Showing posts with label aryadila yarosairy. Show all posts
Showing posts with label aryadila yarosairy. Show all posts

Thursday, 6 December 2012

PASUKAN KAPITEN : Inspirasi Visual Untuk (Tidak) Membully


Tagline:
Jangan pakai otot. Pakai otak.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Cinema Delapan ini melangsungkan gala premierenya di Gandaria XXI pada tanggal 2 Desember 2012.

Cast: 
Cahya R Saputra sebagai Yuma
Adrina Puteri Syarira sebagai Asti
Bintang Panglima sebagai Saleh
Omara N Esteghlal sebagai Omar
Andi Bersama sebagai Kakek Sudirman
Aryadila Yarosairy sebagai Widodo

Director: 
Merupakan film kedua bagi Rudi Soedjarwo di tahun 2012 setelah Langit Ke-7 yang justru syuting belakangan.

W For Words: 
Sedianya film ini rencananya diedarkan untuk menyambut libur Lebaran bulan Agustus yang lalu. Entah kenapa akhirnya diundur ke akhir tahun bahkan nyaris tanpa publisitas yang berarti. Cermin ketidakpedean filmmakers? Melihat nama Kemal Arsjad dan Rudi Soedjarwo untuk kolaborasi kesekian kalinya tetap saja rasa penasaran saya tergelitik. Apalagi tidak banyak film konsumsi anak-anak citarasa lokal yang beredar belakangan ini. Judulnya pun cukup menggambarkan ke-Indonesia-an nya yang langsung mengingatkan saya pada lagu karya AT Mahmud yaitu Aku Seorang Kapiten.

Omar adalah anak nakal yang kerap mengganggu anak-anak lainnya termasuk Yuma. Suatu ketika, Yuma tengah mengambil layangan miliknya di rumah kosong yang ternyata dihuni oleh Kakek pensiunan tentara. Pelan-pelan Kakek mengajarkan Yuma berbagai taktik perang dengan menggunakan cabe, ember, semprotan air dsb meski menuai protes dari para orangtua. Diam-diam Kakek merindukan putranya Widodo dan cucunya Citra yang sudah menempati rumah mewah di area mereka. Berhasilkah Yuma membuat Omar jera pada akhirnya?

Tumpal Tampubolon sebenarnya hanya ingin mengangkat tema per-bully-an. Namun tanda tanya besar hinggap di dalam benak saya, berapa halaman skrip yang minim dialog tersebut? Pertanyaan yang muncul selepas menonton tersebut dikarenakan terlalu banyak ruang kosong yang dapat diisi oleh subplot yang variatif. Persahabatan Yuma dengan teman-temannya tidak mempunyai jiwa. Sama halnya dengan hubungan Kakek dengan keluarganya tidak memiliki esensi apa-apa. Dua garis besar itu lantas dihubungkan dengan titik samar-samar melalui tokoh Omar yang bertingkah laku kurang terpuji? It’s a very thin line.

Saya akui kredibilitas Rudi Soedjarwo dalam menyutradarai apalagi menggaet Yunus Pasolang sebagai tata kameranya. Itulah alasan kuat mengapa visual film ini masih bercerita lebih baik dibanding plotnya sendiri. Sinematografi cantik dengan setting lokasi terbatas, kompleks perumahan, rumah mewah, rumah tak terurus saja setidaknya cukup memanjakan mata. Sayangnya upaya Rudi untuk menyatukan laki-laki dan perempuan dalam sosok anak kecil yang baru saling mengenal sudah kerap kita saksikan, masih segar dalam ingatan adalah Lima Elang (2011) yang chemistrynya jauh lebih natural. 

Penonton mungkin bisa memaklumi kekurangan akting dari Cahya, Adrina, Bintang, Omar dan lain-lain jika simpati dan interkoneksi dapat terbangun sedari awal dengan karakter-karakter yang mereka perankan. Minimnya latar belakang tak mampu dipungkiri. Anda akan bertanya-tanya mengapa Yuma, Asti, Saleh dan Omar tidak bersekolah? Apakah mereka sedang libur? Seberapa kuat pengaruh pendidikan formal dan nonformal terhadap keseharian mereka? Hanya satu tokoh yang ‘mengandung informasi’ disini yaitu Kakek yang dijiwai oleh Andi Bersama dengan cukup meyakinkan.

Pasukan Kapiten tidaklah sekreatif Lima Elang dalam menyusun strategi atau sevariatif Langit Biru (2011) dalam menyajikan pembalasan terhadap pelaku bully. Btw, apa korelasi judul dengan isi filmnya? Anyone? Menurut hemat saya, film ini adalah titik terlemah dalam karir seorang Rudi Soedjarwo terlepas dari dukungan tim produksi yang credible. Tagline “Jangan pakai otot, pakai otak” yang terpampang di poster sedianya sudah cukup menyampaikan pesan moral bagi anak-anak, tidak melulu harus melalui presentasi ending yang  over-the-topsaat Omar memukuli Yuma habis-habisan. Ouch!


Durasi: 

79 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:

Friday, 23 November 2012

LANGIT KE-7 : Suratan Takdir Berujung Temuan Cinta


Quotes: 
Dania: Gua tuh mau punya pacar sekali tapi yang berkualitas. Ngapain punya banyak pacar tapi kacangan semua gitu.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Reload Pictures dan Sanca International ini melangsungkan press screening dan gala premierenya sekaligus di Studio XXI eX pada tanggal 20 November 2012.

Cast:
Taskya Namya sebagai Dania
Aryadila Yarosairy sebagai Denan
Nikki Frazetta sebagai Pio
Bonita Lauwoie sebagai Lintang
Atika Noviasti sebagai Indira
Rechelle Rumawas sebagai Visi
Maureen Irwinsyah sebagai Angel
Pong Hardjatmo sebagai Sutoro
Sandra Dewi sebagai Dokter Ira

Director: 
Merupakan film ke-22 bagi Rudi Soedjarwo setelah terakhir Batas, Lima Elang dan Garuda Di Dadaku 2 di tahun 2011 lalu.

W For Words: 
Rudi Soedjarwo selama ini dikenal sebagai sutradara bertangan dingin dalam menangani bintang-bintang baru dalam filmnya. Kelima gadis pemenang ajang tahunan CLEAR Hair Model 2012 yang digagas oleh PT Unilever Indonesia Tbk tersebut nampaknya cukup beruntung mendapat kesempatan emas itu. Sebuah drama romantis dengan segmentasi remaja yang tak hanya bertutur mengenai cinta tetapi juga keluarga dan persahabatan ini dipersembahkan oleh duet produser handal Kemal Arsjad dan Faby Tsui ke hadapan masyarakat Indonesia yang sudah rindu akan tontonan bergenre sejenis.

Dania tengah dijodohkan ayahnya Sutoro yang mulai sakit-sakitan dengan putra kerabat dekatnya meski ia belum berpikir untuk menikah. Ia lantas mengajak sahabat-sahabatnya berlibur ke Bali sekaligus menghibur Visi yang baru saja diselingkuhi pacarnya Pio. Momen menyenangkan itu dirusak oleh kehadiran dua paparazzi yang mengejar Dania kemanapun. Malang saat sendiri, ia mengalami kecelakaan hingga koma dan ditangani langsung oleh Dokter Ira. Di luar dugaan, rohnya yang berjalan-jalan hanya bisa dilihat dan didengar oleh Denan yang akhirnya setuju untuk membantunya kembali.

Skrip yang ditulis oleh Virra Dewi ini mayoritasnya harus diakui mirip sekali dengan Just Like Heaven (2005). Perjodohan keluarga, mati suri, komunikasi gaib, keyakinan diri hingga jatuh cinta itu elemen-elemen yang tertata lurus dari awal sampai akhir. Perbedaan minor hanya pada obyek pelengkap saja.
Sayangnya semua karakter dalam film ini tereksploitasi secara datar terlepas dari banyaknya waktu tersedia. Kesalahan fatal yang akhirnya membuat alasan ini-itunya menjadi kurang kuat yang turut mempengaruhi keberpihakan penonton pada nasib tokoh-tokohnya. Pertentangan baik melawan jahat layaknya sinetron yang sempat menjadi konflik utama pun lantas hilang tanpa bekas.

Sutradara Rudi bahkan memasukkan templateAda Apa Dengan Cinta (2002) setiap kali Dania, Visi, Angel, Lintang dan Indira berkumpul walau belum dibekali dengan chemistry yang sama. Ketajaman visinya tak berkurang samasekali, terbukti setting lokasi Jakarta dan Bali mampu dimaksimalkan sebagai panggung berlanskap indah plus sinematografi bawah laut yang sangat memanjakan mata. Scoring musik dari Andi Rianto berhasil memberi nyawa pada film termasuk lantunan suara merdu biduan muda Nathan Hartono dalam hit lawas yang didaur ulang oleh Andi Rianto, Layu Sebelum Berkembang.

Saya menghargai usaha Taskya dan Aryadila dalam menghadirkan chemistry yang cukup memadai. Taskya yang berwajah eksotis memperlihatkan talentanya dimana karakter Dania dituntut untuk senang, marah hingga putus asa. Meski tak terlalu eye candy, Arya justru menunjukkan penjiwaan natural dengan ekspresi lugu dan mata lebarnya yang tak jarang membuat penonton tersenyum. Menarik melihat debut Nikki sebagai playboy cool menyebalkan, begitu pula dengan kuartet Bonita, Atika, Maureen, Rechelle yang lumayan kompak sebagai bff. Kembalinya Sandra Dewi ke layar lebar lewat peran dokter cantik menjadi nilai tambah tersendiri. Sangat disayangkan aktor sekelas Donny Damara tidak dimaksimalkan sebagaimana mestinya.

Langit Ke-7 merupakan angin segar bagi kancah perfilman lokal yang masih kekurangan stok drama romantis yang “benar”. Jika dicermati memang tak ada korelasi judul dengan isi cerita yang ingin disampaikan. Satu-satunya penghubung menurut saya adalah angka 7 di kamar Denan yang penuh lukisan watermarktersebut. Kesampingkanlah faktor minimnya jam terbang bintang-bintang anyar ini karena kerja keras mereka dalam menghadirkan “momen-momen” yang dibutuhkan masih terasa. Untuk sesaat biarkan anda terhanyut dalam permainan takdir yang tak jarang berlabuh pada penemuan cinta.

Durasi: 
92 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter: