Sunday, 29 July 2018
Thursday, 25 August 2016
Dance, dance...(Dirty Dancing)
Everyone loves the underdog story. How a nondescript personality comes to the forefront and
snatches the glare from front rankers. Emile Ardolino's Dirty Dancing is one such instance. Apparently this 1987 low-budget romantic drama wasn't expected to run more than a week at the theatre, but strangely it went on to become a massive sleeper hit and was also the first film to sell more than a
Monday, 2 May 2016
Dangerous liaison (Fatal Attraction, 1987)
What depths can a woman plunge to for love? I say depths because Alex Forest does not rise in love.
Or should I call it
obsession? She plummets into the most obnoxious and deplorable levels of
behaviour in order to get the due attention from the man she starts believing
she has a right to. These are all her beliefs. On any given day, a mind with a
rational thinking capacity would not like
Tuesday, 21 July 2015
Triangle A (Amar Akbar Anthony)
I am not too fond of Manmohan Desai films. Neither do I like Amitabh Bachchan in them. Oh yes! I really don't. The films are loud, hardly have good music, except for a feet-tapping song or two in passing and Amitabh was so in-your-face in them. The other day, I got rebuked by a dear friend for ridiculing the 'Mirror scene' in Amar Akbar Anthony which I'm told that no one else but Amitabh could
Monday, 20 July 2015
Songs that have stayed (Zamaane Ko Dikhana Hai)
Yes, yes, yes. My sincere apologies for keeping you all waiting. Those of you who thought I've abandoned this space, well, think again! For, I'm too much a movie-lover to give up this blog of mine. It's taken me time, a lot of time indeed, to come back to it, but here I am, once again. Yes, Malhar's fine. He's now turning three, is as hyperactive as an Energizer Bunny, and extremely (that's an
Wednesday, 4 September 2013
A courtesan's tale (Ghungroo)
There are many good things about Ram Sethi's 1983 drama, Ghungroo, as well a few bad. Lets start with the good, because it's not quite recommended to start off with negatives.
The film, a drama set against the backdrop of a royal family, is well-scripted. The editing is quite taut, till the editor looses steam mid-way. The actors do their job quite well. One song seriously stands out for its
Monday, 20 May 2013
Love lost and won (Harano Sur)
Would I be lying to myself if I said that Harano Sur is one of the best 'memory-loss' films to be ever made? I
don't think so. At least, it is definitely my one of my favourite films of that genre. Not because a delicate love story is weaved around the incident of memory loss, but because the way the happenings following the retrieval of the lost memory brings together the man and his wife is
Friday, 29 March 2013
Anchored on lies (Manzil)
Give me one good reason why I should sympathise with Ajay Chandra when the going gets tough for him. In
my opinion, he is a big liar, an opportunist, a shirker and a glib-talker. So, even when at last he does get down to work and puts in some effort to save his business from downing shutters, I can hardly say that I feel satisfied with the happy end to his love story. For, a relationship that
Wednesday, 27 March 2013
Hidden identities (Bade Dil Wala)
I'm often forced to watch a film because I'm smitten by some of its songs. The tracks play on in my mind and Kahin na jaa, a lovely track composed by RD Burman and rendered fabulously by Lata Mangeshkar and Kishore Kumar is a prime instance of this. The melodious track shows a stylishly clad Tina Munim (with a French chignon) beckoning to a dapper Rishi Kapoor on not to leave her and go. They
Thursday, 21 March 2013
The livewire (Khoobsurat)
What a jolly, buoyant film Khoobsurat is! And, it definitely bears the stamp of Hrishikesh Mukherjee, its director. It's frothy, fun and engaging from the word go. You don't have to think too much. Sit down with your family, or alone, and have a happy watch. There's nothing in this 1980 Filmfare award winner that can disappoint you. Although, one song seems to stretch it a bit but on the whole
Saturday, 16 March 2013
The want of privacy (Piya ka Ghar)
I'd gone to Mumbai (how I still love calling the maximum city Bombay; it sounds romantic) in 2009 with my husband. After a day of sightseeing, we both took time off to meet our respective friends. While he sat down for his beer and gossip with his school friends, I went about town with a friend-cum-colleague. We went from one part of the city to another, and I suitably gaped at Jalsa, Mannat,
Tuesday, 29 January 2013
A Journey Has Begun..
Setelah empat tahun berjalan, blog ini telah membawa saya ke dunia baru yang tidak pernah terpikir untuk dimasuki, FILM-MAKING! Bukan apa-apa, saya hanyalah satu dari sekian penikmat film sekaligus pengunjung bioskop yang setia dengan tujuan mengisi waktu sekaligus melihat jendela kehidupan seseorang yang mungkin tidak akan pernah saya alami sendiri. Saya percaya sebuah film selalu memiliki sisi plus minus yang dapat dieksplorasi. Itu saja!
Tujuan awal membuat blog pun lebih untuk kepentingan pribadi yaitu mendokumentasikan opini saya sendiri terhadap sebuah film yang sudah saya tonton. Siapa yang bisa mengira jika hingga hari ini, ribuan orang per harinya mengakses Database Film sebagai referensi terpercaya mereka. Saya tidak jumawa melainkan bersyukur, tulisan saya ada yang baca dan setidaknya dirasa bermanfaat. Kerja keras saya begadang nyaris tiap malam menuangkan pikiran pun tidak sia-sia.
Saya bukanlah seorang moviesnob. Referensi film atau pengetahuan tentang film yang dimiliki mungkin tidak seluas rekan-rekan movieblogger atau moviereviewer lainnya. Kemampuan saya berdiskusi aktif dengan mereka bisa jadi kalah baik. Kerapkali saya butuh waktu untuk mencerna sebelum menuangkannya dalam bentuk tulisan Sebuah bentuk komunikasi yang selalu saya pilih sejak dahulu, mengingat kepribadian pemalu dan introvert yang memang sudah melekat dalam diri sejak usia dini.
Review pertama saya adalah Laskar Pelangi di bulan Oktober 2008, hanya satu paragraf dengan beberapa kalimat. Perlahan mulai mengembangkan rentang penilaian dari berbagai sisi karena saya menyadari, film memiliki banyak dimensi yang bisa ditelaah. Lambat laun, tulisan-tulisan saya khususnya film lokal membawa kesempatan bagi saya untuk mengenal secara pribadi para pelaku industri perfilman nasional mulai dari aktor, aktris, sutradara, produser dsb. Memang tidak semuanya terang-terangan bisa diajak bicara ataupun tatap muka, tapi saya selalu menghargai usaha mereka yang tidak kecil dalam berkarya.
Tak selamanya tulisan saya menyenangkan untuk dibaca, terkadang bisa pedas menyinggung. Saya selalu berusaha jujur, faktor mengenal atau tidak filmmakernya sebisa mungkin dikesampingkan demi obyektifitas murni. Satu pedoman yang selalu saya pegang, identifikasi lah film mana yang dibuat dengan hati dan niat baik. Jika sebuah film sudah dibuat dengan bumbu-bumbu di atas tapi hasil akhirnya masih kurang baik, bolehlah anda memberi masukan, tak melulu menghujat. Terkadang orang yang mau maju itu butuh input untuk memperbaiki. Peran kita sangat dibutuhkan di sini. Bukankah sesama manusia wajib saling mengingatkan?
Friday, 25 January 2013
DREAM OBAMA : Kampanye Antik ‘Yes We Can’ Damien Dematra

Quote:
Kakek Hendra: Kamu harus berani, ga boleh nangis, ga boleh cengeng.
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Damien Dematra Production ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Januari 2013 yang lalu.
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Damien Dematra Production ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 21 Januari 2013 yang lalu.
Cast:
Natasha Dematra sebagai Margareth
Ayu Azhari sebagai Maryam, ibu Margareth
Pong Hardjatmo sebagai Hendra, kakek Margareth
Rahayu Saraswati sebagai Leticia
Radhit Syamsebagai Bintang
Azka Liansyah sebagai Willy
Steve Emmanuel sebagai Dokter
Ari Wibowo
Dorce Gamalama
Tracy Trinita
Natasha Dematra sebagai Margareth
Ayu Azhari sebagai Maryam, ibu Margareth
Pong Hardjatmo sebagai Hendra, kakek Margareth
Rahayu Saraswati sebagai Leticia
Radhit Syamsebagai Bintang
Azka Liansyah sebagai Willy
Steve Emmanuel sebagai Dokter
Ari Wibowo
Dorce Gamalama
Tracy Trinita
Director:
Merupakan film keempat yang disutradarai Damien Dematra.
Merupakan film keempat yang disutradarai Damien Dematra.
W For Words:
Apa lagi yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh seorang Damien Dematra dimana namanya sudah tercatat sebagai salah satu filmmaker lokal? Rekor pembuatan film tercepat yang diakui oleh Royal World Record lewat film ini yaitu 9 hari 17 jam dan 45 menit? Sebegitu pentingkah pencapaian-pencapaian tersebut baginya? Bukankah tujuan terpenting film hanyalah sesederhana media komunikasi antara pembuat dan penontonnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut padanya. Bisa jadi anda akan tercengang mendengar jawaban diplomatisnya. Bisa jadi..
Apa lagi yang sebenarnya ingin dibuktikan oleh seorang Damien Dematra dimana namanya sudah tercatat sebagai salah satu filmmaker lokal? Rekor pembuatan film tercepat yang diakui oleh Royal World Record lewat film ini yaitu 9 hari 17 jam dan 45 menit? Sebegitu pentingkah pencapaian-pencapaian tersebut baginya? Bukankah tujuan terpenting film hanyalah sesederhana media komunikasi antara pembuat dan penontonnya? Ajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut padanya. Bisa jadi anda akan tercengang mendengar jawaban diplomatisnya. Bisa jadi..
Hendra selalu terinspirasi oleh sosok Barack Obama, presiden Amerika Serikat yang baru saja terpilih kembali. Obama dream statue yang berada di sekolah Asisi juga memperkenalkan cucunya yang baru pindah, Margareth Kurniawan untuk pantang menyerah mengejar mimpinya. Tak sia-sia karena prestasi Margareth begitu memuaskan hingga membuat teman sekelasnya, Bintang dan Willy iri. Kecelakaan mobil membuat Hendra mengalami koma dan Margareth menderita kebutaan. Akankah ketidakmampuan itu menurunkan semangat Margareth?
Damien pernah mengeksplorasi sosok Obama kecil mengenyam pendidikan dalam skrip Obama Anak Menteng (2010). Sempat terjadi kontroversi yang akhirnya ‘hanya’ mengukuhkan nama John De Rantau seorang di kursi sutradara. Kali ini Damien kembali menulis skripnya sendiri yang sayangnya memulai dengan sesuatu yang salah. Kelas sekolah dibuka dengan pelajaran bahasa Indonesia dan Inggris antara anak lokal dan bule. Jika tujuannya untuk melucu, saya tidak melihat unsur jenakanya samasekali. Lantas dilanjutkan dengan ‘kompetisi’ aneh yang mulai dari ujian tertulis hingga balap karung antara siswa dan siswi? Nalar saya seakan berpindah ke bagian tubuh paling bawah.
Dramatisasi tak berkesudahan kemudian menjadi menu utama. Entah kenapa saya merasa sosok Natasha Dematra malah dieksploitasi sedemikian rupa di atas upaya aktingnya yang masih dapat dihargai. Margareth digambarkan seharusnya mengundang simpati orang-orang di sekitarnya maupun penonton yang menyaksikannya. Entah kenapa bangunan konflik yang terlalu instan dan tidak terjalin padu satu dengan lainnya membuat semuanya menjadi blur. Penyelesaian penderitaan melalui kematian seakan opsi satu-satunya agar pesan yang disampaikan bisa langsung menohok. Benarkah begitu?
Damien sebagai sutradara tampak kian menurunkan standar penggarapannya mulai dari Si Anak Kampung, L4Lupus hingga yang satu ini. Intrusi dialog kerapkali berlomba-lomba dengan gerak bibir cast. Pencantuman subtitel bahasa Inggris juga tidak terlalu membantu, mungkin berharap perhatian penonton sedikit teralihkan dari kekurangan-kekurangan yang tampak di depan mata mereka. Sinkronisasi musik latar untuk membangun suasana malah banyak yang tidak pas. Mungkin cuma Damien dan Tuhan yang tahu, seberapa keras usaha Virda Anggraini untuk menata gambarnya secara ‘wajar’.
Dream Obama tinggal menyisakan footage video Barack Obama sebagai satu-satunya part yang watchable. Selebihnya adalah siksaan batin tanpa landasan logika yang memaksakan setiap fungsi dalam film berjalan terseok-seok menuruti durasi film. Tampak wajah-wajah lega selepas meninggalkan gedung bioskop. Secara tidak langsung, ini adalah kampanye DD dalam menyuarakan semangat “Ayo, kita bisa!” dalam mengatasi setiap masalah yang menghadang, besar ataupun kecil walaupun bukan dengan cara yang istimewa sekalipun. Ia melupakan fakta jika penonton film nasional sudah lebih istimewa sekarang.
Durasi:
87 menit
87 menit
Overall:
6 out of 10
6 out of 10
Movie-meter:
Thursday, 24 January 2013
TIGA SEKAWAN : IIHH.. HANTU..!!! Persahabatan dan Eksplorasi Mahkluk Gaib
Quote:Zee: Kita harus baca doa dulu, Jo. Supaya hantunya takut..
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Global Pictures ini tidak mengadakan press screening ataupun gala premiere.
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Global Pictures ini tidak mengadakan press screening ataupun gala premiere.
Cast:
Rizky Black sebagai Zee
Stefhani Zamora Husen sebagai Flo
Dandy Rainaldy sebagai Jo
Dede Yusuf Effendi
Rizky Hanggono
Virnie Ismail
Tike Priatna Kusumah
Director:
Merupakan debut penyutradaraan Ivan Alvameiz.
W For Words:
Tanpa gaung, tanpa iklan, tanpa promo, film anak-anak yang satu ini melenggang ke bioskop seluruh Nusantara. Sebegitu percaya dirikah produser Ferry Noerdin Lawadue? Atau justru ketiadaan bujet untuk melakukan itu semua? Saya jadi ingat kasus Keumala tahun lalu yang tiba-tiba muncul di hari Kamis tanggal 1 Maret. Mungkin hanya Tuhan dan mereka yang tahu. Kita sebagai penonton pun dibebaskan untuk membuat keputusan, tahu atau tidak tahu. Dua opsi yang pada akhirnya berujung pada nonton atau tidak nonton? Silakan tentukan pilihan anda sekarang juga.
Zee, Flo dan Jo belajar di sebuah sekolah negeri yang sama. Ketiganya bersahabat karib meski memiliki karakter dan status sosial yang berbeda satu sama lain. Organisasi kepramukaan merencanakan camping ke desa Jatinangor. Zee yang ketakutan terus menerus dibujuk kedua temannya. Bukan apa-apa, orangtua sejak awal digambarkan menggunakan momok hantu agar anak-anak tidak membangkang. Berbagai cara dilakukan Flo dan Jo termasuk membuat riset mengenai hantu hutan demi meyakinkan Zee. Benarkah hantu itu ada?
Skrip yang ditulis oleh Ivan Alvameiz ini samasekali mengabaikan strukturalisme sastra yang baku. Nyaris tak ada garis lurus yang dapat ditarik sejak menit pertama hingga terakhir. Jikapun menurutnya ada, keseluruhan sekuens alur sangatlah mengganggu. Ivan yang juga duduk di kursi sutradara tampak terlalu sibuk menerjemahkan ide-idenya sendiri tanpa peduli apakah daya tangkap penonton sama dengannya. Alhasil durasi yang sekian menit kurang dari dua jam ini begitu menyiksa dengan segala tetek bengek yang mengaburkan mana plot utama, mana subplot tambahan.
Peran orangtua dalam memberi pengertian pada anak-anaknya terutama yang menyangkut hal-hal mendasar amat diperlukan. Pertama, menstruasi yang dialami Flo, papa mamanya malah malu daripada menjelaskan secara benar. Kedua, sifat klenik yang dimiliki Jo, papa mamanya malah terbirit-birit dibanding menerangkan secara rasional. Tunggu, ada yang aneh, dalam dua scene itu orangtua sama-sama diperankan Rizky Hanggono. Apakah Flo dan Jo kakak beradik? Atau mereka hanya dua sahabat yang tinggal serumah? Mohon koreksi jika ada pembaca yang kebetulan lebih cermat dalam menonton.
Peran sekolah dalam memberi pendidikan pada siswa-siswinya tidak digambarkan secara detail. Kepala pembina yang dimainkan oleh Dede Yusuf Effendi cuma berpesan pada Zee, Flo dan Jo. Selebihnya? Mereka bertualang sendiri. Apakah aturan melarang murid membawa ponsel masih berlaku di jaman sekarang hingga Flo bersusah payah menyembunyikan di ketiaknya? Benarkah Zee yang katanya miskin sampai terkesan tidak pernah memegang ponsel sekalipun? Mengingat kedua temannya, Flo dan Jo justru sibuk ‘berinteraksi’ dengan gadget yang jauh lebih modern.
Pada end credit title tertera, “Nantikan petualangan selanjutnya.” Sebuah optimisme yang pantas diacungi jempol. Terus terang saya tidak mengerti dimana letak istimewanya penggunaan judul dan subjudul Tiga Sekawan : Iihh Hantu. Satu alasan yang mungkin mendasari adalah konsistensi pembahasan hantu di dalam konten filmnya meski lebih dominan dalam ranah tak berpati. Mengajak untuk tidak takut atau justru semakin takut? Arti persahabatan yang menjadi misi di sini pun terbilang dangkal sehingga tak banyak pesan yang dapat diambil kecuali teman tak saling meninggalkan.
Durasi:
116 menit
Overall:
6 out of 10
Movie-meter:
Sumber Foto: KapanLagi.com
Wednesday, 23 January 2013
MATRU KI BIJLEE KA MANDOLA : Quirky Characters Underutilized Satire Comedy

Quotes:
Bijlee: Baru aku tau kenapa kau suka miras. Kebenaran tak akan terasa pahit jika kau sedang mabok.
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Vishal Bhardwaj Pictures dan Fox STAR Studios ini rilis di India pada tanggal 11 Januari 2013 yang lalu.
Bijlee: Baru aku tau kenapa kau suka miras. Kebenaran tak akan terasa pahit jika kau sedang mabok.
Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh Vishal Bhardwaj Pictures dan Fox STAR Studios ini rilis di India pada tanggal 11 Januari 2013 yang lalu.
Cast:
Imran Khan sebagai Matru
Anushka Sharma sebagai Bijlee
Pankaj Kapur sebagai Mandola
Arya Babbar sebagai Badal
Shabana Azmi sebagai Deviji
Director:
Merupakan feature film ketujuh bagi Vishal Bhardwaj setelah terakhir 7 Khoon Maaf (2011).
Imran Khan sebagai Matru
Anushka Sharma sebagai Bijlee
Pankaj Kapur sebagai Mandola
Arya Babbar sebagai Badal
Shabana Azmi sebagai Deviji
Director:
Merupakan feature film ketujuh bagi Vishal Bhardwaj setelah terakhir 7 Khoon Maaf (2011).
W For Words:
Sudah cukup lama rasanya saya absen menonton film India. Melihat rilis mendadak film ini di jaringan bioskop 21, perhatian saya langsung tertuju pada posternya yang unik plus nama Imran Khan dan Anushka Sharma, dua calon mega bintang Bollywood di masa mendatang. Kebetulan sekali, kawan movieblogger saya, Haris dari Medan yang sedang berkunjung ke Jakarta mau menemani. Setidaknya pertukaran opini dapat terjadi sekaligus memperkaya sudut pandang penilaian. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan jika anda nonton seorang diri.
Sudah cukup lama rasanya saya absen menonton film India. Melihat rilis mendadak film ini di jaringan bioskop 21, perhatian saya langsung tertuju pada posternya yang unik plus nama Imran Khan dan Anushka Sharma, dua calon mega bintang Bollywood di masa mendatang. Kebetulan sekali, kawan movieblogger saya, Haris dari Medan yang sedang berkunjung ke Jakarta mau menemani. Setidaknya pertukaran opini dapat terjadi sekaligus memperkaya sudut pandang penilaian. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan jika anda nonton seorang diri.
Desa Haryana secara tidak langsung dikuasai oleh penduduknya yang paling kaya raya, Harry Mandola yang berkonspirasi dengan politikus licik, Deviji dalam mengakali tanah pertanian milik warga miskin demi membangun lahan industri. Harry yang juga kecanduan alkohol memiliki putri cantik, Bijlee yang akan dijodohkan dengan putra Deviji, Baadal. Tangan kanan Harry, Matru yang diam-diam menyukai Bijlee berupaya membalikkan keadaan dengan menggunakan identitas palsu bernama Mao. Bagaimana akhir dari konflik yang saling terkait ini?

Vishal Bhardwaj yang menulis skrip bersama Abhishek Chaubey ini sesungguhnya memiliki ide yang brilian dengan nuansa politik satir yang kental. Sayangnya inkonsistensi fokus kerap mengambil minat penonton untuk tetap terjaga. Paruh pertamanya penuh dengan intrik dimana masing-masing tokohnya terlihat memiliki kepentingan. Namun paruh keduanya justru sibuk membongkar cinta segitiga yang tiada juntrungannya sebelum diakhiri dengan konklusi yang tidak terlalu memuaskan juga. Setidaknya saya menghargai ‘fakta putar balik’ seorang Mandola saat sadar atau mabuk. This is twisting!
Pankaj Kapur memang “bintang” nya kali ini. Mandola di tangannya terasa energik, berkeinginan kuat walau sulit diterka. Kapur juga berinteraksi secara hidup dengan Imran dan Anushka di setiap scene bersama. Sosok Bijlee dihidupkan Anushka dengan lugas, menggoda tapi tetap berpendirian. Tokoh Matru dilakoni Imran dengan cerdik, koperatif dan pantang menyerah. Aksen dan penggunaan bahasa dari aktor-aktris di sini terkadang sulit ditangkap. Beberapa terbantu oleh kemunculan subtitel untuk memahami dialognya.

Matru ki Bijlee ka Mandola mempunyai plot cerdas yang berlapis-lapis tapi tidak dikembangkan dengan maksimal dalam bertutur, cenderung menghabiskan durasi saja. Beruntung dukungan scoring musik berkali-kali mampu menghidupkan suasana terlebih ketika kemunculan kelompok penyanyi dan penari Zulu. Sebagai sebuah komedi, film ini berpijak di antara slapstick dan humor efektif, kerapkali gagal membangun tawa penonton yang tidak memahami dimana letak kelucuannya. Setidaknya ‘gaya bebas’ Bhardwaj dalam menyutradarai pantas diapresiasi, apalagi peringatan-peringatan yang diusungnya sebagai pembuka film. Ready to get drunk and meet pink buffalo?
Durasi:
145 menit
145 menit
Overall:
7 out of 10
7 out of 10
Movie-meter:
Sunday, 20 January 2013
HOPE SPRINGS : Basic Ingredients For Marriage Reconnection

Quotes:
Dr. Feld: What about oral sex?
Kay: I wasn't... I wasn't comfortable with that.
Dr. Feld: Giving or receiving?
Kay: [pause] Huh?
Nice-to-know:
Film Perancis yang disaksikan Kay dan Arnold di bioskop adalah Le dîner de cons, yang diremake menjadi Dinner for Schmucks dengan bintang Steve Carell.
Kay: I wasn't... I wasn't comfortable with that.
Dr. Feld: Giving or receiving?
Kay: [pause] Huh?
Nice-to-know:
Film Perancis yang disaksikan Kay dan Arnold di bioskop adalah Le dîner de cons, yang diremake menjadi Dinner for Schmucks dengan bintang Steve Carell.
Cast:
Meryl Streep sebagai Kay
Tommy Lee Jones sebagai Arnold
Steve Carell sebagai Dr. Feld
Jean Smart sebagai Eileen, Kay's Friend
Ben Rappaport sebagai Brad, Their Son
Marin Ireland sebagai Molly, Their Daughter
Director:
Merupakan feature film kelima bagi David Frankel setelah terakhir The Big Year (2011).
Meryl Streep sebagai Kay
Tommy Lee Jones sebagai Arnold
Steve Carell sebagai Dr. Feld
Jean Smart sebagai Eileen, Kay's Friend
Ben Rappaport sebagai Brad, Their Son
Marin Ireland sebagai Molly, Their Daughter
Director:
Merupakan feature film kelima bagi David Frankel setelah terakhir The Big Year (2011).
W For Words:
Hanya berselang dengan The Iron Lady (2011) yang mengantarnya kembali meraih Piala Oscar, Meryl Streep (63 tahun) bermain dalam drama roman komedi bersama lawan main yang sepantaran usianya. Jika Steve Martin (64 tahun) dan Alec Baldwin (51 tahun) sudah mengiringinya dalam It’s Complicated (2009) maka kali ini giliran Tommy Lee Jones (66 tahun) yang mendampinginya. Prolog saya ini tidak bermaksud membicarakan orang di usia lanjut karena menjadi tua adalah sebuah proses hidup. Duet Black dan Casady rupanya melihat konsep ini secara cermat hingga sepakat memproduserinya.
Hanya berselang dengan The Iron Lady (2011) yang mengantarnya kembali meraih Piala Oscar, Meryl Streep (63 tahun) bermain dalam drama roman komedi bersama lawan main yang sepantaran usianya. Jika Steve Martin (64 tahun) dan Alec Baldwin (51 tahun) sudah mengiringinya dalam It’s Complicated (2009) maka kali ini giliran Tommy Lee Jones (66 tahun) yang mendampinginya. Prolog saya ini tidak bermaksud membicarakan orang di usia lanjut karena menjadi tua adalah sebuah proses hidup. Duet Black dan Casady rupanya melihat konsep ini secara cermat hingga sepakat memproduserinya.
Paska peringatan hari jadi ke-31, Kay dan Arnold menyadari bahwa api cinta mereka mulai memudar, terlihat dari tidur berbeda kamar dan jarang melakukan kontak fisik. Kay yang putus asa menghubungi penulis buku sekaligus konselor pernikahan, Dr. Feld untuk menjadwalkan terapi baginya. Arnold awalnya menolak mentah-mentah tapi dengan berat hati menuruti kemauan istrinya itu. Perjalanan lintas kota pun dilakoni. Dr. Feld menelusuri akar pemasalahan dan menganjurkan sesi sepanjang minggu. Berhasilkah Kay dan Arnold menjalani semua proses tersebut dari awal?

Vanessa Taylor yang menulis skrip ini tampak memahami betul sensitifitas wanita berumah tangga. Ada satu mitos yang selalu saya benarkan, pria cenderung tertidur setelah orgasme sehingga wanitanya merasa diabaikan. I’m sure this happen to all of you. Okay, let’s get back to topic! Saya menikmati setiap tahap reconnectantara Kay dan Arnold di sini mulai dari yang biasa hingga paling ekstrim sekalipun. Tak lupa proses penuaan juga diterjemahkan dengan begitu baik dari bahasa tubuh maupun aktifitas keseharian yang perlahan-lahan bergeser.
Meryl Streep masih terlihat cantik dan seksi di usia sekarang ini. Auranya begitu kuat terpancar di setiap kemunculannya. Karakter Kay di tangannya begitu rapuh dan konvensional. Menarik melihat Tommy Lee Jones bermain dalam film semacam ini setelah sekian lama. Karakter Arnold digambarkan keras kepala dan berjiwa petualang tetapi takut untuk mengakuinya. Chemistry keduanya cukup kuat, tergambar dari kecanggungan intimacy yang believable. Anda tidak akan menemukan Steve Carell yang slapstick dan eksplosif disini melainkan sosok dokter intelek nan sabar.

Pengalaman panjang David Frankel dalam menggarap serial televisi sukses Sex and the City (2001-2003) memang berpengaruh pada kesan episodik dari satu scene ke scene lain. Kinerja kamera repetitif memperlihatkan Kay memasak telor mata sapi beserta sosis dan Arnold tertidur menyaksikan acara golf semakin menegaskan kebosanan rutinitas di antara keduanya. Pertukaran dialog suami istri tersebut tergolong realistis tanpa harus didramatisir. Dukungan musik latar yang minim dan sederhana membuatnya terasa kian nyata.
Hope Springs mengajak penonton untuk menjadi pengamat sebelum memutuskan, tanpa bermaksud menguliahi. Kesimpulan yang akhirnya berujung pada penerimaan terhadap kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing selain penghargaan yang ditunjukkan melalui afeksi nyata. Cinta kerapkali terkikis oleh waktu yang tak jarang bermuara pada ketidak bahagiaan. Pada akhirnya kendali ada di tangan kita, mau memperbaharui cara memasak atau menambahkan bumbu baru? Bagi saya sih simpel, ingatlah saat pertama anda jatuh cinta kepadanya walau terkadang tanpa alasan spesifik.
Durasi:
100 menit
100 menit
U.S. Box Office:
$63,536,011 till Oct 2012
$63,536,011 till Oct 2012
Overall:
8 out of 10
8 out of 10
Movie-meter:
Saturday, 19 January 2013
LES MISERABLES : Showcasing Sacrifice, Change, Hope In Live Adaptation

Quotes:
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!
Nice-to-know:
Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.
Fantine: I had a dream my life would be so different from this hell I'm living!
Nice-to-know:
Saat audisi, Anne Hathaway berhasil memukau semua orang hingga menangis haru.
Cast:
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine
Director:
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.
Hugh Jackman sebagai Jean Valjean
Russell Crowe sebagai Javert
Anne Hathaway sebagai Fantine
Amanda Seyfried sebagai Cosette
Sacha Baron Cohen sebagai Thénardier
Helena Bonham Carter sebagai Madame Thénardier
Eddie Redmayne sebagai Marius
Aaron Tveit sebagai Enjolras
Samantha Barks sebagai Éponine
Director:
Merupakan film keempat bagi Tom Hooper setelah karya terakhir The King’s Speech (2010) menganugerahinya Piala Oscar.
W For Words:
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara. Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!
Kita patut berterima kasih pada Victor Hugo yang secara brilian menulis novel pada tahun 1862 mengenai kekisruhan Perancis di abad 19. Karya yang pada akhirnya diadaptasi menjadi film ataupun pertunjukan dalam jumlah yang tak terhitung lagi di berbagai negara. Adalah sutradara brilian Tom Hooper yang dipercayakan oleh jajaran produser untuk menghidupkan kisah ini sekali lagi dengan inovasi baru yaitu aktor aktrisnya diminta untuk menyanyikan seluruh dialog yang terkandung dalam buku karya Claude-Michel Schönberg dan Alain Boublil. Pertaruhan yang begitu berani!
19 tahun dipenjara karena mencuri roti untuk diberikan pada saudaranya, Jean Valjean akhirnya dibebaskan dalam pengawasan ketat penegak hukum Javert. Jean dipekerjakan oleh pendeta baik hati sampai berhasil menjadi pengusaha sukses dengan nama palsu. Nasib mempertemukannya dengan Fantine, mantan buruh pabrik yang terpaksa melacur demi menghidupi putrinya, Cosette yang dibesarkan oleh pasangan pencuri kejam Thénardier dan Madame Thénardier. Sepeninggal Fantine, Jean sepakat membesarkan Cosette sampai beranjak dewasa dan jatuh cinta pada Marius, pemberontak revolusi. Jalanan Perancis lantas jadi saksi pergulatan takdir melawan gejolak politik yang kian memanas.

Pencapaian Hooper sebagai sutradara dalam film ini perlu diapresiasi tinggi. Ketajaman visinya menghidupkan suasana Perancis di masa lampau tidak hanya detail tetapi juga epik. Desain produksi termasuk tata rias dan tata kostum betul-betul diperhatikan unsur estetikanya. Kebulatan hatinya untuk tetap meminta aktor-aktrisnya bernyanyi live di lokasi syuting daripada merekam di studio paska produksi terbukti semakin mempertajam pengalaman musikal yang sinematik. Lihat bagaimana ia membuka dan menutup film dengan stylishdan memorable. Wonderful!
Penampilan terbaik menurut saya jatuh pada Hathaway dan Redmayne. Meskipun Fantine hanya kebagian porsi minor, ia seakan menyanyikan isi hatinya dengan begitu lugas. Upaya Jackman pantas dihargai karena penonton dapat merasakan emosinya dalam rentang waktu yang begitu panjang. Beberapa track favorit saya tentu saja Look Down, I Dreamed A Dream dan On My Own. Menarik melihat debut Samantha Barks dan pelakon cilik Daniel Huttlestone disini. Jangan lupakan juga sumbangsih Baren Cohen dan Bonham Carter sebagai pasangan antagonis tersebut.

Kekurangan yang cukup mencolok ada pada Crowe dengan kemampuan bernyanyi yang begitu terbatas tapi justru ini membuatnya believable. Lihat bagaimana Hooper banyak menyiasati ketika Javert menyanyi dengan tidak menyorot wajahnya melainkan scene panoramik yang megah. Seyfried sendiri tampak terlalu terbebani dengan peran Cosette yang krusial sehingga membuatnya kurang lepas dalam berakting. Secara keseluruhan, mereka saling mengisi dengan plus minus masing-masing, memberikan dimensi interpretasi karakter yang begitu emosional.
Les Misérables memang bukan film musikal biasa, bisa jadi luar biasa bagi anda yang sudah sangat familiar dengan cerita dan pertunjukannya. Namun bagi sebagian orang yang tidak terbiasa, mungkin akan menyiksa apalagi tidak semua unsur melodi dapat menyatu sempurna dengan pelafalan dialognya. Durasi nyaris tiga jam dengan total 49 lagu yang berkumandang jelas membutuhkan konsentrasi yang cukup tinggi agar tidak kehilangan esensinya di tengah-tengah. Kombinasi pengorbanan cinta, perubahan dunia, pengharapan tanpa batas membuatnya pantas menyandang status ‘istimewa’. I liked this but don’t think that second viewing is necessary to do.
Durasi:
157 menit
Durasi:
157 menit
U.S. Box Office:
$118,723,185 till Jan 2012
$118,723,185 till Jan 2012
Overall:
8 out of 10
8 out of 10
Movie-meter:
Subscribe to:
Posts (Atom)