Monday, 11 October 2010
Errol and Greer at Luncheon
(Don’t forget to scroll down to the bottom of the page to pause the music so you can hear the video.)
Have a look at this footage from MGM’s silver anniversary luncheon, where “more stars than there are in the heavens” sat down to dine, newsreel cameras rolling. Some of you may remember this clip as part of “That’s Entertainment” (1974).
What especially caught my eye this time was dinner partners Errol Flynn and Greer Garson. I don’t know if the seating was arranged, but may well have been. It could have been about this time that Mr. Flynn and Miss Garson were shooting “That Forsyte Woman” (1949), though I don’t remember her costume from that movie. However, a little ways away at another table we see Walter Pidgeon, also starring in that same movie, and his outfit, and mustache, do resemble the character he played.
We’ll be discussing “That Forsyte Woman” this coming Thursday as the first of two films in which we’ll examine Errol’s success in a couple of non-Errol type roles. The second film will be next Monday, “Cry Wolf” (1947).
Have a look again at Errol and Greer. One notices immediately that they are completely aware they are on camera, but unlike many other stars at this occasion, pretend not to be aware. Notice the casual, but so on-the-mark posing each does, good side to the camera. This is a fascinating look into two people who are at ease, self confident, and knowledgeable about the tools of the trade, their stunning good looks.
For all their stardom and the posing, there is still something quite irresistibly genuine about the great lady and the swashbuckler as the camera passes by them. In “That Forsyte Woman”, they both play less magnificent people, and, just as in this luncheon clip, seem playfully aware of their own superb magnetism.
See you Thursday. And a Happy Thanksgiving today to our chums in Canada.
Sunday, 10 October 2010
Fending for answers (Gharana)
I need some questions answered. Why do all films from the Gemini stable start off with a punch and then degenerate into some regressive drama? Why are the women in their films projected as husband-worshippers? Why do they trust so easily? Why do they forgive even more easily? And yes, why does Rajendra Kumar carry a police constable's stick throughout his screen time in SS Vasan's Gharana?
There
There
Saturday, 9 October 2010
MADAME X : Superhero Istimewa Bersenjata Antik Berantas Ketidakadilan
Quotes:
Adam: Tarjo, dapet salam dari centong nasi..
Storyline:
Negeri antah berantah tengah dirundung masalah politik saat PEMILU dimana semua partai politik berlomba-lomba berkampanye. Salah satunya adalah partai Kanjeng Badai yang beristrikan tiga wanita dan sangat ambisius menjadi calon presiden. Adalah trio banci Adam, Aline dan Cuncun yang bekerja di salon dan merayakan ultah Adam dengan berdansa di klub waria pada suatu malam. Malang tak dapat ditolak, klub tersebut digerebek Ormas Bogem yang berbuntut pada tewasnya Aline. Adam sendiri yang dilempar ke sebuah truk akhirnya bertemu Om Rudi dan Tante Yantje yang kemudian mengajarinya tari lenggok. Perlahan-lahan ketangkasan yang dimiliki Adam dengan berbagai tempaan latihan membuatnya berganti identitas menjadi Madame X untuk melawan ketidak adilan Kanjeng Badai.
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan diproduseri oleh Nia Dinata.
Cast:
Aming sebagai Adam
Marcell Siahaan sebagai Kanjeng Badai
Shanty sebagai Kinky Amalia
Sarah Sechan sebagai Bunda Lilis
Fitri Tropica sebagai Cuncun
Robby Tumewu sebagai Om Rudi
Ria Irawan sebagai Tante Yantje
Joko Anwar sebagai Aline
Ikhsan Himawan sebagai Tarjo
Titi DJ
Vincent Rompies
Director:
Lucky Kuswandi.
Comment:
Cukup lama Kalyana Shira Films absen memproduksi film lokal sejak Berbagi Suami (2006). Dan tahun ini tiba-tiba Nia Dinata selaku produsernya kembali turun gunung dengan film bertemakan superhero dengan poster bergaya kartun. Jika anda memperhatikan posternya dengan seksama, niscaya bisa menebak 70-80% cerita apa yang kira-kira disuguhkan. Seorang pahlawan “unik” gaya baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan suatu karakter istimewa untuk diangkat ke sebuah film superhero bernuansa lokal.
Dengan plot yang carut marut itulah, film ini berusaha sejujur-jujurnya menyentil segala problematika yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari ormas yang rajin main hakim sendiri, berita infotainment yang semakin tak karuan, situasi politik yang kerap kisruh, perilaku hedonisme wanita kalangan atas, kaum minoritas yang kian terpojok. Semua itu dilabeli negeri antah berantah tanpa menyebut nama. Cerdik sekaligus meminimalisir aspek kontroversial tentunya.
Semua aktor-aktris yang mengisi cast film ini tidak usah diragukan lagi. Aming seperti biasa "lugas" dengan ekspresi dan tingkah laku khasnya, ditambah kostum kulit dan wig hitam putih sepintas mengingatkan kita pada biduanita internasional Lady Gaga. Joko Anwar yang tampil sekilas juga cukup menggigit dengan mulut bawelnya. Duet om Robby dan tante Ria tak usah ditanya, klop sebagai dua mentor senior. Debutan-debutan seperti Marcell dan Fitri juga tidak kalah menggigit. Juga ada Sarah, Vincent, Shanty yang tidak boleh disepelekan kontribusinya. Pokoknya semua mengisi peran masing-masing dengan menarik, mungkin karena karakterisasinya sendiri juga kaya improvisasi.
Meskipun terkesan berantakan, norak dan sangat colorful, Madame X tetaplah sebuah tontonan yang menjual. Di luar faktor faktual terkini dan cast yang cemerlang, keberanian trio produser-sutradara-penulis patut diacungi jempol untuk keberaniannya menampilkan sesuatu yang beda dalam porsi humor yang pas tanpa bermaksud menyinggung pihak minoritas tertentu. Inilah cara baru penegak keadilan bekerja dengan senjata-senjata yang "tidak terduga". Thumbs up!
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Adam: Tarjo, dapet salam dari centong nasi..
Storyline:Negeri antah berantah tengah dirundung masalah politik saat PEMILU dimana semua partai politik berlomba-lomba berkampanye. Salah satunya adalah partai Kanjeng Badai yang beristrikan tiga wanita dan sangat ambisius menjadi calon presiden. Adalah trio banci Adam, Aline dan Cuncun yang bekerja di salon dan merayakan ultah Adam dengan berdansa di klub waria pada suatu malam. Malang tak dapat ditolak, klub tersebut digerebek Ormas Bogem yang berbuntut pada tewasnya Aline. Adam sendiri yang dilempar ke sebuah truk akhirnya bertemu Om Rudi dan Tante Yantje yang kemudian mengajarinya tari lenggok. Perlahan-lahan ketangkasan yang dimiliki Adam dengan berbagai tempaan latihan membuatnya berganti identitas menjadi Madame X untuk melawan ketidak adilan Kanjeng Badai.
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Kalyana Shira Films dan diproduseri oleh Nia Dinata.
Cast:
Aming sebagai Adam
Marcell Siahaan sebagai Kanjeng Badai
Shanty sebagai Kinky Amalia
Sarah Sechan sebagai Bunda Lilis
Fitri Tropica sebagai Cuncun
Robby Tumewu sebagai Om Rudi
Ria Irawan sebagai Tante Yantje
Joko Anwar sebagai Aline
Ikhsan Himawan sebagai Tarjo
Titi DJ
Vincent Rompies
Director:
Lucky Kuswandi.
Comment:
Cukup lama Kalyana Shira Films absen memproduksi film lokal sejak Berbagi Suami (2006). Dan tahun ini tiba-tiba Nia Dinata selaku produsernya kembali turun gunung dengan film bertemakan superhero dengan poster bergaya kartun. Jika anda memperhatikan posternya dengan seksama, niscaya bisa menebak 70-80% cerita apa yang kira-kira disuguhkan. Seorang pahlawan “unik” gaya baru dengan segala kelebihan dan kekurangannya merupakan suatu karakter istimewa untuk diangkat ke sebuah film superhero bernuansa lokal.
Dengan plot yang carut marut itulah, film ini berusaha sejujur-jujurnya menyentil segala problematika yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari ormas yang rajin main hakim sendiri, berita infotainment yang semakin tak karuan, situasi politik yang kerap kisruh, perilaku hedonisme wanita kalangan atas, kaum minoritas yang kian terpojok. Semua itu dilabeli negeri antah berantah tanpa menyebut nama. Cerdik sekaligus meminimalisir aspek kontroversial tentunya.
Semua aktor-aktris yang mengisi cast film ini tidak usah diragukan lagi. Aming seperti biasa "lugas" dengan ekspresi dan tingkah laku khasnya, ditambah kostum kulit dan wig hitam putih sepintas mengingatkan kita pada biduanita internasional Lady Gaga. Joko Anwar yang tampil sekilas juga cukup menggigit dengan mulut bawelnya. Duet om Robby dan tante Ria tak usah ditanya, klop sebagai dua mentor senior. Debutan-debutan seperti Marcell dan Fitri juga tidak kalah menggigit. Juga ada Sarah, Vincent, Shanty yang tidak boleh disepelekan kontribusinya. Pokoknya semua mengisi peran masing-masing dengan menarik, mungkin karena karakterisasinya sendiri juga kaya improvisasi.
Meskipun terkesan berantakan, norak dan sangat colorful, Madame X tetaplah sebuah tontonan yang menjual. Di luar faktor faktual terkini dan cast yang cemerlang, keberanian trio produser-sutradara-penulis patut diacungi jempol untuk keberaniannya menampilkan sesuatu yang beda dalam porsi humor yang pas tanpa bermaksud menyinggung pihak minoritas tertentu. Inilah cara baru penegak keadilan bekerja dengan senjata-senjata yang "tidak terduga". Thumbs up!
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Friday, 8 October 2010
GOING THE DISTANCE : Manis Getir Hubungan Cinta Jarak Jauh
Quotes:
Erin: We're not trying to choke each other with commitment. But now you're fucking freaking me out and I can't do anything but picture him humping some fucking bartender. Thank you.
Corinne: I'm your sister. This is what I'm here to do: terrify you.

Storyline:
6 minggu tersisa dari kontrak magangnya di New York Sentinel, Erin malah jatuh hati pada Garrett yang baru putus dari kekasihnya. One night stand yang mereka lakukan malah berlanjut hingga keduanya sepakat menjalin hubungan jarak jauh New York-San Fransisco. Tidak pernah mudah karena Garrett ditertawakan kedua sahabatnya, Erin juga dicemooh kakak perempuannya. Akankah ada jalan tengah yang adil bagi mereka pada akhirnya atau semua itu harus berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan?
Nice-to-know:
Cuma 2 karakter yang memiliki nama lengkap dalam film ini yaitu Garrett Austin Scully untuk Justin Long dan Erin Rankin Langford untuk Drew Barrymore.
Cast:
Mulai bermain film layar lebar di usia 5 tahun lewat ltered States (1980), Drew Barrymore berperan sebagai Erin
Terlibat dalam 13 proyek sekaligus di tahun 2009 merupakan tahun tersibuk Justin Long yang kali ini bermain sebagai Garrett
Charlie Day sebagai Dan
Jason Sudeikis sebagai Box
Christina Applegate sebagai Corinne
Ron Livingston sebagai Will
Director:
Merupakan feature film pertama Nanette Burstein setelah 4 film dokumenter sebelumnya.
Comment:
Hubungan jarak jauh memang tidak pernah mudah untuk dijalani atas pertimbangan apapun juga. Beda kota ataupun beda negara sama saja. Pesimis? Percayalah karena saya sendiri pernah mengalaminya selama 4 tahun! (Kok malah jadi curhat? Lanjut ya!) Siapa yang punya pendapat serupa? Di luar dugaan sang produser film ini, David Neustadter juga memiliki pengalaman serupa dengan mantan kekasihnya dahulu.
Penulis skrip Geoff LaTulippe dengan jitu memainkan konflik-konflik basi long distance relationship ke dalam takaran komedi yang menyenangkan, tidak berlebihan tapi juga tidak garing. Sudut pandang pria dan wanita dihadirkan silih berganti untuk mendapatkan kesamarataan persepsi dan tidak ada pihak manapun yang lebih diuntungkan ataupun dirugikan. Tak lupa dukungan tokoh-tokoh di luar pasangan tersebut sebagai pengamat tersendiri yang bisa suportif dan preventif sekaligus.
Keseimbangan chemistry juga berhasil dijaga oleh Barrymore dan Long yang tampil ceria. Keduanya adorable dan kasmaran satu sama lain tanpa mengesankan kenaïfan, sebuah sikap yang sering timbul saat meyakini sesuatu yang tidak pasti. Kekurangannya mungkin ada pada gap usia Barrymore yang memang terlihat lebih tua untuk Long. Namun hal itu tidak terlalu menjadi masalah sejauh esensi hubungan dapat terjaga secara riil dengan segala on-off nya.
Sutradara Burstein di satu sisi seperti menggunakan format dokudrama dalam mengetengahkan hubungan jarak jauh ini. Bagaimana perjalanan digambarkan dengan animasi pesawat melintasi peta dan kamera yang terus bergerak di antara dua negara bagian untuk meliput kehidupan Garrett bersama teman-teman prianya atau Erin bersama keluarga saudarinya. Berbagai perkataan “dewasa” yang berkali-kali terlontar dari mulut karakternya memang terasa frontal tapi cukup menegaskan betapa sarkastisnya dunia di luar sana.
Going The Distance merupakan sebuah komedi romantis yang menghibur, tidak hanya untuk penonton wanita sebagaimana biasanya tetapi juga penonton pria. Tidak menjual mimpi indah dengan akhir bahagia tetapi perspektif nyata yang terkadang sulit diduga endingnya. Humor yang dikemas sedemikian rupa untuk membuat anda spontan tertawa ngakak sekaligus tersenyum getir bagi sebagian orang yang pernah menjalani LDR. Pada akhirnya memang kembali lagi pada kesediaan untuk memilih bagian mana dari kata hati dan logika yang dianggap terbaik bagi hidup anda. That's just how life happens, people!
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$17,804,299 till Oct 2010
Overall:
8 out of 10
Movie-meter:
Erin: We're not trying to choke each other with commitment. But now you're fucking freaking me out and I can't do anything but picture him humping some fucking bartender. Thank you.
Corinne: I'm your sister. This is what I'm here to do: terrify you.

Storyline:
6 minggu tersisa dari kontrak magangnya di New York Sentinel, Erin malah jatuh hati pada Garrett yang baru putus dari kekasihnya. One night stand yang mereka lakukan malah berlanjut hingga keduanya sepakat menjalin hubungan jarak jauh New York-San Fransisco. Tidak pernah mudah karena Garrett ditertawakan kedua sahabatnya, Erin juga dicemooh kakak perempuannya. Akankah ada jalan tengah yang adil bagi mereka pada akhirnya atau semua itu harus berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan?
Nice-to-know:
Cuma 2 karakter yang memiliki nama lengkap dalam film ini yaitu Garrett Austin Scully untuk Justin Long dan Erin Rankin Langford untuk Drew Barrymore.
Cast:
Mulai bermain film layar lebar di usia 5 tahun lewat ltered States (1980), Drew Barrymore berperan sebagai Erin
Terlibat dalam 13 proyek sekaligus di tahun 2009 merupakan tahun tersibuk Justin Long yang kali ini bermain sebagai Garrett
Charlie Day sebagai Dan
Jason Sudeikis sebagai Box
Christina Applegate sebagai Corinne
Ron Livingston sebagai Will
Director:
Merupakan feature film pertama Nanette Burstein setelah 4 film dokumenter sebelumnya.
Comment:
Hubungan jarak jauh memang tidak pernah mudah untuk dijalani atas pertimbangan apapun juga. Beda kota ataupun beda negara sama saja. Pesimis? Percayalah karena saya sendiri pernah mengalaminya selama 4 tahun! (Kok malah jadi curhat? Lanjut ya!) Siapa yang punya pendapat serupa? Di luar dugaan sang produser film ini, David Neustadter juga memiliki pengalaman serupa dengan mantan kekasihnya dahulu.
Penulis skrip Geoff LaTulippe dengan jitu memainkan konflik-konflik basi long distance relationship ke dalam takaran komedi yang menyenangkan, tidak berlebihan tapi juga tidak garing. Sudut pandang pria dan wanita dihadirkan silih berganti untuk mendapatkan kesamarataan persepsi dan tidak ada pihak manapun yang lebih diuntungkan ataupun dirugikan. Tak lupa dukungan tokoh-tokoh di luar pasangan tersebut sebagai pengamat tersendiri yang bisa suportif dan preventif sekaligus.
Keseimbangan chemistry juga berhasil dijaga oleh Barrymore dan Long yang tampil ceria. Keduanya adorable dan kasmaran satu sama lain tanpa mengesankan kenaïfan, sebuah sikap yang sering timbul saat meyakini sesuatu yang tidak pasti. Kekurangannya mungkin ada pada gap usia Barrymore yang memang terlihat lebih tua untuk Long. Namun hal itu tidak terlalu menjadi masalah sejauh esensi hubungan dapat terjaga secara riil dengan segala on-off nya.
Sutradara Burstein di satu sisi seperti menggunakan format dokudrama dalam mengetengahkan hubungan jarak jauh ini. Bagaimana perjalanan digambarkan dengan animasi pesawat melintasi peta dan kamera yang terus bergerak di antara dua negara bagian untuk meliput kehidupan Garrett bersama teman-teman prianya atau Erin bersama keluarga saudarinya. Berbagai perkataan “dewasa” yang berkali-kali terlontar dari mulut karakternya memang terasa frontal tapi cukup menegaskan betapa sarkastisnya dunia di luar sana.
Going The Distance merupakan sebuah komedi romantis yang menghibur, tidak hanya untuk penonton wanita sebagaimana biasanya tetapi juga penonton pria. Tidak menjual mimpi indah dengan akhir bahagia tetapi perspektif nyata yang terkadang sulit diduga endingnya. Humor yang dikemas sedemikian rupa untuk membuat anda spontan tertawa ngakak sekaligus tersenyum getir bagi sebagian orang yang pernah menjalani LDR. Pada akhirnya memang kembali lagi pada kesediaan untuk memilih bagian mana dari kata hati dan logika yang dianggap terbaik bagi hidup anda. That's just how life happens, people!
Durasi:
100 menit
U.S. Box Office:
$17,804,299 till Oct 2010
Overall:
8 out of 10
Movie-meter:
Thursday, 7 October 2010
SATU JAM SAJA : Tiga Sahabat Dalam Cinta Bersyarat
Quotes:
Gadis: Memang kamu nggak mau besok tidur disini sama aku?
Storyline:
Andika, Hans dan Gadis sudah bersahabat sejak kecil hingga beranjak dewasa. Pada suatu kesempatan, Andika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Jerman. Saat Hans dan Gadis ingin menyambangi Andika, mobil yang ditumpangi mereka mogok di tengah hujan badai. Sayangnya Hans tidak dapat menahan nafsunya sehingga tidak lama kemudian, Gadis hamil akibat perbuatannya itu. Andika yang diam-diam mencintai Gadis bersedia menikahinya sekaligus menjadi ayah bagi jabang bayi tersebut. Namun luka di hati Gadis tidak bisa hilang begitu saja. Di sisi lain, Hans menyesali perbuatannya dan meminta Andika mempertemukannya kembali dengan Gadis. Bagaimana akhir dari kemelut ini?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Karnos Film dan diproduseri oleh Santy Karno.
Cast:
Vino G. Bastian sebagai Andika
Revalina S. Temat sebagai Gadis
Andhika Pratama sebagai Hans
Rano Karno sebagai Bos Andika
Widyawati sebagai Dokter
Marini sebagai Ibu Gadis
Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Bogor bernama Ario Rubbik ini.
Comment:
Jujur saja film ini sangat mengandalkan nama Rano Karno yang sudah sangat lama absen dari dunia perfilman Indonesia disamping fakta bahwa ia tampil juga dalam beberapa scene sebagai pemilik dealer motor tempat Andika bekerja. Selain itu apa yang dijual film ini? Tentu saja trio Reva, Vino dan Andhika yang berulangkali mencatat sukses dalam film-film yang pernah mereka perankan sebelumnya.
Plot ceritanya yang ditulis Rano sebetulnya sangat mudah ditebak dan boleh dibilang tidak ada sesuatu yang baru. Cinta segitiga antar tiga sekawan yang akhirnya menimbulkan tragedi dimana perasaan dan persahabatan benar-benar diuji. Mungkin dari menit pertama hingga terakhir bisa anda konstruksikan sendiri bahkan sejak opening scene bergulir. Itulah kenyataannya. Pemakaian judul yang juga terinspirasi dari lagu itu juga terkesan terlalu mendramatisir walaupun tidak harus seperti itu.
Dari paparan di atas, apakah kualitas film ini sedemikian buruk? Nyatanya tidak. Justru kejujuran dan kesederhanaan yang dijual cukup mengena. Akting Reva dan Vino bisa dikatakan cemerlang, permainan emosi mereka tertangkap dengan baik. Andhika sekuat tenaga mengimbangi tapi nampaknya ruang yang diberikan padanya untuk mengeksplorasi akting juga tidak sebesar kedua nama di atas. Belum lagi para pendukung senior yang seakan membawa film ini kembali ke nuansa tahun 1980an atau setidaknya awal 1990an.
Bagi sebagian penonton terutama pria bisa jadi film ini membosankan dikarenakan alur yang lambat dengan musik latar yang seharusnya membantu mood ternyata sangatlah minim. Namun kewajaran Satu Jam Saja dalam bercerita diyakini tetap mampu menguras emosi audiens yang spontan tertawa dengan dialog-dialog cheesy ataupun terharu dengan permainan nasib yang tidak adil itu.
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Gadis: Memang kamu nggak mau besok tidur disini sama aku?
Storyline:Andika, Hans dan Gadis sudah bersahabat sejak kecil hingga beranjak dewasa. Pada suatu kesempatan, Andika berhasil mendapatkan beasiswa untuk studi di Jerman. Saat Hans dan Gadis ingin menyambangi Andika, mobil yang ditumpangi mereka mogok di tengah hujan badai. Sayangnya Hans tidak dapat menahan nafsunya sehingga tidak lama kemudian, Gadis hamil akibat perbuatannya itu. Andika yang diam-diam mencintai Gadis bersedia menikahinya sekaligus menjadi ayah bagi jabang bayi tersebut. Namun luka di hati Gadis tidak bisa hilang begitu saja. Di sisi lain, Hans menyesali perbuatannya dan meminta Andika mempertemukannya kembali dengan Gadis. Bagaimana akhir dari kemelut ini?
Nice-to-know:
Diproduksi oleh Karnos Film dan diproduseri oleh Santy Karno.
Cast:
Vino G. Bastian sebagai Andika
Revalina S. Temat sebagai Gadis
Andhika Pratama sebagai Hans
Rano Karno sebagai Bos Andika
Widyawati sebagai Dokter
Marini sebagai Ibu Gadis
Director:
Merupakan debut penyutradaraan pertama bagi pria kelahiran Bogor bernama Ario Rubbik ini.
Comment:
Jujur saja film ini sangat mengandalkan nama Rano Karno yang sudah sangat lama absen dari dunia perfilman Indonesia disamping fakta bahwa ia tampil juga dalam beberapa scene sebagai pemilik dealer motor tempat Andika bekerja. Selain itu apa yang dijual film ini? Tentu saja trio Reva, Vino dan Andhika yang berulangkali mencatat sukses dalam film-film yang pernah mereka perankan sebelumnya.
Plot ceritanya yang ditulis Rano sebetulnya sangat mudah ditebak dan boleh dibilang tidak ada sesuatu yang baru. Cinta segitiga antar tiga sekawan yang akhirnya menimbulkan tragedi dimana perasaan dan persahabatan benar-benar diuji. Mungkin dari menit pertama hingga terakhir bisa anda konstruksikan sendiri bahkan sejak opening scene bergulir. Itulah kenyataannya. Pemakaian judul yang juga terinspirasi dari lagu itu juga terkesan terlalu mendramatisir walaupun tidak harus seperti itu.
Dari paparan di atas, apakah kualitas film ini sedemikian buruk? Nyatanya tidak. Justru kejujuran dan kesederhanaan yang dijual cukup mengena. Akting Reva dan Vino bisa dikatakan cemerlang, permainan emosi mereka tertangkap dengan baik. Andhika sekuat tenaga mengimbangi tapi nampaknya ruang yang diberikan padanya untuk mengeksplorasi akting juga tidak sebesar kedua nama di atas. Belum lagi para pendukung senior yang seakan membawa film ini kembali ke nuansa tahun 1980an atau setidaknya awal 1990an.
Bagi sebagian penonton terutama pria bisa jadi film ini membosankan dikarenakan alur yang lambat dengan musik latar yang seharusnya membantu mood ternyata sangatlah minim. Namun kewajaran Satu Jam Saja dalam bercerita diyakini tetap mampu menguras emosi audiens yang spontan tertawa dengan dialog-dialog cheesy ataupun terharu dengan permainan nasib yang tidak adil itu.
Durasi:
100 menit
Overall:
7.5 out of 10
Movie-meter:
6-sampah!
6.5-jelek ah
7-rada parah
7.5-standar aja
8-lumayan nih
8.5-bagus kok
9-luar biasa
Subscribe to:
Posts (Atom)