinya pada Aslan. Perjalanan panjang mereka mendapat banyak tantangan yang berat kemudian. Berhasilkah mereka menuntaskan misi sekaligus menguak kabut hijau misterius yang mematikan itu?

Nice-to-know:
Setelah The Chronicles of Narnia: Prince Caspian (2008) tidak mencetak hasil yang diharapkan di tangga box-office, Walt Disney tidak turut memproduseri dan mensponsori episode Narnia selanjutnya.

Cast:
Georgie Henley sebagai Lucy Pevensie
Skandar Keynes sebagai Edmund Pevensie
Ben Barnes sebagai Caspian
Will Poulter sebagai Eustace Scrubb

Voice:
Liam Neeson sebagai Aslan
Simon Pegg sebagai Reepicheep

Director:
Sutradara Inggris berusia 69 tahun bernama Michael Apted sebelum ini menyutradarai Married In America 2 (2007).

Comment:
Bagi yang sudah terbiasa dengan kehadiran Peter dan Susan, bersiaplah kecewa karena keduanya tidak tampil lagi disini. Yang ada hanyalah Edward dan Lucy yang juga telah beranjak remaja. Beruntung masih ada Caspian yang memperkuat nuansa petualangan dari seri sebelumnya. Sebagai gantinya ada peran Eustace yang tampaknya cukup penting meskipun muka baru dalam Narnia series. Kita akan “tidak nyaman” melihat tingkah laku dan mendengar suara gerutunya yang sangat mendominasi itu, dibawakan dengan sangat baik oleh Poulter. Chemistry nya dengan si tikus pejuang Reepicheep yang disuarakan oleh Pegg juga tergolong unik dan menarik.
Sutradara Apted seakan membawa Narnia ke dunia yang baru dengan visual efek yang memukau dengan berbagai setting yang variatif. Sayangnya sedikit terganggu dengan dialog yang terlalu umum dan terkesan cheesy. Chapter per chapter dikerjakan dengan pace yang seimbang mengarah pada klimaks yang cukup seru, sedikit berbeda dengan dua seri sebelumnya yang cenderung antiklimaks dan terlalu lambat. Bamyak pesan moral yang coba disisipkan disini, salah satunya adalah mencoba menjadi diri sendiri dan bersyukur atas berkat apapun yang telah diberikan. Niscaya hidup akan lebih bermakna bagi pribadi ataupun orang lain.
Secara keseluruhan, rasanya The Chronicles of Narnia : The Voyage of the Dawn Treader menyajikan aksi petualangan yang bisa dinikmati anak-anak dan orang dewasa sekaligus. Anda bisa tertawa sekaligus terpacu dibuatnya. Walaupun mungkin ada kelompok penonton yang kecewa dengan kisah fantasi disini yang di luar kebiasaan, tidak ada salahnya tetap menyaksikan penutup trilogy satu ini. Tidak perlu dalam 3D karena tidak banyak gambar hidup yang bisa dijual apalagi dark scenes nya cukup dominan. Satu hal yang unik bagi saya, Narnia seakan sebuah agama tersendiri terutama dari pandangan umat Kristiani, analogikan Aslan sebagai Tuhan yang selalu membimbing dan mengarahkan dengan suara-suaranya. Menarik bukan?

Durasi:
115 menit

U.S. Box Office:
$24,500,000 in opening week of early Dec 2010

Overall:
7.5 out of 10

Movie-meter:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent